Setiap Anak Begitu Istimewa

Lagi, kuputar ulang sebuah film yang menggugah ini. Satu film yang menggambarkan lukisan tentang apa yang ada di benakku sejak lama. Tentang sebuah keunikan yang ada pada diri setiap manusia. Tentang sebuah pengertian bahwa setiap manusia dilahirkan begitu istimewa.

Eshan, dalam Taare Zameen Par

Indah sekali Aamir Khan menggambarkan perjalanan seorang Eshan. Seorang anak SD yang dianugerahi disleksia. Secara sederhana bisa diartikan “sulit belajar”. Bila anak pada umumnya bisa mengerti huruf dan angka dalam satu atau dua pekan, maka anak istimewa ini harus membutuhkan waktu lebih dari itu, dan dengan cara yang berbeda, tidak seperti anak-anak pada umumnya.

Dengan kelihaiannya mengajar, pengalaman pribadinya, Aamir Khan yang dalam film itu berperan sebagai guru Ehsan, sanggup membuka tabir yang menutupi keistimewaan seorang Eshan. Daya nalar dan khayal yang dimiliki Ehsan begitu tinggi, sehingga dalam urusan menggambar atau melukis, Ehsan lebih unggul dibandingkan anak-anak pada umumnya.

Sayangnya, tidak semua orang seperti Aamir Khan dalam film itu. Kebanyakan orang hari ini lebih mudah memvonis. Kebanyakan orang hari ini menginginkan anak-anak mereka sama dengan anak-anak yang lain. Kebanyakan orang hari ini tidak mengerti bahwa setiap anak begitu istimewa. Istimewa di atas impian mereka masing-masing.

Saat melihat film ini, saya juga teringat sebuah kisah yang diceritakan seorang pemateri di acara Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan ke 5 beberapa tahun silam. Ia menceritakan sebuah kisah nyata yang telah diangkat dalam sebuah film. Terdapat seorang anak yang tidak memiliki impian dalam dunia hitung-menghitung dan angka-angka.

Impiannya ada pada seni, daya nalar, dan warna-warni yang indah. Namun, tidak dengan orangtuanya. Sehingga seolah-olah, anak-anak yang tidak tertarik pada angka adalah anak yang dapat divonis dan dilabeli dengan nama-nama buruk, seperti : bodoh, pemalas, tidak mendengarkan nasihat orangtua, tidak memiliki masa depan, dan bahkan kata-kata yang lebih buruk dari itu semua.

Kalian tahu, dalam film yang menggugah itu Aamir Khan berkata kepada Ayah Ehsan, bercerita tentang kehidupan masyarakat di Pulau Solomon. Satu adat yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat tersebut, adalah… Bila mereka ingin membabat tanaman atau rumput-rumputan yang mulai meninggi, maka mereka tidak perlu menebanginya satu demi satu. Mereka cukup berkeliling di sekitar pohon tersebut, sambil mencaci-maka pepohonan itu. Dan dalam beberapa hari, ajaib, pohon-pohon itu mati dengan sendirinya.

Maka, bagaimana dengan manusia yang memiliki hati selembut sutera?

Ia hidup, tapi dalam kematian mimpi dan harapannya.

Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, baik sebagai pendidik ataupun sebagai orangtua…

Kembali ke cerita dari salah seorang pemateri FIM V tadi… Anak yang senantiasa ditekan oleh kedua orangtuanya itu akhirnya menyeret langkah kakinya, hampir saja menanggalkan mimpinya untuk menjemput impian kedua orangtuanya.

Hingga pada suatu hari… Ada sebuah perlombaan melukis. Diam-diam ia mengikuti lomba tersebut, ia mengirimkan lukisan terbaiknya. Lukisan yang menggambarkan pertentangan antara mimpinya dan mimpi orangtuanya. Entah apa yang dirasakan para juri saat melihat lukisan ini, hingga mereka menobatkan lukisan ini sebagai luklisan terbaik dalam lomba tersebut.

Tangis

Kau tahu, apa yang ia lukis? Ia melukis seorang anak muda yang tengah menjalani proses wisuda. Namun, tidak dengan wajah yang cerah dan berbahagia. Anak muda itu diwisuda, memenuhi impian kedua orangtuanya, namun dalam lukisan itu, tampak dengan jelas, di bawah toga itu, air mata menetes membasahi pipinya…
=====

-Laili Al Fadhli-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s