Perjanjian Damai Kaum Muslimin dengan Romawi

Al Mahdi (Ilustrasi)
Al Mahdi (Ilustrasi)

Di antara rentetan peristiwa akhir zaman adalah bahwa nanti kaum muslimin, akan mengadakan perjanjian damai dengan Romawi, lalu kaum muslimin bersama-sama akan memerangi musuh dari belakang, sebelum pada akhirnya mereka berperang dengan sangat dahsyat.

(ستصالحون الروم صلحا آمنا فتغزون أنتم وهم عدوا من ورائكم، فتنصرون وتغنمون وتسلمون ثم ترجعون حتى تنزلوا بمرج ذي تلول فيرفع رجل من أهل النصرانية الصليب فيقول: غلب الصليب، فيغضب رجل من المسلمين فيدقه، فعند ذلك تغدر الروم وتجمع للملحمة).

“Kalian akan shulh (mengadakan perjanjian damai, gencatan senjata) dengan Bangsa Romawi (US dan Eropa) dengan perjanjian aman. Kemudian kalian dan mereka (Romawi) akan memerangi musuh di belakang kalian. Kalian akan dimenangkan Allah, dan meraih ghanimah dengan selamat. Setelah itu kalian (dan Romawi) berkumpul di Marj Dzi Tullul (sebuah dataran tinggi). Lantas seorang Salibis Romawi mengangkat salib sambil berteriak: “Hidup Salib!” Seorang mukmin kemudian marah dan mematahkan salib tersebut. Kemudian Romawi marah dan mengkhianati perjanjian, dan kaum muslimin bersatu melawan mereka. Saat itulah terjadi Al Malhamah Al Kubra.” [HR. Abu Dawud, 4292]

Adapun perjanjian yang dilakukan kaum muslimin terjadi setelah penaklukan Syam dan Pengosongan Yatsrib. Hal ini bila kita kaitkan dengan riwayat yang lain yang menceritakan sebagian urutan peristiwa akhir zaman.

وَالسَّادِسَةُ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الْأَصْفَرِ فَيَسِيرُونَ إِلَيْكُمْ عَلَى ثَمَانِينَ غَايَةً قُلْتُ وَمَا الْغَايَةُ قَالَ الرَّايَةُ تَحْتَ كُلِّ رَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا فُسْطَاطُ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَئِذٍ فِي أَرْضٍ يُقَالُ لَهَا الْغُوطَةُ فِي مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا دِمَشْقُ

“Dan periode keenam adalah perdamaian antara kalian (kaum muslimin) dengan Bani Ashfar (yaitu Romawi atau Eropa). Kemudian mereka akan berjalan (memerangi kalian) di atas 80 ghayah.” Aku (perawi hadits) bertanya: “Apa itu ghayah?” Beliau menjawab: “Yaitu bendera. Masing-masing bendera membawahi 12.000 pasukan. Perkemahan kaum muslimin ketika itu adalah di sebuah tempat yang bernama Ghuthah di kota yang bernama Damasykus.” [HR. Ahmad: 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Tahqiq Musnad Ahmad berkata: “Isnadnya shahih menurut kriteria Muslim.”]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin telah menguasai Damaskus saat “ash shulh” dilaksanakan. Adapun terkait dengan pengosongan Madinah (Yatsrib) diriwayatkan sebagai berikut,

(عمران بيت المقدس خراب يثرب، وخراب يثرب خروج الملحمة، وخروج الملحمة فتح قسطنطينية، وفتح القسطنطينية خروج الدجال)

Kemakmuran Baitul Maqdis diikuti dengan pengosongan Yatsrib. Pengosongan Yatsrib diikuti dengan Al Malhamah, Al Malhamah dengan Penaklukan Konstantin, Penaklukan Konstantin dengan keluarnya Dajjal. [HR. Abu Dawud 4294]

Hal ini juga sesuai dengan riwayat yang lain:

عن نافع بن عتبة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تغزون جزيرة العرب فيفتحها الله ثم تغزون فارس فيفتحها الله ثم تغزون الروم فيفتحا الله ثم تغزون الدجال فيفتحه الله . روه مسلم

Dari Nafi’ bin ‘Utbah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Engkau akan memerangi Jazirah Arab dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Persia dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Romawi dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Dajjal dan Allah akan memenangkannya untukmu. [Shahih Muslim]

Memerangi Romawi maksudnya adalah Al Malhamah, sedangkan peristiwa sebelum Al Malhamah adalah penaklukan Persia. Atas dasar inilah mayoritas ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud “musuh dari belakang” dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 4292 di atas adalah Persia/ Negara Syiah Iran. Karena bila melihat urutan kejadian di atas adalah:
1. Penaklukan Jazirah,
2. Penaklukan Syam,
3. Pengosongan Madinah
4. Penaklukan Persia,
5. Al Malhamah,
6. Penaklukan Konstantin,
7. Kemunculan Dajjal.

