Kedudukan Ulama dalam Masyarakat

Islam memang tidak mengenal kasta. Juga tidak mengenal “hirarki kependetaan” di dunia, seperti misalnya Agama Katolik. Namun, bukan berarti Islam menolak posisi para ulama dalam membimbing ruhiyah umat.

picture-1408

Kurang lebih seperti itu M. Natsir mengawali pembicaraan mengenai urgensi ulama dalam kehidupan beragama umat Islam. Beliau menegaskan bahwasanya ulama berfungsi sebagai tempat bernaung, yang memberikan fatwa dan nasihat, serta mengarahkan umat ke mana seharusnya melangkah.

Ya, ulama adalah pewaris para Nabi. Pemegang kepemimpinan sejati umat Islam. Saat dimana para penguasa jauh dari agama, maka para ulama lah yang kemudian menjadi rujukan, Maka, apa jadinya bila umat telah menjauhkan diri dari para ulama mereka sendiri? Apalagi mereka yang kemudian mencela para ulama, mendebatnya, bahkan kemudian memvonis mereka dengan vonis-vonis yang buruk. Padahal, kehidupan umat tergantung kepada siapa mereka bernaung. Jalan yang mereka tempuh sangat bergantung pada cahaya yang digenggam para ulama. Bila ulama sudah jauh ditinggalkan, kepada siapa lagi kita harapkan cahaya tuk meniti jalan?

Berikut kami sampaikan tulisan M. Natsir yang berjudul KEDUDUKAN ULAMA2 DALAM MASJARAKAT. Tulisan ini beliau tulis pada bulan Juni 1939 dalam Pandji Islam.

KEDUDUKAN ULAMA2 DALAM
MASJARAKAT.

DJUNI 1939.

Seringkali orang berkata bahwa dalam Islam tidak ada priesterstand sebagaimana jang ada dalam agama jang lain seperti misalnja, agama Katolik. Benar! Akan tetapi ini tidak berarti bahwa umat Islam tidak menerima pimpinan ruhani dari ulama mereka; tapi memang tidak sebagaimana jang diberi oleh pendeta2 Katolik kepada djamaah Kristen jang dibawah pimpinan mereka.

Djauh sebelumnja ada pemimpin dan pengandjur2 rakjat sebagaimana jang kita kenal sekarang ini, masjarakat Islam sudah mempunjai pemimpin dan pengandjur mereka dalam hal2 jang berhubung dengan keagamaan dan penghidupan mereka se-hari2. Dalam desa2 dan kampung2 „Guru” atau „Sjech”, Angku Sieh di Minangkabau atau Kiai di Djawa dan ber-matjam2 nama panggilan pada beberapa tempat, adalah tempat rakjat bertanja, tempat memulangkan sesuatu urusan, tempat meminta nasihat dan fatwa, tempat mereka menarahkan kepertjajaan.

Bagi mereka, fatwa seorang alim jang mereka pertjajai berarti satu „kata-keputusan”, jang tak dapat dan tak perlu dibanding lagi. Seringkah telah terbukti, bagaimana susahnja bagi Pemerintah negeri mendjalankan satu urusan, bilamana tidak disetudjui oleh alim-ulama jang ada dalam satu daerah.

Sebaliknjapun begitu pula. Beruntunglah salah satu masjarakat, bila mempunjai seorang alim, sebagai pemimpin ruhani jang tahu dan insaf akan tanggungannja sebagai pengandjur dan penundjuk djalan. Aman dan makmurlah salah salah satu daerah bilamana pegawai2 Pemerintah di situ tahu menghargakan kedudukan alim ulama jang ada didaerah itu.

Ulama bukanlah pemimpin jang dipilih dengan „suara terbanjak”, bukan jang diangkat oleh „persidangan kongres”. Akan tetapi kedudukan mereka dalam kebatinan rakjat jang mereka pimpin, djauh lebih teguh dan sutji dari pemimpin pergerakan jang berorganisasi, atau pegawai Pemerintah jang manapun djuga.

„Ulama, ialah waris Nabi”, pemimpin umat jang mendapat pengakuan Agama. Dalam mentjapai kemadjuan rakjat umumnja, „korps” ulama jang bertebaran itu se-kali2 tak boleh diabaikan, baik oleh pegawai Pemerintah, ataupun oleh pengandjur2 pergerakan kita. Mereka itu adalah satu faktor jang penting dalam kerdja pentjerdasan rakjat umumnja. Koordinasi pekerdjaan antara ulama2, pegawai2 Pemerintah dan pemuka2 pergerakan sosial atau politik, tidak akan diperdapat, bilamana pihak ulama tidak hendak turut memperhatikan dan menurutkan gelora zaman. Sebaliknja demikian pula, bilamana pemimpin2 pergerakan menganggap bahwa kiai2 itu adalah orang jang tak tahu apa2, selain dari rukun-tiga-belas dan sifat-dua-puluh, atau bilamana pegawai Pemerintah mengambil sikap tjuriga terhadap tiap3 orang alim, sebagai guru jang suka bekerdja diam2 dan saban waktu mungkin mempergunakan pengaruhnja untuk melakukan pemberontakan dan lain2 jang sematjam itu.

