Hukum Mengambil Upah dari Ruqyah

Ruqyah

Dalil yang pertama: hadits dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang berkata:

أن ناساً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أتوا على حي من أحياء العرب فلم يقروهم فبينما هم كذلك إذ لدغ سيد أولئك. فقالوا: هل معكم من دواء أو راق؟ فقالوا: إنكم لم تقرونا ولا نفعل حتى تجعلوا لنا جعلا فجعلوا لهم قطيعا من الشاء. فجعل يقرأ بأم القرآن ويجمع بزاقه ويتفل فبرأ فأتوا بالشاء. فقالوا: لا نأخذه حتى نسأل النبي صلى الله عليه وسلم، فسألوه فضحك وقال: «وما أدراك أنها رقية خذوها واضربوا لي بسهم».

“Bahwasanya sekelompok orang dari Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم mendatangi suatu desa dari desa-desa Arob, tapi penduduknya tidak mau menjamu mereka. Ketika mereka demikian, tiba-tiba saja pemimpin desa tadi disengat binatang. Maka mereka berkata: “Apakah kalian punya obat atau orang yang ahli ruqyah (jampi-jampi)?” Maka mereka menjawab: “Kalian tidak mau menjamu kami. Dan kami tidak akan mengobati sampai kalian memberikan untuk kami upah.” Maka mereka memberikan upah untuk mereka tiga puluh ekor kambing. Maka mulailah dia (Abu Sa’id) membaca Ummul Qur’an dan mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya sedikit (ke kepala kampung). Maka sembuhlah dia. Lalu mereka mendatangkan kambing-kambing itu. Para Shohabat tadi berkata: “Kita tidak mengambilnya sampai kita bertanya kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم .” maka merekapun bertanya kepada beliau. Maka beliau tertawa seraya bersabda: “Dari mana engkau tahu bahwasanya Ummul Kitab adalah ruqyah? Ambillah kambing-kambing tadi, dan berilah aku bagian darinya.” (HR. Al Bukhoriy (5736) dan Muslim (2201)).

Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Ambillah kambing-kambing tadi dari penduduk tadi, dan berilah aku bagian darinya.” Ini merupakan penjelasan hukum dengan perkataan, dan pemberian idzin yang kuat dengan pengamalan, karena beliau tidak punya keperluan untuk diberi bagian dari kambing tadi, hanya saja beliau ingin menguatkan penjelasan bahwasanya perbuatan mereka tadi adalah halal yang murni, yang tiada keraguan di dalamnya. Maka ucapan beliau tadi merupakan dalil yang paling besar bagi orang yang berpendapat bolehnya mengambil upah dari ruqyah dan pengobatan. Dan itu adalah pendapat Malik, Asy Syafi’iy, Abu Hanifah dan pengikutnya, Ahmad Ishaq, Abu Tsaur, dan sekelompok Salaf (ulama terdahulu) dan Kholaf (ulama belakangan).” (“Al Mufhim”/1/hal. 18/hal. 69).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Ini merupakan ucapan jelas sekali tentang bolehnya mengambil upah dari ruqyah dengan Al Fatihah dan dzikir, dan bahwasanya itu adalah halal tanpa kemakruhan di dalamnya. Demikian pula upah dari mengajarkan Al Qur’an. Dan ini adalah madzhab Asy Syafi’iy, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan yang lainnya dari kalangan Salaf dan ulama yang setelah mereka. Abu Hanifah melarang itu dalam pengajaran Al Qur’an, dan membolehkannya dalam ruqyah. Adapun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Dan berilah aku bagian bersama kalian.” Dan dalam riwayat lain: “Bagi-bagilah, dan berilah aku bagian bersama kalian”  maka pembagian ini masuk dalam bab menjaga kehormatan (kehormatan sang peruqyah) dan sumbangan serta memperluas pemberian pada para teman dan rekan. Soalnya jika tidak demikian, maka seluruh kambing tadi adalah milik sang peruqyah secara khusus untuknya. Yang lain tidak punya hak dalam kambing-kambing tadi jika terjadi perebutan. Maka Abu Sa’id membagi-bagikannya di antara mereka adalah dalam rangka memberikan sumbangan, kedermawanan dan menjaga kehormatan. Adapun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Dan berilah aku bagian bersama kalian,” maka beliau bersabda demikian adalah dalam rangka menyenangkan hati mereka dan memperkuat pengetahuan mereka bahwasanya itu tadi adalah halal, tiada kekaburan di dalamnya. Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah berkata demikian pula dalam hadits Anbar (sejenis ikan paus), dan dalam hadits Abu Qotadah tentang kisah keledai liar.” (“Syarh Shohih Muslim”/14/hal. 188).

Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Adapun mengambil upah dari ruqyah, maka sungguh Ahmad memilih bolehnya hal itu, dan beliau berkata: “Tidak apa-apa.” Dan beliau menyebutkan hadits Abu Sa’id. Dan perbedaan antara upah ruqyah dan perkara yang diperselisihkan (upah ta’lim dsb) adalah: bahwasanya ruqyah itu sejenis pengobatan. Harta yang diambil karena ruqyah tadi merupakan “ju’l” (imbalan). Dan memang diperbolehkan mengambil upah dari pengobatan.” (“Al Mughni”/6/hal. 143).

Jika ada yang berkata: “Tiga puluh ekor kambing tadi bukanlah upah ruqyah, tapi pemuliaan untuk tamu.”

Maka jawab kita dengan taufiq Alloh semata: pensyaratan para Shohabat kepada penduduk kampung tadi adalah: “Kalian tidak mau menjamu kami. Dan kami tidak akan mengobati sampai kalian memberikan untuk kami upah.” Mungkin sebagai upah ruqyah, dan mungkin pula sebagai hak tamu. Akan tetapi kemungkinannya sebagai upah ruqyah itu lebih jelas dan lebih kuat karena mereka menamakan tiga puluh ekor kambing tadi sebagai “ju’l” (upah). Andaikata itu sebagai pemuliaan tamu, niscaya mereka menamakannya dengan “nuzul” (hidangan orang yang datang), atau “dhiyafah” (pemuliaan tamu), dan semisalnya.

Jawaban kedua: sesungguhnya tiga puluh ekor kambing itu terlalu besar untuk menjadi nuzul atau dhiyafah, terutama bahwasanya penduduk kampong tadi telah menampakkan kepelitan mereka terhadap para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم . maka posisinya sebagai upah ruqyah itu lebih jelas, dan jumlah kambing yang banyak tadi adalah sebagai benuk kegembiraan mereka karena sembuhnya pemimpin mereka yang tersengat binatang, bukan karena mereka memuliakan para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mengetahui keagungan posisi mereka dalam agama ini.

Jawaban ketiga: sesungguhnya dalil-dalil yang menunjukkan pada kebiasaan Arob saat memuliakan tamu adalah: mereka itu memasak daging, menghidangkan makanan yang sudah siap, dan semisalnya, bukannya memberikan kambing hidup-hidup sehingga tetap saja para tamu mengalami kerepotan.

Maka tiga puluh ekor kambing tadi lebih jelas menjadi upah ruqyah daripada menjadi pemuliaan tamu. Alloh ta’ala a’lam.

Dalil yang kedua tentang upah ruqyah: Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang berkata:

أن نفراً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم مروا بماء فيهم لديغ أو سليم فعرض لهم رجل من أهل الماء فقال: هل فيكم من راق؟ إن في الماء رجلاً لديغاً أو سليماً. فانطلق رجل منهم فقرأ بفاتحة الكتاب على شاء فبرأ، فجاء بالشاء إلى أصحابه، فكرهوا ذلك وقالوا: أخذت على كتاب الله أجراً؟ حتى قدموا المدينة فقالوا: يا رسول الله أخذ على كتاب الله أجراً. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن أحقّ ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله».

