Manusia Perspektif Islam

Berbicara tentang manusia, maka kita akan membicarakan makhluk yang begitu sempurna dan kompleks. Allah berfirman di dalam Al Qur`an :

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلإِنسَانَ فِيۤ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [QS. At Tiin, 95 : 4]

1.1 Pendahuluan

Bila kita mengurai manusia, maka tampak bagi kita bahwa manusia tidak hanya sekedar terdiri atas unsur yang bersifat jasmani belaka. Manusia merupakan gabungan dari unsur jasmani dan rohani.

Gambar 1.1 Unsur Manusia
Gambar 1.1 Unsur Manusia

Unsur jasmani manusia merupakan jasad atau fisik yang tersusun dari materi. Unsur jasmani bersifat fana dan tidak bernilai tanpa unsur yang lainnya. Sedangkan unsur rohani manusia merupakan substansi yang berdiri sendiri. Berfungsi sebagai penyempurna unsur yang lain dan merupakan hakikat manusia.

Selanjutnya, para pemikir muslim berbeda pendapat tentang unsur rohani yang ada pada diri manusia. Pembahasan dalam hal ini berputar dalam permasalahan ruh, nafs (jiwa), fithrah, akal, hawa, dan al qalbu (hati).

Perbedaan pemikiran di kalangan pemikir muslim seringkali membuat peneliti mengalami kebingungan dan tidak berhasil mengungkap makna yang terkandung di dalam pembahasan tersebut. Begitupun yang dialami oleh penulis saat mencoba menggali lebih jauh hakikat manusia dari sudut pandang para pemikir muslim.

Apa yang dipaparkan dalam tulisan ini bukan merupakan hasil final dari penelitian yang berkaitan dengan hakikat manusia. Apa yang dihadirkan di sini berangkat dari uraian para pemikir muslim yang dikombinasikan, dicari titik temunya, dan disimpulkan secara sederhana untuk mendapatkan gambaran konsep yang disepakati bersama. Namun, bukan berarti simpulan ini merupakan simpulan mutlak, karena bisa jadi apa yang dipaparkan di sini merupakan luapan kebingungan penulis sehingga memilih untuk berhenti pada sebuah titik yang dianggap bisa menyederhanakan permasalahan agar bisa lebih mudah dipahami, minimal bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca sekalian.

1.2  Jiwa Manusia (An Nafs)

Para pemikir muslim tidak menemukan kesepakatan mengenai konsep jiwa. Satu sama lain saling mengeluarkan pendapatnya yang bertolak belakang. Masing-masing pihak saling menguatkan pendapatnya dengan argumen-argumen yang bersumber dari Al Qur`an, as Sunnah, serta para pemikir terdahulu.

Dalam permasalahan ini, para pemikir terpecah ke dalam beberapa golongan,[1] antara lain:

  1. Golongan yang menyatakan bahwa jiwa merupakan substansi rohani yang memancar kepada raga dan menghidupkannya lalu menjadikannya alat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu. Ini merupakan pemikiran Ibn Sina dan para filsosof muslim yang mengikutinya.[2]
  2. Golongan yang menyatakan bahwa jiwa sama dengan ruh, yaitu fisik halus yang menempati fisik kasar (jasad), mempunyai panjang, lebar, dan dalam, mengambil tempat di badan, mengarahkan dan mengatur badan. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Hazm dan Ibn al Qayim.[3]
  3. Golongan yang menyatakan bahwa jiwa berbeda dengan ruh. Ruh adalah sumber kebaikan karena bersifat ilahiyah, sedangkan jiwa (nafs) sumber segala keburukan. Ini merupakan pendapat yang berkembang di kalangan sufi.[4]
  4. Golongan yang menyatakan bahwa jiwa merupakan batin manusia, tetapi ia tidak terpisah secara eklusif dari raga. Pendapat ini dikemukakan oleh Fazlur Rahman. Menurut penafsirannya, nafs yang sering diterjemahkan menjadi jiwa (soul), sebenarnya berarti pribadi, perasaan, atau aku. Adapun predikat yang beberapa kali disebut dalam Al Qur`an hanyalah dan seharusnya dipahami sebagai kaidah-kaidah, aspek-aspek, watak-watak, dan kecenderungan-kecenderungan yang ada pada pribadi manusia. Hal ini seharusnya dipahami sebagai aspek mental, sebagai lawan dari aspek fisik, tetapi tidak sebagai substansi yang terpisah.

