Aktivis Da’wah Machiavellist

Kebanyakan aktivis da’wah masih berpikir bahwa apa yang disebut kemenangan selalu berkaitan erat dengan kekuasaan dan kejayaan. Bahkan bisa jadi kita termasuk ke dalam orang yang berpikiran sama. Padahal, at tamkiin (kejayaan) hanyalah salah satu dari sekian bentuk kemenangan.

Biasanya, orang yang terjatuh pada pemahaman ini dan terfokus pada kemenangan serta hasil akhir akan rentan dihantui manhaj machiavellist. Hal tersebut disebabkan jiwanya tertutup kabut ambisi yang ia anggap sebagai kebenaran mutlak. Karenanya tidak heran bila ada kelompok da’wah yang menghalalkan segala cara, bahkan melakukan cara-cara tidak islami saat ia mulai merangkak mengais suara dan kekuasaan.

Mereka akan menggunakan cara apapun untuk membasahi kerongkongan yang kering akibat dahaga panjang terhadap kekuasaan. Pikirnya semua masalah akan selesai saat kekuasaan berada dalam genggaman.

Bila apa yang mereka jalani masih berada di atas rel-Nya, tidak terlalu jadi persoalan dan tidak perlu dibahas panjang lebar dalam tulisan ini. Namun bila cara-cara yang digunakan sudah melampaui batas ketetapan-Nya, tentu ini sebuah momok yang menakutkan bagi aktivis da’wah secara umum dan aktivis golongan tersebut secara khusus. Ini bila mereka memang masih serius memiliki tujuan mulia.

Tidak heran bila kemudian kita dihebohkan dengan sekelompok akhwat yang senam (menari) gangnam style demi meraih massa dan melebur dengan masyarakat awam yang seharusnya butuh pencerahan. Atau aksi-aksi kampanye partai (yang katanya) da’wah dipenuhi warna jahiliyah dan jeritan syahwat. Asalkan massa senang, apapun akan dilakukan. Karena massa berarti suara dan suara berarti kemenangan. Logika machiavellist seorang aktivis da’wah yang terkungkung dalam kubangan demokrasi.

Sebagian besar aktivis da’wah akan menjeritdan melakukan protes serta pembelaan membabi buta atas tulisan ini. Ini wajar, karena begitulah sifat fanatisme yang diajarkan oleh machiavellist. Namun, bila mata mau terbuka sedikit lebar, dan hati dihamparkan untuk lebih lapang, niscaya jiwa akan mengerti di mana letak kebenaran.

Sebagian besar aktivis da’wah akan berkata : “Jikalau memang kami memiliki aib, maka tugasmu adalah menutupinya, bukan menyebarkannya.”

Aku jawab : “Bahkan kalian yang menyebarluaskannya sendiri. Terpampang jelas di hadapan mata dan gaungnya menggema memasuki ribuan telinga.”

Ketahuilah wahai saudaraku, aib yang wajib ditutupi adalah aib seorang saudara yang berusaha keras untuk menutupi kekurangan tersebut dengan senantiasa melakukan perbaikan diri. Namun, bila yang terjadi adalah membeberkan aib diri sendiri, maka Allah yang berjanji tidak akan memaafkan orang demikian. Karena setiap makhluk akan diampuni oleh Allah kecuali al mujahhar. Yakni orang yang pada malam hari bermaksiat, lalu Allah menutupi aibnya tersebut, namun di pagi hari ia malah menceritakan kemaksiatan yang telah ia lakukan, padahal Allah telah menutupinya. Lalu bagaimana dengan orang yang sengaja memperlihatkan aibnya di hadapan ribuan mata? Dan didengarkan ribuan telinga?

Bila ada di antara kalian yang berkata : “Massa bukanlah aktivis da’wah, mereka masih senang dengan hura-hura, masih fasiq.”

Aku katakan : “Maka apakah kalian harus memfasilitasi kemaksiatan dan kefasiqan mereka, a fa laa ta’qiluun?!!”

Efek negatif yang entah ke depannya akan menjadi apa. Bangunan perjuangan telah melebur menjadi debu, dan hilang saat angin bertiup menghempas. Rasa telah banyak menanam, apa daya yang tumbuh pohon kesengsaraan.

Wallahu a’lam

2 thoughts on “Aktivis Da’wah Machiavellist”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s