Menyapu Debu-Debu ‘Ashabiyah

﴿وَ اعْتَصِمُوْا بِـحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا…﴾ آل عمران : 103

 Dan berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah semuanya dan jangan kalian berpecah belah dan ingatlah kalian akan nikmat Allah yaitu ketika dulu kalian saling bermusuhan lalu Allah lembutkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmatNya kalian menjadi saudara.[QS. Aali ‘Imraan, 3: 103].

 

Takfir
Takfir

‘Ashabiyah adalah sifat yang diambil dari kata ‘ashabah. Dalam bahasa Arab, ‘ashabah berarti kerabatdari pihak bapak. Menurut Ibn Manzhur, ‘ashabiyyah adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya zalim maupun tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. Menurutnya, penggunaan kata ‘ashabiyyah dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim [Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab,I/606 ].

عَنْ بِنْتِ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Dari Putri Watsilah bin Al-Asqa’, ia mendengar Ayahnya berkata: Aku berkata, “Yaa Rasulullah, apa itu ashabiyah?”. Rasul menjawab: “Engkau menolong kaummu dalam kezaliman.”[HR. Abu Dawud No.4454].

Maksudnya, siapa yang mengajak orang untuk berkumpul atas dasar ‘ashabiyah, yaitu bahu-membahu untuk menolong orang yang zalim. Sementara Al Qari menyatakan, “Bahu-membahu untuk menolong orang karena hawa nafsu.” [Muhammad Syamsu al-Haq, ‘Aun al-Ma’bud, XIV/17].

Dalam hadis lain, terdapat larangan yang tegas bagi orang-orang yang berperang di bawah bendera ‘Ummiyyah atau Immiyyah,

عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajaliy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.”[HR. MuslimNo.3440].

Menurut As Sindi, Ummiyyah atau Immiyyah adalah bentuk kinâyah, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (majhûl), yang tidak diketahui apakah haq atau batil. Karena itu, orang yang berperang karena faktor ta’âshub itu, menurutnya, adalah orang yang berperang bukan demi memenangkan agama, atau menjunjung tinggi kalimah Allah [As-Sindi, Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, VII/318].

Dengan demikian, jelas bahwa makna ‘ashabiyyah di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan untuk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela Islam, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu. Islam tidak mengakui setiap loyalitas kepada selain akidahnya, tidak mengakui persyerikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengakui ciri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran [Ahmad Ar Rifa’i, 2011]. [1]

Rasulullah juga menegaskan bahwa para pembawa bendera ashabiyah bukanlah termasuk umat beliau,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyahdan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.”[HR. Abu Dawud No.4456].

Oleh karena itu, jelas bahwa konsep loyalitas dan permusuhan tidak dibangun di atas dasar keturunan, golongan, kelompok, atau identitas lainnya yang bersifat duniawi, karena dalam Islam, ikatan yang hakiki hanyalah ikatan akidah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya hanya orang-orang beriman (yang) bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.  [QS. Al-Hujuraat, 49: 10]

 

Karenanya, persaudaraan (al-ukhuwah) dalam Islam hanya terjadi di antara kaum muslimin saja, tidak bagi selainnya. Tidak ada persaudaraan, cinta, dan kasih sayang kepada orang-orang kafir walaupun mereka adalah orang yang dekat dan memiliki hubungan kerabat dengan kita,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim[QS. At Taubah, 9: 23].

Allah juga menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang yang benar-benar beriman dapat berkasih-sayang dengan orang-orang kafir:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung[QS. Al Mujaadalah, 58: 22].

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Syaudzab bahwa ayat ini [QS. Al Mujaadalah, 58: 22] turun berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu yang membunuh bapaknya (dari golongan kafir Quraisy) dalam peperangan Badr. Ayat ini [QS. Al Mujaadalah, 58: 22] menegaskan bahwa seorang Mukmin akan mencintai Allah melebihi cintanya kepada sanak keluarganya sendiri.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Hakim di dalam Kitab Al-Mustadrak bahwa di dalam perang Badr bapak Abu ‘Ubaidah menyerang dan ingin membunuh anaknya (Abu ‘Ubaidah). Abu ‘Ubaidah berusaha menghindar diri dengan jalan menangkis dan mengelakkan segala senjata yang ditujukan kepada dirinya. Tapi Abu ‘Ubaidah akhirnya terpaksa membunuh bapaknya. Ayat ini [QS. Al Mujaadalah, 58: 22] turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa cinta seorang mu’min kepada Allah akan melebihi cintanya kepada orang tuanya.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakr Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu) mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr memukulnya dengan pukulan yang keras hingga terjatuh. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Beliau bertanya: “Apakah benar engkau berbuat demikian , wahai Abu Bakr ?” Iapun menjawab: “Demi Allah, sekiranya ada pedang di dekatku, pasti aku memukulnya dengan pedang.” Ayat ini [QS. Al Mujaadalah, 58: 22] turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Namun demikian, kita tetap diperintahkan untuk berlaku adil, bahkan kepada orang-orang kafir,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[QS. Al Maaidah, 5: 8]

Bila terhadap orang-orang kafir saja Allah menyuruh kita untuk tetap berbuat adil, maka bagaimana lagi dengan sesama kaum muslimin, yang mereka telah terikat dengan ikatan akidah. Selama mereka tidak terjatuh kepada kekufuran, maka sudah selayaknya kita memperlakukan mereka sebagai saudara. Allah memerintahkan kita untuk melerai dua pasukan kaum muslimin yang akan berperang seraya memerintahkan untuk kembali kepada hukum Allah,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil[QS. Al Hujuraat, 49: 8]

