Fiqih yang Dipermasalahkan Netizen

[KLARIFIKASI] Banci Menjadi Imam Shalat..?

Beberapa bulan lalu saya menemukan beberapa postingan di beranda FB yang berisi keheranan para netizen muslim mengenai salah satu materi fiqih dalam sebuah buku yang beredar. Di dalamnya berisi beberapa fiqih berkaitan dengan kondisi banci yang menjadi imam bagi para wanita. Namun hal tersebut sudah mereda saat beberapa netizen yang memahami fiqih dalam persoalan ini memberikan penjelasan dengan cukup baik.

Beberapa waktu kemudian, kembali beredar keheranan yang sama dan dari buku yang sama yang disebarkan oleh netizen yang berbeda. Kali ini gaungnya terasa lebih besar, karena menurut beberapa informasi juga disebarkan melalui broadcast BBM dan WA. Sangat disayangkan pula, beberapa tuduhan yang buruk dilontarkan kepada buku tersebut, sampai-sampai ada yang memvonis buku tersebut sebagai bagian dari upaya penyebaran dan pembenaran LGBT atau transgender.

Saya sendiri tidak paham apa maksud buku tersebut menampilkan ketentuan fiqih banci dalam shalat berjamaah. Namun, saya sendiri berusaha untuk husnuzhan dan menganggap semua itu adalah kesalahpahaman belaka. Mungkin karena penulis buku kurang rinci menjelaskan hal tersebut yang kemudian direspon secara agak berlebihan oleh sebagian orang yang tidak terlalu paham fiqih dalam persoalan ini.

Fiqih yang Dipermasalahkan Netizen
Fiqih yang Dipermasalahkan Netizen

Dalam fiqih Islam, berkaitan dengan banci kita mengenal istilah mukhannats (bencong), mutarajjilah (wanita yang kelelakian), dan khuntsa (interseks/berkelamin ganda). Mukhannats dan Mutarajjilah yang dibuat-buat merupakan perbuatan yang dilaknat oleh Rasulullah, sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

Dari Ibnu Abbas, katanya, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki mukhannats dan para wanita mutarajjilah. Kata beliau, ‘Keluarkan mereka dari rumah kalian’, maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengusir Si Fulan, sedangkan Umar mengusir Si Fulan. [HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5886. Menurut al-Hâfizh Ibnu Hajar, dalam riwayat versi Abu Dzar al-Harawi –salah seorang perawi kitab Shahîh al-Bukhâri yang menjadi acuan Ibnu Hajar dalam menyusun Fathul-Bâri-, akhir hadits ini menyebutkan bahwa Umar mengusir Si Fulanah (wanita). Adapun dalam riwayat-riwayat lainnya disebutkan Si Fulan (pria)]

Dalam riwayat lain disebutkan:

،لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّسَاءِ والمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجَالِ

Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai laki-laki. [HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5885]

Dalam Syarahnya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullâh mengatakan, bahwa laknat dan celaan Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tadi khusus ditujukan kepada orang yang sengaja meniru lawan jenisnya. Adapun bila hal tersebut bersifat pembawaan (karakter asli), maka ia cukup diperintah agar berusaha meninggalkannya semaksimal mungkin secara bertahap. Bila ia tidak mau berusaha meninggalkannya, dan membiarkan dirinya seperti itu, barulah ia berdosa, lebih-lebih bila ia menunjukkan sikap ridha dengan perangainya tadi.