Apakah “musuh dari belakang” dapat bermakna lain?

Bisa jadi, karena tidak ada keterangan, apakah di antara penaklukan Persia dan Al Malhamah ada peristiwa lain atau tidak. Hadits di atas hanya menunjukkan bahwa Penaklukan Persia terjadi sebelum terjadinya Al Malhamah. Tidak dijelaskan apakah kejadian tersebut langsung beruntun atau ada penaklukan lain di antara keduanya. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa penaklukan Persia dan peperangan dengan “musuh dari belakang” adalah dua peristiwa yang berbeda. Namun, kepastian akan hal ini jelas membutuhkan dalil.

Adapun berdasarkan zhahir hadits yang dikutip di awal, yang pasti adalah bahwa peristiwa “ash shulh” dan memerangi “musuh dari belakang” terjadi beruntun, karena Rasul menggunakan kata “fa” yang maksudnya tidak ada jeda. Sedangkan peristiwa Al Malhamah sendiri terjadi saat kaum muslimin pulang dari peperangan melawan “musuh dari belakang” tadi. Artinya, jeda hanya terjadi sesaat seusai peperangan sebelum akhirnya kaum muslimin pulang, dan Rasul tidak menceritakan adanya peristiwa besar yang lain sebelum terjadinya Al Malhamah.

Apakah penaklukan Persia ini dilakukan sebelum atau sesudah penaklukan Syam?

Maka para ulama berbeda pendapat. Setelah Al Imam Al Mahdi menaklukan Jazirah, ada yang mengatakan bahwa setelah itu terjadi perjanjian dengan Romawi. Namun hal ini sepertinya kurang tepat, karena pada saat peristiwa “ash shulh” dan Al Malhamah terjadi, kaum muslimin sudah memiliki benteng dan perkemahan di Syam. Artinya, Syam sudah ditaklukan.

” يوم الملحمة الكبرى فسطاط المسلمين ، بأرض يقال لها الغوطة ، فيها مدينة يقال لها دمشق ، خير منازل المسلمين يومئذ ” ” هذا حديث صحيح الإسناد ، ولم يخرجاه .

Perkemahan kaum muslimin pada hari Al Malhamah adalah di Ghouthah, dekat kota Damaskus, itulah sebaik-baik tempat bagi kaum muslimin pada hari itu. [Mustadrak Ala Shahihain Kitabul Fitan wal Malahim 8543]

Sudah kita bahas di atas bahwa peristiwa ash shulh, peperangan dengan “musuh dari belakang”, dan Al Malhamah terjadi beruntun, maka tidaklah mungkin penaklukan Persia terjadi sebelum penaklukan Syam. Bagaimana mungkin kaum muslimin dikatakan belum menaklukan Syam sedangkan mereka sudah memiliki benteng dan perkemahan di Syam?

Kecuali bila kita katakan bahwa “musuh dari belakang” bukanlah Persia, sehingga tidak menutup kemungkinan setelah Persia ditaklukan barulah kaum muslimin menaklukan Syam, lalu mengadakan perjanjian dengan Romawi, lalu memerangi “pasukan dari belakang”, lalu terjadilah Al Malhamah.

Atau dengan memunculkan kemungkinan yang lain, yaitu penaklukan Syam dilakukan dua kali: sebelum Al Malhamah dan setelah Al Malhamah. Ibnu Katsir lebih cenderung ke pendapat ini saat membawakan hadits “pohon dan batu bicara” dalam Al Fitan. Beliau mengarahkan bahwa hal tersebut terjadi setelah terbunuhnya Dajjal. Wallâhu a’lam.