Begitu pun dalam setiap perselisihan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin hari ini. Sudah selayaknya bagi kita untuk mengembalikan semua persoalan itu kepada hukum Allah, karena standar kebenaran dan keadilan dalam Islam hanyalah ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada satu orang pun yang berhak mengklaim kebenaran tanpa memiliki landasan yang jelas. Tidak seorang imam dalam sebuah jama’ah dakwah, tidak sebuah organisasi jihad, tidak selain Allah dan Rasul-Nya. Apalagi bila kita menyandarkan kebenaran dan keadilan kepada syahwat dan hawa nafsu..!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya[QS. An Nisaa`, 4: 59]

Setelah ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya jelas, maka wajib bagi kita untuk berlapang dada menerima itu semua,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [QS. An Nisaa`, 4: 65] 

Allah menafikan keimanan bagi siapa saja yang menolak ketetapan-Nya dan ketetapan Rasul-Nya. Hal ini disebabkan bahwa berhukum adalah bagian dari ibadah yang tidak boleh tidak harus tunduk kepada-Nya semata. Bila seseorang telah memalingkan diri kepada selain-Nya dalam urusan berhukum, maka ia berarti terjatuh ke dalam kemusyrikan. Wallahu a’lam.

Sikap yang adil, mendahulukan hukum Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhkan diri dari ashabiyah dan taklid buta merupakan kewajiban yang harus ditanamkan dalam diri setiap muslim. Sikap ridha terhadap kebenaran dari manapun datangnya adalah ciri dari ke-tawadhu-an seseorang. Sedangkan menolak kebenaran yang datang, apapun alasannya, apalagi sebagai sebuah upaya merendahkan orang lain, adalah bagian dari kesombongan (al kibr), yang Allah telah berjanji tidak akan membukakan jannah bagi mereka yang di dalam hatinya masih terdapat sebesar biji dzarrah kesombongan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر ” . فقال رجل : إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنا . قال : ” إن الله تعالى جميل يحب الجمال . الكبر بطر الحق وغمط الناس ” رواه مسلم

Dari Ibn Mas’ud, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan (al kibr). Berkata seseorang: Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang selalu mengenakan pakaian dan sandal yang bagus-bagus. Rasulullah bersabda : Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan (al kibr) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. [HR. Muslim Kitab Adab no. 5108]

Oleh karenanya, tidaklah patut bagi seorang muslim untuk mencela atau saling menjatuhkan muslim yang lainnya, apalagi menuduh dan memvonis seseorang sebagai ahli bid’ah, fasiq, dan kafir hanya disebabkan perbedaan pandangan yang sifatnya ijtihadiy. Pun bila ijtihad seseorang atau kelompok yang berbeda dengan kita itu adalah ijtihad yang keliru, maka tidak selayaknya langsung kita vonis begitu saja tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang telah disusun oleh para ulama. Sungguh, hal yang demikian bukanlah karakter seorang da’i, karena tugas utama da’i adalah memberikan kabar gembira dan peringatan, bukan memvonis personal demi personal.

Bahkan, Rasulullah mengingatkan para hakim agar tidak mudah dalam memberikan vonis kepada seorang muslim,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْرَءُوا الْحُدُودَ عَنْ الْمُسْلِمِينَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الْإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعُقُوبَةِ

Dari ‘A`isyah beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum” [HR. Tirmidzi No. 1344].

Bila seorang hakim yang tugasnya memvonis saja harus begitu ekstra hati-hati dalam menjatuhkan hukuman, maka apalagi bagi mereka yang tidak memiliki wewenang dalam melaksanakan hal tersebut. Lebih besar lagi adalah vonis yang dijatuhkan kepada personal dalam urusan iman-kafir. Tidak selayaknya bagi para da’i menjatuhkan vonis-vonis tersebut kepada personal yang masih tampak tanda-tanda keislaman dalam dirinya, kecuali telah terpenuhi syarat-syaratnya (untuk dikafirkan) dan hilang semua penghalangnya.

Syaikh Abu Basheer Ath Thurthusi, ulama mujahid ahluts tsugur menjelaskan :

أن الخطأ في عدم تكفير الكافر يعتبر خطأ في حق الله دون العبد؛ من جهة كونه لم يُصب حكم الله فيه .. بينما الخطأ في تكفير المسلم خطآن: خطأ بحق الله تعالى، وخطأ بحق العبد، والأول خطؤه ـ إن كان عن اجتهاد وتأويل ـ قد يغفره الله له، بينما الآخر ولو غُفر له خطؤه المتعلق بحق الله تعالى، يبقى حق العبد عليه إلى أن يقتص الله من الظالم للمظلوم، هذا إن وجد الظالم مخرجاً مما قال في أخيه المسلم بغير حق.

“Bahwasanya melakukan kesalahan tidak mengkafirkan orang yang seharusnya sudah jatuh pada kekafiran (karena melakukan perbuatan kekufuran) dikategorikan dalam kesalahan dalam masalah yang menjadi hak Allah, bukan hak nya hamba (manusia), ditinjau dari sudut pandang bahwa orang yang melakukan kesalahan itu salah dalam menetapkan aturan hukum yang Allah tetapkan.” [2]

 

Wallaahu A’lam.

 

[1] Terdapat di http://tanbihun.com/kajian/menghapus-ashobiyyah-menebar-ukhuwah/#.Uxpzq1veIec

[2] Lihat http://abuizzudinalhazimi.wordpress.com/2013/01/17/berhati-hati-dalam-menjatuhkan-vonis-terhadap-seorang-muslim/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s