Amalan Hati

Hakikatnya, tidak ada yang bisa menilai kebaikan seseorang selain Allahu Ta’ala. Bahkan Malaikat sekalipun nanti di akhirat tetap tidak memiliki hak untuk menentukan pahala seseorang yang merupakan nilai dari kebaikan manusia selama di dunia.

Amalan Hati
Amalan Hati

Maka apalagi kita manusia. Tidak boleh seseorang terjebak pada sikap ujub (tinggi hati/ besar diri) karena ia berhasil mengamalkan sebuah amalan dan orang lain tidak melakukannya. Karena sangat mungkin si pengamal tidak mendapatkan pahala disebabkan ke-ujub-annya melainkan orang yang menurutnya tidak beramal justru mendapatkan pahala disebabkan bersihnya niatan untuk melakukannya.

Misal, seseorang telah melaksanakan tahajjud 11 rakaat dalam sebuah malam, lalu di pagi hari ia mengatakan di dalam hatinya, “lihatlah saya lebih baik darinya karena saya tadi malam shalat tahajjud sedangkan ia tidak bangun sedikitpun kecuali menjelang Subuh.” Padahal orang yang dimaksud, tidaklah tertidur kecuali setelah berniat dengan ikhlas akan melaksanakan tahajjud dan ia bangun dalam keadaan penuh sesal karena tidak mendapatkan kesempatan untuk mengamalkannya. Tentu yang berniat ikhlas jauh lebih baik daripada yang beramal tanpa keikhlasan. Karena bagi setiap mu’min, amalan hatinya jauh lebih penting daripada amalan fisiknya. [1]

Apalagi mempertanyakan amalan shalih seseorang, misal saat ia datang kepada kita dengan membawa nasihat dan kebenaran. Karena kita tidak menyukai nasihat tersebut atau karena kebenaran yang ia bawa bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini kita anut, maka kemudian kita memproteksi diri kita dengan mengatakan, “Sebanyak apa amalanmu sehingga berani menasihati saya?” Atau dengan mengatakan, “Apa yang sudah kau berikan untuk umat hingga berani-beraninya mengkritisi saya?”

Demi Allah secara tersurat, kalimat-kalimat tersebut begitu kental dengan nuansa merendahkan orang lain. Bila hal itu diarahkan untuk menolak kebenaran, maka terkumpullah dua ciri kesombongan (al kibr). Maka bagaimana mungkin diri akan merasakan nikmat Jannah, saat masih diliputi kabut kesombongan. Padahal Rasul mengingatkan kita bahwa tidak akan masuk Jannah, orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi kesombongan. [2]

Karenanya, berhati-hatilah dengan hati dan lisan kita. Lebih jauh Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali dalam Kitab “Afatul Lisaan” [3] mengatakan,

Janganlah engkau bertanya kepada saudaramu (misal pada hari senin-kamis atau waktu-waktu yang disunnahkan berpuasa): “Apakah Engkau sedang berpuasa?”

Mengapa? Karena bila sang empunya ingin menutupi amalannya dan berkata, “tidak.” Maka itu berarti Engkau membuatnya terjerumus ke dalam kedustaan. Namun bila ia jujur dan berkata “iya”, maka Engkau telah menurunkan derajat amalannya dari amalan sirr (rahasia) menuju amalan jahr (terang-terangan). Sedangkan apabila ia diam, seolah-olah ia meremehkanmu (tidak menganggapmu), sehingga kamu tersakiti karenanya.

Dengan demikian, pertanyaan tersebut dapat menyebabkan timbulnya, riya, kebohongan, sikap meremehkan orang, atau membuatnya merasa kesulitan untuk memberikan jawaban kepadamu.

-muhasabah-

SOURCE : MY TIMELINE dengan tambahan catatan kaki dan sedikit perubahan.

Catatan Kaki :

[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ

“Sesungguhnya amalan-amalan berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu shaf sholat akan tetapi perbedaan nilai sholat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi.” (Minhaajus sunnah 6/136-137)

Beliau juga berkata,

أَنَّ الْأَعْمَالَ الظَّاهِرَةَ يَعْظُمُ قَدْرُهَا وَيَصْغُرُ قَدْرُهَا بمَا في الْقُلُوْبِ، وَمَا فِي الْقُلُوْبِ يَتَفَاضَلُ لاَ يَعْرِفُ مَقَادِيْرَ مَا فِي الْقُلُوْبِ مِنَ الْإِيْمَانِ إِلاَّ اللهُ

“Sesungguhnya amalan-amalan lahir nilainya menjadi besar atau menjadi kecil sesuai dengan apa yang ada di hati, dan apa yang ada di hati bertingkat-tingkat. Tidak ada yang tahu tingkatan-tingkatan keimanan dalam hati-hati manusia kecuali Allah.” (Minhaajus Sunnah 6/137)

Sedangkan Ibnul Qayyim berkata:  “Amalan hati merupakan hal yang pokok dan utama, sedangkan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat ibarat ruh, dan gerakan anggota badan adalah jasadnya. Jika ruh itu terlepas maka matilah jasad. Oleh karena itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan hati lebih penting daripada memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerakan anggota badan. (Badai ‘ul Fawaid 3/224).

[2] Dalam sebuah riwayat Muslim :

عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر ” . فقال رجل : إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنا . قال : ” إن الله تعالى جميل يحب الجمال . الكبر بطر الحق وغمط الناس رواه مسلم

Dari Ibn Mas’ud, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan (al kibr). Berkata seseorang: Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang selalu mengenakan pakaian dan sandal yang bagus-bagus. Rasulullah bersabda : Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan (al kibr) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. [HR. Muslim Kitab Adab no. 5108]

[3] Dalam terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Amelia Surabaya (2007), dengan judul “Afatul Lisan: Terapi dan Solusinya” kutipan perkataan tersebut terdapat pada halaman 22-23.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s