Sesal (Bag. 1)

Aaarrgh… Mengapa mereka tidak pernah mau mengerti??!! Aku kan baru 18 tahun, masih terlalu kecil untuk haru berurusan dengan satu buah kalimat yang menurut sebagian besar orang begitu bernilai dan dinanti-nantikan : pernikahan.

When Heart is Broken

“Ikhwannya sedang dalam perjalanan…” Suara Ustadz Fawwaz sesaat setelah membuka sms yang beliau terima di HP nya…

“Sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi…” Beliau melanjutkan…

Kami pun kembali berbincang-bincang. Aku sendiri tidak terlalu antusias menerima kehadiran ikhwan itu, apalagi untuk nadzhar, harus melepas cadarku di depan laki-laki asing yang belum pernah aku kenal sebelumnya, berat rasanya bila aku benar-benar harus melakukannya…

Semua ini gara-gara Bapak. Bisa-bisanya ia meminta Ustadz Fawwaz untuk mencarikan bagiku calon suami, padahal aku sendiri tak pernah memikirkan hal ini. Jangankan memikirkan, terlintas bayangan di kepalaku untuk menikah dalam waktu dekat saja tidak pernah !!!

Padahal baru bulan lalu aku menangis sejadi-jadinya saat seorang ikhwan yang juga pengajar di tempatku mengajukan diri untuk menjadi calon pendamping hidupku… Beruntung, belum aku jawab, katanya orangtuanya sudah menjodohkan dirinya dengan gadis pilihan orangtuanya… Ffiiuhh,,, sedikit lega waktu itu…

Tapi,,, aarrgh… Kenapa sekarang harus ada ikhwan lain??!!

**********

“Assalaamu ‘alaykum…” Terdengar suara seorang pemuda dari balik pintu rumahku…

“Wa’alaykumussalaam…” Kami serempak menjawab…

Ustadz Fawwaz dan Bapakku menyambutnya, menyalaminya, dan mempersilakannya masuk. Aku mengamatinya… Benar-benar mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki..!!

Hmm… “Biasa saja…” Aku bergumam… Ibuku menyikutku, karena mungkin gumamku terlalu keras hingga ia mendengarnya… Ups… ;p

Ya,,, wajahnya sih oke lah… Lebih ganteng bila dibandingkan John Martin… Badannya juga terlihat tidak loyo, walaupun tidak sekekar Donny Yen atau Jet Li… Ooh, pantas… “Aktivis” Wing Chun tho… Boleh lah…

Ia pun bercerita banyak tentang dirinya, keluarganya, aktivitas kuliahnya, pekerjaannya, usahanya, dan lain-lainnya…

Kini giliranku… Menyebalkan rasanya… Apalagi saat Mbak Mir (istri ustadz Fawwaz) menyuruhku untuk duduk tepat di depan ikhwan itu !!! Huwaaaa…..  Memangnya aku ini apa???!! Barang dagangan..??!! :s

“Cadarnya dilepas aja Dek…” Kata Mbak Mir saat aku tepat berada di hadapan ‘Arfan, ikhwan itu, yang berniat meminangku…

Haduh, aku sendiri sebegitu kikuknya, jangankan untuk melepas cadarku di depan seorang lelaki asing, untuk duduk sedekat ini saja aku sangat anti melakukannya. Sebal rasanya… Mungkin aku akan marah dan menyentak Mbak Mir bila tidak ingat akan kedudukannya…

Aku tetap tidak menghiraukannya dan hanya berdehem, lalu memperkenalkan diri sejelas-jelasnya… Sampai saat aku telah selesai menceritakan diriku, yang waktu itu terasa keringat dingin mengalir ke sekujur tubuhku. Merinding sekali. Beruntung aku tidak menangis seperti saat aku mendengar seorang ikhwan yang ingin meminangku bulan lalu itu…

Bapak dan Ibuku yang kemudian ikut-ikutan menyuruhku melepas cadarku, “Supaya tidak seperti membeli kucing dalam karung…” Kata Bapakku…

Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan, aku pun melepaskan cadarku, sekedar untuk memperlihatkan wajahku pada ikhwan itu… Makin merinding saja saat itu melihatnya memperhatikan wajahku dengan seksama, keringat dingin semakin mengalir deras, tubuhku bergetar… Belum satu menit cadarku terlepas, aku langsung mengenakannya kembali. Sedangkan ikhwan itu tersenyum-senyum melihat tingkahku… MENYEBALKAN !!!

Memangnya seberapa penting arti wajah bagi seorang lelaki?? Katanya inner beauty itu lebih penting daripada sekedar eksotika wajah dan fisik belaka… Kenyataannya… Bahkan seorang ikhwan yang sudah setingkat “ustadz” pun tetap tidak bisa menyia-nyiakan peluang ini… Coba bayangkan bagaimana bila akhirnya tidak terjadi pernikahan..??!! Kepalaku penuh sesak dengan berbagai pertanyaan yang mungkin wajar bagiku seorang perempuan yang dalam kenyataannya memang tidak terlalu mempedulikan masalah fisik. Walaupun aku sendiri tidak terlalu berharap pertemuan kali ini dapat berlanjut ke jenjang pernikahan…

**********

Dua hari setelah nadzhar itu, Bapak menerima SMS dari Ustadz Fawwaz, katanya ‘Arfan memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Sekarang tinggal menunggu jawaban dari diriku…. Aaaaaaarrrgghhh…. Koq bisa sih secepat itu??!!