“Bahwasanya sekelompok dari Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم melewati suatu desa yang di kalangan mereka ada orang yang tersengat. Maka salah seorang penduduk desa tadi menghadang mereka seraya berkata: “Apakah di kalangan kalian ada orang yang bisa meruqyah? Sesungguhnya di desa ini ada orang yang tersengat.” Maka salah seorang dari mereka berangkat, lalu membacakan Al Fatihah dengan minta imbalan kambing-kambing. Lalu sembuhlah si sakit. Lalu datanglah orang tadi dengan membawa kambing-kambing kepada para sahabatnya. Tapi mereka tidak suka hal itu dan berkata: “Apakah engkau mengambil upah karena Kitabulloh?” sampai mereka tiba di Madinah. Lalu mereka berkata: “Wahai Rosululloh, orang ini mengambil upah karena Kitabulloh.” Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” (HR. Al Bukhoriy (5737)).

Apa maknanya? Yaitu: sungguh obat-obatan itu banyak, akan tetapi berobat dengan Al Qur’an itulah yang utama, karena Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ﴾ [يونس: 57].

 “Wahai orang-orang yang beriman, sungguh telah datang pada kalian petuah dari Robb kalian, dan obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rohmat bagi kaum Mukminin.”

Bahkan sebagaimana Al Qur’an adalah obat bagi penyakit-penyakit hati, dia juga obat bagi penyakit-penyakit badan, karena keumuman firman Alloh عز وجل:

﴿قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ﴾ [فصلت: 44].

 “Katakanlah: Al Qur’an itu bagi orang-orang yang beriman adalah petunjuk dan obat.”

Terutama adalah induk Al Qur’an, yaitu Al Fatihah.

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Sungguh obat ini berpengaruh terhadap penyakit itu dan menghilangkannya sampai seakan-akan penyakit tadi tidak pernah ada, dan dia itu adalah obat yang paling mudah dan paling gampang. Andaikata sang hamba pintar berobat dengan Al Fatihah niscaya dia akan melihat Al Fatihah tadi punya pengaruh ajaib dalam pengobatan. Aku pernah tinggal di Mekkah sekian lama dan aku tertimpa berbagai penyakit, dan aku tidak mendapatkan dokter ataupun obat. Maka aku terus-terusan mengobati diriku dengan Al Fatihah, maka aku melihat dia punya pengaruh ajaib. Dan aku sering menceritakan hal itu pada orang yang mengeluhkan rasa sakit, dan kebanyakan mereka kemudian sembuh dengan cepat.

Akan tetapi ada perkara yang harus dicermati, yaitu: bahwasanya dzikir-dzikir, ayat-ayat dan doa-doa yang dipakai untuk berobat dan meruqyah itu memang bermanfaat dan bisa mengobati. Akan tetapi dia menuntut objeknya harus menerima obat tadi, dan kuatnya tekad pengobatnya serta kuatnya pengaruhnya. Kapan saja tidak terjadi kesembuhan, maka hal itu karena lemahnya pengaruh sang pengobat, atau karena objeknya tidak menerima obat tadi, atau karena faktor penghalang yang kuat, yang menghalangi manjurnya obat, sebagaimana hal itu juga terjadi pada obat-obat dan penyakit-penyakit jasmaniyyah. Ketidakadaan pengaruh obat tadi bisa jadi karena tabiat si penderita tidak menerima obat tadi, dan bisa jadi karena kuatnya penghalang yang menghalangi tuntutan pengaruh obat.Tabiat si penderita jika mengambil obat tadi dengan penerimaan yang sempurna, badan bisa mengambil manfaat dari obat tadi sesuai dengan kadar penerimaan tabiatnya tadi. Demikian pula hati jika mengambil ruqyah-ruqyah dan perlindungan-perlindungan dengan penerimaan yang sempurna, dan si peruqyah punya jiwa yang aktif dan tekad yang berpengaruh untuk menghilangkan penyakit tadi.” (“Al Jawabul Kafiy”/hal. 3).

Maka sebagaimana boleh mengambil upah dari obt-obatan yang ada, maka lebih pantas lagi akan bolehnya mengambil upah dari pengobatan dengan Al Qur’an, karena kesembuhan dengan Al Qur’an itu lebih bisa diharapkan daripada kesembuhan dengan hasil ijtihad para makhluk.

Bukan berarti mengambil upah duniawi itu lebih utama daripada meminta pahala akhirat dari Alloh, jelas pahala akhirat itu lebih baik dari pada upah dunia, akan tetapi dari sisi bolehnya, maka boleh mengambil upah dari ruqyah dengan Al Qur’an.