وَأَمَّا ذَمّ التَّشَبُّه بِالْكَلَامِ وَالْمَشْي فَمُخْتَصّ بِمَنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ أَصْل خِلْقَته فَإِنَّمَا يُؤْمَر بِتَكَلُّفِ تَرْكه وَالْإِدْمَان عَلَى ذَلِكَ بِالتَّدْرِيجِ ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَل وَتَمَادَى دَخَلَهُ الذَّمّ ، وَلَا سِيَّمَا إِنْ بَدَا مِنْهُ مَا يَدُلّ عَلَى الرِّضَا بِهِ ، …… وَأَمَّا إِطْلَاق مَنْ أَطْلَقَ كَالنَّوَوِيِّ وَأَنَّ الْمُخَنَّث الْخِلْقِيّ لَا يَتَّجِه عَلَيْهِ اللَّوْم فَمَحْمُول عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَقْدِر عَلَى تَرْك التَّثَنِّي وَالتَّكَسُّر فِي الْمَشْي وَالْكَلَام بَعْد تَعَاطِيه الْمُعَالَجَة لِتَرْكِ ذَلِكَ ، وَإِلَّا مَتَى كَانَ تَرْك ذَلِكَ مُمْكِنًا وَلَوْ بِالتَّدْرِيجِ فَتَرْكه بِغَيْرِ عُذْر لَحِقَهُ اللَّوْم

“Adapun celaan penyerupaan dalam perkataan dan cara berjalan (dengan wanita), maka itu dikhususkan bagi orang yang sengaja melakukannya. Orang yang melakukannya karena pembawaan sejak lahir, maka ia diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkannya dan kecanduan atas hal itu secara bertahap. Apabila ia tidak melakukannya dan terus-menerus dalam perbuatan itu, maka ia masuk dalam celaan, khususnya jika nampak darinya adanya keridlaan dengannya….. Adapun pemutlakan sebagian ulama yang memutlakkannya – seperti misal An-Nawawiy – bahwasannya mukhannats khaliqiy (dari lahir/pembawaan) tidak dianggap tercela, maka maksudnya adalah orang tersebut tidak mampu untuk meninggalkan sifat kewanita-wanitaan dan lemah-lembut/gemulai dalam berjalan dan berbicara setelah ia berusaha mengobatinya. Apabila ia masih mampu meninggalkannya meskipun secara bertahap (sedikit demi sedikit) namun malah tidak melakukannya tanpa ‘udzur, maka ia pantas mendapatkan celaan” [Fathul-Baariy, 10/332].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

قال العلماء: المخنث ضربان أحدهما من خلق كذلك ولم يتكلف التخلق بأخلاق النساء وزيهن وكلامهن وحركاتهن بل هو خلقة خلقه الله عليها هذا لا ذم عليه ولا عتب ولا إثم ولا عقوبة لأنه معذور لا صنع له في ذلك ولهذا لم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم أولاً دخوله على النساء ولا خلقه الذي هو عليه حين كان من أصل خلقته وإنما أنكر عليه بعد ذلك معرفته لأوصاف النساء ولم ينكر صفته وكونه مخنثاً. الضرب الثاني من المخنث هو من لم يكن له ذلك خلقة بل يتكلف أخلاق النساء وحركاتهن وهيآتهن وكلامهن ويتزيا بزيهن، فهذا هو المذموم الذي جاء في الأحاديث الصحيحة لعنه وهو بمعنى الحديث الاَخر: (لعن الله المتشبهات من النساء بالرجال والمتشبهين بالنساء من الرجال) ….

“Para ulama berkata : al-mukhannats ada dua macam. Pertama, bawaan lahir tidak meniru-niru berbuat, berhias, dan berhias seperti wanita. Bahkan ia adalah satu pembawaan yang Allah ciptakan padanya. Jenis seperti ini tidak dicela dan tidak berdosa, karena ia diberi ‘udzur dan ia tidak membuat-buat hal itu atas dirinya. Oleh karena itu, pada awalnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari masuknya orang itu di majelis para wanita dan tidak pula mengingkari tingkah laku/pembawaan yang ada padanya sejak lahir. Beliau hanya mengingkari keberadaan mereka setelah mengetahui mereka menyifati sifat fisik para wanita, tidak pada keberadaan sifat dan keadaan dirinya yang mukhannats[3]. Kedua, al-mukhannats yang dibuat-buat (bukan bawaan lahir) yang mereka itu bertingkah laku meniru wanita dalam berbuat, berhias, dan berhias. Jenis inilah yang tercela sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits shahih yang melaknatnya, seperti hadits : ‘Allah telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’….. [Syarah Shahih Muslim, 7/388].

