Emo_Corner_by_Kuiji

Sesal (Bag. 2 – End)

Tidak terjadi apa-apa pada malam pertama itu, selesai shalat sunnah dua rakaat kami hanya lebih banyak terdiam, sambil sesekali membuka tanya jawab ringan… Setelah itu, kami pun tertidur hingga menjelang fajar…

Kondisi seperti itu berlangsung selama lebih dari satu bulan… Dan ‘Arfan tidak pernah mengeluh, bahkan bila ia diberi kesempatan untuk mengisi ta’lim di masjid dekat rumahku, seolah-olah ia menjadi suami paling bahagia di dunia, ia menceritakan kisah pernikahannya itu seperti sebuah lembaran keindahan tiada tara. Aku sendiri kadang merasa bersalah karena apa yang ‘Arfan ceritakan jauh dari kenyataan…

Hingga kini, aku masih menganggap diriku belum menikah. Bedanya, aku sekarang memiliki “pembantu dan bodyguard” bernama ‘Arfan… Bila aku butuh sesuatu, maka ialah yang pertama kali menyediakannya, tanpa basa-basi, tanpa perhitungan. Bila aku sakit, maka ialah yang pertama kali merasa khawatir, jauh lebih khawatir daripada diriku sendiri, bahkan bila sakitku sekedar teriris pisau dapur…

Tampak dari luar, rumah tangga kami seolah menjadi rumah tangga harmonis romantis yang penuh kata puitis saat harus berkirim pesan via HP atau FB, bahkan bisa membuat semua orang yang melihat kami merasa terbakar cemburu, apalagi buat para bujangwan dan bujangwati (ups… gadis maksudnya…😀 ), namun dibalik itu, terus terang aku masih belum mempercayai dia seutuhnya, apalagi bila harus memberikan cinta. Mungkin dalam perjalanan ini, aku akan berusaha menerima kehadirannya di sisiku, karena walau bagaimana pun aku telah menikahinya. Aku yang dulu menerima pinangannya, bukan orang lain. Namun, sekali lagi, untuk urusan cinta, hatiku masih terlalu rapat untuk membukakan pintunya.

*********

Hari demi hari kulalui dengan apa adanya. Pagi hari seperti biasa aku pergi mengajar hingga menjelang Dzuhur, sedangkan suamiku harus beraktivitas di luar sejak pukul 9 pagi hingga menjelang Maghrib. Kadang juga harus pulang menjelang tengah malam bila ia harus mengisi ta’lim di tempat yang agak jauh jaraknya dari rumah.

Yang unik, 80% pekerjaan rumah tangga diselesaikan dengan baik oleh ‘Arfan, mulai dari mencuci, mengepel, membersihkan pekarangan rumah, hingga membereskan tempat tidur… Apalagi membersihkan kamar mandi dan WC, aku biarkan ‘Arfan mengerjakan semuanya… Sedangkan aku lebih sering berada di ma’had untuk berbincang dengan rekan-rekan pengajar dan murid-muridku. Bahkan bila suamiku tidak keluar rumah untuk beraktivitas, aku lebih memilih untuk ditemani oleh sahabat-sahabatku daripada harus berdua-duaan dengan suamiku.

**********

Aku yang terlalu dimanjakan ‘Arfan memang seringkali terpuruk dalam kesendirian, terutama bila ‘Arfan harus keluar rumah hingga larut malam. Namun, aku sendiri masih sulit untuk menerimanya sebagai seorang suami yang sah bagiku. Karena berdasarkan pengalaman dan data empiris yang aku kumpulkan selama ini, semua lelaki sama saja, semuanya SRIGALA berbulu domba.

Kalian jangan tanya tentang Bapakku, aku belum pernah melakukan penelitian terhadapnya😀

Walaupun aku belum pernah mengalami proses ta’aruf atau khitbah sebelumnya, namun cerita dari sahabat-sahabatku selama di ma’had, keluargaku, dan para tetanggaku menunjukkan bahwa minimal terdapat 70% kecenderungan lelaki untuk berbuat khianat pada perempuan. Habis manis sepah dibuang. Apalagi para “bakwan” dunia maya yang sukanya ngegodain akhwat via internet dengan modal foto heroik bercelana ngatung, jenggot lebat a la kambing etawa, dan status copas yang mungkin dia sendiri tidak memahami isinya. Citra buruk para ikhwan !!!

