TAKFIRI : Tantangan Umat Islam di Indonesia

 Takfiri: Tantangan Umat Islam di Indonesia

Oleh: Rd. Laili Al Fadhli, S.Pd.I

Khawarij-Takfiri
Khawarij-Takfiri

SEKILAS TAKFIRI

1. Akar Pemikiran Takfiri

Menurut Adam (Tanpa Tahun: 3) menyebutkan bahwa kata “takfir” berasal dari kata “kufur” sebagai antonim kata Islam. Secara sederhana, takfiri dapat diartikan sebagai “seseorang atau kelompok yang bermudah-mudah dalam menjatuhkan vonis murtad-kafir kepada orang lain yang asalnya muslim.”

Adam juga menyatakan bahwa penyakit takfiriyah adalah fenomena yang berpotensi melahirkan banyak dampak destruktif baik dalam kehidupan sosial, politik, dan akhlak. Penyakit ini dapat mematikan karakter, saling curiga, melemahkan kekuatan ummat Islam, dan merusak ukhuwah Islamiyah.

Kelompok yang pertama kali menyebarkan pemikiran ini adalah Khawarij. Khawarij merupakan aliran dalam teologi Islam yang pertama kali muncul. Kelompok ini muncul sebagai reaksi dari penolakan terhadap sikap Ali ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan –radhiyallaahu ‘anhuma– dalam Perang Shiffin. Meskipun mereka semula adalah pengikut Ali, tetapi akibat politik penolakan mereka atas sikap Ali dalam paham itu, mereka lalu keluar dari kelompok Ali dan membentuk golongan sendiri yang dikenal golongan Khawarij. Golongan ini disebut juga dengan nama Haruriyah, karena mereka yang berjumlah 12.000 orang itu memisahkan diri dari Ali menetapkan pimpinan baru disuatu kampung yang bernama Harura yang terletak didekat kota Kufah, Irak. Dalam pertempuran dengan pasukan Ali, Khawarij mengalami kekalahan besar, tetapi akhirnya seorang Khariji bernama Abd Al Rahman Ibn Muljam dapat membunuh Imam Ali.[1]

Berkenaan dengan keyakinan orang-orang Khawarij, Harun Nasution[2] mengidentifikasi beberapa ciri yang dapat dikategorikan sebagai aliran Khawarij atau minimal terpengaruh pemikiran Khawarij, yaitu:

  1. Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganut agama Islam.
  2. Islam yang benar adalah Islam yang mereka pahami dan amalkan.
  3. Orang-orang islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali pada Islam yang sebenarnya, yaitu Islam yang seperti mereka pahami dan amalkan.
  4. Karena pemerintahan dan ulama yang tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka memilih imam dari golongan mereka sendiri.
  5. Mereka bersifat fanatik dalam paham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan membunuh untuk tujuan mereka.

Saat ini sepertinya sulit menemukan golongan yang murni menganut madzhab Khawarij dalam masalah akidah. Namun, golongan yang terpengaruh madzhab ini sangat banyak. Awal perkembangan golongan ini dalam dunia gerakan kontemporer bermula di Mesir pada sekitar tahun 1960-1970. Saat penguasa Mesir semakin represif, para aktivis Islam, yang sebagian besarnya merupakan anggota Ikwhanul Muslimin mengalami penyiksaan, pemenjaraan, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Efeknya, sebagian di antara mereka ada yang bekerjasama dengan pemerintah Mesir dan dilabeli pengkhianat oleh aktivis yang lain. Sedangkan sebagian lainnya justru semakin kuat memegang teguh keyakinannya, bahkan mengarah kepada sikap ekstrim dalam beragama dan beraktivitas. Mereka inilah cikal bakal gerakan Takfiri di kemudian hari.

Beredarnya buku-buku akidah dan jihad pada saat itu merupakan berkah tersendiri bagi gerakan Islam. Sayangnya, buku-buku tersebut kemudian banyak dikaji oleh mereka yang memiliki kecenderungan ekstrim dalam beragama, sekaligus tidak memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni.Sehingga sangat berpotensi memunculkan distorsi pemahaman. Saat itulah kemudian muncul gerakan yang disebut sebagai “Jamaah Hijrah wat Takfir (JHT).”

