Tentang Dakwah via Demokrasi

Democrazy
Democrazy

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat yang disampaikan oleh Al Ustadz Farid Okbah, bahwa memanfaatkan demokrasi sebagai wasilah dakwah merupakan ikhtilaaf tanawwu’ fil ijtihaad [perbedaan pendapat variatif dalam berijtihad].[1] Namun adapun seseorang akan beramal memilih yang mana, tentu berbeda-beda tingkatan kewajibannya:

(1) Bila ia sanggup mengkaji dalil, maka wajib bagi dirinya melakukan tarjih (mengkaji mana yang lebih kuat dan dekat kepada kebenaran) atas pendapat-pendapat yang ada. Ini adalah maqam-nya para ulama dan mujtahid.

(2) Bila ia belum mampu, maka wajib bagi dirinya berijtihad untuk memilih jalan yang paling selamat di dunia dan terutama di akhirat, berdasarkan kaidah “yusannul khuruuj anikhtilaafil ulamaa” [disunnahkan keluar dari perbedaan pendapat para ulama]. Ini mungkin maqam-nya para thalabul ilmi. [2]

(3) Bila ia masih belum mampu karena sangat awam terhadap permasalahan tersebut, maka ijtihadnya adalah “memilih imam mana yang paling layak untuk ditaklidi.” [3] Saya harap kita sekalian, khususnya para aktivis dakwah tidak berada pada maqam ini. Maka ada kewajiban untuk menuntut ilmu sehingga sedikit demi sedikit berhasil meninggalkan taklid menuju ittiba‘.

Namun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa masih saja ada sebagian orang yang berdiri pada dua kutub ekstrem. Golongan pertama seolah-olah menyatakan wajibnya mengikuti aktivitas dakwah parlemen dan seminimal-minimalnya adalah memberikan dukungan suara. Sedangkan golongan kedua menyatakan bahwa para aktivis yang masuk ke dalam parlemen telah terjatuh ke dalam kekufuran dan kemusyrikan. [4] Berbagai argumen pun diajukan demi mempertahankan masing-masing pendapatnya. Bila semangat diskusi dan pengangkatan wacana ini didasari atas semangat mencari kebenaran dan kembali kepada Al Quran dan As Sunnah, kita mesti berbangga dengan hal tersebut, karena berarti nuansa ilmiah di tengah-tengah kaum muslimin kembali hidup.

Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang. Saya pun pernah mendapatkan “serangan” dari kedua belah pihak.

Dari sisi kiri saya dituduh murji’ah karena tidak ingin terjebak pada vonis memvonis aktivis dakwah parlemen, sedangkan dari sisi kanan saya dituduh khawarij, antek zionis, termakan konspirasi, dan mendukung proyek kristenisasi disebabkan sikap saya yang lebih cenderung untuk meninggalkan praktik dakwah parlemen.

Kadang saya sering tersenyum sendiri karena tuduhan-tuduhan tersebut terkesan lucu. Khusus bagi aktivis dakwah parlemen yang masih berdiri di sebuah kutub ekstrem, tidak perlu lah kalian memvonis dan menuduh macam-macam kepada mereka yang anti demokrasi atau golput. Apalagi memberikan ancaman tentang bahaya Jokowi yang akan maju menjadi capres. Toh bukankah nama Jokowi juga pernah diangkat oleh “orang dalam” untuk mendampingi Aher. Lihat beritanya di :

http://pksupdate.blogspot.com/2013/12/jokowi-aher-duet-maut-pilpres-2014.html?m=1

http://m.inilah.com/read/detail/2060971/aher-duet-dengan-jokowi-bisa-terjadi

http://m.tribunnews.com/pemilu-2014/2013/12/25/pks-wacanakan-duet-jokowi-aher

http://www.pkspiyungan.org/2013/12/pks-jokowi-aher-pasangan-serasi.html?m=1

Jadi sebetulnya, siapa yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang?

Begitu pun dengan kita sekalian yang masih berdiri pada kutub ekstrem yang lain. Tulisan ini hanyalah sekedar introspeksi: jangan mudah memvonis dan menuduh sesuatu kepada sesama muslim, karena “salah dalam berhati-hati lebih baik daripada salah dalam memvonis.” Lebih dari itu, kita adalah da’i, bukan qadhi (hakim).

Wallahu a’lam.

Cat. Kaki :

[1] Saya mendengar langsung dari beliau –hafidzhahullah– dalam Daurah Duat di Cirebon. Arsip ceramah : file MP3 masih tersimpan bila ada yang menginginkan ceramah beliau lengkap, in Syaa Allah.

[2] Di antara contoh aplikasi kaidah ini adalah : kita menemukan perbedaan pendapat para imam tentang hukum musik, sebagian mengatakan haram, sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan boleh bersyarat. Tentu pilihan yang paling selamat adalah menjauhinya.

[3] Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Jawzi dalam “Talbis Iblis”.

[4] Di antara para ulama yang menyatakan bahwa vonis takfir terhadap orang-orang yang berada di dalam demokrasi -tanpa perincian- merupakan perbuatan ghulluw dan ekstrem adalah Syaikh Abu Qatadah Filisthiniy dalam kitab Ju’natul Muthiibiin.

