Sembilan Elemen Presentasi Hebat Steve Jobs dalam Presentasi Dakwah

Oleh: Rd. Laili Al Fadhli, S.Pd.I

[Diolah dari Rahasia Presentasi Steve Jobs Carmine Gallo]

Rahasia Presentasi Steve Jobs
Rahasia Presentasi Steve Jobs

Gallo mengatakan bahwa naskah presentasi yang persuasif megandung sembilan elemen yang sama. Cobalah untuk menggabungkan setiap elemen ini sebelum Anda membuka program presentasi Anda, sebelum Anda bekerja dengan PowerPoint, Keynote, atau headline desain yang lain.

  1. HEADLINE

Ide besar yang ingin Anda tanamkan ke benak audiens mestinya pendek saja (140 karakter atau kurang), mudah diingat, dan ditulis dengan urutan struktur kalimat sederhana S-P-O. Contohnya “Hari ini Apple mencitpakan kembali telepon!”.

Dalam presentasi dakwah, penggunaan headline jelas dapat menarik perhatian audiens. Dengan headline yang singkat, jelas, padat, dan berisi gagasan besar, ditambah dengan visualisasi yang eye-catching, jelas akan mempermudah proses persuasif dan dakwah itu sendiri. Setidaknya, perhatian audiens akan terarah dan lebih fokus dalam menerima materi setelahnya.

Adapun beberapa contoh headline dalam dakwah yang bisa digunakan di antaranya:

ü  “Jangan bersedih, Allah bersama Anda!”

ü  “Salam: Perkataan penghuni surga.”

ü  “Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan menjawabmu.”

 

  1. PERNYATAAN PENUH GAIRAH

Menurut Aristoteles, pembicara yang sukses harus mempunyai “pathos” atau gairah pada subjeknya. Antusiasme audiens akan sangat bergantung kepada antusiasme pembicara itu sendiri. Begitu pun dalam dakwah.

Kita saksikan hari ini misalnya, begitu banyak khutbah Jumat yang “terbuang percuma” karena hanya meninabobokan para audiens. Hal tersebut disebabkan oleh kekurang cakapan para muballigh dalam mengemas gaya bicara mereka. Khutbah Jumat yang seharusnya disampaikan dengan penuh antusias, semangat, dan meluap-luap, justru seringkali disampaikan dengan bahasa dan gaya bicara yang terlampau lembut, monoton, dan datar. Padahal, khutbah Jumat merupakan salah satu sarana yang sangat efektif dalam menyampaikan dakwah.

Bahkan, kejadian serupa seringkali terjadi juga pada acara-acara selain khutbah Jumat. Para da’i dan muballigh yang memiliki ilmu dan konten dakwah yang bagus, bila tidak dikemas dengan gaya penyampaian yang baik, maka jelas akan membuat audiens bosan dan mengantuk.

Dalam presentasi dakwah, gaya penyampaian yang penuh gairah memang tidak bisa diartikan “semangat” saja. Karena kenyataannya, dalam dakwah, pemberian materi atau kisah yang emosional dan menyentuh perasaan juga dibutuhkan sebagai bumbu penyedap dan penyejuk hati yang seringkali kehausan. Namun, bila kisah-kisah emosional tersebut tidak disampaikan dengan penghayatan yang mendalam, jelas akan menjadi usaha yang sia-sia.

 

  1. TIGA PESAN KUNCI

Pengungkapan narasi dalam kelompok tiga memberikan arah bagi audiens Anda. Hal ini menunjukkan kepada orang-orang dari mana Anda berasal dan ke mana Anda akan menuju. Tuliskan tiga pesan yang Anda inginkan agar diterima audiens. Pesan-pesan ini haruslah mudah diingat tanpa harus melihat catatan lagi.

Dalam dakwah membuat tiga pesan kunci sangat bisa dilakukan. Hal ini dapat digunakan untuk mempertegas penyampaian dan materi yang sedang disampaikan. Misalnya saat Anda menyampaikan tema “Kewajiban Seorang Muslim terhadap Al-Quran”. Apa yang harus dilakukan adalah memilih tiga kata kunci yang paling penting yang merangkum tema tersebut secara keseluruhan, seperti: Membaca, Memahami, dan Mengamalkan.

Ketiga kata kunci tersebut akan selalu terngiang dalam ingatan jangka panjang para audiens. Bila ada hal-hal lain yang dapat ditambahkan, maka bisa menambahkannya sebagai “kejutan” di akhir presentasi. Hal ini kadang dilakukan oleh Steve Jobs dengan pernyataannya “Satu hal lagi.”

“Satu hal lagi” yang ditambahkan dalam konteks presentasi “Kewajiban Seorang Muslim terhadap Al-Quran” misalnya adalah “menghafal”. Sebagaimana kita ketahui bahwa menghafal Al-Quran bukanlah kewajiban individu (fardhu ain) melainkan kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Karenanya ia tidak dimasukkan sebagai “tiga pesan kunci”, tetapi digunakan sebagai tambahan tersendiri yang di sana nantinya disampaikan juga beberapa kelebihan atau keutamaan para penghafal Al-Quran yang dapat menggerakkan audiens untuk tidak sekedar membaca, memahami, dan mengamalkan saja, namun juga berusaha untuk sedikit demi sedikit menghafalkan Al-Quran.

