books

Tunduklah di Hadapan Ilmu

Saat banyaknya generasi muda Islam tampil di panggung-panggung dalam ruang-ruang publik, jelas merupakan kebanggaan dan besar harapan melalui tangan para tokoh dan ustadz muda ini. Namanya dikenal, bukunya tersebar, kata-katanya lebih mudah diikuti orang lain daripada orang-orang biasa seperti Saya ini. Mereka pun sering tampil dalam seminar-seminar, radio, majalah, koran, dan televisi.

Namun, masih ada yang mengganjjal…

Saat sebagian besar di antara mereka justru belum membawa keutuhan Islam dan belum diiringi dengan baiknya pemahaman. Seperti misalnya, banyak di antara merwka yang tidak paham kata “fitnah” dalam ayat “al-fitnah asyaddu minal qatli” sehingga membawa ayat tersebut untuk mendalili “fitnah-fitnah” dalam konteks bahasa Indonesia.

Saya juga pernah menyaksikan di TV pembicara yang seringkali salah dalam beristidlal. Misalnya, menggunakan ayat “faidza azamta fatawakkal ‘alallaah” untuk mendalili bolehnya berambisi dalam meraih cita-cita. Atau ayat ”laa ikraaha fiddiin” untuk mendalili terlarangnya memaksa anak menikah dengan orang pilihan orangtuanya.

Sebagiannya juga masih belum bisa sama sekali bahasa Arab, bahkan untuk sekedar dasar-dasarnya. Sehingga seringkali keliru dalam menuliskan atau menggunakan istilah-istilah yang berbahasa Arab.

Ada juga yang masih belum bisa membedakan istilah-istilah fiqih dan ushul fiqih. Bahkan masih tercampur-aduk, tidak bisa memisahkan istilah-istilah tersebut. Istilah-istilah seperti rukun, syarat, tankihul manath, tahqiqul manath, istidlal, istinbath tidak banyak dipahami.

Yang lebih membuat sedih, saya juga menemukan, bahwasanya di antara mereka untuk sekedar menjaga salah satu rukun shalat saja masih kerepotan karena bacaan Al-Qurannya masih jauh dari kata pas-pasan. Hukum-hukum yang dipergunakan setiap hari pun tidak dikuasainya dengan baik. Fiqih thaharah saja banyak yang belum dipahaminya.

Wahai saudaraku, saya mungkin bukanlah siapa-siapa. Tidak layak bagi saya untuk berkata A, B, C, dan D pada hal-hal yang saya pun belum mampu menjangkaunya. Namun, ini sekedar goresan kegundahan agar kita semua bisa lebih baik lagi.

Wahai saudaraku… Jangan sampai sibuknya aktivitasmu menutup pintu menuntut ilmu. Tidak… Hadirilah majlis-majlis ilmu… Tuntutlah ilmu karena engkau sedang membawa tinggi-tinggi panji Islam.

Jangan sampai “pakaian ulama”-mu membuatmu enggan duduk bersama orang-orang biasa, atau sekedar membacakan Al-Fatihah untuk dikoreksi oleh Ustadz biasa-biasa yang mumpuni. Tanggalkan egomu, tundukkan hatimu di hadapan ilmu dan ahlinya.

Semoga bermanfaat… Khususnya bagi diri saya pribadi. Aamiin.

-Abu Ezra Al-Fadhli-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s