Qalbu adalah Inti Diri Manusia

❤ QALBU ADALAH INTI DIRI MANUSIA ❤

image

💡Setelah berbagai penelitian yang panjang, ditemukan kesimpulan bahwa heart / jantung / qalbu (lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari sebagai “hati”) terbukti merupakan organ inti dalam diri manusia.

👉🏻Dikatakan bahwasanya jantung memiliki “otak” yang mengirimkan sinyal kepada otak yang ada di kepala kita. Istilah dalam rilisan ilmiah dikenal dengan “neurocardiology”.

☝🏻Bahkan, kini orang-orang Barat pun berkesimpulan bahwasanya untuk mendapatkan kesehatan, baik fisik ataupun psikis, mesti diawali dari kesehatan qalbu / jantung / heart. Mereka melakukan berbagai macam penelitian untuk mendapatkan kondisi “balance” dalam diri seseorang.

✅Beruntung umat Islam yang lebih dahulu diberi petunjuk oleh Allaah dan Rasul-Nya bahwasanya qalbu adalah pusat pengendali diri. Di sanalah pusat kehidupan, pikiran, diin, dan akhlak seseorang. Bila ia baik maka baiklah keseluruhan manusia, bila ia buruk maka buruklah keseluruhannya.

✅ Allaah Azza wa Jalla berfirman tentang qalbu sebagai pusat pemikiran dan kendali manusia:

(وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qalbu (jantung/ hati), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [QS. Al-A’raaf 179]

(أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu (jantung/ hati) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [QS. Al-Hajj 46]

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah qalbu (jantung/ hati) mereka terkunci?” [QS. Muhammad 24]

✅Sabda Rasuulullaahi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam tentang qalbu:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (jantung/ hati).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

✅ Doa agar jantung/ hati kita selalu berada di atas ketaatan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikan qalbu, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu (Al-Islam).”

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Yaa Allaah Yang Maha Menggerak-gerikan hati, gerakanlah hati kami agar tetap berada di atas ketaatan terhadap-Mu.”

✅Referensi Barat:
https://www.heartmath.org
http://www.mindfulmuscle.com
http://theness.com/neurologicablog/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Neurocardiology

♻️ Ayahnya Ezra, dari berbagai sumber

Catatan:
– Bedakan antara hati yang bermakna heart/ jantung/ qalbu dengan hati yang bermakna liver (organ pencernaan).

Akal

💡 A K A L 💡

image

☝🏻Abul Faraj Ibnul Jauzi rahiimahullaah berkata tentang akal:

✅”Akal merupakan sebuah dorongan layaknya sebuah cahaya yang dihujamkan di dalam hati yang kemudian digunakan untuk menemukan sesuatu sehingga mengetahui mana yang rasional dan mana yang tidak. Cahaya tersebut dapat mengecil dan membesar. Jika cahaya tersebut menguat, maka akan bisa mengekang, yaitu dengan cara menyimpulkan berbagai akibat yang akan terjadi dimana hawa nafsu sering mendahului.”

☝🏻Letak Akal

✅ Banyak para Ulama yang berpendapat bahwa akal terletak di dalam hati (qalbu). Di antaranya yang diriwayatkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i radhiyallaahu ‘anhu, dalilnya adalah:

فتكون لهم قلوب يعقلون بها
“Lalu mereka memiliki hati yang dengan itu bisa menggunakan akalnya (berpikir/ memahami).” [QS. Al-Hajj: 46]

✅ Sebagian lain berpendapat bahwa akal tempatnya di otak. Pengikut Abu Hanifah memilih pendapat ini.

☝🏻Keutamaan Akal

✅ Akal mengantarkan seseorang untuk menetapkan adanya Allaah dan memerintahkan taat menjalankah seluruh perintah-Nya.

✅ Akal juga menetapkan kebenaran mu’jizat para Rasul dan memerintahkan seseorang taat kepada mereka.

✅ Akal telah memperlihatkan berbagai akibat atas sesuatu sehingga seseorang bisa mengambil pelajaran.

✅ Akal dapat memerangi hawa nafsu sehingga bisa mengembalikan diri yang tersesat.

✅ Akal dapat mengungkap hal-hal yang samar, mengajak melakukan hal yang mulia, dan melarang dari yang hina.

✅ Akal juga bida mendatangkan hal yang indah dan menghilangkan hal yang buruk.

☝🏻Hawa Nafsu dan Akal

✅ Akal berfungsi sebagai pengikat hawa nafsu. Maka, tidak sepatutnya hawa nafsu yang membimbing akal manusia.

