Nilai dan Bebas Nilai

nilai

Lorens Bagus (2002) dalam Kamus Filsafat menjelaskan makna nilai sebagai berikut:

1)      Nilai dalam bahasa Inggris value, bahasa Latin valere (berguna,mampu akan, berdaya, berlaku, kuat).

2)      Nilai ditinjau dari segi harkat adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek kepentingan.

3)      Nilai ditinjau dari segi keistimewaan adalah apa yang dihargai, dinilai tinggi atau dihargai sebagai sesuatu kebaikan. Lawan dari suatu nilai positif adalah “tidak bernilai” atau “nilai negative”. Baik akan menjadi suatu nilai dan lawannya (jelek, buruk) akan menjadi suatu “nilai negative” atau “tidak bernilai”.

4)      Nilai ditinjau dari sudut Ilmu Ekonomi yang bergelut dengan kegunaan dan nilai tukar benda-benda material, pertama kali mengunakan secara umum kata “nilai”.

Adapun Mulyana Rohmat (2004) mendefiniskan bahwa nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Definisi tersebut dikemukakan oleh Rohmat yang secara eksplisit menyertakan proses pertimbangan nilai, tidak hanya sekedar alamat yang dituju oleh sebuah kata “ya”. Beberapa pengertian “nilai” menurut para ahli, sebagaimana dikutip oleh Rohmat (2004:9) adalah sebagai berikut :

1)      Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya, Gordon Allfort (1964). Definisi ini dilandasi oleh pendekatan psikologis, karena itu tindakan dan perbuatannya seperti keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah, adalah hasil proses psikologis. Termasuk kedalam wilayah ini seperti hasrat, sikap, keinginan, kebutuhan dan motif.

2)      Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif (Kuperman, 1983). Penekanan utama definisi ini pada faktor eksternal yang mempengaruhi prilaku manusia. Pendekatan yang melandasi definisi ini adalah pendekatan sosiolgis. Penegakan norma sebagai tekanan utama dan terpenting dalam kehidupan sosial akan membuat seseorang menjadi tenang dan membebaskan dirinya dari tuduhan yang tidak baik.

3)      Nilai adalah konsepsi (tersurat atau tersirat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi tindakan pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir (Kluckhohn, Brameld, 1957). Definisi yang dikemukakan oleh Klukhon ini berimplikasi terhadap pemaknaan nilai-nilai budaya, seperti yang diungkap oleh Brameld dalam bukunya tentang landasan-landasan budaya pendidikan. Dia mengungkapkan ada enam implikasi terpenting yaitu sebagai berikut:

  1. Nilai merupakan konstruk yang melibatkan proses kognitif (logis dan rasional) dan proses ketertarikan dan penolakan menurut kata hati.;
  2. Nilai selalu berfungsi secara potensial, tetapi selalu tidak bermakna apabila diverbalisasai;
  3. Apabila hal itu berkenaan dengan budaya, nilai diungkapkan dengan cara yang unik oleh individu atau kelompok;
  4. Karena kehendak tertentu dapat bernilai atau tidak, maka perlu diyakini bahwa pada dasarnya disamakan (equated) dari pada diinginkan, ia didefinisikan berdasarkan keperluan sistem kepribadian dan sosio budaya untuk mencapai keteraturan atau mengahargai orang lain dalam kehidupan sosial;
  5. Pilihan di antara nilai-nilai alternatif dibuat dalam konteks ketersediaan tujuan antara (means) dan tujuan akhir (ends), dan;
  6. Nilai itu ada, ia merupakan fakta alam, manusia, budaya dan pada saat yang sama ia adalah norma-norma yang telah disadari.

Beni Ahmad Saebani (2009: 9) mengatakan bahwa ada lima hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan makna nilai, yaitu:

1)      Nilai sebagai panduan hidup manusia

2)      Nilai sebagai tujuan hidup manusia

3)      Nilai sebagai pilihan normatif

4)      Nilai sebagai hakikat semua pengetahuan

5)      Nilai sebagai kesadaran tertinggi dari seluruh kesadaran manusia tentang motif-motif dan bentuk sebuah tindakan yang berakar pada nalar dan tolak ukur yang terjadi jaminan tercapainya tujuan perilaku.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat dikemukakan kembali bahwa nilai itu adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka yang dimaksud dengan hakikat dan makna nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang. Nilai bersifat abstrak, berada dibalik fakta, memunculkan tindakan, terdapat dalam moral seseorang, muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang kearah yang lebih kompleks (Hidayat dan Mulyadi, 2006: 7)

Adapun berkaitan dengan makna “bebas nilai”, bila dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, Keraf dan Dua (2001: 149) menyatakan bahwa artinya adalah tuntutan yang ditujukan kepada ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Keraf dan Dua melanjutkan (2001: 150) bahwa maksud dasar dari tuntutan ini adalah agar ilmu pengetahuan tidak tunduk kepada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan, sehingga malah mengalami distorsi. Hal tersebut diawali dari asumsi yang menyatakan bahwa dalam prosesnya, ilmu pengetahuan berjalan dengan tidak murni karena tunduk pada pertimbangan politik, religius, maupun moral.