JHT sendiri kebanyakan merupakan mantan aktivis Ikhwanul Muslimin, bahkan salah satu tokohnya Syukri Mustafa merupakan anggota aktif IM yang kemudian dikeluarkan karena memiliki paham yang berbeda dengan IM. Ciri khas JHT adalah mengkafirkan pemerintahan yang zhalim dan mengkafirkan orang-orang yang tidak berada di golongan mereka. Khususnya orang-orang yang tidak mau ikut serta dalam memerangi pemerintahan. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk membunuh orang-orang yang telah divonis murtad-kafir tadi.

Penyebaran paham tersebut sangat meresahkan aktivis Islam, karena di antara akibat dari paham tersebut adalah mudahnya mereka menumpahkan darah kaum muslimin. Bagi orang-orang yang tidak mengidentifikasi golongan ini dengan baik, maka biasanya ia akan terjebak dalam menyamaratakan gerakan Jihadi atau menyamaratakan golongan yang berbasis pada pemikiran Ahlul Hadits (Salafi/Wahhabi) sebagai kelompok Takfiri.[3] Lebih jauh, orang-orang awam akan menyamaratakan seluruh aktivis Islam sebagai orang yang keras, mencintai teror, dan haus darah.

 2. Masuknya Pemikiran Takfiri di Indonesia

Di Indonesia, pemikiran ini menyebar di kalangan aktivis Darul Islam (DI) dan organisasi turunannya, seperti Jamaah Muslimin (Hizbullah), Khilafatul Muslimin (Khilmus), dan NII KW-IX Al Zaytun. Pemikiran ini juga memengaruhi organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang sebelumnya bernama Islam Jamaah dan Lemkari.

Aman Abdurrahman: Dijuluki "Singa Tauhid" oleh Para Pengikutnya
Aman Abdurrahman: Dijuluki “Singa Tauhid” oleh Para Pengikutnya

Belakangan, paham ini mulai menyurut pada ormas-ormas yang telah disebutkan. Mereka mulai melunak dalam menghadapi orang-orang yang berada di luar kelompoknya. Namun, paham ini kemudian menyebar di kalangan aktivis Jihadi. Tokoh yang disebut-sebut memiliki andil dalam penyebaran paham ini di antaranya adalah Aman Abdurrahman dan Halawi Makmun. Dua tokoh ini dikenal sangat keras terhadap pemerintahan RI dan orang-orang yang tidak memusuhi pemerintahan RI. Bahkan para pengikutnya mudah sekali mengeluarkan vonis murtad-kafir kepada orang-orang yang berlawanan pendapat dengan mereka.

Halawi Makmun dalam Sebuah Acara Bedah Buku
Halawi Makmun dalam Sebuah Acara Bedah Buku

Pemikiran ini menyebar begitu deras di kalangan aktivis yang aktif dalam forum-forum Islam di dunia maya dan para aktivis yang “diamankan” oleh pemerintah RI di Nusa Kambangan (NK). Sebagaimana yang terjadi pada gerakan Islam di Mesir: sikap represif pemerintah, penyiksaan, dan kekerasan yang dialami para aktivis Islam membuat mereka terpecah. Sebagian di antara mereka justru bekerjasama dengan pemerintah untuk menahan laju gerakan Islam, sedangkan sebagian lainnya menjadi ekstrim dalam beragama.

Apalagi dalam perjalanannya, Densus 88 yang dibentuk oleh pemerintah khusus menangangi aksi terorisme kemudian hanya terfokus untuk mengarahkan moncong senapannya kepada gerakan Islam. Bahkan beberapa kali mereka terbukti “salah sasaran”. Sebagian besar aktivis Islam yang mereka tangkap tidak terbukti melakukan aktivitas terorisme.