✅ Hawa nafsu tidak boleh menguasai akal, karena akal seharusnya menjadi pemimpin bagi hawa nafsu.

☝🏻Wallaahu a’lam

👉🏻 Diringkas oleh Ayahnya Ezra dari Dzammul Hawa libnil Jauzi rahiimahullaah

Bacaan Mad Wajib dan Mad Jaiz

Berikut cara membaca Mad Wajib Muttashil dan Jaiz Munfashil berdasarkan Riwayat Imam Hafsh dari Qiraah Imam ‘Ashim berdasarkan Jalur Syathibiyyah dan Thayyibatun Nasyr.

⭕ تركيب المدين وذلك برواية حفص عن عاصم من طريق الشاطبية . ⭕
Susunan kedua mad ini dalam riwayat Hafsh dari Imam Ashim jalur Syathibiyyah

✏ ( فيها سلسلة واحدة عن حفص ) ✏
Hanya ada satu silsilah dalam Hafsh:

إذا كان المنفصل 4 يمد المتصل 4 ( لا يصح أن يكون المتصل 5 ) .
🔵 Bila memanjangkan manfashil 4 harakat, maka muttashil mesti 4 harakat.
❌ Tidak sah memanjangkan muttashil menjadi 5 harakat

إذا كان المنفصل 5 يمد المتصل 5 ( لا يصح أن يكون المتصل 4 ) .
🔵 Bila munfashil 5 harakat, maka muttashil mesti 5 harakat
❌ Tidak sah memanjangkan muttashil menjadi 4 harakat

✏ أما من طريق طيبة النشر : ( فيها 52 سلسلة عن حفص ) . ✏
Adapun berdasarkan jalur Thayyibatun Nasyr (di dalamnya terdapat 52 silsilah dari Imam Hafsh)

المتصل عن طريق طيبة النشر يمد 4 أو 5 أو 6 حركات ( ثلاثة أوجه ) .
🔵 Mad muttashil dalam jalur Thayyibatun Nasyr boleh dipanjangkan 4, 5, atau 6 harakat (tiga cara).

المنفصل عن طريق طيبة النشر يمد 2 أو 3 أو 4 أو 5 حركات ( أربعة أوجه ) .
🔵 Mad munfashil dari jalur Thayyibatun Nasyr boleh dipanjangkan 2, 3, 4, atau 5 harakat (empat cara).

والجدول التالي يبين الأوجه الجائزة عند تركيب المدين المنفصل والمتصل من طريقة طيبة النشر :
Bagan berikut (lihat gambar) akan memperjelas cara-cara yang dibolehkan terkait susunan mad Munfashil dan Muttashil dalam jalur Thayyibatun Nasyr:
🔴 Bila Munfashil 2 harakat, maka Muttashil boleh memilih 4 atau 6 harakat.
🔴 Bila Munfashil 3 harakat, maka Muttashil mesti dibaca 6 harakat.
🔴 Bila Munfashil 4 harakat, maka Muttashil boleh memilih 4 atau 6 harakat.
🔴 Bila Munfashil 5 harakat, maka Muttashil boleh memilih 5 atau 6 harakat.

Aturan Jaiz dan Wajib

🚨 Catatan 🚨
🚩 Pilihan-pilihan tersebut hanya dipilih satu saja dalam sekali baca.
🚩 Bacaan mad jaiz, meliputi: munfashil, shilah thawilah, dan aridh lissukun.
🚩 Bila kita ingin membaca dengan jalur Thayyibatun Nasyr maka hendaknya memahami terlebih dahulu beberapa cara baca di dalamnya, karena ada beberapa perbedaan dengan cara baca dalam jalur Syathibiyyah. Sedangkan yang masyhur dan tersebar di tengah-tengah kita (sesuai mushaf madinah/ standar internasional) adalah bacaan menurut jalur Syathibiyyah.

😉 Semoga bermanfaat 😉

〰〰〰〰〰〰〰

Jadikan harta Anda berkah demi kebaikan di jalan Allah. Untuk kelancaran kegiatan Online Tajwid silakan salurkan donasi Anda melalui:

BANK MANDIRI CAB. DAGO 1310006109708 a.n. LAILI AL FADHLI

BANK SYARIAH MANDIRI (BSM) 7082316188 a.n. LAILI AL FADHLI

Anda juga bisa berpartisipasi menyalurkan donasi melalui Top Up Pulsa ke nomor Admin Online Tajwid: 0823 1901 7000 (Telkomsel)

