[Tafsir] Kandungan QS. Al Baqarah, 2: 148 (Tentang Kiblat)

Disusun oleh: Rd. Laili Al Fadhli, S.Pd.I

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَٱسْتَبِقُواْ ٱلْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعاً إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Baqarah, 2: 148]

 

Ka'bah
Ka’bah

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata tentang ayat ini:

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan pengertian ‘tiap-tiap umat mempunyai kiblatnya yang ia menghadap kepadanya’ ialah semua pemeluk agama. Dengan kata lain, tiap-tiap kabilah mempunyai kiblatnya sendiri yang disukainya, dan kiblat yang diridai oleh Allah ialah kiblat yang orang-orang mukmin menghadap kepadanya.

Abul Aliyah mengatakan bahwa orang-orang Yahudi mempunyai kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya, dan orang-orang Nasrani mempunyai kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya. Allah memberikan petunjuk kepada kalian, hai umat Muhammad, kepada kiblat yang merupakan kiblat yang sesungguhnya.

Telah diriwayatkan dari Mujahid, Ata, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan As-Saddi hal yang semisal dengan pendapat Abul Aliyah tadi.

Mujahid mengatakan dalam riwayat yang lain —begitu pula Al-Hasaiy— bahwa Allah memerintahkan kepada semua kaum agar salat menghadap ke arah Ka’bah.

Ibnu Abbas, Abu Ja’far Al-Baqir, dan Ibnu Amir membaca ayat ini dengan bunyi walikullin wajhatun huwa muwallaha (Bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya sendiri yang diperintahkan oleh Dia (Allah) agar mereka menghadap kepadanya). Ayat ini serupa maknanya dengan firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَىٰ اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kalian semuanya. [QS. Al Maaidah, 5: 48]

Dalam surat ini Allah Ta’ala. berfirman:

أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعاً إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Di mana saja kalian berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Baqarah, 2: 148]

Yakni Dia berkuasa untuk menghimpun kalian dari muka bumi, sekalipun jasad dan tubuh kalian bercerai-berai. –selesai kutipan Tafsir Ibnu Katsir-

Permasalahan yang diangkat pada QS. Al Baqarah, 2: 148 adalah tentang kiblat. Persoalan ini harus dirunut sejak ayat 115 pada surat yang sama. Buya HAMKA dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan QS. Al Baqarah, 2: 148 sebagai berikut:

وَ لِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا

“Dan bagi tiap-tiapnya itu ada satu tujuan yang dia hadapi. ” (pangkal ayat 148)

Ayat ini adalah lanjutan dari keterangan tentang masing-masing golongan yang mempertahankan kiblatnya: tadi. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, ialah bahwa bagi tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Bahkan tiap-tiap kabilahpun mempunyai tujuan dan arah.sendiri, mana yang dia sukai. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah. Abul `Aliyah menjelaskan pula tafsir ayat ini demikian: “Orang Yahudi mempunyai arah yang ditujuinya, orang Nasranipun mempunyai arah yang ditujuinya. Tetapi kamu, wahai ummat Muslimin, telah ditunjukkan Allah kepadamu kiblatmu yang sebenarnya.”

Nabi lbrahim di zaman dahulu berkiblat ke Masjidil Haram, ummat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, ummat Nasrani berkiblat ke sebelah timur, dan Nabi-nabi yang lainpun tentu ada pula kiblat mereka menurut zamannya masing-masing, dan engkau wahai utusanKu dan kamu wahai pengikut utusan­Ku; kamu mempunyai kiblat. Tetapi kiblat bukanlah pokok, sebagai di ayat-ayat di atas telah diterangkan, bagi Allah timur dan barat adalah sama, sebab itu kiblat berobah karena perobahan Nabi. Yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. itulah dia wijhah atau tujuan yang sebenarnya.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Sebab itu berlomba-lombalah kamu pada serba kebaikan.”