Kondisi tersebut diperparah oleh munculnya sekelompok “ustadz” yang justru membenarkan perbuatan Densus 88 dan mendukungnya. Selain mengeluarkan fatwa dukungan, mereka juga kemudian mengeluarkan fatwa “wajib jihad melawan terorisme (baca: aktivis Islam).” Bila yang dimaksud dengan terorisme adalah benar-benar kegiatan teror yang dilakukan satu atau sekelompok orang dalam menakut-nakuti masyarakat, mungkin dukungan tersebut tidak akan terlalu jadi persoalan besar. Namun, bila pelaksanaan “pembasmian terorisme” justru berujung pada pembasmian gerakan Islam dan para aktivisnya, jelas sekali bahwa fatwa tersebut terasa menyayat hati para aktivis yang masih ikhlas berjuang untuk Islam dan hanya menjadi korban salah sasaran dari aksi Densus 88.

Berbagai kondisi yang telah dipaparkan tersebut melebur menjadi satu dan menciptakan respon yang reaksioner sekaligus emosional di kalangan aktivis Islam. Reaksi tersebut yang kemudian pada akhirnya melahirkan para aktivis yang ekstrim dan benar-benar menjadi takfiri dan terjerumus untuk melakukan aksi teror.

Kelompok takfiri ibarat penumpang gelap dalam gerbong gerakan Jihad di Indonesia. Pemikiran yang ekstrim dari sebagian aktivis Darul Islam (DI) kemudian bertemu dengan pemikiran Jamaah Hijrah wal Takfir yang ikut “menumpang” dalam gerbong gerakan Jihad di Afghanistan. Saat para aktivis DI yang berjihad di Afghanistan kembali ke Indonesia, sebagian di antara mereka kemudian menjadi lebih ekstrim dan menyebarkan pemikirannya tersebut dalam ta’lim dan website-website mereka.

 3. Bahaya Pemikiran Takfiri

Syaikh Abdul Aziz bin Syakir Asy-Syarif hafizhahulah dalam artikelnya yang berjudul Tanzihu I’lam Al-Mujahidin ‘an ‘Abatsi Al-Ghulat Al-Mufsidin[4] menyebutkan bahwa sikap mereka yang ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tersebut ~sadar maupun tidak sadar~ telah melayani musuh-musuh Islam. Sikap mereka tersebut ~sadar maupun tidak sadar~ telah merusak dakwah dan jihad dari tiga aspek:

Pertama, memisahkan aktivis Islam dari umat Islam dengan menggambarkan mereka sebagai orang-orang ekstrim yang mengkafirkan kelompok-kelompok, ulama-ulama dan juru dakwah Islam yang berbeda pendapat dengan mereka.

Kedua, menyebar luaskan pemahaman-pemahaman ekstrim di tengah kelompok-kelompok aktivis Islam dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihad fiqih yang masih zhanni. Akibatnya sebagian aktivis yang terkena racun pemikiran-pemikiran tersebut akan mengarahkan peperangan mereka kepada umat Islam sendiri, yaitu orang-orang Islam yang mereka vonis sebagai “orang-orang musyrik”, “orang-orang kafir” dan “ahlu bid’ah”. Hal itu akan mengalihkan konsentrasi para aktivis Islam dari memerangi aliansi zionis, salibis, paganis dan komunis yang memerangi kaum muslimin.

Ketiga, mengecilkan dan meremehkan kedudukan para ulama dan mujahidin dalam pandangan masyarakat serta mencela mereka, dengan tuduhan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin memiliki kelemahan di bidang kajian syariat dan tidak memiliki ilmu yang mumpuni.

Dengan demikian masyarakat luas akan meragukan kemampuan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin. Lalu masyarakat akan meninggalkan para ulama mujahidin dan komandan mujahidin, terutama para ulama dan komandan yang memiliki peranan penting dalam mengatur jihad di bidang syariat maupun operasi lapangan.

Jika umat Islam telah hilang kepercayaan kepada para ulama mujahidin dan komandan mujahidin serta meninggalkan mereka, maka umat Islam akan menyerahkan kepemimpinan dakwah dan jihad mereka kepada orang-orang bodoh (sufaha’ al-ahlam) dan “anak-anak kecil” (hudatsa’ al-asnan).