Kemudian sesungguhnya situasi dialog di dalam hadits itu adalah situasi yang membutuhkan penjelasan, karena para Shohabat رضي الله عنهم mendatangi beliau صلى الله عليه وسلم untuk beliau menjelaskan pada mereka hukum mengambil upah dari ruqyah dengan Kitabulloh. Dan sebagaimana telah tetap dalam ushul: wajibnya memberikan penjelasan pada saat yang dibutuhkan.

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan itu tidak boleh.” (“Majmu’ul Fatawa”/20/hal. 369).

Manakala mereka berkata: “Wahai Rosululloh, orang ini mengambil upah karena Kitabulloh.” Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjawab dengan sabda beliau: “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” Ini menunjukkan bolehnya amalan tadi tanpa keraguan.

Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata tentang hadits ini: “Maka ini menunjukkan bahwasanya tidak mengapa mengambil upah pengajaran sebagaimana boleh mengambil upah karena ruqyah.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/5/hal. 347).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله ditanya: “Dengan sebab sekarang tersebar kasus masuknya jin ke tubuh manusia, dan sebagian orang duduk-duduk dan berkonsentrasi untuk meruqyah dan mengambil upah dari itu, maka apa pendapat Anda tentang masalah ini? Mereka berdalilkan dengan hadits rombongan Shohabat yang meruqyah orang dengan Al Fatihah.”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Adapun dari sisi mengambil upah dari ruqyah kepada orang sakit, maka itu tidak mengapa. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن أحقّ ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله».

 “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” (HR. Al Bukhoriy (5737)).

Dan si pembaca ini seperti juru obat (berusaha memberikan manfaat dengan pengobatan). Beda dengan orang yang mengambil upah dengan semata-mata bacaannya, seperti orang yang membaca Al Qur’an untuk beribadah dengan bacaannya, dan dia mengambil upah karena membaca Al Qur’an, maka ini harom. Akan tetapi orang yang membacakan Al Qur’an pada orang lain untuk diambil manfaatnya, atau mengajarkan Al Qur’an pada orang lain, maka tidak mengapa dia mengambil upah.” Dan seterusnya. (“Liqoatul Babil Maftuh”/8/hal. 34).

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Dan tidak mengapa si peruqyah mengambil upah atau hadiah karena amalannya tadi, karena Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyetujui Shohabat yang mengambil upah dari ruqyah terhadap orang yang disengat itu dan beliau bersabda:

إن أحقّ ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله».

 “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” (HR. Al Bukhoriy (5737)). (“Al Muntaqo Min Fatawal Fauzan”/1/hal. 40).

Dalil yang ketiga: dari Khorijah ibnush Sholt, dari pamannya –yaitu: ‘Alaqoh bin Shuhar رضي الله عنه-:

أنه مر بقوم فأتوه فقالوا: إنك جئت من عند هذا الرجل بخير، فارق لنا هذا الرجل، فأتوه برجل معتوه في القيود، فرقاه بأم القرآن ثلاثة أيام غدوة وعشية، وكلما ختمها جمع بزاقه ثم تفل، فكأنما أنشط من عقال ( أي حل من وثاق ). فأعطوه شيئا فأتى النبي صلى الله عليه و سلم، فذكره له، فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «كل، فلعمري لمن أكل برقية باطل لقد أكلت برقية حق».

“Bahwasanya beliau melewati suatu kaum, lalu mereka mendatangi beliau seraya berkata: “Engkau datang dengan kebaikan dari sini orang itu (yaitu Nabi صلى الله عليه وسلم ), maka ruqyahlah untuk kami orang ini,” lalu mereka mendatangkan orang yang gila yang terbelenggu. Maka beliau meruqyah orang itu dengan Ummul Qur’an selama tiga hari pagi dan sore. Setiap kali beliau menyelesaikan bacaan, beliau mengumpulkan air ludah beliau lalu meludahkannya sedikit ke orang tadi. Maka seakan akan orang gila tadi terbebas dari ikatan. Maka mereka memberi beliau suatu pemberian. Maka beliau mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم , seraya menceritakan hal itu. Maka beliau bersabdalah: “Makanlah pemberian itu. Demi umurku, ada orang memakan dengan ruqyah yang batil, dan sungguh engkau memakan dengan ruqyah yang benar.” (HR. Abu Dawud (3420)/shohih)).