**********

Enam bulan lebih kami menjalani kehidupan rumah tangga, hatiku lama-lama semakin terbelah… Di antara keengganan membuka pintunya, dan keseganan atas sikap ‘Arfan yang kian hari kian menunjukkan kedewasaan dan kesabaran tak berbatas. Coba bayangkan, hingga kini, aku belum mengizinkan ‘Arfan untuk menyentuhku !!! Namun ia tidak pernah menyinggung masalah ini. Baginya, cinta adalah pengorbanan dan pemberian. Tak pernah ia memikirkan balasan akan semua ini. Kadang aku menghadapi kegamangan yang luar biasa… Apalagi saat melihat ia berlelah letih, namun tetap hangat menyembunyikan keletihannya untuk sekedar memberikan senyum manisnya kepadaku.

Tak terasa, kadang spontan aku membalas senyumnya, ada rasa yang ingin kucurahkan, namun setengah hatiku memprotesnya, sambil mewanti-wanti, “Hati-hati, srigala berbulu domba..!!”

Kian hari kian kuat rasa itu mendobrak-dobrak pintu hatiku,,, Namun di sisi lain perlawanan pertahanan hati pun semakin keras melakukan tugasnya sambil berteriak-teriak yang membuat telingaku hampir pekak dibuatnya : PINTU INI TERTUTUP UNTUK SELAMANYA BAGI LAKI-LAKI ASING !!!

*********

Hari itu begitu basah tersiram hujan. Namun ‘Arfan tetap harus melaksanakan tugasnya untuk mengisi ta’lim ba’da Isya nanti. Biasanya, ia tidak pulang terlebih dahulu, mungkin beristirahat di masjid hingga Isya dan langsung pergi ke lokasi ta’lim. Begitu pun hari ini, sms darinya baru saja kuterima, ia akan pulang larut katanya. “Sudah biasa…” Hatiku bergumam…

Aku sendiri sudah mulai melunakkan hatiku, membiarkan rasa yang dulu terasa mendobrak-dobrak untuk mengalir seperti air, agar para tentara penjaga hatiku pun bisa luluh dengannya… Setidaknya dengan satu alasan yang akan membuat para tentara itu sadar : aku adalah istrinya…

Hmmm… Aku masih berbaring di atas tempat tidur, kuambil jam weker dari atas meja… 11.25… Sekitar sepuluh menit lagi biasanya ‘Arfan sampai rumah… Baiklah, aku akan berusaha… Melepaskan rasa tegang dan maluku di hadapannya, malam ini… Aku sudah bertekad untuk melaksanakan salah satu tugas terpenting dari seorang istri… Aku akan mempersilakan ‘Arfan untuk menyentuhku, yang pertama kali baginya, bagi kami…

30 menit kemudian…

Aku terlalu gelisah, pakaian sudah aku atur, begitu pun nuansa romantisme kamar yang sudah aku siapkan, tapi kenapa ‘Arfan belum datang? Maksimal 11.45 ia sudah mengetuk pintu… Apa aku harus mengirimkan pesan padanya?

Ah, gengsi rasanya bila aku harus mengungkapkan kegalauanku padanya, menanyai kabarnya dan mengapa ia harus terlambat malam ini… GENGSI !!!

Tapi, sudah hampir jam 1, mengapa ‘Arfan belum juga datang? Apa ia merasa bosan padaku malam ini? Karena dari sekian bulan yang dilaluinya, tidak ada satupun malam terindah baginya?

Atau jangan-jangan ia malah mencari kesenangan di luar? Oh, tidak mungkin… Bagaimana mungkin ‘Arfan melakukan hal itu?? Tapi, mungkin saja kan?? Bukankah semua laki-laki adalah SRIGALA??!! Aaargh, apa otakku sudah gila??