Adapun “khuntsa” adalah seseorang yang tidak jelas kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Atau orang yang memiliki alat vital laki-laki dan wanita sekaligus. Diambil dari kata-kata ‘Al-khanstu’ artinya adalah ‘lembut dan pecah’. Sedangkan menurut istilah adalah orang yang memiliki dua alat vital, laki-laki dan wanita. Atau orang yang tidak memiliki kedua-duanya sama sekali, yang dimiliki hanyalah lubang tempat keluar kencing.

Khuntsa sendiri terbagi pada dua jenis:

Ibnu Qudamah rahimahullah, berkata, “Khuntsa dapat terdiri dari musykil (tidak dapat terdeteksi) atau ghairu musykil (terdeteksi). Jika dia tergolong ghairu musykil (terdeteksi), misalnya jika tampak padanya tanda-tanda kelelakian, maka dia adalah seorang laki-laki dan berlaku baginya hukum laki-laki. Atau apabila terdapat padanya tanda-tanda wanita, maka dia adalah wanita dan berlaku baginya hukum wanita.

Jika dia tergolong musykil (tidak terdeteksi) dan tidak terdapat padanya tanda-tanda apakah laki-laki atau wanita, maka ulama di kalangan kami berbeda pendapat. Al-Kharqi berkata, keputusannya kembali kepada pengakuannya. Jika dia mengaku bahwa dirinya laki-laki, dan dirinya merasa cenderung menyukai wanita, maka dia boleh menikahi wanita. Jika dia mengaku bahwa dirinya wanita dan dia cenderung menyukai laki-laki, maka dia dinikakan dengan laki-laki. Karena kesimpulan seperti itu tidak mungkin dapat diraih kecuali dari dirinya sendiri dan tidak ada jawaban yang dapat memuaskan jika bersumber dari selainnya. Maka pengakuannya diterima, sebagaimana diterimanya pengakuan seorang wanita tentang haidnya dan masa iddahnya. Sedangkan dia telah memperkenalkan dirinya bahwa dia cenderung menyukai salah satu dari kedua jenis dan memiliki syahwat kepadanya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan naluri kepada hewan jantan menyukai hewan betina dan memiliki kecenderungan kepadanya. Kecenderungan ini terdapat di dalam jiwa dan syahwat, tidak dapat ketahui oleh selainnya. Sedangkan kita tidak dapat mengenal tanda-tandanya secara zahir. Maka urusannya dikembalikan dengan perkara batin yang khusus dengan hukumnya.” [Al-Mughni, 7/619]

Mayoritas ahli fiqih (fuqaha) berpendapat bahwa khuntsa apabila belum baligh, jika dia kencing melalui zakarnya, maka dianggap anak laki-laki. Adapun jika kencingnya melalui clitorisnya, maka dia dianggap sebagai anak perempuan.

Adapun setelah baligh, maka ketetapan terhadapnya dapat diketahui dengan tanda-tanda berikut ini; Jika tumbuh jenggotnya, atau keluar mani dari zakarnya, atau menyukai wanita, maka dia adalah seorang laki-laki. Demikian pula jika terdapat tanda-tanda keberanian, kejantanan dan tahan menghadapi musuh, maka itu adalah tanda kelelakian, sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi yang mengutip pendapat Al-Asnawi.

Namun jika muncul buah dadanya, atau keluar susu darinya, atau haid, atau mungkin dijimak, maka dia adalah wanita. Apalagi jika dia melahirkan, maka sudah dipastikan bahwa dia adalah wanita. Tanda ini didahulukan dari tanda-tanda sebelumnya. Adapun tanda kecendrungan, digunakan apabila tanda-tanda sebelumnya tidak dapat ditangkap. Apabila dia cenderung menyukai wanita, maka dia laki-laki. Sedangkan jika cenderung menyukai laki-laki, maka dia adalah wanita.  Jika dia berkata, saya menyukai kedua-duanya sekaligus, atau dia tidak memiliki kecenderungan menyukai keduanya sama sekali, maka dia adalah musykil (problem).” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 20/21-23]

Pendapat yang kuat bagi musykil adalah melalui pemeriksaan medis, apakah secara biologis ia lebih mendekati perempuan atau laki-laki. Hukumnya jatuh kepada hasil pemeriksaan biologis tersebut. Selanjutnya, dokter kemudian berhak untuk menghilangkan salah satu alat kelamin dan menyisakan satu yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi khuntsa tersebut.

