kradenan

Taqdir… (bag. 2 – selesai)

Pagi-pagi sekali sebelum subuh, Yusuf sudah bersiap untuk menemui orangtuanya. Hatinya sedang berbunga. Penantian yang panjang, kesabaran, dan do’a yang senantiasa ia panjatkan akhirnya hampir terealisasi. Bibirnya pun tak henti menebarkan senyum dan basah dengan kalimat syukur, alhamdulillah… Membuat orang-orang yang melihatnya ikut berbahagia.

“Akh, ane pulang lagi ya, tolong jagain komputer ane. Afwan nih sering pulang, muhim jiddan, hehe..” Yusuf berkata, sambil menyisir rambutnya di depan cermin, pada teman satu kos’nya yang baru saja tergugah dari alam mimpi.

“Wah, pantesan pagi-pagi dah rapi gini, ga biasanya. Emangnya ada apa sih di rumah, sering-sering banget balik ente?” Kata Dani teman satu kos, sekaligus satu kamar Yusuf, yang mungkin masih setengah sadar.

“Di rumah gada apa-apa. Tapi harus ada yang didiskusikan nih sama orangtua.” Jawab Yusuf sambil tidak berhenti untuk tersenyum.

“Wah wah, roman-romannya asik nih, bakal ada yang nyicipi nikmat dunia, haha…” Jawab Dani sambil menggoda Yusuf…

Yusuf hanya tersenyum. Ia kemudian menggendong ranselnya dan berkata, “Mohon do’anya aja ya… Assalaamu ‘alaykum…”

“Masya Allah, barakallah ya akhi, wa ‘alaykumussalaam…” Dani pun ikut tersenyum.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Dani bangkit dari tempat tidurnya dan berlari mengejar Yusuf dan berkata sambil sedikit berteriak, “Akh….” Yusuf pun menengok ke arah Dani…

“Ane boleh pake komputernya ya, banyak tugas..!” Kata Dani

“Iyaa…” Jawab Yusuf, lalu ia kembali berjalan ke arah terminal Bus sambil melambaikan tangannya…

+++++

Di rumah Yusuf…

Kedua orangtua Yusuf begitu senang mendengar berita yang dibawanya, mereka bahkan menceritakan berita ini kepada sanak keluarga, dan sudah menentukan bahwa selepas idulfitri, anak pertama mereka, Yusuf Affandi, akan menikah dengan gadis pilihannya yang shalihah nan menawan itu, Nurul Adzqiya.

Yusuf sangat senang melihat respon orangtuanya. Hari itu pembicaraan antara keluarga Yusuf dan keluarga Qiya pun dilakukan via sms. Mulai dari jumlah mahar, sampai mau tinggal di mana setelah menikah. Hari itu juga semuanya diselesaikan sehingga tidak ada lagi permasalahan yang timbul saat nanti Yusuf bersama orangtuanya datang ke Bandung untuk secara resmi melamar Qiya.

“Aa besok barangkat jam berapa?” Tanya Ibu-nya Yusuf di sela-sela makan malam.

“Paling jam 9-an Bu…” Jawab Yusuf.

“Ntar jangan lupa cerita ya tentang kondisi keluarga kita. Kita kan bukan orang yang berada. Bilang ke orangtua Qiya apa adanya ya.” Kata Ibunya Yusuf.

“Ya Allah Ibu, kan tadi dah dibilangin, orangtua Qiya itu udah tau dan insya Allah ngga materialistis.” Yusuf menjelaskan kepada Ibunya.

“Maksudnya jangan sampai saat orangtua Qiya tahu kondisi kita yang sebenarnya malah kecewa. Apalagi kan mereka  belum pernah ke sini.” Ayah Yusuf mencoba menengahi.

“Insya Allah Yah. Abi-nya Qiya ustadz koq, orang ngerti. Ngga akan macem-macem lah. Dengan kemaren dah nerima, trus udah ngobrolin mahar dan yang lainnya kan itu berarti mereka dah nerima kita semua.” Kata Yusuf menjelaskan.

“Ya Ibu sama Ayah mah udah setuju banget Yusuf sama Qiya. Iya kan Yah?” Kata Ibu-nya Yusuf sambil melirik ke arah Ayahnya Yusuf.

“Hmm…” Jawab Ayahnya Yusuf mengangguk sambil meneruskan makan malamnya.