Usaha memetik kemenangan dakwah dan jihad yang telah dirintis selama puluhan tahun oleh para ulama mujahidin dan komandan mujahidin akan musnah begitu saja dalam hitungan waktu yang singkat oleh orang-orang yang disifati oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Salam sebagai “orang-orang yang muda usianya dan sempit wawasannya.” Pada saat itulah umat akan menemui kehancurannya dan musuh-musuh Islam bertepuk tangan karena meraih kemenangan dengan “meminjam” tangan orang-orang Islam sendiri.

Tidak heran apabila banyak ulama dan komandan mujahidin mensinyalir bahwa dinas intelijen para thaghut dan LSM-LSM zionis-salibis biasa menunggangi atau melakukan infiltrasi lewat orang-orang yang sangat ekstrim, mudah dan gegabah dalam mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat. Situs mimbar at-tawhid wal jihad,[5] misalnya, menurunkan artikel yang berjudul “Hal hunaka ‘alaqatun baina Muassasah Rand wa ghulat at-takfir” (Apakah ada kaitan antara Rand Corporation dan orang-orang yang ekstrim dalam masalah pengkafiran?).

DAKWAH ISLAMIYAH DI INDONESIA

1. Kekhasan Umat Islam di Indonesia

Tarmizi Taher menyatakan bahwa Islam di kawasan Asia Tenggara -termasuk Indonesia- memiliki ciri khas, ramah dan saling menghargai. Berbeda dengan Islam di Arab yang suka marah-marah dan kurang menghargai manusia.[6]

Selama ini umat Islam di Indonesia dikenal lembut, toleran, dan penuh kedamaian (majalah International Newsweek pernah menyebut Islam Indonesia sebagai “Islam with a smiling face”).[7] Jargon membela Islam sering memperdaya sebagian aktivis Islam, bahkan mereka yang hidup di tengahlingkungan intelektual dan tidak terbiasa berpikir agamis dan spiritual terpengaruh pada simbol-simbol agama dan kekuatan dogmatik yang diajarkan oleh para takfiri. Para takfiri memandang bahwa para muslim lain yang berbeda dengan mereka sebagai kurang islami, atau bahkan kafir. Ini jelas sebuah kekeliruan yang besar. Maka, kehadiran takfiri justru mengubah kekhasan umat Islam di Nusantara dan menjadikan mereka kelompok yang saling bermusuhan, berpecah belah, dan kehilangan toleransi.

Oleh karena itu, gerakan Islam sudah seharusnya melebur bersama nafas umat. Jangan sampai antara gerakan Islam dan umat Islam secara keseluruhan ibarat satu lembah dengan lembah yang lain, tidak pernah berada pada satu gerak dan langkah yang sama.

Ayman Al-Zhawahiri
Ayman Al-Zhawahiri

Menarik untuk dicermati adalah apa yang disampaikan oleh Ayman Al-Zhawahiri dalam pernyataan yang dikeluarkan pada bulan Oktober 2013 kemarin.[8] Sebagai pimpinan umum Al-Qaidah setelah Usamah bin Ladin meninggal dunia, Al-Zhawahiri menegaskan posisi Al-Qaidah yang menolak sikap ekstrim dalam beragama dan berjihad. Walaupun seruan-seruan yang sama pernah dirilis oleh para tokoh Al-Qaidah yang lain seperti Athiyatullah Al-Libiy dan Abu Yahya Al-Libiy, namun kali ini Al-Zhawahiri benar-benar menerangkan dengan detail bagaimana seharusnya seorang aktivis Islam itu mengenal medannya masing-masing.

Ia membagi medan aktivis Islam menjadi dua: medan dakwah dan medan jihad yang pada masing-masing medan memiliki metode tersendiri yang tidak bisa dicampur adukkan. Kaitannya dengan Indonesia, maka para aktivis Islam sebetulnya sepakat bahwasanya wilayah Indonesia merupakan medan dakwah bukan medan jihad. Bahkan, sekaliber Abu Bakar Ba’asyir yang dikenal keras sekali pun sebetulnya tetap setuju bahwa Indonesia merupakan medan dakwah bukan medan jihad (perang).