Mulla Ali Al Qoriy رحمه الله berkata: “Dalam sabda beliau: “ada orang memakan dengan ruqyah yang batil” itu sebagai jawaban sumpah. Yaitu: “Di antara manusia ada orang memakan dengan ruqyah yang batil, seperti menyebut bintang-bintang dan minta tolong pada jin. “dan sungguh engkau memakan dengan ruqyah yang benar” yaitu: dengan menyebut nama Alloh ta’ala dan firman-Nya. Dan hanyalah beliau bersumpah dengan umur beliau karena Alloh ta’ala bersumpah dengan itu sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿لعمرك إنهم في سكرتهم يعمهون﴾.

 “Demi umurmu (wahai Rosululloh), sungguh mereka itu terombang-ambing berada di dalam kemabukan yang sangat.”

Al Muzhhir berkata: “(لعمري) itu dengan huruf ‘ain yang difathah, dan boleh juga didhommah. Yaitu: “Demi kehidupanku.” Dan tidak dipakai dalam sumpah kecuali dengan ‘ain yang difathah. Dan huruf lam dalam (لمن أكل) adalah sebagai jawaban sumpah. Yaitu: Di antara manusia ada orang memakan dengan ruqyah yang batil, dan mengambil upah darinya. Adapun engkau maka sungguh engkau telah meruqyah dengan ruqyah yang benar.” (selesai dari “mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Mashobih”/9/hal. 442).

Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yaitu: Demi umurku, jika ada orang-orang yang memakan dengan ruqyah yang batil, maka sungguh engkau memakan dengan ruqyah yang benar. Dan hanya saja Nabi mendatangkan fi’il madhi dalam sabda beliau (أكلت) setelah sabda beliau (كل), sebagai petunjuk bahwasanya Shohabiy ini memang berhak memakannya, karena itu adalah hak yang tetap untuknya, dan upahnya adalah benar.” (sebagaimana dalam “mirqotul Mafatih”/Al Qoriy/9/hal. 442).

Ini menunjukkan tentang bolehnya memakan upah ruqyah yang disyariatkan.

Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Maka sudah sahlah bahwasanya memakan dengan hasil dari Al Qur’an adalah termasuk dalam kebenaran. Dan dalam pengajarannya adalah kebenaran juga. Dan bahwasanya yang harom hanyalah jika dia memakan dengan hasil Al Qur’an tadi dalam rangka riya, atau karena selain Alloh ta’ala.” (“Al Muhalla”/8/hal. 815).

Syaikhul Islam رحمه الله dalam bantahan beliau pada orang yang membolehkan mengambil upah dari sekedar bacaan Al Qur’an berkata: “Iya, telah pasti bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن أحقّ ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله».

 “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” (HR. Al Bukhoriy (5737)).

Akan tetapi beliau mengucapkan ini dalam hadits ruqyah, karena dulu orang-orang menjadikan untuk para Shohabat tadi upah karena mereka membacakan ruqyah pada saudara mereka yang sakit, sehingga dia sembuh. Maka upah tadi adalah karena kesembuhannya, bukan karena sekedar bacaan. Maka beliau bersabda:

عمري لمن أكل برقية باطل لقد أكلتم برقية حق».

 “Demi umurku, ada orang memakan dengan ruqyah yang batil, dan sungguh kalian memakan dengan ruqyah yang benar.”

«إن أحقّ ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله».

 “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.” (HR. Al Bukhoriy (5737)).

Dengan upah ruqyah ini para ulama menafsirkan hadits, bukan dengan mengambil upah karena semata-mata bacaan, karena semata-mata bacaan itu tidak boleh mengambil upah, dengan ijma’. Adapun tentang upah pengajar, maka ada perselisihan.” (“Ahaditsul Qishosh”/Ibnu Taimiyyah/hal. 114-115).

Sumber:

Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy dalam:

http://ashhabulhadits.wordpress.com/2014/05/05/hukum-mengambil-upah-dari-pengajaran-agama-dan-pembacaan-ruqyah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s