++++

Pukul 8 pagi waktu rumah Yusuf.

Yusuf bersiap-siap untuk kembali ke Bandung dengan hati sumringah. Hmm, wajahnya berseri seperti bunga yang sedang merekah. Seakan memancarkan cahaya kebahagiaan seperti bulan di malam purnama. Membuat semua orang yang melihatnya ikut tersenyum dan merasakan kebahagiaan yang dirasakan Yusuf.

~~Nit, nit, nit, nit~~

Suara HP Yusuf berdering, ternyata sms dari Qiya… Yusuf tersenyum dan membuka sms tersebut. Ia mulai membacanya.

Wajah ceria itu… yang seperti bulan purnama… tiba-tiba memburam… saat Yusuf mulai mengeja rangkaian kata yang dikirim Qiya. Cahaya yang tadi terpancar dari wajahnya tiba-tiba padam seperti malam yang tanpa bulan dan bintang. Kakinya menjadi lesu, tangannya yang sedang memegang HP pun tiba-tiba kaku mati rasa, bahkan membuat HPnya terjatuh, untung saja terjatuh tepat di atas sofa.

Kak, kata Ummi kita ngga jadi, katanya banyak pertimbangan…

Kurang lebih begitu sms Qiya singkat yang dengan segera menghancurkan impian Yusuf, merenggut kebahagiaannya. Perasaan yang begitu berlawanan dibandingkan yang ia rasakan kemarin atau dua hari sebelumnya. Benar-benar mengoyak-ngoyak jiwanya…

Yusuf segera mengambilkembali Hpnya yang terjatuh lalu mengetik,

Memangnya kenapa??? Koq bisa gini?

Tanyanya membalas sms Qiya.

…….

Namun… Qiya tak kunjung menjawab sms Yusuf. Yusuf semakin gusar dan gelisah. Ia mondar-mandir dari kamarnya menuju dapur, lalu kembali lagi. Membuka pintu kulkas untuk sekedar meminum seteguk air dingin, lalu kembali ke kamarnya lagi. Ia berbaring dan matanya tepat mengarah ke langit-langit. Sambil berlinang, namun terlihat ia sedang menahan agar air matanya tidak membasahi pipi. Ia pun kembali ke dapur, membuka pintu kulkas, meminum seteguk air dingin dan kembali ke kamarnya lagi. Beberapa kali ia mengulangnya sampai ia kemudian mencoba menelpon Qiya. Namun, HP Qiya yang dihubunginya pun dibiarkan mengeluarkan nada tunggu tanpa ada jawaban, sepertinya sedang tidak berada di tangan pemiliknya… Ia pun mengulanginya saat nada tunggu yang pertama tadi habis. Begitu sampai empat kali ia mengulangi, namun Qiya seperti menjauh dari HP miliknya sendiri, sehingga nada dering yang keluar dari HPnya itu tidak dihiraukan sama sekali.

Yusuf semakin gusar, gelisahnya memuncak. Sambil diselimuti rasa penasaran yang tinggi ia mencoba mengirimkan sms kepada Ummi,

Assalaamu ‘alaykum. Ummi, tadi Qiya sms katanya rencana kita batal, memangnya kenapa, apa ada masalah besar?

…….

Perasaan Yusuf semakin tidak karuan saat setelah 30 menit smsnya belum juga mendapat jawaban. Ah, dunia seperti hancur dan puing-puingnya seolah menghantam dirinya, mengiris-iris hatinya. Begitu mudah ternyata Allah memberikan kebahagiaan kepada seseorang dan kemudian mencabut kebahagiaan tersebut sebagaimana yang Dia kehendaki. Inikah taqdir, pikirnya…

Yusuf hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya, air mata yang sejak tadi ditahan ternyata memberontak cukup deras hingga mengalir membasahi pipinya. Bibirnya mulai bergerak-gerak… Tenggorokannya semakin berat. Ia pun tengkurap dan sambil menutupi matanya dengan tangan, ia terisak, menangis, namun tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, walaupun isakannya terdengar sesekali, ia berusaha untuk tetap tegar menerima semua ini… Heningnya rumah yang meninggalkan Yusuf sendirian di sana menjadi saksi bisu keruntuhan menara impian yang telah lama dibangunnya… Ia tersungkur dalam sunyi, membisu dalam kelabu warna hatinya, pilu dalam luka di dada yang yang masih basah…

Please lie for me

Jarum pendek jam dinding hampir mengarah pada angka 12, sedangkan jarum panjangnya berada di antara angka 8. Ibunya Yusuf yang pulang dari sekolah setelah mengajar agak heran saat melihat Yusuf berbaring di tempat tidur, karena tadi malam Yusuf sendiri yang mengatakan akan kembali ke Bandung pukul 9 setelah Dhuha.