Lalu, apa pesan Al-Zhawahiri bagi aktivis Islam dalam medan dakwah? Ia menyatakan bahwa konsentrasi aktivitas dalam medan dakwah ada dua: membina generasi aktivis Islam yang tangguh dan memberikan kesadaran kepada umat Islam tentang pemahaman Islam yang benar sekaligus pencerahan mengenai kondisi politik global sehingga mereka tidak terombang-ambing dalam konspirasi musuh-musuh Islam.

2. Optimalisasi Peran Da’i dan Gerakan Dakwah

Dakwah sebagai kegiatan sosialisasi Islam harus berlangsung secara terus menerus, dari satu generasi kepada negeri berikut, dari  zaman ke zaman hingga akhir zaman. Oleh karena itu, dakwah harus dirumuskan dan direncanakan untuk jangka panjang. Da‘i dan oraganisasi dakwah memegang peranan penting dalam upaya perencanaan, pelaksanaan dan eveluasi serta mengatasi berbagai persoalan dakwah dan persoalan umat semakin komplek di era globalisasi, yang menuntut kegiatan dakwah secara profesional. Kegiatan dakwah harus mempertimbangkan berbagai faktor pendukung dan  penghambat serta kemampuan menjadi penyeimbang dalam kehidupan yang terus berubah (Abdullah, 2013).

Ahzami Samiun Jazuli menyatakan bahwa di antara solusi dalam menghadapi tantangan dakwah kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan perpecahan umat Islam adalah memperkokoh hubungan hati dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menutup rapat sebab perceraian dan pertikaian antar gerakan dakwah dan kaum muslimin umumnya, dan eliti dalam keorganisasian dan memperketat sistem seleksi dan perekrutan agar tidak mudah disusupi.[9]

Menurut Tarmizi Taher, kedepan, akan semakin banyak dibutuhkan dai-dai yang berkualitas, seiring perkembangan zaman dan teknologi. Karena itu, kemampuan ulama dan dai dalam berbahasa Inggris pun sangat dibutuhkan. Banyak negara-negara di Asia yang butuh dai. Di Korea Selatan perkembangan Islam cukup pesat. Yang lainnya juga demikian. Tugas dakwah ini hanya dapat dilayani oleh para dai yang dapat beradaptasi dengan kemajuan dan mampu berbahasa Inggris dan Arab. Karena itu, harapannya, saling menghargai dan terus meningkatkan kualitas diri, menjadi kata kunci bagi dakwah Islam masa depan.[10]

Selain itu, apa yang disampaikan Al-Zhawahiri dalam pernyataannya sangat menarik karena Al-Qaidah selama ini dikenal sebagai “organisasi teroris” yang tidak mengenal ampun dan tidak segan-segan menumpahkan darah siapapun yang bertentangan dengannya. Namun, pernyataan-pernyataan resmi para tokoh Al-Qaidah justru memperlihatkan kepada dunia bahwa antara gerakan takfiri dan Al-Qaidah jelas memiliki jalan yang berbeda, baik dari sisi pemikiran ataupun metode gerakannya. Hanya saja, tidak dipungkiri bahwa ada sebagian aktivis takfiri yang menisbatkan pemikiran dan aktivitas jihad mereka kepada Al-Qaidah.

Para aktivis Islam di Indonesia harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan oleh Al-Zhawahiri. Dalam bahasa yang populer, aktivis Islam harus bisa “memenangkan hati dan pikiran umat.” Karena hakikat dakwah dan jihad itu sendiri adalah untuk membela kepentingan umat bukan untuk mencelakakan mereka.

Pendekatan-pendekatan budaya yang bersifat kultural harus dimulai demi mengurangi potensi konflik. Pencerahan kepada umat berkaitan dengan perbedaan dalam madzhab atau urusan-urusan cabang dalam agama juga harus disebarkan agar mereka bisa mengedepankan toleransi pada hal-hal yang memang seharusnya bisa ditolerir. Islam datang bukan untuk melakukan Arabisasi, karena Islam dan Arab jelas berbeda. Biarlah umat Islam di Indonesia berislam dengan kekhasannya. Karena yang terpenting adalah budaya yang dijalani tersebut tidak bertentangan dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pendekatan dakwah dengan menggunakan bahasa daerah, bila dinilai lebih menyentuh masyarakat maka jelas harus menjadi prioritas dibandingkan dakwah dengan menggunakan bahasa nasional, apalagi dengan menggunakan Bahasa Arab. Padahal sebagian besar masyarakat Indonesia tidak memahaminya.

