Penyimpangan Aliran Sesat

Permasalahan inti dari aliran-aliran yang menyimpang bukanlah pada perbedaan sumber hukum, namun pada cara memahami sumber hukum tersebut. Inilah yang kita sebut sebagai manhaj.

Semua aliran meyakini Al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumber hukum dalam Islam. Namun mereka berbeda manhaj dengan Ahlus Sunnah. Di antara mereka keliru memahami ayat-ayat yang mutasyabbihat, di antaranya lebih mengedepankan hawa nafsu dan ra’yu (pendapat pribadi) dalam menafsirkan sebuah ayat. Di antaranya tidak memahami kaidah bahasa Arab dengan benar. Di antaranya tidak memahami persoalan nasikh dan mansukh. Di antaranya ada yang lebih mendahulukan ayat-ayat ancaman daripada kabar gembira, sedangkan di sisi lain sebaliknya. Inilah di antara penyebab tersesatnya umat Islam menjadi 72 golongan.

Adapun satu golongan yang selamat (firqah an najiyyah) atau yang kita sebut sebagai Ahlus Sunnah telah sepakat untuk menggunakan pemahaman para Sahabat dalam ijma’ mereka, serta mengikuti pendapat-pendapat mereka dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Bahkan, mengikuti para Sahabat telah diperintahkan oleh Allahu ta’ala sebagaimana firmannya (yang artinya):

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah 9: 100)

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan:

“(Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar) mereka adalah para sahabat yang ikut perang Badar atau yang dimaksud adalah semua para sahabat (dan orang-orang yang mengikuti mereka) sampai hari kiamat (dengan baik) dalam hal amal perbuatannya. (Allah ridha kepada mereka) melalui ketaatan mereka kepada-Nya (dan mereka pun ridha kepada Allah) ridha akan pahala-Nya (dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya) – menurut suatu qiraat lafal tahtahaa dibaca dengan memakai huruf min sebelumnya sehingga bacaannya menjadi min tahtihaa – (mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar).”

Artinya hanya ada tiga golongan besar kaum muslimin sebagaimana ayat di atas:

1. Para Sahabat generasi pertama,
2. Bukan Sahabat generasi pertama, atau bahkan ukan Sahabat Rasul, mungkin tidak pernah bertemu dengan Rasul atau para Sahabat, namun mereka mengikuti pemahaman para Sahabat dengan baik. Inilah jalannya Ahlus Sunnah. Satu-satunya jalan yang selamat.
3. Bukan Sahabat generasi pertama dan tidak mengikuti pemahaman mereka. Inilah jalannya aliran-aliran yang menyimpang. Yakni yang kemudian terpecah menjadi 72 golongan.

Dan Allah menegaskan bahwa kemenangan hanya untuk dua golongan pertama, tidak untuk yang ketiga.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s