〰〰〰〰〰〰〰

☎Contact:
📱 WA / Telegram: +62 823 1901 7000
📧 Email: onlinetajwid.info@gmail.com
✅ Bergabung bersama Channel Telegram: @onlinetajwidinfo
🚩Ikuti Fan Page kami di Facebook: Online Tajwid
🐥 Ikuti kami di Twitter: @OnlineTajwid

☝🏼Barakallaahu fiikum ☝🏼

Materi WhatsApp Tajwid Angkatan I (2015)

1. Tema : Al-Quran Al-Karim
Sub Tema:
📌 Pengertian Al-Quran Al-Karim
📌 Mengapa Al-Quran diturunkan?
📌 Keutamaan Al-Quran Al-Karim
📌 Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Quran
📌 Beberapa Adab dalam Membaca Al-Quran

DOWNLOAD PDF-NYA DI SINI

2. Tema : Mabadi Ilmu Tajwid
Sub Tema:
📌 Pengertian Tajwid
📌 Pokok Bahasan dan Buah Mempelajari Ilmu Tajwid
📌 Keutamaan dan Nisbah Ilmu Tajwid
📌 Peletak Dasar Ilmu Tajwid
📌 Nama dan Sandaran Hukum (Pensyariatan) Ilmu Tajwid
📌 Hukum Mengamalkan Ilmu Tajwid
📌 Permasalahan yang Dibahas Ilmu Tajwid

DOWNLOAD PDF-NYA DI SINI

3. Tema : Muqaddimah Fii Tahsinit Tilawah

Sub Tema:

  • Tartil dan Tajwid
  • Tajwid dan Tahsin
  • Al-Lahn fil Qiraah
  • Rukun Bacaan Al-Quran
  • Tempo Membaca Al-Quran
  • Isti’adzah dan Basmallah

DOWNLOAD PDF-NYA DI SINI

DENGARKAN AUDIO-NYA DI SINI

4. Tema : Tajwid Menurut Al-Imam Ibnul Jazariy
Sub Tema:
📌 Hukum Tajwid
📌 Urgensi Tajwid
📌 Tilawah, Qiraah, dan Adaa
📌 Kesempurnaan Tajwid
📌 Takalluf dan Cara Melatih Lisan

DOWNLOAD PDF-NYA DI SINI

5. Tema : Konsisten Pada Mad
Sub Tema:
📌 Pengertian Mad
📌 Mad Dua Harakat
📌 Mad Lebih Dari Dua Harakat
📌 Tanda Mad Tidak Dibaca Panjang

6. Tema : Konsisten Pada Ghunnah
Sub Tema:
📌 Pengertian Ghunnah
📌 Ghunnah pada Mim dan Nun Tasydid
📌 Ghunnah pada Nun Sukun dan Tanwin
📌 Ghunnah pada Mim Sukun
📌 Tanda-Tanda dalam Al-Quran

MATERI 5 DAN 6 DOWNLOAD DI SINI

7. Tema : Huruf Muqatha’ah dan Hamzah Washal
Sub Tema:
📌 Kaidah Membaca Huruf Muqatha’ah
📌 Kaidah Membaca Hamzah Washal

MATERI PDF DOWNLOAD DI SINI

[AUDIO] Khutbah Jumat 31 Juli 2015 – Merawat Taqwa

Bismillaah. Kami hadirkan rekaman khutbah Jumat Abu Ezra Al Fadhli pada tanggal 31 Juli 2015 di Masjid Al Kaaffah, Jalan Kopo 231-233 Bandung.

Dalam khutbah kali ini, khatib mengajak kita sekalian untuk merawat ketaqwaan agar ia tetap bersemi pasca Ramadhan. Mengambil ibrah dari QS. Al Jumuah ayat ke-2 khatib menguraikan beberapa langkah untuk mencapai kesempurnaan ketaqwaan dan cara efektif dalam merawatnya. Selamat menyimak.

Klik Di Sini untuk Mengunduh

[AUDIO] Khutbah Idul Fitri 1436 H

Berikut kami tampilkan Khutbah Idul Fitri 1436 H yang disampaikan oleh Abu Ezra Al-Fadhli di Masjid Al-Muhajirin, Ranca Emas, Ranca Manyar, Bandung, dengan tema: “Mengambil Ibrah dari Ramadhan”.

Mengambil Ibrah dari Ramadhan_Khutbah Id Fitri 1436_Abo Ezra El-Fadhli.mp3 – https://drive.google.com/file/d/0Bx8kMo1f1KCHLWZGZVVBQjVQdG8/view?usp=docslist_api

Semoga bermanfaat dan bila di dalamnya terdapat kesalahan, kekeliruan, dan hal-hal lain yang menyimpang dari al-haqq mohon untuk menyampaikannya di kolom komentar. Jazaakumullaahu khayran katsiiran.