Audiens memang menyukai poin, tapi tiga adalah angka ajaib. Karenanya, usahakan poin penting dalam setiap tema yang Anda presentasikan dapat dirumuskan dalam tiga poin penting. Angkatan Laut AS telah melakukan riset mendalam mengenai hal ini dan menyimpulkan bahwa angka tiga lebih efektif daripada empat atau dua. Jadi jika tidak banyak komunikator yang memasukkan aturan tiga ini ke dalam presentasinya, maka Anda akan terlihat menonjol dengan melakukannya. Aturan tiga ini berlaku untuk AL, berlaku untuk Jobs, dan berlaku untuk Anda.

 

  1. METAFORA DAN ANALOGI

Menurut Aristoteles, metafora adalah “hal yang paling penting”. Metafora adalah perangkat persuasif dalam kampanye terbaik di bidang pemasaran, periklanan, dan humas. Begitupun dalam dakwah. Bahasa metafora dan analogi dapat mempermudah audiens dalam menerima materi-materi dakwah yang bersifat teoritis dan kadang sulit dicerna oleh orang awam.

Misalnya pada saat menjelaskan keutamaan puasa bagi jasmani dan ruhani. Kita dapat mengatakan, “Puasa dengan menahan lapar dan haus sangat baik bagi kesehatan tubuh kita, sedangkan puasa dengan menahan pandangan, pendengaran, dan lisan dari hal-hal yang terlarang sangat baik bagi kesehatan jiwa dan hati kita.”

Adapun analogi sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman pada hal-hal yang masih baru dan terdengar asing bagi sebagian orang. Seperti misalnya peristiwa Isra dan Mi’raj. Bagi masyarakat yang sangat awam bisa jadi persitiwa ini tidak diterima oleh kadar akal mereka. Namun, kita bisa menganalogikan kisah Isra Mi’raj dengan kisah seekor semut yang jalan-jalan ke luar negeri. Saat si semut pulang dari luar negeri, ia bercerita kepada kawanan semut yang lain, namun tidak ada satupun yang percaya. Bagaimana mungkin ia bisa ke luar negeri dan kembali dalam waktu yang begitu singkat. Padahal, ia bisa ke luar negeri disebabkan merayap pada jas salah seorang pengusaha yang memang sedang melakukan perjalanan bisnis dan kembali pada hari itu juga. Ia merayap pada jas tersebut, mengikuti pengusaha itu, sampai pengusaha itu naik pesawat, bertemu dengan kolega bisnisnya di luar negeri dan kemudian kembali ke tanah air. Pada saat itulah si semut merayap kembali ke kawanan semut yang lain dan menceritakan perjalanannya yang luar biasa.

 

  1. DEMONSTRASI

Dalam dakwah, beberapa demonstrasi dapat dilakukan. Khususnya demonstrasi yang berkaitan dengan pembuktian ilmiah ayat-ayat Al-Quran atau keajaiban Sunnah. Misalnya praktik hijaamah atau bekam. Selain merupakan praktik pengobatan yang biasa dipilih oleh Nabi, bekam juga terbukti memiliki khasiat yang belum bisa digantikan oleh praktik pengobatan modern. Maka, kita bisa mendemonstrasikan hal tersebut. Apalagi bila demonstrasi dilakukan sambil mengkaji dan meneliti secara ilmiah efek positif yang dihasilkannya.

 

  1. PARTNER

Jobs berbagi panggung dengan para partner kunci dan dengan produk-produknya. Maka, seperti itu seharusnya da’i dan muballigh melakukan presentasi dakwah. Seorang da’i bisa saja berada satu panggung dengan para profesor ilmu sejarah saat membahas sejarah Islam. Ia bisa juga didampingi oleh seorang ahli medis saat menjelaskan Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi). Ia pun bisa menampilkan para artis, tokoh politik, atau bahkan tokoh-tokoh agama lain yang bisa bersikap objektif dan bisa memberikan penjelasan bagaimana sisi positif ajaran Islam. Hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas, karena sebagian besar di antara mereka masih tergantung kepada figuritas.

 

  1. BUKTI DARI PELANGGAN DAN REKOMENDASI DARI PIHAK KETIGA

Seorang pembeli biasanya ragu untuk menjadi pelanggan pertama pada produk-produk yang baru. Dengan adanya testimoni dari mereka yang telah merasakan keberhasilan produk kita, maka hal tersebut dapat merangsang orang lain untuk mencobanya.