Katanya tidak terburu-buru?? Tapi koq sekarang menodong diriku untuk memberikan jawaban??!!! Udah ngebet nikah kali tuh ikhwan… Heu…

Dua hari aku terus-terusan diberondong pertanyaan dari Bapakku sendiri, katanya jangan terlalu lama menahan jawaban, bila memang yakin katakan iya dan bila tidak katakan saja tidak. Padahal, sambil mengatakan hal itu, Bapak sendiri mendorongku untuk menerimanya, katanya ia ikhwan baik-baik, dari keluarga baik-baik, pengetahuan agamanya bagus, orang terpelajar, dewasa, sudah mandiri, de el el..!!!

Akhirnya… Aku bilang saja, “iya, in Sya Allah…” tak terlintas sedikitpun dari jawaban ini bahwa aku benar-benar serius ingin menikahinya…

**********

Satu pekan setelah aku memberikan jawaban, ‘Arfan dan keluarganya berkunjung untuk kali pertama ke rumahku, sekaligus untuk mengkhitbah diriku dan menentukan hari H pernikahan kami. Aku sendiri masih berpikir jika hari H masih terlalu jauh, bahkan aku sendiri masih tidak yakin bahwa aku akan menikah, kupikir saat memberikan jawaban itu tidak akan berlanjut ke prosesi yang lebih serius seperti ini. Makin bingung diriku… Aah,,, sudahlah…

Tanggal sudah ditetapkan, mahar telah ditentukan… Tepat 22 hari setelah hari ini akan dilangsungkan pernikahan antara ‘Arfan Muhammad dengan Nurul Jannah, diriku…

**********

Tidak terlalu megah, namun hampir seluruh sahabatku menghadiri walimah (pesta) pernikahanku, begitupun sahabat ‘Arfan. Semua tamu larut dalam kebahagiaan, akupun melihat wajah yang begitu cerah pada dirinya. Walaupun dirinya terpisah jauh di ruangan tamu ikhwan, namun aku beberapa kali sempat memperhatikan dari “singgasanaku”… Sambil berusaha menumbuhkan keyakinan dalam hatiku, bahwa aku saat ini sudah menjadi miliknya…

Miliknya??!! Aargh… Aku dilahirkan merdeka, dan akan tetap merdeka… Heu… Aku masih berharap jika hari ini bukanlah kenyataan… Aku masih berpikir bila hari ini hanyalah sebuah mimpi belaka !!

Sahabat-sahabatku seringkali mencandaiku, karena menurut mereka, ehm, suamiku, berat untuk menyebut kata “suami”, apalagi sampai ditambahi kata “ku” dibelakangnya…

Kembali ke komentar sahabat-sahabatku… Menurut mereka, suamiku adalah tipe ideal, face oke, bodi juga oke, pinter dan shalih lagi, setidaknya begitu menurut cerita Ustadz Fawwaz dan Mbak Mir yang sudah cukup lama mengenalnya.

**********

Ba’da Ashar tamu sudah semakin menyusut, tinggal tamu-tamu Bapakku yang datang dari luar kota, kurang dari 20 orang jumlahnya. Aku sendiri sudah digiring ke rumah bersama dengan ‘Arfan. Keluargaku menyuruh kami beristirahat di rumah, mmm, tepatnya di kamar pengantin,,, Haiyaaa….

Aku hanya terdiam, duduk di atas tempat tidur sambil memegangi tangan yang masih gemetar, lagi-lagi keringat dingin mengalir deras, menyebalkan…

Setelah lebih dari 30 menit kami saling diam, ‘Arfan memberanikan diri mendekatiku, ia duduk di sampingku… Aku menggesernya agar jarak kami semakin menjauh, tapi dia malah mendekatiku, ikut menggeser dirinya sampai tangan kanannya menjangkau kepalaku, dan tiba-tiba… Apa yang dia lakukan??!!

Dia menyentuh kepalaku, Yaa Allah, semakin terasa dingin sekujur tubuh ini. Kulihat bibirnya bergumam, berdoa… Ya, berdoa… Setelah itu ia melepaskan tangannya dan tersenyum. Lalu matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu, “Dah hampir maghrib…” Katanya…

“Ya udah siap-siap ke masjid sana..” Kataku datar,,, mmm, mungkin lebih tepat dibilang ketus daripada datar… Ia pun keluar dan bersiap diri ke masjid…

Ba’da maghrib kami sekeluarga makan malam sambil mengobrol ringan. Bapakku seringkali memujinya di depanku, mual mendengarnya, lebay… Heu…

Sedangkan Ibuku lebih banyak memberikan nasihat agar aku menjadi istri yang taat, istri yang tidak pernah menyakiti suaminya, istri yang… istri yang… dan segudang “istri yang” yang lainnya… Aku? Masih tetap datar, karena dalam hatiku ada doa, semoga semua ini hanyalah mimpi… MIMPI !!!!

to be continued

-Masih di atas pembaringan, Subang, 03 Syawwal 1433 H-

-Laili Al Fadhli-

2 thoughts on “Sesal (Bag. 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s