Jangan kamu berlarut-larut berpanjang-panjang bertengkar per­kara peralihan kiblat. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mau me­ngikuti kiblat kamu; biarkanlah. Sama-sama setialah pada kiblat masing­-masing. Dalam agama tidak ada paksaan. Cuma berlombalah berbuat serba kebajikan, sama-sama beramal dan membuat jasa di dalam peri-kehidupan ini.

أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا

“Di mana saja kamu berada, niscaya akan dikumpulkan Allah kamu se­kalian.

 

Baikpun kamu dalam Yahudi, dalam Nasrani, dalam Shabi’in dan dalam iman kepada Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam, berlombalah kamu berbuat berbagai kebajikan dalam dunia ini, meskipun kiblat tempat kamu menghadap shalat berlain-lain. Kalau kamu akan dipanggil menghadap kepada Aliah; tidak perduli apakah dia dalam kalangan Yahudi Nasrani, Islam dan lain-lain; berkiblat ke Ka’bah atau ke Baitul Maqdis. Di sana pertanggung jawabkanlah amalan yang telah dikerjakan dalam dunia ini. Moga-moga dalam perlombaan berbuat kebajikan itu, terbukalah hidayat Tuhan kepada kamu, dan terhenti sedikit demi sedikit pengaruh hawa nafsu dan kepentingan golongan; mana tahu, akhirnya kamu kembali juga kepada kebenaran;

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.”(ujung ayat 148).

Perlombaan manusia berbuat baik di dunia ini belumlah berhenti. Segala sesuatu bisa kejadian. Kebenaran Tuhan makin lama makin nampak. Allah Maha Kuasa berbuat sekehendakNya:

Ayat ini adalah seruan merata; seruan damai dari lembah wahyu ke dalam masyarakat manusia berbagai agama. Bukan khusus kepada ummat Mu­hammad saja. Kemudian kembali lagi kepada pemantapan soal kiblat itu:

 وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Dan dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah muka engkau kepihak Masjidil Haram.”(pangkal ayat 149).

 

Artinya, meskipun ke penjuru yang mana engkau menujukan perjalananmu, bila datang waktu shalat, teruslah hadapkan mukamu ke pihak Masjidil Haram itu Ayat ini sudahlah menjadi perintah yang tetap kepada Rasulullah dan ummatnya terus-menerus di belakang beliau. Sebab itu ditegaskan pada lanjutnya-

وَ إِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ

Dan sesungguhnya (perintah) itu adalah kebenaran dari Tuhan engkau. “

 

Tidak akan berobah lagi selama-lamanya:

 

وَ مَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.” (ujung ayat 149).

Artinya, kesungguhan kamu melaksanakan perintah ini, tidaklah Allah akan melengahkannya. Gelap malam tak tentu arah; lalu kamu lihat pedoman pada bintang-bintang, kamu kira-kira di sanalah arah kiblat lalu kamu shalat. Allah tidaklah melengahkan kesungguhan kamu itu.

Kamu datang ke negeri orang lain, kamu tanyakan kepada penduduk Muslim di situ; ke mana kiblat? Lalu mereka tunjukkan. Kamupun shalat. Allah tidak lengah dengan kepatuhan kamu itu.

Sengaja engkau beli sebuah kompas (pedoman), engkau kundang dalam sakumu ke mana saja engkau pergi. Lalu orang bertanya; buat apa kompas itu, padahal tuan bukan nakhoda kapal? Engkau jawab: penentuan kiblat jika aku shalat! Tuhan tidak melengahkan perhatianmu itu. –Selesai kutipan tafsir Al Azhar

Adapun hadits yang berhubungan dengan QS. Al Baqarah, 2: 148 dan penentuan kiblat di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ

Kami shalat bersama Rasulullah dgn menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Lalu beliau merubahnya dgn menghadap kiblat. [HR. Bukhari No.4132].

Wallaahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s