Adapun peristiwa Al Malhamah sendiri terjadi setelah Romawi mendatangi A’maq atau Dabiq,

لا تقوم الساعة حتى ينزل الروم بالأعماق أو بدابق فيخرج إليهم جيش من المدينة من خيار أهل الأرض يومئذ فإذا تصافوا قالت الروم خلوا بيننا وبين الذين سبوا منا نقاتلهم فيقول المسلمون لا والله لا نخلي بينكم وبين إخواننا فيقاتلونهم فينهزم ثلث لا يتوب الله عليهم أبدا ويقتل ثلثهم أفضل الشهداء عند الله ويفتتح الثلث لا يفتنون أبدا فيفتتحون قسطنطينية فبينما هم يقتسمون الغنائم قد علقوا سيوفهم بالزيتون إذ صاح فيهم الشيطان إن المسيح قد خلفكم في أهليكم فيخرجون وذلك باطل فإذا جاؤوا الشام خرج فبينما هم يعدون للقتال يسوون الصفوف إذ أقيمت الصلاة فينزل عيسى بن مريم صلى الله عليه وسلم فأمهم فإذا رآه عدو الله ذاب كما يذوب الملح في الماء فلو تركه لانذاب حتى يهلك ولكن يقتله الله بيده فيريهم دمه في حربته. الحديث طويل رواه مسلم في كتاب الفتن (2897) عن أبي هريرة ونحوه حديث ابن مسعود

Tidak akan terjadi kiamat sehingga bangsa Romawi sampai di A’maq atau Dabiq. Kedatangan mereka dihadapi oleh sebuah pasukan yang keluar dari kota Madinah yang merupakan penduduk bumi yang terbaik pada masa itu. Pada saat mereka telah berbaris, bangsa Romawi menggertak : “Biarkan kami masuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang kami yang kalian tawan!” Mendengar gertakan tersebut, kaum muslimin menjawab : “Demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian mengusik saudara-saudara kami!” Maka terjadilah peperangan antara kedua pasukan. Sepertiga pasukan Islam akan melarikan diri, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama-lamanya. Sepertiga pasukan Islam akan terbunuh, merekalah sebaik-baik syuhada. Sepertiga yang lainnya akan memperoleh kemenangan dan tidak akan terkena fitnah sedikitpun selamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantinopel. Ketika mereka tengah membagi-bagi harta rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon Zaitun, mendadak suara teriakan setan, “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal telah menguasai keluarga kalian!”

Mereka pun bergegas pulang, namun ternyata berita itu bohong. Tatkala mereka telah sampai di Syam, barulah Dajjal muncul. Ketika mereka tengah mempersiapkan diri untuk berperang dan merapikan barisan, tiba-tiba datang waktu shalat. Pada saat itulah Nabi Isa bin Maryam turun. Ia memimpin mereka. Begitu melihat Nabi Isa, musuh Allah si Dajjal pun meleleh bagaikan garam yang mencair. Sekiranya ia membiarkannya, sudah tentu musuh Allah itu akan hancur leleh. Namun Allah membunuhnya melalui perantara Nabi Isa, sehingga beliau menunjukkan kepada kaum muslimin darah musuh Allah yang masih segar menempel di ujung tombaknya. [HR. Muslim 2897]

Hadits di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin “menahan” sebagian orang Romawi yang disebut sebagai “saudara” oleh kaum muslimin. Para ulama menafsirkan bahwa mereka adalah orang Romawi yang telah masuk Islam dan tinggal bersama kaum muslimin di Syam.

Peristiwa ini mengingatkan kita akan peristiwa pasca shulhul Hudaybiyah, dimana orang-orang musyrikin Makkah memaksa mereka yang berhijrah ke Madinah setelah perjanjian disepakati, tidak diperkenankan dan dipaksa untuk pulang ke Makkah, walaupun akhirnya mereka tidak pulang ke Makkah.

Adapun yang terjadi di akhir zaman kelak, bahwa setelah kaum muslimin dan Romawi bersama-sama selesai memerangi “musuh dari belakang”, banyak di antara orang-orang Romawi yang lebih memilih tinggal di Syam (berislam). Hal ini membuat orang-orang Romawi geram dan menghendaki mereka untuk kembali (murtad), namun kaum muslimin melindunginya. Saat itulah Al Malhamah terjadi yang kemudian diikuti beberapa peristiwa sebagaimana yang diriwayatkan tersebut.

Wallâhu a’lam.

Ayahnya Ezra Laili Al Fadhli
Selesai diedit 20 Mei 2014 di Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s