Ibunya mengira Yusuf tertidur setelah melaksanakan shalat Dhuha, saat melihat sajadah merah yang digunakan untuk shalat Dhuha itu masih terhampar di samping tempat tidurnya, lalu meninggalkan Yusuf karena khawatir mengganggunya. Mungkin biar nanti saja ketika adzan Dzuhur baru dibangunkan, pikir Ibunya…

Sepuluh menit kemudian HP Yusuf berdering, Qiya memanggil…

Yusuf seolah terperanjat dari alam yang hampa. Saat melihat nama Qiya di dinding HPnya, ia pun segera mengusap mata dan wajahnya, berdehem dua kali untuk menghilangkan dahak yang menahan suara di tenggorkannya dan kemudian menekan tombol menerima di HPnya, “Assalaamu ‘alaykum Qiya…” Yusuf berbicara dengan suara yang agak sedikit tertahan, tanda bahwa ia masih merasakan sedihnya.

“Wa ‘alaykumussalaam Ka.. hiks hiks” Jawab Qiya, yang juga diiringi isak tangis,walaupun tak nampak jelas, namun perasaan yang telah mengikat mereka membuat isak tersebut terdengar nyaring di telinga Yusuf…

“Ummi nyuruh aku nelpon Kk… hiks” Qiya menjelaskan. “Afwan katanya, Ummi belum bisa ngomong langsung sama Kk… hiks hiks”

“Sebenernya ada apa Qiya?” Yusuf bertanya…

“Kemarin waktu Kk pulang, Ummi ketemu ustadz Hasan. Ummi cerita semuanya sama beliau. Dan ternyata, respon beliau negatif Kak. Katanya, terlalu banyak pertimbangan bagi kelangsungan da’wah di sini klo Kk jadi sama aku,,, hiks, hiks…” Qiya menjelaskan keadaannya sambil terisak. Dan kali ini isaknya semakin keras. Yusuf pun tidak bisa menahan sedihnya, isak tangis Qiya pun diiringi tangis Yusuf yang mulai terdengar…

“Kk ga ngerti, sebenernya gimana, tapi, apa memang harus menggagalkan semua ini..?” Yusuf berbicara dengan nada yang lebih berat dibandingkan sebelumnya. Yusuf melihat pintu kamarnya yang terbuka, lalu ia berinisiatif untuk menutupnya, bahkan menguncinya, agar keluarganya tidak mengetahui bahwa ia sedang bersedih.

“Kak, hiks, hiks… insya Allah, klo jodoh pasti ga akan kemana… Hiks, hiks…” Qiya menjawab sambil menangis, dan kemudian menutup sambungan HP-nya… tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt…..

Saat Yusuf mendengar nada putus dari HP-nya, galaunya kembali meninggi. Perasaannya semakin tak menentu, hatinya serasa tertusuk duri-duri tajam. Lalu duri itu mencabik-cabiknya hingga hatinya berantakan tak lagi berbentuk. Ia hanya duduk lesu, tak tahu harus bagaimana lagi. Karena bukan sekedar kebahagiaannya yang hilang. Namun juga kebahagiaan kedua orangtuanya dan seluruh sanak famili yang sudah mendengar kabar gembira ini.

Yusuf tidak tahu harus memberikan penjelasan apa kepada orangtuanya nanti… Karena bisa jadi Ayahnya, yang lebih dahulu berangkat ke Bekasi ba’da Subuh tadi, mungkin sudah memberitakan kepada sanak saudara di sana tentang berita gembira yang kemarin dibawanya. Di antara galau, sedih, dan amarahnya, ia menatap langit dari jendela kamarnya… Gumpalan awan di tengah hari yang cerah… seakan berkata… “Selama langit masih tegak di atas bumi, kami akan tetap setia untuk berjalan di antara keduanya…”

–SELESAI–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s