Nah, buku di atas kemungkinan besar membahas fiqih shalat berjamaah pada khuntsa musykil yang belum ditentukan jenis kelaminnya. Para ulama telah membahas ketentuan fiqih dalam masalah ini. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Maushu’ah Al-Fiqhiyah berikut,

ولا تصحّ إمامة الخنثى للرّجال ولا لمثلها بلا خلافٍ ، لاحتمال أن تكون امرأةً والمقتدي رجلاً ، وتصحّ إمامتها للنّساء مع الكراهة أو بدونها عند جمهور الفقهاء ، خلافاً للمالكيّة حيث صرّحوا بعدم جوازها مطلقاً

“Tidak sah keimaman seorang khuntsaa bagi laki-laki dan juga bagi yang semisal dengannya (yaitu khuntsaa) tanpa ada perselisihan pendapat karena ada kemungkinan ia berstatus wanita sedangkan makmumnya laki-laki. Dan sah keimamannya bagi wanita meskipun makruh atau dengan selainnya menurut jumhur fuqahaa’. Berbeda halnya dengan madzhab Maalikiyyah dimana mereka menjelaskan ketidakbolehannya secara mutlak[Al-Mausuu’ah Al-Fiqhiyyah, 7/256].

Asy-Syiiraaziy rahimahullah berkata:

ولا تجوز صلاة الرجل خلف الخنثى الْمُشْكِلِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ امرأة, ولا صلاة الخنثى خلف الخنثى لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْمَأْمُومُ رَجُلًا وَالْإِمَامُ امرأة

“Laki-laki tidak diperbolehkan shalat di belakang khuntsaa musykil (yang tidak jelas jenis kelaminnya) karena ada kemungkinan statusnya wanita. Dan tidak diperbolehkan seorang khuntsaa shalat di belakang khuntsaa karena ada kemungkinan status makmumnya laki-laki sedangkan imamnya adalah wanita” [Al-Majmuu’, 4/255].

Dikarenakan khuntsaa musykil mempunyai kemungkinan statusnya laki-laki, ia pun tidak boleh bermakmum kepada seorang wanita. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah berkata:

لا يصحُّ أن تكون المرأةُ إماماً للخُنثى ؛ لاحتمالِ أن يكون ذَكَراً

 “Tidak sah seorang wanita menjadi imam bagi khuntsaa karena adanya kemungkinan statusnya (khuntsaa) laki-laki” [Asy-Syarhul-Mumtii’, 4/223].

Adapun banci mukhannats yang dibuat-buat, atau bawaan lahir namun nampak keridhaan atas apa yang ada pada dirinya tanpa ada usaha untuk meninggalkannya; maka ia termasuk orang fasiq. Keimaman orang fasiq dalam shalat – meski sah – adalah makruh.

عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّهُ كَرِهَ إِمَامَةَ الْمُخَنَّثِ

Dari Mujaahid, bahwasannya ia membenci keimaman mukhannats [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam Dzammul-Malaahiy no. 168].

وَقَالَ الزُّبَيْدِيُّ: قَالَ الزُّهْرِيُّ: لَا نَرَى أَنْ يُصَلَّى خَلْفَ الْمُخَنَّثِ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا

“Az-Zubaidiy berkata : Telah berkata Az-Zuhriy : ‘Kami tidak berpendapat (bolehnya) shalat di belakang mukhannats kecuali alasan darurat yang mengharuskannya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy di bawah hadits no. 695].

Wallaahu a’lam.

Sumber Rujukan:
http://islamqa.info/id/114670

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2015/03/bolehkah-banci-menjadi-imam.html

http://almanhaj.or.id/content/3606/slash/0/banci-dalam-tinjauan-syariat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s