Hikmah Fid Da’wah?

Dalam da’wah, kita sepakat harus mengedepankan sifat hikmah dan nasihat-nasihat yang terbaik, yang dapat membuka peluang tergeraknya hati mad’u (objek da’wah) untuk menerima kebaikan yang kita serukan. Bahkan, dengan tegas dalam ayat yang sama Allah melanjutkan «wa jadilhum billati hiya ahsan» dan debatlah mereka (bila memang harus didebat, pen.) dengan cara debat terbaik. Cara debat yang mengedepankan sikap dan sifat santun, lembut, dan lapang dada. Sehingga perdebatan atau diskusi yang dilakukan benar-benar diwarnai semangat untuk mencari kebenaran, bukan sekedar pembenaran.

Kita kembali ke masalah “hikmah fid da’wah” hikmah dalam berda’wah.

Sebagian kalangan menilai bahwa yang dimaksud hikmah dalam berda’wah adalah menjadikan da’wah terbuka, seluas-luasnya agar semua manusia bisa merasakan indahnya Islam, karena menurut mereka tiadalah Islam diturunkan «illa rahmatan lil ‘aalamiin» kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Bila pendapat mereka berhenti sampai di sini, maka mungkin kita bisa memahami maksud dan tujuan ini merupakan hal yang patut diapresiasi. Namun bagaimana halnya dengan apa yang dimaksud terbuka dan rahmatan lil ‘aalamiin adalah membuat apa yang tidak berasal dari Islam seolah-olah menjadi Islam, dengan menambahkan label “islami” di belakangnya.

Maka hari ini kita pun menemukan beberapa tradisi yang dahulu dianggap sama sekali tidak islami, bahkan mungkin dianggap bertentangan dengan Islam, justru menjadi warna baru dalam sebagian komunitas aktivis da’wah, dengan dalih bahwa memunculkan warna islami dalam sesuatu bisa membuat banyak orang tertarik kepada Islam dan setidaknya, menurut pandangan ini, seseorang dapat mensyi’arkan Islam dan tidak “jelek-jelek amat” bila dibandingkan dengan tanpa ada warna islami sama sekali.

Kondisi ini, bila saya boleh berpendapat, diawali dari pemikiran yang bermudah-mudah dalam syari’at. Memilih dan memilah pendapat paling ringan (rukhshah) di kalangan para ‘ulama, tanpa terlebih dahulu menilai mana pendapat yang paling shahih (benar) atau rajih (kuat). Hingga terkumpullah dalam dirinya berbagai keburukan. Sebagaimana perkataan para ahli fiqih : “

Cukuplah terkumpul dalam dirimu semua keburukan bila engkau selalu memilih pendapat yang paling ringan di antara para ulama…

Bila memilih pendapat yang paling ringan saja dapat berpotensi mengumpulkan segala keburukan, lalu bagaimana bila mengumpulkan apa yang tidak berasal dari Islam dengan warna islami?

Sebut saja misalnya perayaan ulang tahun, yang hari ini telah terasa “islami” karena bahasa ultah telah diubah ke bahasa Arab menjadi “milad“. Adakah peryaan ultah atau milad dalam Islam? Setahu saya, Rasul dan para Sahabatnya tidak ada yang pernah merayakan ultah atau milad.

Atau lagi apa yang hari ini disebut jilbab gaul, musik Islami, atau hal yang semisal dengannya. Dulu, para aktivis da’wah memiliki grup-grup nasyid yang maksimal menggunakan alat musik duff (alat musik pukul) yang para ulama masih membolehkan penggunaannya dalam waktu-waktu tertentu. Namun hari ini bahkan ada kelompok “Girl Band” berkerudung yang menurut mereka, dengan rasa islami. Belum lagi persoalan-persoalan yang lainnya seperti ramainya gelombang jilbab gaul, bahlam di tengah-tengah aktivis da’wah.

Akibatnya justru keburukan semakin tersebar dan terasa lebih berbahaya karena dibungkus dengan label Islam. Bila diibaratkan seperti menyembelih babi dengan nama Allah lalu membukus dagingnya san melabelkan kalimat “halal” di atas bungkus daging tersebut. Ini jelas mencampur-baurkan antara kebaikan dan keburukan dan Allah dengan tegas melarang perbuatan demikian, «wa laa talbisul haqqa bil baathil» maka janganlah engkau mencampur-baurkan antara kebenaran dengan kebathilan!

Maka apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan bila hal ini terus ditoleransi dan dianggap sebagai “hikmah fid da’wah” atau membawa pengertian “rahmatan lil ‘aalamiin…“?

Mungkin saja nanti ada satu hari di mana tanggal 14 Februari berubah namanya menjadi “yaumul mahabbah” (hari cinta) atau “yaumur rahmah” (hari kasih sayang), dimana para aktivis akan berbondong-bondong memberikan hadiah atau mengungkapkan rasa cinta kepada suami/ istrinya. Bahkan mungkin ada juga para aktivis akan memanfaatkan momen ini untuk khitbah atau menikah. Islamikah? Tentu saja tidak. Akankah terjadi? Semoga saja tidak.

Wallahu musta’an

Source : http://m.facebook.com/?_rdr#!/story.php?story_fbid=287249974736850&id=100003555485295&__user=100003555485295

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s