Tarawih Berapa Rakaat? 11 atau 23?

Hampir setiap bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin akan disibukkan oleh amalan-amalan sunnah. Di antara amalan sunnah yang akan “menyibukkan” seorang muslim pada bulan Ramadhan adalah qiyaamu ramadhan atau yang lebih dikenal dengan Shalat Tarawih.

Selain disibukkan dengan mengamalkan tarawih, kaum muslimin juga biasanya akan disibukkan dengan diskusi seputar jumlah rakaat tarawih yang mesti dilaksanakan. Berapakah jumlah rakaat tarawih yang boleh diamalkan?

Pada dasarnya, tidak ada ketentuan tentang berapa jumlah rakaat dalam shalat tarawih. Namun, Nabi shallallâhu alayhi wa sallam sendiri biasa melaksanakannya tidak lebih dari 11 rakaat. Apakah shalat 11 rakaat adalah pembatasan?

Tidak demikian. Karena dalam riwayat yang lain, Rasûlullâh pernah melaksanakannya sebanyak 13 rakaat.

Lebih dari itu, perbedaan mengenai jumlah rakaat tarawih bukanlah sesuatu yang fundamental dalam ibadah ini. Adapun yang terpenting adalah melaksanakannya sesuai dengan sifat yang telah dijelaskan dalam beberapa riwayat: dengan tenang, santai, dan beristirahat sejenak setiap 4 rakaat.

Imam Syafi’i berkata mengenai jumlah bilangan shalat tarawih, setelah meriwayatkan shalat di Mekkah 23 raka’at dan di Madinah 39 raka’at berkomentar, “Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tetapi yang pertama lebih aku sukai.” (Fathul Bari, 4/253).

Ibn Hibban (wafat 354 H) berkata, “Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 raka’at dengan bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka. Kemudian mereka meringankan bacaan dan menambah bilangan raka’at, menjadi 23 raka’at dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 raka’at tanpa witr.” (Fiqhus Sunnah, 1/174)

Ibn Taimiyah berkata, “Ia boleh shalat tarawih 20 raka’at sebagaimana yang masyhur dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 raka’at sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 raka’at, 13 raka’at. Semuanya baik. Jadi banyaknya raka’at atau’ sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.”(Majmu’ Al Fatawa, 23/113)

Maka, yang terpenting bukanlah kuantitasnya, tapi kualitasnya. Bila bisa menggabungkan kuantitas dan kualitas, maka tentu hal tersebut jauh lebih baik. Wallâhu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s