Pendapat Syaikh Abdul Karim Al-Jazairiy terhadap Qira’ah Langgam Jawa

Masih segar dalam ingatan kita, bahwa dalam peringatan 27 Rajab di Istana Negara, pembacaan Al-Qur’an dibaca dengan langgam Jawa. Suatu hal yang baru dan begitu asing di telinga.

Kami pihak LTI (Lembaga Tarbiyyah Islamiyyah) Bandung -walhamdulillāh- berkesempatan untuk memperdengarkan rekaman qiraah tersebut kepada Syaikh Abdul Karim Al-Jazairiy -hafizhahullāh-, seorang ulama qiraah asal Aljazair, pemegang ijazah/ sanad Qira’at Al-‘Asyr. Berikut rekaman pendapat beliau yang dikirim melalaui whatsapp.

DENGARKAN DI SINI

Terjemahan:
(Diterjemahkan oleh Ustadz Halim)

image

“Bismillāhirrahmānirrahīm.
Segala puji milik Allāh, semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang yang mengikuti petunjuknya. wa ba’du (selanjutnya):

Setelah saya mendengarkan bacaan orang ini yang membaca (Al-Quran) di kota Jogjakarta (seharusnya kota Jakarta, yang membaca orang Jogja, pent.), Indonesia.

Pertama, dia membaca dengan langgam jawa/dialek jawa. Memang ada bacaan dengan beberapa dialek Arab akan tetapi dialek tersebut sesuai dengan 3 hal:

1. Sesuai dengan rasm Usmani

2. Sesuai dengan Qiraat yang mana al-Quran diturunkan dengan Qiraat tersebut

3. Sesuai dengan bahasa Arab yang sanadnya bersambung kepada Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Berkaitan dgn bacaannya saya mengatakan tidak boleh karena beberapa hal:

1. Bacaan ini (dengan langgam/dialek jawa) bukan petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan salafush shalih -semoga Allāh meridhai mereka semua-.

Urusan membaca Al-Quran adalah urusan yang bersifat ibadah mahdhah yang mesti ada dalil untuk membolehkannya. Jika tidak, maka secara pokok/asal adalah terlarang karena asalnya ibadah adalah terlarang sampai ada dalil (yang memerintahkannya), dan di sini (dalam bacaan dengan langgam/ lahjah jawa) tidak ada dalil, artinya terlarang.

2. Urusan ini (membaca dgn langgam/lahjah jawa) minimal syubhat. Seorang muslim yang berakal akan menahan dirinya tergelincir dalam syubhat. Dengan demikian (bacaan dengan langgam jawa/lahjah jawa) adalah syubhat dan ini dapat menyesatkan orang.

3. Dalam jiwa kita mesti ada penghormatan terhadap kitab Allāh Azza wa Jalla, pemuliaan, keagungan dan kedudukannya dalam agama kita yang semua itu akan mendorong kita untuk menjaga kalam Allāh Azza wa Jalla dari langgam-langgam orang fasik dan tidak diragukan lagi ia (Qari tersebut) membaca seperti itu.

Bagaimana bisa masuk akal memgumpulkan antara dua hal yang bertentangan. Ini hal yang teraneh di antara yang aneh dan terasing di antara yang asing dalam bacaan Qari ini.

4. Jika (kita asumsikan) dalam bacaan  maqamat Jawa ini ada maslahat, maka meninggalkannya lebih utama karena adanya mafsadat, sedangkan meninggalkan mafsadat didahulukan dari pada mengambil maslahat (dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil mashālih).

5. Memperindah bacaan (Al-Quran) dengan suara itu mustahab (sunnah) bukan wajib, lalu mengapa kita membebani diri dengan melakukan yang mustahab sehingga kita membaca dalam perkara yang minimal keadaannya makruh atau syubhat. Apalagi Qari yang membaca itu, ia tidak membaca dengan hukum-hukum tajwid yang mana para Ulama membawakan nash-nashnya. Demikian pula bacaan Al-Quran itu adalah sunnah yang mesti diikuti, generasi akhir belajar dari generasi pertama. Maka tidak ragu lagi ia (Qari Jogja itu) membaca dengan tidak tepat dan tidak sesuai kaidah.

Wallāhu Ta’ala a’lam.
Wassalāmu’alaikum.”

(Diedit oleh Ayahnya Ezra Al-Fadhli)

%d bloggers like this: