Anti Demokrasi

Saya koq heran dengan ikhwah-ikhwah PKS, kenapa orang-orang yang anti demokrasi selalu diidentikan dengan HT, termasuk ketika saya menyatakan diri untuk keluar dari keanggotaan, sebagian ikhwah kemudian “menebak-nebak” dan “memvonis” saya sebagai kader HT. Bila bukan HT, mereka akan memvonisnya dengan sebutan “haters”.

tolak demokrasi

Padahal yaa ikhwah fillah hafidzhakumullah… Tahukah antum bahwa Syaikh Hasan Al Banna dan Syaikh Sayyid Qutb -rahiimahumallahu- merupakan orang-orang yang anti dengan demokrasi. Mereka juga anti dengan hukum dan perundang-undangan thaghut. Begitu pun dengan Syaikh Said Hawa, Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dan se-deret nama-nama lain yang merupakan tokoh Al Ikhwanul Muslimun.

Begitu pun dengan saya pada saat masih aktif mengikuti liqo’ pekanan dan beraktivitas di KAMMI. Wallahi, saat itu saya haqqul yaqin bahwa demokrasi merupakan ideologi bathil lagi kental dengan aroma kekufuran.

Namun sepertinya sebagian besar kader PKS hari ini kebingungan dan tidak bisa membedakan antara hukum demokrasi secara dzatiy (yang jelas-jelas kufur) dengan hukum memanfaatkan demokrasi sebagai wasilah dakwah (yang saya akui masih terjadi ikhtilaaf di kalangan para ulama). Akibatnya, sebagian di antara mereka terjatuh pada sikap membela-bela demokrasi dan meng-counter aktivis dakwah yang anti dengan ideologi kufur ini. Sampai-sampai di antara mereka ada yang sengaja membuat blog khusus yang isinya mempertanyakan status hukum demokrasi secara dzatiy, dalam salah satu judulnya mereka mempertanyakan, “mana dalil qath’iy haramnya demokrasi.”

Lho, demokrasi itu kufur, syirik, bukan sekedar haram. Dalilnya? Seabreg-abreg dalam Al Quran. Tapi dalil-dalil itu bagi orang yang memiliki penyakit di hatinya tidak lagi berarti. Bahkan kemudian di antara mereka berkata dengan lantang, “ada ngga larangan secara tersurat haramnya demokrasi, klo ngga ada berarti ngga ada dalil qath’iy yang mengharamkan demokrasi.” Yaa salaam… Sebetulnya dia paham ngga ya makna dalil qath’iy?

Bahkan, lebih dari itu, mereka juga masih belum bisa memahami persoalan dengan baik, masih tidak bisa dengan jelas mendudukan masalah, sehingga tidak bisa melihat perbedaan antara hukum thaghut dengan mashalih mursalah. Akibatnya, saat diskusi dengan mereka pasti ujung-ujungnya akan keluar kata, “kalau antum anti demokrasi, kenapa antum masih pakai KTP, Surat Nikah, dll.” Ini akibat mereka tidak bisa melihat persoalan dengan jeli. Padahal apa yang mereka bahas bukanlah aturan yang mutlak bertentangan dengan hukum Allah, karena memang peraturan administratif seperti itu tidak diatur dengan rinci, baik dalam Al Quran ataupun As Sunnah. Semuanya kembali ke kaidah mashalih mursalah. Begitu pun dengan kedudukan hukumnya.

Saya berharap kita semua bisa lebih jeli dalam melihat persoalan dan tidak mengatakan sesuatu, kecuali setelah memahami hakikat sebenarnya. Jangan sampai karena sikap ghulluw dan taklid membuat kita membela-bela membabi buta idola kita dan selalu mencari pembenaran untuknya, bukan kebenaran. Akhirnya hanya akan membuat kita semakin jauh dari Ash Shiraatul Mustaqiim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita sekalian dan menetapkan kaki kita di atas al haqq hingga hari akhir. Aamiin.

Source : MY TIMELINE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s