Bila kita cermati, pendapat yang dikemukakan terakhir mencoba mencari titik temu antara pendapat golongan pertama dan kedua. Adapun pendapat kaum sufi yang menyatakan bahwa jiwa merupakan sumber segala keburukan perlu dikritisi kembali, karena realitanya Al Ghazali yang merupakan pendukung konsep ini juga menyatakan bahwa jiwa dapat berpotensi positif dan negatif. Sehingga pernyataan mereka yang membedakan antara ruh dan jiwa pada akhirnya hanya terbatas pada perbedaan dalam sifat, bukan dalam dzat. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan yang disampaikan oleh golongan kedua.

Jika diperhatikan dari penjelasan tersebut barangkali jiwa yang dimaksudkan kaum sufi lebih mengarah pada istilah hawa nafsu (al hawa) yang merupakan salah satu fithrah (bawaan) dari konsep jiwa secara umum. Sedangkan yang dimaksud ruh oleh kaum sufi sebagai sumber segala kebaikan karena bersifat ilahiyah merupakan bawaan lain dari jiwa (nafs) itu sendiri. Karenanya Al Ghazali menggunakan istilah lain untuk ruh, yaitu an nafs an nathiqah (jiwa yang rasional), sedangkan jiwa yang merupakan sumber segala keburukan dinamakan an nafs al hayawanat (jiwa hewani).[5] Jadi, dalam pengertian ini kita dapat memahami bahwa jiwa memiliki potensi kebaikan dan juga memiliki potensi keburukan.

Dari pemaparan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa jiwa adalah totalitas daya-daya rohani berikut internalisasi dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Jiwa berarti pribadi seseorang (person), bersifat netral, dan membawa fithrah ketika dilahirkan ke dunia sebagaimana yang akan dibahas kemudian.

1.3  Manusia Dilahirkan dalam Keadaan Membawa Fithrah

Fithrah dapat diartikan sebagai “sifat asal, kesucian, bakat, dan pembawaan”. Setiap manusia yang dilahirkan dari rahim sang ibu, telah membawa sesuatu yang langsung ditanamkan di dalam jiwanya oleh Sang Khaliq. Firman-Nya,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ذٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Ar Ruum, 30 : 30]

Fithrah yang Allah tanamkan pada jiwa manusia sangat kompleks. Di dalamnya ada bagian yang merupakan sumber segala kebaikan, cahaya penerang jiwa. Bagian jiwa inilah yang mungkin oleh kalangan sufi disebut sebagai ruh. Firman-Nya,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى

“Maka  apabila  Aku  telah  menyempurnakan  kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku.” [QS. Al Hijr, 15: 29]

Ayat di atas menjadi sandaran kaum sufi bahwa ruh bersifat ilahiyah, merupakan pencitraan dari sifat-sifat ketuhanan yang luhur, yang selalu mengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Sang Khaliq. Ruh ini pula yang menggiring manusia untuk memiliki kecenderungan beragama, bertauhid, dan melakukan berbagai jenis kebaikan. Fithrah inilah yang dimaksud oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya,

كل مولود يولد على الفطرة – و في رواية على هذه الملة – فأبواه يهودانه, أو ينصرانه, أو يمجسانه

Setiap bayi dilahirkan di atas fithrah -dalam riwayat lain : di atas agama ini-. Maka orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [HR. Bukhari dan Muslim]

Fithrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia bukan hanya ruh. Manusia juga membawa kecenderungan berbuat buruk yang oleh kaum sufi disebut jiwa. Namun, sepertinya penggunaan istilah ini kurang tepat karena jiwa bersifat umum, sedangkan kecenderungan berbuat buruk yang ada pada diri manusia bukanlah sifat jiwa secara keseluruhan, ia merupakan sebagian dari sifat jiwa. Bagian ini lebih tepat disebut dengan al hawa (hawa nafsu). Hawa merupakan sumber dari segala keburukan, pemadam cahaya jiwa. Hawa nafsu selalu bersanding dengan bisikan-bisikan setan. Berbanding terbalik dengan ruh yang selalu bersanding dengan bisikan-bisikan malaikat.

