Pendapat Syaikh Abdul Karim Al-Jazairiy terhadap Qira’ah Langgam Jawa

Masih segar dalam ingatan kita, bahwa dalam peringatan 27 Rajab di Istana Negara, pembacaan Al-Qur’an dibaca dengan langgam Jawa. Suatu hal yang baru dan begitu asing di telinga.

Kami pihak LTI (Lembaga Tarbiyyah Islamiyyah) Bandung -walhamdulillāh- berkesempatan untuk memperdengarkan rekaman qiraah tersebut kepada Syaikh Abdul Karim Al-Jazairiy -hafizhahullāh-, seorang ulama qiraah asal Aljazair, pemegang ijazah/ sanad Qira’at Al-‘Asyr. Berikut rekaman pendapat beliau yang dikirim melalaui whatsapp.

DENGARKAN DI SINI

Terjemahan:
(Diterjemahkan oleh Ustadz Halim)

image

“Bismillāhirrahmānirrahīm.
Segala puji milik Allāh, semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang yang mengikuti petunjuknya. wa ba’du (selanjutnya):

Setelah saya mendengarkan bacaan orang ini yang membaca (Al-Quran) di kota Jogjakarta (seharusnya kota Jakarta, yang membaca orang Jogja, pent.), Indonesia.

Pertama, dia membaca dengan langgam jawa/dialek jawa. Memang ada bacaan dengan beberapa dialek Arab akan tetapi dialek tersebut sesuai dengan 3 hal:

1. Sesuai dengan rasm Usmani

2. Sesuai dengan Qiraat yang mana al-Quran diturunkan dengan Qiraat tersebut

3. Sesuai dengan bahasa Arab yang sanadnya bersambung kepada Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Berkaitan dgn bacaannya saya mengatakan tidak boleh karena beberapa hal:

1. Bacaan ini (dengan langgam/dialek jawa) bukan petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan salafush shalih -semoga Allāh meridhai mereka semua-.

Urusan membaca Al-Quran adalah urusan yang bersifat ibadah mahdhah yang mesti ada dalil untuk membolehkannya. Jika tidak, maka secara pokok/asal adalah terlarang karena asalnya ibadah adalah terlarang sampai ada dalil (yang memerintahkannya), dan di sini (dalam bacaan dengan langgam/ lahjah jawa) tidak ada dalil, artinya terlarang.

2. Urusan ini (membaca dgn langgam/lahjah jawa) minimal syubhat. Seorang muslim yang berakal akan menahan dirinya tergelincir dalam syubhat. Dengan demikian (bacaan dengan langgam jawa/lahjah jawa) adalah syubhat dan ini dapat menyesatkan orang.

3. Dalam jiwa kita mesti ada penghormatan terhadap kitab Allāh Azza wa Jalla, pemuliaan, keagungan dan kedudukannya dalam agama kita yang semua itu akan mendorong kita untuk menjaga kalam Allāh Azza wa Jalla dari langgam-langgam orang fasik dan tidak diragukan lagi ia (Qari tersebut) membaca seperti itu.

Bagaimana bisa masuk akal memgumpulkan antara dua hal yang bertentangan. Ini hal yang teraneh di antara yang aneh dan terasing di antara yang asing dalam bacaan Qari ini.

4. Jika (kita asumsikan) dalam bacaan  maqamat Jawa ini ada maslahat, maka meninggalkannya lebih utama karena adanya mafsadat, sedangkan meninggalkan mafsadat didahulukan dari pada mengambil maslahat (dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil mashālih).

5. Memperindah bacaan (Al-Quran) dengan suara itu mustahab (sunnah) bukan wajib, lalu mengapa kita membebani diri dengan melakukan yang mustahab sehingga kita membaca dalam perkara yang minimal keadaannya makruh atau syubhat. Apalagi Qari yang membaca itu, ia tidak membaca dengan hukum-hukum tajwid yang mana para Ulama membawakan nash-nashnya. Demikian pula bacaan Al-Quran itu adalah sunnah yang mesti diikuti, generasi akhir belajar dari generasi pertama. Maka tidak ragu lagi ia (Qari Jogja itu) membaca dengan tidak tepat dan tidak sesuai kaidah.

Wallāhu Ta’ala a’lam.
Wassalāmu’alaikum.”

(Diedit oleh Ayahnya Ezra Al-Fadhli)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s