Penggunaan pakaian yang lebih “memasyarakat” seperti sarung dan songkok nasional pun sebetulnya dapat menjadi prioritas dibandingkan harus mengenakan jubah atau gamis yang pada akhirnya menjadi jarak antara aktivis Islam dengan masyarakat. Hal-hal kecil seperti ini sangat memengaruhi teknis dakwah. Karenanya, para da’i harus mulai memperhatikan apa-apa yang memang diterima masyarakat dan apa-apa yang tidak diterimanya. Memulai dari yang disepakati akan jauh lebih mudah daripada memulai dari apa yang tidak disepakati.

Dalam skala yang lebih luas lagi, citra para da’i di TV atau mereka yang aktif dalam dunia politik juga sangat memengaruhi pola pikir umat. Karenanya para da’i yang memang namanya telah dikenal oleh masyarakat luas, hendaknya untuk memperhatikan sikap, perilaku, dan tingkah laku mereka. Baik dalam keadaan di depan kamera ataupun di belakang kamera. Sungguh, sebaik-baik penyeru adalah mereka yang mengamalkan apa yang diserunya.

3. Peran Masyarakat

Dalam menghadapi tantangan dakwah secara umum ataupun menghadapi gerakan takfiri secara khusus, peran para dai atau organisasi dakwah saja belum cukup. Masyarakat juga harus pro aktif dalam menuntut ilmu di atas cahaya Allah.

Selain itu, masyarakat juga harus cerdas dalam menerima berita. Karena hari ini banyak sekali berita-berita yang bercampur fitnah untuk mendiskreditkan umat Islam. Bila masyarakat tidak bisa memilah dan memilih sumber informasi, maka jelas pemikiran mereka akan terdistorsi dan tidak akan bertemu dengan apa yang diinginkan oleh dakwah dan para da’inya.

Masyarakat muslimin secara umum juga harus mulai menghilangkan egoisme kelompok atau fanatik madzhab. Karena sesungguhnya hal tersebut telah mendapat ancaman yang serius dari Allah dan Rasul-Nya. Hal-hal yang memang masih bisa ditolerir hendaknya bisa diberikan ruang toleransi seluas-luasnya. Umat harus bersatu melawan musuh-musuh dakwah yang nyata. Di antaranya adalah kelompok Syi’ah dan Takfiri yang kian hari kian menggerogoti umat Islam dan para aktivis kaum muslimin.

PENUTUP

Dewasa ini, tantangan dakwah tampaknya semakin berat, terutama tantangan akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dampak dari arus modernisasi dan globalisasi. Walaupun di balik tantangan tersebut sesungguhnya juga menawarkan peluang-peluang yang harus dimanfaatkan.

Di antara tantangan dakwah yang kita hadapi hari ini adalah munculnya beberapa kelompok pemikiran yang menghancurkan umat Islam dari dalam. Salah satunya adalah apa yang hari ini dikenal dengan nama kelompok Takfiri.

Kelompok Takfiri yang merupakan pewaris pemikiran Khawarij telah menyebar ke dalam organisasi dakwah dan para aktivis Islam. Bila kita terdiam, maka jelas ini akan merugikan dakwah dan kaum muslimin secara umum. Karena di antara efek negatif yang disebarkan para takfiri adalah memecah belah umat bahkan menghalalkan darah kaum muslimin yang dinilai memiliki paham yang bersebrangan dengan mereka.

Oleh karena itu, para da’i harus mengoptimalkan kemampuan mereka, baik dalam skala individu maupun skala lembaga dakwah agar bisa menahan laju pemikiran takfiri yang sudah mulai berkembang luas ini. Pendekatan kultural dan sosial budaya harus dimulai demi memenangkan hati dan pikiran umat. Agar kemudian umat bisa terlindungi dari bahaya yang ditimbulkan oleh pihak eksternal ataupun internal.

