Kerudung, Jilbab, dan Hijab

Kaum muslimin di Indonesia banyak yang tidak memahami dengan baik istilah khimaar (kerudung), jilbaab (baju kurung), dan hijaab (tabir/ pembatas/ penghalang). Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri. Namun, di Indonesia istilah-istilah tersebut saling tumpang tindih makna yang akhirnya salah dalam pengamalan.

jilbab

1. Khimaar (kerudung)

Khimaar berasal dari kata khamara-yakhmuru yang berarti menutupi sesuatu. Khimaar berarti penutup. Secara istilah, khimaar diartikan sebagai alat yang digunakan untuk menutupi rambut/ kepala. Dasar yang menetapkan syari’at khimaar bagi wanita muslimah adalah:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, [QS. An Nuur, 24: 31]

Dalam ayat di atas terdapat kewajiban untuk menutupi perhiasan bagi wanita muslimah, kecuali yang biasa tampak saja. Juga kewajiban untuk mengulurkan kerudung hingga menutupi dada.

Para ulama berbeda pendapat tentang kalimat “perhiasannya”, dan “yang biasa tampak padanya”. Sebagian shahabat menafsirkan kata “yang biasa tampak” sebagai “pakaian”, sehingga melazimi purdah, niqab, sarung tangan, dan pakaian lain yang bisa menutupi seluruh tubuh tanpa terkecuali. Ini pula yang masyhur dalam madzhab Syafi’i. [1]

Sedangkan sebagian shahabat yang lain menafsirkan “yang biasa tampak” sebagai “wajah dan telapak tangan” sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mu’miniin ‘A‘isyah radhiyallahu ‘anha tentang percakapan Asmaa dengan Rasulullah, sehingga mencukupkan diri dengan kerudung dan jilbaab saja. Namun mereka juga berpendapat bahwa menutup seluruh tubuh bagi wanita muslimah dianjurkan namun tidak sampai derajat wajib.

Adapun kelompok yang mewajibkan menutup seluruh tubuh berpendapat bahwa hadits yang menyatakan bolehnya wajah dan telapak tangan terlihat adalah ketika thawaf dan shalat saja. [2] Wallahu a’lam.

2. Jilbaab (baju kurung)

Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jilbaab adalah “pakaian yang menutupi seluruh tubuh”. Dasar dari definisi ini adalah firman Allahu Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al Ahzaab, 33: 59]

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan kepada seluruh wanita muslimah untuk mengenakan pakaian luar yang menjulur ke seluruh tubuh mereka. Dalam bahasa sehari-hari, model pakaian seperti ini disebut pula dengan baju kurung atau jubah, yaitu pakaian luar yang menjulur dari atas hingga kaki. Pendapat ini disepakati ulama salaf dan khalaf. [3]

3. Hijaab (tabir/ penghalang/ pembatas)

Hijaab secara bahasa mirip dengan khimaar, artinya penutup atau penghalang. Namun, makna ini bersifat sangat umum. Tembok yang menghalangi pandangan bisa disebut hijaab. Penghalang di dalam masjid antara jama’ah pria dan wanita juga disebut hijaab. Jadi, hijaab secara makna tidak identik dengan kerudung atau jilbaab, walaupun dalam konteks tertentu bisa dimaknai demikian.

Sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al Qur‘an,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. [QS. Al Ahzaab, 33: 53]

Dalam ayat di atas, Allah mewajibkan hijaab (tabir penghalang) bagi para shahabat yang ingin berbicara dengan istri-istri Nabi. Syariat ini memang khusus bagi istri-istri Nabi tidak bagi selainnya. Namun hal tersebut dianjurkan bagi selainnya dalam kondisi tertentu.

Semoga uraian singkat ini dapat memperjelas dan memberikan pemahaman kepada kita sekalian, sehingga wanita muslimah dapat mengamalkannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allahu Ta’ala.

Wallahu a’lam.

Akhukum, Abu Ezra Al Fadhli

Cat. Kaki :

[1] Lihat Kitab Safinatun Naja dan penjelasannya, Kitab Kasyifatus Saja

[2] Demikian pendapat madzhab syafi’i. Namun, Syaikh Nawawi Al Bantani menegaskan, niqab dalam shalat sunnah untuk dibuka bila tidak khawatir adanya fitnah.

[3] Demikian pendapat ulama kontemporer seperti Dr. Yusuf Al Qardhawi atau Dr. Wahbah Zuhailiy. Wallahu a’lam.

2 thoughts on “Kerudung, Jilbab, dan Hijab”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s