1.35…

Dan aku masih bermain dengan pikiranku sendiri… Atau apakah Allah memanggilnya??? Untuk dinikahkan dengan para bidadari syurga yang akan menggantikan diriku? Seorang istri yang belum bisa bertanggungjawab atas rumah tangga ini?

Tidak mungkin, tidak adil… Aku bahkan baru saja berusaha melunakkan hatiku, mengapa Allah mengambil ‘Arfan begitu saja? Dan membiarkan hatiku terluka… Aargh, menyebalkan… Bagaimana bisa aku terluka karena seorang laki-laki asing yang belum satu tahun aku kenal..??!!!

‘Arfan, ke mana sebenarnya kamu??!!!

2.05…

Kegalauanku memuncak… Aku mengambil HP ku dan kuhubungi nomor ‘Arfan… TIDAK AKTIF !!!

Apa yang terjadi??!!!

Aku benar-benar G A L A U !!

Apa ini??!! Aku menangis??!! Kenapa air mata ini terjatuh tanpa kuperintahkan??!! “Apa yang sedang kau tangisi Nurul Jannah??!!” Hatiku memberontak, sepertinya ia kembali mengerahkan pasukan terbaiknya untuk berdemonstrasi atas tumpahnya air mataku dari kelopaknya…

“Kau gila, menangisi seorang laki-laki asing??!!” Hatiku kembali berorasi…

“Tidak… Aku tidak menangisi seorang laki-laki asing… Aku… Menangisi… suamiku…” Bibirku perlahan terbuka… Begitu polos, begitu jujur… Mengalir begitu saja kata itu terucap…

Aku rasanya ingin berlari mencari ‘Arfan… Ya, aku harus melakukannya… Sebelum aku benar-benar kehilangannya… Sebelum aku benar-benar menyesal atas semua tindakanku selama ini… Sebuah sesal yang tidak akan pernah tergantikan… Bahkan, sesal yang saat ini sudah mulai kurasakan… Aku ingin… minta maaf… Malu sekali rasanya… Namun aku benar-benar… Aku benar-benar ingin memberikan rasa ini padanya… sungguh…

Derai air mata semakin deras membasahi pipi… Aku pun dengan segera mengambil kunci pintu depan… aku membukanya, dan…

Seorang laki-laki yang mengenakan jaket hitam, badannya agak basah… Oh tidak, basah kuyup… Sambil menuntut sepeda motornya… Siapa dia?!

“Assalaamu ‘alaykum…”

Suara itu…

“‘Arfaaaaan…!!!” Tak sadar aku berlari menjemputnya, langsung melompat dan memeluknya sesaat setelah ‘Arfan menanggalkan motornya yang basah dan… kondisi ban yang kempis, bocor kah??!!

‘Arfan sendiri terbengong-bengong melihat tingkah istrinya… Tak apa, kupikir, ini kejutan baginya, dan tentu saja kejutan bagi para prajurit penjaga hatiku…

“Assalaamu ‘alaykum…” ‘Arfan mengulangi salamnya yang tadi… ehm,,,, belum sempat kujawab… Kali ini terdengar begitu lembut dan… mesra…😀

“Wa’alaykumussalaam…” Jawabku sambil… sesenggukan… hah??!! Aku menjawabnya benar-benar sambil terbata-bata, sesenggukan, aku benar-benar menangis di hadapan ‘Arfan, seorang laki-laki asing, ups… di hadapan ‘Arfan, suamiku…😀

Beruntung sesal ini masih bisa diperbaiki, mulai hari ini… hingga esok hari kan kutatap mentari bersinar indah, sambil perlahan kuberikan rasa ini untukmu… Dan kali ini aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu…🙂

“’Afwan telat, ban bocor, ngga ada bengkel yang buka, jadinya harus didorong… Oiya, tadi ngga kasih kabar karena HP mati, mungkin karena kehujanan…” Kata ‘Arfan sambil menuntunku masuk rumah…

-END-

Cukanggenteng, Pasir Jambu, Bandung, 11 Syawwal 1433 H/ 29 Agustus 2012

-Laili Al Fadhli-

4 thoughts on “Sesal (Bag. 2 – End)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s