 

SUMBER RUJUKAN

Abdullah. 2013. Analisis Swot Dakwah Di Indonesia: Upaya Merumuskan Peta Dakwah. Terdapat di http://abdullahjamil.wordpress.com/2013/12/30/analisis-swot-dakwah-di-indonesia-upaya-merumuskan-peta-dakwah/.

Adam, Muchtar. Tanpa Tahun. Bahaya Takfiri (Mengkafirkan Orang Lain). Bandung: Pesantren Al Quran Babussalam.

Al-Islam, Nuur. 2010. Hal Hunaaka ‘Alaqatu Bayna Mu`assasah RAND wa Ghullaatut Takfiir. Terdapat di http://www.tawhed.ws/r?i=16011030.

Al-Majdi, Muhib. 2013. Mudah Mengkafirkan: Akar Masalah, Bahaya dan Terapinya” buku terbaru penerbit Manjaniq Media. Terdapat di http://www.arrahmah.com/rubrik/mudah-mengkafirkan-akar-masalah-bahaya-dan-terapinya-buku-terbaru-penerbit-manjaniq-media.html.

Al-Zhawahiri, Ayman. 2013. Petunjuk Umum Pelaksanaan Jihad (Terj. Syamina: Menahan Diri, Arahan Baru Aiman Azh-Zhawahiri). Terdapat dihttp://syamina.org/syamina28-MENAHAN-DIRI-ARAHAN-BARU-AIMAN-AZH-ZHAWAHIRI.html.

Harun Nasution. 1978. Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.Jakarta: Univesitas Indonesia.

Jazuli, Ahzami Samiun. 2014. Problematika Dakwah dan Solusinya. Terdapat di http://darussalam-online.com/kajian/sabtu-malam/problematika-dakwah-dan-solusinya/.

Makalahpribadi. 2012. Ilmu Kalam; Khawarij dan Murji’ah. Terdapat di http://makalahpribadi.wordpress.com/2012/04/05/ilmu-kalam-khawarij-dan-murjiah/.

Timur, Teguh. 2006. Poros Islam Beralih ke Asia Tenggara.Terdapat di http://teguhtimur.com/2006/12/08/%E2%80%9Cporos-islam-beralih-ke-asia-tenggar/.

Yamani, Levi. 2014. Akar Gerakan Takfiri di Indonesia. Terdapat di http://leviyamani.wordpress.com/2014/05/20/akar-gerakan-takfiri-di-indonesia/.

CATATAN KAKI

[1] http://makalahpribadi.wordpress.com/2012/04/05/ilmu-kalam-khawarij-dan-murjiah/

[2] Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.Jakarta: Univesitas Indonesia. 1978, hlm. 23.

[3]Sebutan bagi kelompok yang mudah mengkafirkan orang lain. Hal ini digunakan oleh para aktivis Islam untuk membedakan mereka dengan kelompok Khawarij, karena mereka tidak sepenuhnya terpengaruh pemikiran Khawarij.

[4] Diambil dari http://www.arrahmah.com/rubrik/mudah-mengkafirkan-akar-masalah-bahaya-dan-terapinya-buku-terbaru-penerbit-manjaniq-media.html, dengan beberapa penyesuaian redaksi.

[5] Lihat http://www.tawhed.ws/r?i=16011030

[6] http://teguhtimur.com/2006/12/08/%E2%80%9Cporos-islam-beralih-ke-asia-tenggar/

[7] http://leviyamani.wordpress.com/2014/05/20/akar-gerakan-takfiri-di-indonesia/

[8] Lihat selengkapnya terjemahan pernyataan Al-Zhawahiri dalam http://syamina.org/syamina28-MENAHAN-DIRI-ARAHAN-BARU-AIMAN-AZH-ZHAWAHIRI.html

[9] http://darussalam-online.com/kajian/sabtu-malam/problematika-dakwah-dan-solusinya/

[10] http://teguhtimur.com/2006/12/08/%E2%80%9Cporos-islam-beralih-ke-asia-tenggar/

 

2 thoughts on “TAKFIRI : Tantangan Umat Islam di Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s