Shalih Al Fauzan mengatakan,

مع الإنسان قرين من الملائكة يدله على الخير ، وقرين من الجن والشياطين يدله على الشر فأيهما غلب عليه سار معه ، ابتلاء وامتحان من الله سبحانه وتعالى

Setiap manusia memiliki qorin (pendamping) dari malaikat yang membimbingnya kepada kebaikan dan qorin dari kalangan jin dan setan yang mengarahkannya kepada keburukan, yang mana yang lebih kuat maka dia yang berjalan bersama manusia itu sebagai ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala.[6]

Selain ruh dan hawa yang saling tarik menarik, Allah juga telah menganugerahi manusia dengan gharizah (naluri) dan sifat-sifat alami (thabi’iyah). Ibn Taymiyah mengatakan bahwa gharizah yang ada pada diri manusia setidaknya ada tiga, yaitu:

  1. Daya intelektual (quwwat al-‘aql), yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk. Dengan daya intelektualnya, manusia dapat mengetahui dan meng-Esakan Tuhannya.
  2. Daya ofensif (quwwat al-syahwat), yaitu potensi dasar yang mampu menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah secara serasi dan seimbang.
  3. Daya defensif (quwwat al-ghadhab), yaitu potensi dasar yang dapat menghindarkan manusia dari segala perbuatan yang membahayakan dirinya. Namun demikian, di antara ketiga potensi tersebut, di samping agama – potensi akal menduduki posisi sentral sebagai alat kendali (kontrol) dua potensi lainnya.[7]

Taqiyudin An Nabhani mengatakan bahwa gharizah manusia terdiri atas (1) naluri mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’), (2) naluri melestarikan jenis (gharîzah an-nau‘) dan (3) naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) atau pensakralan (at-taqdis). Ketiga jenis gharizah ini memiliki kesamaan dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Taymiyah. Naluri mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’) memiliki konsep yang sama dengan quwwat al-ghadhab karena keduanya merupakan daya defensif manusia dalam rangka mempertahankan eksistensi dirinya. Gharîzah an-nau‘ memiliki kesamaan dengan quwwat al-syahwat, yaitu usaha untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk di dalamnya usaha untuk melestarikan jenis manusia. Daya ini yang mendorong timbulnya cinta dan kasih sayang atau rasa memiliki dan meraih sesuatu.

Gambar 1.2 Gharizah dalam diri manusia
Gambar 1.2 Gharizah dalam diri manusia

Sedangkan gharîzah at-tadayyun yang dikatakan An Nabhani, lebih mirip dengan apa yang kaum sufi sebut sebagai ruh. Kecenderungan untuk beragama merupakan bagian khusus yang ada dalam diri manusia, sehingga kurang tepat bila ia dimasukkan ke dalam kelompok gharizah (naluri). Maka apa yang telah disampaikan oleh Ibn Taymiyah sudah cukup untuk menguraikan gharizah yang ada pada diri manusia.

Adapun sifat alami manusia (fithrah thabi’iyah) adalah watak, karakter, atau bakat seseorang yang telah melekat sejak ia dilahirkan. Termasuk di dalamnya kemampuan jiwa untuk mengubah makanan menjadi gizi dan memperkuat jasad (quwwatul ghadziyah), serta kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang (quwwatul munammiyah). Semua potensi tersebut telah built in dalam jiwa setiap manusia.

Gambar 1.3 Jiwa dan fithrah yang melekat padanya
Gambar 1.3 Jiwa dan fithrah yang melekat padanya

1.3  Kebaikan dan Keburukan dalam Jiwa Manusia

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa di antara fithrah manusia terdapat ruh yang merupakan sumber kebaikan dan hawa nafsu yang merupakan sumber keburukan. Keduanya selalu berperang di dalam jiwa dan berusaha untuk menguasai jiwa manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [QS. Asy Syams, 91 : 7-8]

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah memberikan dua potensi ke dalam setiap jiwa, yaitu potensi untuk melaksanakan kebaikan (taqwa) dan potensi untuk melaksanakan keburukan (fujur). Segala bentuk kebaikan bersumber dari ruh dan segala bentuk keburukan bersumber dari hawa.