Dalam dakwah, testimoni para muallaf atau orang-orang yang pernah mengalami masa-masa gelap dalam kehidupannya, lalu kemudian menemukan cahaya dan kebahagiaan dalam Islam sangat berpengaruh bagi kebanyakan orang. Terutama bila kita berbicara tentang keutamaan amalan-amalan tertentu dan dapat menghadirkan pelaku sekaligus buktinya yang nyata. Seperti misalnya pada saat kita berbicara “Keajaiban Sedekah”. Maka alangkah lebih baik bila kita berhasil menampilkan beberapa orang yang telah merasakan efek positif dari sedekah itu sendiri. Sehingga audiens dapat lebih merespon dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh para pelaku tadi.

 

  1. KLIP VIDEO

Sangat sedikit presenter yang memasukkan video dalam ke dalam presentasi mereka. Adapun Jobs sangat sering memutar video klip. Video dapat menghilangkan kejenuhan dan mengembalikan fokus serta perhatian audiens. Video juga dapat mempertajam pemahaman audiens karena sifatnya yang audio-visual. Namun, rentang perhatian manusia terus menyusut. Video yang memiliki durasi terlalu lama justru dapat berpotensi menimbulkan kejenuhan. Karenanya video yang diputar diusahakan sebisa mungkin untuk tidak lebih dari 3 menit.

Dalam presentasi dakwah, kita dapat memasukkan potongan-potongan film yang berhubungan dengan materi untuk mempertajam dan menimbulkan kesan emosional pada diri audiens. Misalnya saat kita memberikan materi “sabar”. Maka kita bisa memutar potongan film “Omar” yang menampilkan dialog Bilal bin Rabah bersama tuannya, kesabaran Bilal saat disiksa hingga akhirnya ia dibebaskan oleh Abu Bakar.

Bila kita sedang berbicara heroisme, maka kita bisa menampilkan potongan-potongan film action (Hollywood) yang dapat memberikan inspirasi, semangat, dan memberikan gambaran bagaimana seharusnya teori-teori heroisme tersebut dipraktikkan. Kita juga bisa memutar beberapa video inspiratif yang sangat mudah kita dapatkan dari Youtube.

 

  1. FLIP CHART, PROP, DAN TUNJUKKAN-DAN-CERITAKAN

Ada tiga tipe pembelajar: visual, auditori, dan kinestetik. Carilah cara terbaik dalam presentasi yang dapat memuaskan semua orang. Sebuah presentasi semestinya bukan hanya kumpulan slide. Gunakan whiteboard, flip chart, atau flip chart berteknologi.

Banyak komunikator mencurahkan terlalu banyak perhatian pada slide: Font apa yang harus saya pakai? Mana yang sebaiknya dipakai, bullet atau tanda hubung? Apakah saya harus selipkan grafik di sini? Gambar di sana? Padahal slide tidak menghasilkan cerita, tetapi Andalah yang menceritakannya. Slide melengkapi kisahnya. Bahkan karakter utama dalam sebuah presentasi yang efektif bukanlah headline tersebut tapi pembicaranya.

Bila Anda memiliki produk yang berwujud, maka tampilkanlah. Hiasi panggung Anda dengan berbagai macam properti pendukung. Dalam dakwah, bila Anda memiliki properti pendukung materi seperti hasil penelitian, arsip sejarah, prasasti, atau demonstrasi praktik Thibbun Nabawi, tampilkanlah. Karena pertunjukkan nyata dapat menggambarkan jalan cerita presentasi dengan lebih tajam dan terpercaya.

Menurut Kawasaki, demo yang baik adalah yang memenuhi persayaratan berikut:

ü  Short (Singkat) : Tidak menghabiskan banyak waktu.

ü  Simple (Simpel) : Mudah dipahami.

ü  Sweet (Manis) : Tampilkan “pembeda” dari produk pesaing.

ü  Swift (Cepat) : Bertempo cepat.

ü  Substansional : Memperlihatkan tawaran dan solusi.

Dalam menghidupkan presentasi, Anda juga bisa melibatkan audiens. Misalnya dengan memberikan beberapa buah properti, misalnya kertas dan bolpen. Minta audiens untuk menulis, melukis, atau mencorat-coret kertas pemberian Anda. Dengan catatan: Anda harus memiliki konsep yang jelas dari apa yang akan Anda lakukan, serta tidak melenceng dari tema dan pembahasan presentasi Anda.

Anda bisa berbagi panggung dengan audiens. Misalnya dengan meminta salah seorang audiens naik ke atas panggung bersama Anda, menampilkan hasil karyanya atau tulisannya yang baru saja ia tulis. Selain itu, Anda bisa juga menampilkan keahlian Anda di atas panggung. Bila Anda bisa menyanyi, maka menyanyilah. Bila Anda ahli bela diri, maka Anda bisa menunjukkan beberapa gerakan bela diri untuk menarik perhatian audiens.

Termasuk dalam poin ini adalah perhatian Anda terhadap pakaian, penguasaan terhadap panggung, membuang naskah, dan menikmati presentasi yang Anda lakukan.

Untuk penjelasan lebih rinci dan detail mengenai hal-hal yang telah disebutkan, silakan untuk merujuk buku “Rahasia Presentasi Steve Jobs” oleh Carmine Gallo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s