Bila kita kaji perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang berkembang di Barat, dapat kita pahami mengama para ilmuwan kemudian ingin memisahkan ilmu pengetahuan dari cengkraman politik, religius, bahkan moral. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perjalanan perkembangan ilmu pengetahuan di Barat tidak semulus dengan apa yang berkembang di Dunia Islam. Hal ini disebabkan adanya beberapa penemuan para ilmuwan yang bertentangan dan nash Al Kitab, sehingga mengakibatkan beberapa ilmuwan harus memilih satu pilihan yang bertolak belakang. Satu datang dari penelitian yang ia lakukan yang tentu saja ia yakini kebenarannya, sedangkan di sisi lain, datang dari nash dan dalil yang tidak bisa dibantah, namun realitanya bertentangan dengan fakta dan data yang ditemukan di lapangan.

Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam Dunia Islam. Bagaimana kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan berkembang pesat dan tidak mengalami benturan dengan Kitab Suci, selain beberapa pemahaman filsafat yang menurut sebagian ulama telah menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Aqidah Islamiyah. Namun, apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan berupa data dan fakta di lapangan tidak bertentangan dengan apa yang ada dalam nash Al Qur`an, bahkan seringkali kita temukan bahwa penemuan-penemuan tersebut justru semakin mendukung kebenaran Al Qur`an.

Oleh karena itu, Islam tidak ingin membiarkan ilmu pengetahuan, secara khusus, dan aspek kehidupan yang lain secara umum, berjalan bebas nilai. Islam hadir untuk membingkai, mengarahkan, dan menjadi spirit bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perjalanan umat manusia secara umum. Hal ini merupakan sebuah kemestian karena Islam hakikatnya adalah satu nizham (sistem) yang utuh dan menyeluruh. Hasan Al Banna mengatakan bahwa Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang mencakup seluruh aspek kehidupan; Ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat. Akhlak dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan peradilan. Materi dan sumber daya alam atau usaha dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan pemikiran. Sebagaimana ia adalah akidah yang jujur dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.[1]

Maka, saya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan atau kehidupan secara umum tidak bisa dibiarkan bebas nilai. Bahkan nilai itu harus tetap ada dan menjadi semacam bingkai yang akan mengarahkan dan memberi batasan agar perjalanan kehidupan umat manusia dapat terarah dan perkembangan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia secara umum.

Apalagi realitanya, “bebas nilai” adalah sebuah “nilai” yang baru. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa sesuatu yang “bebas nilai” benar-benar bebas dari sesuatu yang mengekangnya atau independen dalam pendiriannya. Sama halnya dengan orang-orang Atheis yang mengatakan tidak bertuhan, namun hakikatnya ia menuhankan akalnya, atau orang-orang Agnostic yang mengatakan “Tuhan tidak membutuhkan Agama” hakikatnya telah menciptakan agama baru, yaitu Agnostic itu sendiri.

Di sisi lain, sesuatu yang “bebas nilai” akan selalu di stir oleh pemegangnya. Dalam konteks ilmu pengetahuan, maka para ilmuwan yang akan memegang kendali untuk membawa arah ilmu pengetahuan. Sedangkan sebagaimana kita ketahui, tidak ada satu pun seorang ilmuwan yang benar-benar “original” dan “independen”. Pengalaman, referensi, dan jiwa zaman tempat ia hidup dan dibesarkan mesti memengaruhi cara ia berpikir, bertindak, dan mengarahkan ilmu pengetahuan. Karenanya, Islam menghendaki agar para ilmuwan bisa mengarahkan ilmu tersebut dengan semangat rabbani (ilahiyah). Wallahu a’lam.

 

Daftar Pustaka

Hidayat, Rahmat Dudung dan Mulyadi. 2006. Hakikat dan Makna Nilai. Bandung: Program Pendidikan Umum Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Lorens, Bagus. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rohmat, Mulyana. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Saebani, Beni Ahmad. 2009. Filsafat Ilmu: Kontemplasi Filosofis Tentang Seluk Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan. Bandung: Pustaka Setia.

Wikipedia. 2014. Al Ushuul Al ‘Isyruun. Terdapat di http://ar.wikipedia.org/wiki/ الأصول_العشرون. Diakses 30 April 3014.

 

[1]http://ar.wikipedia.org/wiki/الأصول_العشرون

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s