PKS, Dakwah, dan Proyek BIN

Saya tidak memungkiri adanya fatwa dari para ulama yang membolehkan dakwah parlemen atau masuk ke dalam pemerintahan. Namun, kebanyakan aktivis Islam hari ini hanya mengambil fatwa pembolehan tersebut tanpa memperhatikan adab dan cara berdakwah di sana. (1) Termasuk beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh para ulama tersebut berkenaan dengan orang yang akan menjalani aktivitas di sana. (2)

Realitanya kita lihat bahwa partai yang katanya paling Islami sekalipun harus berkampanye dengan cara-cara yang tidak Islami. Sangat tidak elegan bila Partai Islam harus berkampanye dengan menampilkan aktris yang tidak menutup aurat. (3) Apalagi, lebih dari itu, cara-cara yang mereka tempuh jauh dari nilai-nilai Islam. Jelas semua itu justru membuat umat Islam lari darinya.

Belum lagi ditambah beberapa kasus yang melibatkan para elite mereka, baik yang berkaitan dengan internal partai ataupun yang berkaitan dengan publik. Semua ini hanya menambah daftar hitam dan rapot merah Partai Islam.

Khusus untuk PKS, partai ini merupakan partai yang ditakuti penguasa karena merupakan sebuah gerakan trans nasional yang bercita-cita menegakkan syariat Islam. BIN mencatat dan mengiringi aktivitas partai ini dan berusaha menghancurkannya dari dua sisi, luar dan dalam. (4)

godfathr

Penghancuran dari dalam -wallahu a’lam- adalah dengan mendekatkan para elite mereka kepada kekuasaan dan duniawi, sehingga hal tersebut akan menjadi ganjalan bagi para kader yang masih komitmen dengan nilai-nilai juang. Termasuk di dalamnya pengungkitan kembali keterikatan sejarah antara Mu’assis gerakan tarbiyah, HA, dengan jabatan sebelumnya di NII. Link ini akan membuat sebagian kader merasa alergi dengan gerakan yang diusung PKS. Apa tujuannya? Memecah belah PKS menjadi yang moderat dan yang garis keras.

Mereka yang moderat akan difasilitasi dan digiring untuk terus mendekat kepada penguasa, berusaha mengaburkan cita-cita Islamnya. Sedangkan yang garis keras dimanfaatkan untuk menggembosi partai yang berujung pada skenario golput, sehingga PKS tidak lagi memiliki konstituen.

Adapun kader-kader garis keras yang berpindah haluan akan dimanfaatkan oleh Densus 88 sebagai pion untuk membuka link terorisme dengan PKS, sehingga PKS secara resmi bisa dibubarkan dan menjadi organisasi yang erat hubungannya dengan tindak terorisme, sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa organisasi Islam di Indonesia.

Sedangkan penghancuran dari luar, BIN memanfaatkan aktivis Salafy dan HTI untuk menggembosi suara PKS dari mayoritas kaum muslimin, dan khusus untuk HTI akan difasilitasi dalam mewacanakan ide Khilafah demi melawan hegemoni gerakan PKS, karena HTI memiliki massa yang besar dan mudah diturunkan. Ingat, BIN sadar bahwa ide Khilafah a la HTI tidak akan pernah terwujud di alam Indonesia, karenanya mereka lebih memilih memanfaatkan HTI, karena tidak akan berakibat buruk pada pemerintah. Setidaknya untuk saat ini.

Maka hari ini dakwah dihadapkan pada jalan yang sangat dilematis. Bila kita telisik lebih jauh tentang hukum demokrasi dan turunannya, maka jelaslah bahwa terdapat begitu banyak kebathilan dan aroma kekufuran yang begitu lekat. Namun di sisi lain, bila hal tersebut dibiarkan hanya akan membuat para Tiran semakin menancapkan kukunya.

Saat ada kelompok yang berusaha memperbaiki dari dalam, maka berbagai usaha dilakukan untuk menjegal semua itu. Apapun akan dilakukan. Hasilnya, terlihat hari ini sang macan tidak lagi memperlihatkan taringnya.

Maka aktivis Islam dihadapkan pada dua pilihan yang sebetulnya pahit. Mengikuti pemilu, dan memilih para elite yang sudah tidak lagi memiliki ghirah dakwah, atau tidak memilih yang menurut sebagian orang dapat berpotensi menyebabkan keburukan semakin merajalela.

Aktivis dakwah harus jeli melihat celah dan pintar memanfaatkan wasilah. Namun adalah bagaimana semua itu selalu berada di atas jalan yang haqq dan tidak mengandung unsur madharat, atau setidaknya memiliki madharat yang paling kecil dibandingkan sarana-sarana yang lain. Pada titik ini, kekuatan bashirah menjadi modal yang sangat penting.

Lalu, bila kita memperhatikan dengan seksama, dalam kondisi seperti ini, apakah wacana revolusi harus segera diangkat kembali?

Wallahu a’lam.

-Abu Ezra Al Fadhli-

Cat kaki:

(1) Hal yang sama diungkapkan oleh Ust. Firanda Andirja saat menulis beberapa curhatan dan harapannya terhadap PKS. Bisa disimak nasihat dan kritik beliau di:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/646-pks-riwayatmu-kini

(2) Karena para ulama yang membolehkan pun tidak secara mutlak membolehkannya, ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku di dalamnya, di antaranya serius memperjuangkan al haqq, tidak mencari keuntungan duniawi, dan tidak berkoalisi dengan partai-partai sekuler. Simak fatwa-fatwa tersebut di sini:
http://www.ustadzfarid.com/2014/02/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang.html?m=1

(3) Dalam sebuah fiksi dialog, Ust. Adian Husaini menyinggung masalah ini dengan bahasa yang menarik. Bisa disimak di:
http://mustanir.net/index.php/daftar-artikel/132-agar-politik-islam-menang

(4) Terdapat dalam dokumen BIN yang -wallahu a’lam- bocor beberapa tahun yang lalu. Bila ada yang ingin memilikinya, saya memiliki hasil scan dokumen tersebut dalam bentuk pdf. Namun terus terang saya belum berani menyatakan keotentikan data tersebut. Hanya fakta di lapangan menunjukkan gejala yang sesuai dengan dokumen tersebut. Filenya bisa diunduh di sini:
http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/org-trans/Dok-BIN.pdf

Source : MY TIMELINE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s