Pola Makan Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi wa Sallam

Oleh: Rd. Laili Al Fadhli, S.Pd.I

Salah satu permasalahan kita dalam memakan makanan atau meminum minuman tidak terletak pada kuantitas, namun kualitas. Selain kualitas zat dan nutrisi yang terkandung di dalamnya, juga kualitas cara memakannya, termasuk di dalamnya adalah bagaimana makanan tersebut harus dimakan, apakah harus bersamaan atau justru harus dipisah.

Sumber gambar: ibudanbalita.net
Sumber gambar: ibudanbalita.net

Sebelumnya, kita harus meyakini dan benar-benar meneliti bahwa tidak ada lagi unsur-unsur yang negatif dalam makanan atau minuman yang hendak kita konsumsi. Kemudian, kita cari cara terbaik menyantapnya. Cara-cara terbaik ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Dari kisah hidupnya, kita ketahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam senantiasa memakan makanan yang berkualitas dan tidak hanya memakan satu jenis makanan saja. Hal ini disebabkan secara alami, menurut Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Thibbun Nabawi, kebiasaan menyantap satu jenis makanan saja merupakan satu kebiasaan yang berbahaya bagi tubuh. Saat seorang tidak bisa menyantap makanan yang disukainya, sementara ia juga menahan dari makanan yang tidak disukainya, tubuhnya akan melemah bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan jika ia memaksa menyantap makanan yang tidak ia sukai, maka tubuhnya tidak menerimanya sebagai nutrisi dan justru akan sangat membahayakan. Jadi, kebiasaan untuk menyantap satu jenis makanan saja merupakan kebiasaan yang buruk dan dapat membahayakan tubuh kita sendiri, walaupun makanan itu merupakan makanan terbaik.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah juga berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam terbiasa mengonsumsi segala jenis makanan yang terbaik yang ada di negerinya. Jika salah satu jenis makanan memiliki tekstur yang perlu dihaluskan atau distabilkan, maka beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam menstabilkannya dengan makanan yang bertekstur kebalikannya. Seperti beliau menstabilkan kurma yang memiliki unsur panas dengan semangka atau mentimun yang memiliki unsur dingin. Jika tidak ada, maka beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam menyantapnya dengan secukupnya, tidak berlebihan sehingga tidak membahayakan tubuh secara alami.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pun tidak pernah menghina atau mencela makanan. Saat beliau tidak menemukan makanan yang disukainya, beliau menahan diri dari makanan yang tidak disukainya, karena saat beliau memaksakan diri untuk memaksakan menyantapnya, hal tersebut akan membahayakan dirinya lebih dari manfaat yang akan diperoleh dari zat makanan tersebut. Walaupun demikian, beliau tidak pernah mencela makanan yang tidak disukainya tersebut. Saat dihidangkan seekor biawak kepada beliau, beliau hanya mendiamkan dan tidak memakannya. Seorang bertanya kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Apakah makanan ini haram?” Beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Tidak, akan tetapi makanan ini tidak ada di negeriku, sehingga aku tidak doyan.”

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam senantiasa memperhatikan kebiasaan dan kesukaannya. Beliau menyukai daging, terutama bagian lengan dan punggung kambing. Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, “Rasulullah pernah dihidangi daging. Lalu bagian lengan daging itu diberikan kepada beliau. Beliau ternyata amat menyukainya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan dari Abu Ubaydah dari Dhaba’ah binti az-Zubayr bahwa ia pernah menyembelih seekor domba di rumahnya. Lalu, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan seseorang untuk memberikan sebagian daging kambing tersebut kepada beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dhaba’ah menjawab, “Yang tersiksa hanya bagian lehernya saja. Kami malu memberikannya kepada Rasulullah.” Utusan itu kembali pada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan memberitahukan beliau apa yang diucapkan Dhaba’ah. Beliau berkata, “Kembalilah kepadanya (Dhaba’ah) dan katakan silakan ia mengirimkan sisa daging tersebut. Karena bagian itu adalah bagian yang baik dari hewan tersebut, lebih baik dan lebih jauh dari unsur yang jelek.”

Menurut Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah, leher, lengan, dan punggung kambing merupakan salah satu makanan terbaik karena ia mencakup tiga fungsi: Pertama, banyak manfaatnya dan berpengaruh menambah stamina. Kedua, ringan di lambung serta tidak memberatkannya. Ketiga, mudah dicerna. Menurutnya, inilah cirri makanan terbaik yang harus kita konsumsi untuk menjaga kestabilan tubuh kita. Memakan makanan terbaik dengan porsi yang sedikit jauh lebih baik dibandingkan memakan makanan yang biasa saja (tidak berkualitas) dengan porsi yang banyak.