Beliau berkata Hal. 57-58:

فالديمقراطيون طبقات:
هناك مسلم ديمقراطي (استخدمت لفظ مسلم ديمقراطي، كاستخدامهم مسلم صوفي، وإن كان الديمقراطي الكلي لا يكون مسلما) يقول: أن الديمقراطية عندي هي وسيلة في اختيار الحاكم، ولا أقول بأن للشعب أن يقبل من الأحكام بحسب رأي الأكثرية دون مراعاةٍ للحكم الشرعي المنزل، فهذا أبداً لا يكون حكمه من قال بالديمقراطية في معتقدها، ومن سوى بينهما فقد افترى على دين الله تعالى وسلك غير سبيل المؤمنين،
نعم هو مبتدعٌ مخطىء، كحال الصوفية والمتكلمين في بدعهم وأخطائهم، لكن لا يمكن أن يكون كافراً بهذا القول.
فحين يُكَفِّر صاحب الكتاب السيء حركة حماس لأنها تقول بالديمقراطية هكذا مطلقاً، أو حين يُكَفِّر الحركة الإسلامية في كردستان لهذا القول يكون قد افترى في دين الله تعالى كما افترى سابقاً في التسوية بين الاستغاثة والتوسل بجامع دخولهما تحت اسم واحد وهو “القبوريين”! وهم عنده على مرتبة واحدة كلهم قد أخلوا بأصل الدين .
ثم إن هؤلاء حتى لو قالوا مثل هذه الأقوال الحادثة كالديمقراطية والاشتراكية (كما وقع من الشيخ الدكتور/ يوسف السباعي رحمه الله تعالى) فإن الواجب إعمال موانع التكفير في حقهم لخفاء الإسلام ودروسه، ولعمومات هذه الألفاظ واحتوائها على معاني باطلة متعددة وبعض المعاني الإسلامية الصحيحة كما وقع من الشيخ الدكتور يوسف السباعي في كتابه الذي سماه “اشتراكية الاسلام”.
فالقول بردتهم غلوٌ وإفراط وانحراف عن سبيل أهل السُّنة والجماعة.

Adapun orang yang terlibat dalam demokrasi itu bertingkat-tingkat:

Di sana ada muslim demokrasi (aku menggunakan kata “muslim demokrasi” sebagaimana mereka menggunakan kata “muslim sufi”, walaupun pengusung demokrasi sejati tidak mungkin seorang yang masih muslim) yang berkata: “bahwa bagiku demokrasi merupakan wasilah untuk memilih pemimpin, dan aku tidak berpendapat bahwa masyarakat harus menerima hukum-hukum yang didasarkan pada suara mayoritas -dengan tanpa memperhatikan pendapat hukum syar’i yang diturunkan Allah.” Maka orang-orang seperti ini tidaklah sama -selamanya- hukumnya dengan orang yang meyakini dan mengusung ideologi demokrasi . Maka siapa saja yang menyamakan keduanya, ia sungguh telah memfitnah dinullah dan tidak berjalan di atas jalannya orang-orang beriman.

Ya, mereka adalah ahli bid’ah yang melakukan kesalahan, sebagaimana orang-orang sufi dan mutakallimin dengan bid’ah dan kesalahannya. Tapi, tidak mungkin mereka menjadi kafir karena pendapatnya ini.

Maka pada saat penulis kitab “As Sii’u” mengkafirkan Hamas disebabkan pendapatnya tentang demokrasi secara mutlak, atau pada saat mengkafirkan Harakah Islam di Kurdistan disebabkan pendapat ini, maka penulis sungguh telah memfintah diinullahi ta’ala sebagaimana fitnahnya terdahulu saat menyamakan antara istighatsah dan tawasul dalam seluruh aspeknya dan menyebut keduanya dengan nama yang satu “quburiyun“. Baginya, mereka berada pada tingkatan yang sama dan telah hilang pokok-pokok keislamannya.

Kemudian bahkan apabila mereka berpendapat dengan pendapat-pendapat yang baru, seperti demokrasi atau sosialisme (sebagaimana terjadi pada Syaikh Dr. Yusuf As-Siba’i rahimahullah), maka wajib melihat penghalang-penghalang takfir karena merupakan hak mereka disebabkan samarnya Islam dan pengajarannya. Karena secara umum, kata-kata tersebut dan kandungannya berada di atas makna-makna yang bathil dan sebagiannya berada di atas makna-makna Islam yang benar, sebagaimana terjadi pada Syaikh Dr. Yusuf As Siba’i dalam kitabnya yang berjudul Sosialisme Islam.

Maka, pendapat yang menyatakan murtadnya mereka adalah ghulluw (berlebihan), ifrath (ekstrem), dan menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

SOURCE MY TIMELINE dengan sedikit editan

One thought on “Tentang Dakwah via Demokrasi”

  1. Reblogged this on Kanvas Kecil and commented:
    “Namun apa jadinya bila semua itu menjadi ajang saling vonis yang satu terhadap yang lainnya. Kelompok yang mengharamkan aktivitas dakwah parlemen memberikan vonis kafir-musyrik bahkan seringkali ditujukan secara ta’yin (personal), sedangkan para aktivis dakwah parlemen sering menuduh mereka yang anti demokrasi sebagai orang-orang yang menyerang dari dalam, menggunting dalam lipatan, dan menusuk dari belakang.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s