Diin adalah Nasihat

Diin adalah nasihat…
al-quran-2
Lebih-lebih kepada sesama saudara seiman. Rasul telah menegaskan kewajiban ini, karena sesungguhnya saling menasihati merupakan bentuk pertolongan dan cinta.

Pertolongan, agar saudaranya tidak terjatuh ke dalam kezhaliman. Cinta, agar saudaranya bisa dipertemukan dengannya di surga.

Bahkan Allah menegaskan pentingnya untaian nasihat dalam kehidupan seorang mu’min. Nasihat dalam kebenaran, dan bersabar di dalamnya merupakan syarat setiap manusia terhindar dari kerugian, baik itu di dunia, maupun di akhirat.

Kiranya, surat Al Ashr cukup jelas menerangkan dan memberikan gambaran kepada kita, bahwasanya iman dan amal shalih saja belum cukup menjadi bekal dalam menyusuri samudera kehidupan ini. Karena Islam bukanlah agama yang egois. Ia selalu mengajak manusia untuk bersama-sama berusaha senantiasa berjalan di dalam lingkaran kebaikan. Karenanya, bukti cinta dan kasih sayang terhadap sesama muslim akan tampak pada sejauh mana ia bisa mengingatkan dan memberi nasihat terhadap saudaranya.

Namun ironis dan sangat disayangkan…

Saat nasihat kini berarti cacian dan hinaan. Saat peringatan dianggap vonis dan kebencian.

Lalu di manakah nurani yang seharusnya selalu membuka akal dan pikiran kita?

Apakah cara pandang kita begitu sempit, sehingga tidak sanggup menafsirkan kata demi kata yang keluar dari lisan saudara kita?

Atau untaian cinta ini terasa begitu pahit sehingga kita lebih memilih bertahan dalam penyakit daripada harus menelan pilnya walaupun sedikit?

Ataukah tidak ada madu dan kurma yang diberikan sehingga penawar terasa hambar dan akhirnya menjadi sampah yang berserakan?

Saat diri berada di antara dua tepian hari. Maka akankah mata terus menatap ke depan tanpa tersangkut arang-arang kehinaan?

Hina, karena hati telah menutupkan matanya, sebelum jelas warna uraian. Padahal gradasinya begitu indah, sayang jiwa menolak karena warna itu bukanlah warna pelangi kita.

Hina, karena lisan belum pandai memilih kata, terlalu lama terjerembab dalam lumpur yang dalam, hingga mutiara yang indah pun tidak lagi dilirik manusia, terbungkus bau yang busuk. Cahayanya redup bersama kata yang membungkusnya.

Adakah jiwa selalu berada di tengah? Dalam kesempurnaan ilmu dan pemahaman.

Adakah cinta berbalut mesra? Sehingga pintu hati sanggup terbuka walau datang  orang yang paling tidak kita cinta. Karena apabila yang dibawa adalah mutiara, ia akan tetap sangat berharga.

Wallahu a’lam

Edited From : https://www.facebook.com/alfadhl87/posts/424295907698922?ref=notif&notif_t=like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s