Melawan Taqdir

Bagai kisah klasik Romeo dan Juliet, saat seorang Ikhwan Sa**fy dan Akhwat P*S terhujam panah asmara. Padahal menurut Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Ibnul Qayyim, tidak ada obat paling mujarab bagi dua orang yang kasmaran, kecuali menikahkannya.

Dilematis memang, hingga pihak yang merasa “memiliki” sang Akhwat pun harus “menyerang” sang Ikhwan sambil mengatakan : “Kau cela manhajnya, kau rebut Akhwatnya..!”

 
broken_heart1

Tak kalah sengit perlawanan Sang Romeo. Karena baginya, kisah ini bukanlah sekedar tentang bagaimana menganyam tautan romantisme dalam ruang halal. Lebih dari itu, hal ini baginya merupakan sebuah misi suci: “Penyelamatan seorang anak manusia dari pencemaran manhaj dan penyimpangannya.”

Maka dari itu, tak layak menurutnya hal ini disebut sebagai sebagai aksi perebutan. Baginya yang tepat untuk menggambarkan kisah ini adalah -sekali lagi- sebuah penyelamatan.

Apa yang lebih mengkhawatirkan adalah nasib sang Juliet. Di antara dentuman yang bergejolak dalam dada dan untaian bijak sang Murabbiyah, ke manakah kakinya harus menetapkan langkah.

Ketika toleransi hanya sekedar slogan bagi sesama muslim dan AHL (Aktivis Harakah Lain) telah menjadi haram dalam aturan organisasi dan jama’ah. Taqdir pun kini melawan hadangan hawa dan amarah. Hingga manusia berusaha menggenggam apa yang menjadi ketentuan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s