kradenan

Taqdir… (bag. 1)

 

Bilang skrg ya kak…

Yusuf agak sedikit bingung saat membaca sms dari Qiya yang tiba-tiba itu. Karena ia sendiri tidak berniat mengatakannya sekarang. Bahkan ia pernah berjanji akan mengatakan niatnya itu secara langsung kepada orangtua Qiya pada bulan Ramadhan, dengan asumsi, setelah hari raya Idul Fitri, ia bersama orangtuanya bisa segera melamar secara resmi gadis impiannya itu. Yusuf pun membalas sms Qiya, sambil berpura-pura tidak memahami maksud sms yang diterimanya tersebut,

Bilang apaan Qiya?

Qiya menjawabnya,

Pokoknya klo kk gada niat bilang ke Ummi hari ini, pulang aja..!

Yusuf tersentak, ia tidak menduga Qiya akan berkata seperti itu. Ia pun semakin bingung. Apa yang harus dikatakannya. Apalagi ini adalah kali pertama ia berhadapan dengan masalah yang serius seperti ini, terlebih harus mengungkapkannya kepada orangtua Qiya.

“Afwan ya agak lama buatnya.” Suara Ummi-nya Qiya sedikit membuyarkan kebingungan Yusuf.

“Diminum dulu tehnya. Yang buatnya Qiya lho.” Ummi menawarkan teh manis yang dibawanya itu. Lalu ia duduk di kursi yang berada di antara ruang tamu dan ruang keluarga.

“Iya, Ummi.” Jawab Yusuf singkat sambil mencicipi teh manis buatan Qiya.

“Gimana kak pas nggak manisnya..?” Suara Qiya dari ruang keluarga semakin membuat Yusuf berdebar-debar, mengingat sms tadi yang dikirim oleh Qiya.

“Iya pas banget, makasi ya…” Yusuf menjawab sambil berusaha mencoba menenangkan dirinya sendiri. Detak jantungnya masih belum teratur dan wajahnya menyiratkan perasaan salah tingkah.

“Oh iya Ummi, ini ada oleh-oleh dari keluarga buat Ummi sama Abi.” Yusuf pun menyerahkan oleh-oleh yang telah disiapkannya sejak kemarin untuk mengalihkan perhatian dan menenangkan groginya.

“Aduh Yusuf makasi banyak ya.” Jawab Ummi sambil menunjukkan ekspresi yang senang.

“Mau ngobrol sama Abi ya?” Ummi melanjutkan.

“Mmm,,, tadinya sih gitu Mi.” Yusuf menjawab dengan sedikit kaku.

“Tunggu aja dulu ya, Abi lagi ada kerjaan di luar kayaknya… Tapi insya Allah sebentar lagi juga pulang.” Ummi menjelaskan.

“Ngomongnya sama Ummi aja ga papa kan?” Qiya kembali bersuara dari ruang keluarga.

“Emangnya ada apa Yusuf?” Ummi bertanya kepada Yusuf.

Yusuf pun agak bingung untuk menjelaskannya… Ia tertegun sejenak. Berusaha merangkai kata-kata terbaik agar tidak salah berucap. Apalagi dadanya masih berdebar begitu kencang. Ini adalah tantangan terberat yang Qiya berikan, pikirnya di dalam hati…

“Ehm… Begini Ummi…” Yusuf berusaha sedikit tenang. “Yusuf kan sama Qiya udah cukup saling kenal, dan insya Allah Yusuf yakin sama Qiya. Maksudnya…” Suara Yusuf tertahan, seolah-olah di tenggorokan Yusuf terdapat tembok yang menahan aliran suara yang mengalirdari pta suaranya…. Sedangkan Ummi masih memperhatikan dengan seksama, sambil menunggu apa yang sebenarnya ingin disampaikan Yusuf….

Cinta

“Mmm.. Yusuf ingin menikahi Qiya, Ummi.” Akhirnya kata-kata itu pun mengalir deras dari lisannya. Beriringan dengan rasa yang tertahan di dada… Seperti seorang kuli yang memikul barang dengan beban yang cukup berat, lalu ia meletakannya dan diberi bayaran atas jasanya. Kurang lebih seperti itulah plongnya perasaan Yusuf setelah mengungkapkan maksudnya…

Ummi pun tersenyum dan di dalam hatinya ada kebanggaan tersendiri mendengar kata-kata Yusuf. Karena Ummi sendiri memang menyukai Yusuf sejak Ummi pertama kali mengenal Yusuf. Apalagi Abi sering membawa kabar positif tentang kehidupan Yusuf dan aktivitasnya bersama binaan Ustadz Hasan, yang merupakan sahabat dekat Abi.

