Istri Bukan Pembantu

Istri Bukan Pembantu

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, sebagian besar kaum muslimin masih berpendapat bahwa urusan keluarga, urusan rumah tangga, dan urusan dapur adalah hak sekaligus kewajiban seorang istri sepenuhnya. Padahal, bila kita mengkaji kedudukan wanita, khususnya seorang istri dalam Islam, maka kita akan menemukan jarak antara tradisi yang berkembang dengan apa yang seharusnya teramalkan menurut Islam. Berikut kami sampaikan beberapa fatwa para ulama yang mewakili madzhab Ahlus Sunnah mengenai kedudukan Istri dan kaitannya dengan urusan rumah tangga.

Istri Bukan Pembantu
Istri Bukan Pembantu

Sumber Gambar: http://i.mobavatar.com/users/4fdceab5ad88aistri20bukan20pembantu.jpg

1. Madzhab Hanafi

“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).

2. Mazhab Maliki

– Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.

– Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)

3. Mazhab Syafi’i

– Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.

– Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)

4. Mazhab Hanbali

– Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.

– Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).

5. Mazhab Zhahiri

– Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.

– Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.

– Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm).

Simpulan:

Secara syar’i tugas yang merupakan kewajban seorang istri ada dua: melayani suami (khususnya dalam urusan -maaf- seksual) dan mendidik anak. Termasuk di antara pelayanan terhadap suami adalah menaatinya dalam yang ma’ruf semampu dirinya. Maka bila suami menyuruh istri melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga dan ia mampu melakukannya, maka hendaklah ia melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan terhadap suaminya, sekaligus sebagai peluang amal shalih, yakni kesempatan meraih pahala shadaqah kepada suami dan keluarganya.

 

Namun bila suami menyuruh istri melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga dan ia tidak mampu melakukannya, maka tidak ada paksaan dalam melakukannya. Meninggalkan pekerjaan tersebut bukanlah kemaksiatan karena hukum asal dari pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami, bukan istri. Hal ini berbeda bila istri menolak perintah atau ajakan suami yang berupa pelayanan seksual. Penolakan terhadap hal tersebut sama dengan meninggalkan salah satu kewajiban agama. Kecuali bila penolakan tersebut dilandasi keadaan yang syar’i, seperti haidh, nifas, sakit, dan sebagainya.

Wallaahu a’lam

Rd. Laili Al Fadhli, S.Pd.I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s