Gaza pun Didoakan, Tapi…

Seperti biasa, waktu fajar yang masih menyisakan gelap mengiringi langkah kaki tuk memasuki rumah di antara rumah Allāh yang berjarak tidak jauh dari rumah. Dua rakaat berjamaah plus qunut yang tiada pernah tertinggal dan diakhiri wirid serta doa berjamaah khas ikhwan Nahdliyyin.

Namun ada yang tidak biasa pagi itu. Di tengah doa, tersebut nama Palestina dan Gaza. Kalimat “Allāhummanshur ikhwānanal mujāhidīna fī filisthīni ghazza” meluncur dari lisan sang imam menghiasi kekhusyuan yang dipanjatkan.

Hati terhenyak, jiwa tertegun… Ada haru, bangga, dan bahagia. Karena doa yang dahulu hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu hari ini telah diucapkan oleh segenap kaum muslimin. Bahkan hingga ke pelosok dusun mungil di ujung pantura.

Ah… Masih terbayang sepuluh tahun yang lalu. Saat para pendukung perjuangan Palestina dan Hamas menjadi sasaran tuduhan ekstrimis dan teroris. Saat isu Palestina hanya menjadi kekhasan para aktivis yang berjilbab lebar atau berjenggot tipis.

Haru yang masih membuncah kembali memanggil keheningan saat diri bersila, setelah salat id di hari fithri. Mata yang agak sayup menahan kantuk terbuka lebar, saat sang khatib mengucapkan doa yang tidak berbeda dengan apa yang fajar tadi diucapkan sang imam di surau sebelah.

Kali ini, rasa haru, bangga, dan bahagia bercampur dengan duka dan lara. Saat pikiran melayang mengingat wilayah Syam yang terluka. Saat Ghazza dan Palestina telah memperoleh dukungan dan doa, tidak demikian bagi wilayah tetangga.

Apa yang terjadi hari itu adalah kebanggaan. Ghazza dan mujahidin Palestina telah mendapat dukungan dan doa.

image

Namun, tidak demikian bagi saudara-saudara seiman di Suriah. Mereka yang masih bagian dari wilayah Syam, mereka yang juga tanahnya merupakan tanah keberkahan. Satu wilayah yang di dalamnya terdapat banyak keistimewaan akhir zaman, belum mendapatkan haknya.

Kaum muslimin masih belum dapat menerawang dengan jelas bahwa di Suriah pembantaian bisa terjadi 10 kali lipat daripada di Ghazza. Pembantaian yang bahkan anak-anak Ghazza pun mengibarkan bendera revolusi Suriah dan para Imam di sana menyebut nama Suriah dalam nazilahnya. Maka, mengapa kita masih menutup mata?

Ghazza dan Suriah adalah saudara kita. Mereka sama-sama sedang terluka. Mereka berada pada satu wilayah Syam yang sama. Berdoalah dengan menyebut keduanya. Berjuanglah dengan mengibarkan panji para mujahidinnya.

Save Suriah, Free Ghazza.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s