Gambar 1.4 Pertarungan ruh dan hawa di dalam jiwa manusia
Gambar 1.4 Pertarungan ruh dan hawa di dalam jiwa manusia

Allah menjelaskan kepada kita bahwa mengikuti hawa nafsu hanya akan membawa manusia pada kesesatan,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. [QS. Al Qashshash, 28 : 50]

Karenanya Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikutinya,

وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. [QS. Shaad, 38 : 26]

Kemudian Allah menjanjikan bahwa siapa saja yang bisa mengalahkan hawa nafsunya, ia akan mendapatkan kebaikan dan balasan surga.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [An Naazi’aat, 79 : 40-41]

1.4  Tazkiyatun Nafs (Pensucian Jiwa)

Sebagaimana telah dipaparkan, bahwa di dalam jiwa terdapat potensi bawaan (fithrah) yang menjadi sumber segala kebaikan dan senantiasa menggiring manusia untuk melakukan kebaikan, yang kita sebut sebagai ruh. Sedangkan di sisi lain, jiwa juga memiliki potensi bawaan yang menjadi sumber segala keburukan dan senantiasa menggiring manusia untuk melakukan keburukan, yang kita sebut sebagai al hawa (hawa nafsu). Adapun potensi bawaan yang lain akan tunduk kepada pemenang dari pertempuran yang dahsyat ini.

Bila ruh memenangkan pertempuran dan berhasil mendominasi jiwa, maka hawa nafsu tunduk di bawah kekuasaannya. Kondisi seperti ini akan membuat tabiat jiwa menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthma`innah). Jiwa yang senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah. Jiwa yang akan memancarkan segala macam bentuk kebaikan, baik melalui ketulusan dan kesucian hatinya, lisannya, atau amal-amalnya.

Namun sebaliknya, bila jiwa didominasi oleh hawa nafsu, dimana ruh ditaklukkan olehnya, maka tabiat jiwa berubah menjadi jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan (nafsu amarah bis su`). Hatinya keras dan membatu hingga akhirnya mati, lalu Allah menutup pintu hidayah darinya. Kehidupannya menjadi gelap gulita tanpa cahaya petunjuk. Setiap langkahnya selalu diiringi oleh setan dan kegelisahan akan menyertai setiap jengkal kehidupannya.

Namun bila kondisinya berimbang, dimana ruh dan hawa nafsu saling berusaha mendominasi, maka jiwanya akan menjadi jiwa yang senantiasa mencela (nafsul lawwamah). Ibn al Qayim mengatakan bahwa nafsul lawwamah terbagi menjadi dua,[8]

  1. Lawwamah mulawwamah, yaitu jiwa Jahiliyah yang dzhalim dan dicela oleh Allah serta para malaikat.
  2. Lawwamah ghairu mulawwamah, yaitu jiwa yang senantiasa mencela diri sendiri karena keterbatasannya dalam menaati Allah, meskipun sebenarnya dia sudah mengerahkan usaha dan kemampuannya.

Kondisi tersebut akan sangat tergantung kepada kondisi ruh dan hawa nafsunya, siapa di antara mereka yang lebih dominan menguasai jiwa.

Gambar 1.5 Tabiat Jiwa
Gambar 1.5 Tabiat Jiwa

Bila kita memahami hal ini, maka tentu kita akan berusaha untuk menjaga kondisi ruh kita, mendidik dan membinanya sehingga ia bisa memenangkan pertempuran di dalam jiwa. Usaha untuk menjaga kondisi ruhiyah seseorang biasa disebut sebagai aktivitas tarbiyah ruhiyah (mendidik atau membina kondisi ruh). Aktivitas ini juga sering disebut sebagai tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) karena tujuan aktivitas ini adalah mensucikan jiwa dari segala bentuk keburukan hawa nafsu dan dosa. Sedangkan Abdullah Gymnastiar atau yang biasa disebut Aa Gym, lebih memilih istilah Manajemen Qalbu, karena menurutnya kondisi ruhiyah seseorang sangat berkaitan erat dengan kondisi hatinya (qalbu).

Untuk mencapai kesucian jiwa ini, maka seseorang harus berusaha mengendalikan keinginan hawa nafsu. Pertama, ia harus berusaha meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, baik larangan tersebut hukumnya haram atau makruh. Ini adalah taqwanya orang-orang awam. Sebagaimana yang sering diungkapkan bahwa taqwa adalah mengerjakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.

Kedua, seseorang harus bisa berusaha meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya (syubhat). Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan sesuatu yang mubah sebagai bentuk kehati-hatian. Ini adalah wara’, derajat ketaqwaan yang lebih tinggi daripada taqwanya orang-orang awam.

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ

Seorang hamba belum mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan sesuatu yg mubah (boleh) sebagai bentuk kehati-hatian dari sesuatu yang dilarang. [HR. Ibnu Majah No.4205].