Sudah banjak pula buktinja, bahwa sikap tjuriga jang sematjam itu, jang terbit lantaran putus perhubungan dan tidak kenal-mengenali, amat berbahaja bagi masjarakat kita. Alhamdulillah, keadaan itu sekarang mulai mendjadi baik, walaupun masih dengan sangat ber-angsur2.

Dari segala tempat sekarang mulai terdengar berita2 kebangunan alim-ulama, jang selama ini tidak begitu suka mentjampuri urusan2 masjarakat dengan arti jang lebih luas. Sekarang mereka pergunakan hak berkumpul dan berorganisasi, mereka pakai hak bersuara dalam persurat-kabaran. Mereka ikuti pembitjaraan undang2 negeri jang menjangkut kehidupan rakjat dengan tjara ber-terang2. Mereka bentangkan paham mereka tentang adat-istiadat lama jang sudah terang ketimpangannja. Mereka andjurkan jusul2 dengan tjara jang positif untuk memperbaiki keadaan jang telah rusak. Perhatikan penolakan ordonansi-kawin bertjatet, mosi Kongres Perti tentang harta warisan di Minangkabau, kegiatan Persatuan Ulama di daerah Atjeh, dll.

Ini semua membuktikan, bahwa ulama2 kita sekarang ini sudah bersedia memperluas lapangan pekerdjaan mereka dari pada jang telah sudah. Bersedia dan sanggup mentjampuri hal2 dalam masjarakat jang penting2, dan memang pada hakikatnja sudah pada tempatnja sekali, mereka turut mentjampurinja sebagai pemimpin umat, Sjukurlah !

Dalam pada itu ada lagi satu keadaan jang menggembirakan dalam masa jang achir2 ini. Jaitu perhubungan jang makin lama makin rapat antara ulama2 kita dengan kaum intelek. Jang satu sudah mulai menghargai jang lain. Dalam pertemuan dan perhubungan kedua belah pihak, alim-ulama kita mendapat tahu, bahwa tidak semuanja kaum intelek kita itu, „anti agama”, sebagaimana djuga kaum intelekpun lama-kelamaan mengetahui djua, bahwa tidak semuanja ahli agama itu hanja paham rukun wudu’ dan istindja sadja. Dengan begini, sifat dualisme, jakni perpisahan antara dua golongan itu dalam pergaulan hidup kita, makin lama makin kurang djuga, suatu hal jang memberi harapan besar bagi kemadjuan Tanah Air dan Bangsa kita dihari depan.

Bukan sadja buat kita hal ini menggembirakan, tapi buat Pemerintah jang menghendaki kemadjuan rakjat dengan evolusi jang sehatpun, keadaan jang demikian tentu menggembirakannja pula. Evolusi jang sehat itu hanja dapat ditjapai selama rakjat umum mendapat kesempatan untuk mengutarakan apa jang terasa dalam fikiran dan perasaan mereka dan tidak terpaksa ,,membungkem” segala sesuatu. Dan siapakah jang lebih tjakap mengemukakan segala perasaan itu, dari pada mereka jang selalu berhubungan rapat dengan rakjat jang banjak, jakni alim-ulama kita jang mendapat kepertjajaan penuh dari rakjat, dan mempunjai perhubungan ruhani jang lebih rapat dengan rakjat itu, lebih rapat dari pada pengandjur2 pergerakan jang lain, ataupun pegawai2 Pemerintah sendiri!

Sebagai tiap2 barang jang muda, baru dimulai, sudah tentu dalam pergerakan kalangan rakjat itu tidak akan terpelihara dari tjatjat dan kekeliruan pula. Tidak ada perbuatan manusia jang sempurna sekedjap mata. Akan tetapi ini tak boleh mendjadi ukuran penentukan sikap terhadap kepada pergerakan itu sendiri, sebagai satu evolusi ketjerdasan masjarakat jang tak mungkin ditahan atau dihentikan oleh siapapun.

Barangkali ada baiknja disini bila kta ulangkan perkataan Snouck Hurgronje kira2 25 tahun jang lalu : „Disini ada satu bangsa muda jang bara bangun, jang sedang mentjapai tingkatan akil-balig dalam masjarakat dan susunan pemerintahan negara. Ia sedang mentjari alat2 pembentangkan perasaannja, sedang selama ini ia hanja menjimpan dan menutup rapat segala sesuatu dalam kebatinannja. Tidak lekas ia mendapat.”

Perkenalan dan perhubungan jang mungkin menghindarkan segala matjam salah2 sangka dari kedua belah pihak, perhubungan jang berdasar kepada harga-menghargai, jang mungkin membukakan persamaan pekerdjaan antara kedua belah pihak untuk kepentingan dan ketjerdasan umat dengan se-luas2-nja. Inilah jang perlu dalam masjarakat kita sekarang ini. Kita berharap dan berdoa, mudah2-an Alim-Ulama kita, „Warattsatul Anbija!”, Volksleiders bij de gratie Gods tersebut, akan dapat mentjapai tempat jang pantas mereka duduki, untuk melakukan kewadjiban mereka jang amat sutji itu ! Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s