“Hanya” Kufur Kecil ?

Na’am… Yang kita dapati hari ini adalah bahwasanya para ‘ulama berbeda pendapat tentang apakah tidak berhukum dengan hukum Allah adalah kufur akbar (kekufuran yang besar) atau kufur ashghar (kekufuran yang kecil, kufrun dunna kufrin). [1]

Namun demikian, apakah lantas kemudian kita banyak mentoleransi diri kita untuk tidak berhukum dengan hukum Allah hanya karena kita berkeyakinan bahwa hal tersebut “hanya” atau “sebatas” kufur kecil?

Apakah anda tahu apa itu kufur kecil?

Sungguh, jangan pernah terjebak dengan kata “kecil” di sana, karena hal tersebut hanya untuk membedakannya dengan kufur besar. Adapun derajat dosa kufur kecil, jelas lebih besar daripada al kabaair (dosa-dosa besar) selain kemusyrikan/ kekufuran sebenarnya; dosa kufur kecil jauh lebih besar daripada membunuh, berzina, meminum khamar, berjudi, riba, dsb. Derajat dosa kufur kecil hanya sedikit di bawah kemusyrikan atau kekufuran. Perbedaannya adalah pada kemurtadan pelakunya dan kekekalan pelakunya di neraka.

Siapa yang melakukan kufur besar maka mereka telah murtad dan kekal di neraka, namun siapa yang melakukan kufur kecil mereka tidak murtad dan juga tidak kekal di neraka. Ini letak perbedaannya. Hanya saja, sekali lagi dosa kufur kecil itu jauh lebih besar daripada dosa besar seperti membunuh, berzina, meminum khamar, berjudi, riba, dsb.

Bila orang yang meremehkan dosa besar atau mentolerir untuk melakukannya saja dapat terjerumus ke dalam kemurtadan, maka apalagi yang meremehkan atau mentolerir kufur kecil?

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut[2], padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya[3] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An Nisaa : 60-65]

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa ada sebagian orang yang mengaku muslim, namun mereka memiliki keinginan untuk berhukum kepada thaghut. Dan Allah telah menafikan keimanan mereka. Allah tidak mengakui keimanan orang-orang yang mengaku muslim tapi memiliki keinginan untuk berhukum kepada thaghut. Bahkan Allah menggolongkan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang munafiq. Hingga pada ayat ke 65 Allah menjelaskan bahwa seseorang tidak disebut beriman di sisi-Nya hingga memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan-Nya, yaitu :

1. Menjadikan Nabi Muhammad sebagai hakim terhadap perkara yang diperselisihkan (berhukum kepada hukum Allah pada semua perkara),
2. Tidak merasa keberatan dengan putusan Allah dan Rasul-Nya,
3. Menerima putusan tersebut dengan sepenuh hati, tidak setengah-setengah.

Wallahu a’lam… [4]

Catatan kaki :

[1] Sebagaimana yang datang dari salah satu riwayat Ibn ‘Abbas : kufrun dunna kufrin.

[2] Allah menyebut hukum selain milik-Nya dengan sebutan thaghut. Secara bahasa thaghut berarti “melampaui batas”. Secara istilah, thaghut adalah “yang dijadikan sesembahan selain Allah atau yang ditaati secara mutlak selain Allah dan Rasul-Nya, dan ia ridha atas perlakuan tersebut.” Di antara thaghut adalah Iblis, tukang Sihir atau dukun, Penguasa Dzhalim yang menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah atau sebaliknya, hukum Jahiliyyah, Nasionalisme, dan masih banyak lagi bentuk thaghut di dunia modern sekarang ini.

[3] Maksudnya adalah tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

[4] Untuk tafsir lebih lengkapnya silakan merujuk kepada kitab-kitab tafsir, seperti Ibnu Katsir, Ath Thabari, atau Al Qurthubi.

Source : http://www.facebook.com/alfadhl87/posts/304367136358467

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s