“Ya, Ummi juga udah menganggap Yusuf seperti anak Ummi sendiri, dan semoga Yusuf benar-benar yakin sama Qiya selama interaksi dalam, mmm… ta’aruf mungkin ya… walaupun zaman Nabi ngga ada ta’aruf-ta’arufan…” Ummi memberikan respon positif…”

Yusuf pun tersenyum mendengar jawaban Ummi, dan rasa kaku serta groginya pun mulai hilang saat mendengar hal ini.

“Yusuf udah istikharah?” Tanya ummi.

“Alhamdulillah udah Ummi.” Jawab Yusuf mantap.

“Alhamdulillah klo gitu. Tapi Ummi juga ngga bisa memutuskan apa-apa sekarang. Biar nanti Abi-nya Qiya aja yang bilang langsung sama Yusuf. Tapi terus terang, secara pribadi Ummi senang klo ditaqdirkan punya menantu Yusuf.” Yusuf semakin melebarkan senyumnya. Pintu ke arah impiannya semakin terbuka lebar, karena Yusuf sendiri sudah mendengar cerita dari Qiya bahwa Abinya itu sangat menyukai Yusuf, bahkan sejak pertama kali Yusuf datang ke acara ta’lim-nya Ustadz Hasan. Katanya, Abi begitu mengagumi kecerdasan dan pengetahuan keislaman Yusuf, aktivitas da’wahnya juga bagus, baru beberapa bulan dibina Ustadz Hasan, Yusuf sudah memiliki beberapa binaan di sana sini dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Ditambah dengan tampangnya yang di atas rata-rata, orangtua mana yang hatinya tidak kepincut untuk menjadikan ia sebagai menantunya.

Ummi melanjutkan, “Walaupun… ya Yusuf tahu kan kondisinya gimana. Ummi juga sebenarnya agak bingung, karena dulu sempat bilang ke Fatih untuk ngga ngasi Qiya, ke Fatih ataupun ke Yusuf, biar adil kata Ummi waktu itu. Tapi kan yang namanya jodoh ngga ada yang bisa nebak. Klo Allah udah nyatet Yusuf dan Qiya adalah jodoh, masa sih kita harus ngalang-ngalangi ya.”

“Hmmph…” Yusuf menarik nafas panjang sebelum berbicara. “Yusuf sendiri ngga dalam kondisi tergesa-gesa Ummi.”

Ummi pun menjawab, “Iya, dulu juga Qiya pernah cerita klo Yusuf bakal ngelamar Qiya ba’da idul fitri ya.”

“Iya Ummi rencananya gitu.” Kata Yusuf.

“Ya intinya, klo dari Ummi begitu, nanti Ummi coba bicara sama Abi, karena tadi Abi sms katanya belum bisa bicarakan masalah ini sekarang-sekarang. Ga papa kan ya klo harus nunggu jawabannya.”

“Iya Ummi ga papa.” Kata Yusuf.

Beberapa saat kemudian Yusuf pun pamit pulang. Dari wajahnya, tersirat kebahagiaan dan harapan yang mendalam. Ada kecerahan tersendiri yang dipancarkan,senyum pun tidak berhenti ia kembangkan… Mimpinya, keindahan itu, akan segera terwujud, insya Allah…

+++++

Dua hari kemudian…

Kak, kata Abi, Abi mah gimana Aku dan Ummi aja…”

Yusuf membaca sms dari Qiya… Yusuf pun tersenyum, sesuai dengan dugaannya, Abi pasti menyetujuinya. Hatinya meluap-luap karena senang, ingin rasanya ia berjingkrak dan berteriak untuk meluapkan kesenangannya, namun ekspresi itu hanya ditumpahkan dengan senyumnya yang menganga lebar. Ia pun segera menjawabnya,

Berarti ikut jawaban Ummi kemaren itu dong?

Qiya pun membalas dengan cepat pertanyaan Yusuf,

Iya Kak, kata Ummi, bilang dulu aja sama orangtua Kk biar semuanya jelas…

Hati Yusuf semakin meluap tak menentu saat menerima sms balasan dari Qiya. Ada bahagia, haru, dan entah perasaan yang… bercampur baur menjadi satu. Mimpinya selama ini, untuk hidup bahagia bersama gadis impiannya yang shalihah nan menawan, yang disukai banyak orang benar-benar sudah di depan mata. Mimpinya untuk mengajak Qiya melaju di atas dua roda… Mimpinya untuk mengajak Qiya untuk berbagi ke tempat-tempat indah yang menjadi favoritnya.. Dan mimpi-mimpi lainnya dalam keindahan madu pernikahan, ikatan suci yang diridhai Rabb sekalian alam…

Iya, besok pagi insya Allah kk pulang buat ngomong sama ortu…🙂

Yusuf menjawab sms Qiya…

Ok🙂

Jawab Qiya singkat.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s