Ketiga, seseorang harus berusaha meninggalkan belenggu dunia yang fana dan menetapkan akhirat sebagai tujuan hidupnya. Segala sesuatu yang tidak membawa kebaikan bagi kehidupan akhirat ia tinggalkan, sedangkan untuk urusan dunia, ia hanya memanfaatkannya untuk menempuh jalan menuju kehidupan akhirat yang abadi. Ini adalah sifat zuhud, yaitu tidak berambisi terhadap dunia karena ambisinya hanya untuk akhirat. Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

من أراد الدنيا أضرّ بالآخرة.ومن أراد الآخرة أضرّ بالدنيا.يا قومفأضِرّوا بالفاني للباقي.

Barangsiapa yang menginginkan akhirat, dia akan mengorbankan dunia. Dan barangsiapa yang menginginkan dunia, dia akan mengorbankan akhirat. Wahai kaum, korbankanlah yang fana (dunia) demi untuk yang kekal abadi (akhirat).[9]

Namun, bukan berarti zuhud selalu identik dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah, dan hidup penuh menderita. Zuhud adalah perbuatan hati. Karenanya, kita tidak bisa hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang zuhud. Abu Dzar mengatakan,

الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَكُونَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدَىِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِى ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أَنْتَ أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ

Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.[10]

Pada masa tabi’in, Abdullah bin Al Mubarak (Ibnul Mubarak) pernah dikritik oleh sahabatnya tentang gaya hidupnya yang dianggap jauh dari sifat zuhud. Diriwayatkan bahwa Fudhail bin ‘Iyadh (sahabat Ibnul Mubarak) berkata pada Ibnul Mubarak,

أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟

“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarak mengatakan,

يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.

“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Aku pun bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku.”

Bila ruh telah terlatih, maka jiwa menjadi bersih dan suci, hidupnya merdeka karena tidak lagi terbelenggu kehidupan dunia yang fana, maka hawa nafsu pun akan tunduk di bawah kekuasaan ruh dan setan yang mengiringinya akan kelelahan dalam membisikkan keburukan. Ibadah kepada Allah akan terasa lebih mudah dan khusyu’. Sesungguhnya perumpamaan tazkiyatun nafs atau tarbiyah ruhiyah adalah seperti membersihkan dan mengisi gelas. Jika gelas kita kotor, meskipun diisi dengan air yang bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Dan meskipun diisi dengan minuman yang lezat, tidak akan ada yang mau minum karena kotor. Tetapi jika gelasnya bersih, diisi dengan air yang bening akan tetap bening. Bahkan bisa diisi dengan minuman apa saja yang baik-baik: teh, sirup, jus, dan sebagainya.[11]

Demikian pula dengan jiwa kita. Jika jiwa kita bersih, siap menampung kebaikan-kebaikan. Tetapi jika jiwa kita kotor, tidak siap menampung kebaikan-kebaikan sebagaimana gelas kotor yang tidak siap disi dengan minuman yang baik dan lezat. Inilah karakter jiwa yang harus dimiliki setiap manusia.


[1] Perbedaan pendapat para pemikir ini lebih jauh disinggung oleh Ibn Qayim Al Jawziyah, dalam Roh hal. 300-356

[2] Syah Reza, Makalah Konsep Jiwa Menurut Islam, http://inpasonline.com/new/konsep-jiwa-menurut-islam/ diakses tanggal 22 Oktober 2013.

[3] Ibn Qayim Al Jawziyah, 2012, Roh cet. 29, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, hal. 303

[4] Jalaludin Rakhmat dalam Budhy Munawar-Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (e-book), http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Nurani.html diakses tanggal 22 Oktober 2013

[5] Jalaludin Rakhmat dalam Budhy Munawar-Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (e-book), http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Nurani.html diakses tanggal 22 Oktober 2013

[7] Samsul Nizar, 2001, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Media Pratama, Jakarta, hal. 76

[8] Ibn Qayim Al Jawziyah, 2012, Roh cet. 29, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, hal. 367

[9] Adz Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala : 1/496 (e-book)

[10] Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346, http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3067-memahami-arti-zuhud.html diakses tanggal 22 Oktober 2013

[11] Abdur Rosyid, Makna dan Pentingnya Tazkiyatun Nafs, http://menaraislam.com/content/view/127/1/ diakses tanggal 22 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s