Berlebihnya makanan di dalam tubuh akan memaksa pankreas mengeluarkan enzim yang melebihi batas kemampuannya. Jika pola makan berlebihan ini dilakukan dengan terus menerus, tentu saja akan menyebabkan peradangan yang kronis pada sistem pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang disebabkan karena makan yang berlebihan ini lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit yang disebabkan kekurangan makanan. Mengonsumsi makanan yang mengandung kalori secara berlebihan sampai melebihi kebutuhan tubuh menyebabkan penimbunan lemak di bagian pantat, sekitar kedua ginjal, jaringan yang mengelilingi usus, dada, dan otot-otot tubuh. Apalagi, jika aktivitas kita tidak mengeluarkan banyak energi. Padahal, banyak gerak dan olahraga merupakan salah satu cara untuk membakar kalori di dalam tubuh. Penimbunan tersebut dapat menyebabkan kegemukan (obesitas), heartburn karena asidosis, serta peradangan pada kantong empedu.

Selain itu, penimbunan lemak yang tidak bermanfaat bagi tubuh akan menyebabkan tekanan yang luar biasa hingga ke arah dada. Kondisi seperti ini mengakibatkan dada terasa sesak, sehingga paru-paru kekurangan oksigen dan menghambat peredaran darah saat tekanannya semakin meningkat. Jika hal tersebut dibiarkan, maka tekanan berlanjut ke wilayah atas tubuh kita. Akibatnya, darah di otak membeku dan tubuh dimungkinkan akan terserang stroke. Sedangkan penimbunan kolesterol yang tidak bermanfaat bagi tubuh akan menghambat aliran darah yang akan membahayakan jantung, paru-paru, dan otak.

Dikisahkan pula bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam sangat menyukai makanan yang manis-manis, seperti madu, manisan, susu, dan lainnya. Daging, madu, dan manisan adalah makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan stamina tubuh.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam senantiasa memakan sesuatu dengan lauk pauknya, tidak salah satunya saja. Beliau biasa menyantap roti dengan daging. Beliau pernah berkomentar tentang makanan tersebut, “Ini adalah makanan favorit penduduk dunia dan akhirat.” (HR. Ibn Majah). Beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam juga terkadang menjadikan semangka atau kurma sebagai lauknya. Hal tersebut juga dilakukan sebagai upaya untuk menyeimbangkan unsur-unsur yang terkandung di dalam makanan tersebut. Dapat kita lihat bahwa roti gandum bersifat dingin dan kering, sedangkan kurma bersifat basah dan panas. Menjadikan roti gandum sebagai makanan dan kurma sebagai lauknya merupakan pilihan yang sangat tepat untuk mengatur gizi yang seimbang, terutama bagi mereka yang terbiasa mengonsumsinya, seperti penduduk Madinah.

Menyantap roti dengan lauknya merupakan langkah untuk menjaga kesehatan. Kondisinya akan menjadi sangat berbeda ketika kita hanya menyantap salah satunya saja. Karena lauk itu disebut idaam (penyerasi) sebab ia bisa menjaga keseimbangan dari unsur-unsur yang memengaruhi kesehatan tubuh kita.

Saat menyantap buah-buahan, beliau shallallaahu ‘alayhi wa sallam langsung menyantapnya setelah dipetik. Karena memang itulah cara terbaik mengonsumsi buah-buahan. Segala macam nutrisi yang terkandung dalam buah-buahan dapat dirasakan secara langsung. Berbeda saat kita mengonsumsinya setelah menunggu beberapa saat dari waktu buah tersebut dipetik. Beberapa unsur positif yang terkandung di dalamnya bisa menguap atau tercampur dengan unsur negatif yang disebarkan melalui udara.

Buah-buahan, menurut Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah memiliki kelembapan. Temperatur yang panas sekaligus kondisi lambung yang panas akan memproses buah tersebut menjadi masak dan hilang unsur negatifnya. Apabila tidak dimakan secara berlebihan dan tidak memaksa tubuh untuk menerima asupan melebihi kapasitasnya, buah tersebut belum rusak sebelum mengonsumsinya. Jangan merusak nutrisi buah-buahan dengan meneguk banyak air setelah mengonsumsinya. Juga dengan memakan buah-buahan setelah memakan makanan yang lebih berat (makanan yang mengandung banyak karbohidrat, seperti nasi, gandum, atau jagung). Karena justru lambung tidak dapat mencerna dengan sempurna dan usus tidak bisa optimal menyerap nutrisi buah yang dikonsumsi setelah kita mengonsumsi makanan berat. Makanlah buah-buahan 15-30 menit sebelum makan berat. Bila buah-buahan dikonsumsi dengan porsi yang tepat dan seimbang, niscaya menjadi obat yang berkhasiat.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam senantiasa menyempurnakan gizi dengan menambah makanan lain, selama beliau masih bisa melakukannya. Beliau juga memerintahkan ummatnya untuk senantiasa menutup hari dengan makan malam walaupun dengan sebutir kurma. Rasulullah bersabda, “Meninggalkan makan malam bisa mempercepat penuaan”. (HR. Turmudzi)

Itulah gambaran singkat bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan yang baik dan benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s