Berbagi Mahkota

Sosoknya yang begitu terasa istimewa, walaupun tidak tampak gagah layaknya seorang olahragawan, namun tutur katanya yang santun, wawasannya yang luas, dan bawaannya yang bersahaja sanggup meluluhkan hatiku, sejak pertama kali bertemu, dalam nadzhar (suatu proses melihat calon suami/ istri sebelum lamaran, pen.) malam itu.

Ustadz Hakim yang mengantarkannya menemui kami sekeluarga malam itu. Lucu rasanya saat mengingat dirinya yang tampak agak sedikit… ehm, kucel,,, mungkin karena kelelahan setelah seharian beraktivitas di kampus, namun juga tidak mengurangi manisnya saat ia tersenyum dan mulai bertutur kata. Sejuk mendengar gaya bicaranya yang renyah itu.

Ternyata, rasa yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh kedua orangtuaku dan adik-adikku. Bahkan, Risya, adik tertuaku, yang hanya berselesisih 2 tahun dariku sempat berbisik sambil meledekku, “Teh, rugi klo ditolak…” Aku hanya menyikutnya sambil tersenyum di balik cadar biru tuaku.

Sebelum pulang, Ustadz Hakim bertanya kepadanya tentang bagaimana keputusannya terhadapku. Ia mengiyakan tanpa rasa ragu sedikitpun, tampak dari matanya keyakinan yang mendalam. Ustadz Hakim pun tersenyum… Aku? Kikuk, kaget, tak tahu harus menjawab apa. Lagipula, mengapa dia harus menjawabnya sekarang, padahal akupun hanya melepaskan cadar beberapa saat saja, memangnya keliatan gitu… Ah, rasanya seperti memikul beban yang amat berat. Antara percaya dan tidak percaya, bahkan hingga saat itu aku masih merasa dan berharap bahwa nadzhar malam itu hanya sebatas bunga tidur saja, tidak lebih.

**********

Kurang lebih satu bulan sejak aku memberikan jawaban kepada Ustadz Hakim, kami pun resmi melangsungkan akad nikah. Ya, nikah..!! Dengan resepsi yang sangat sederhana, namun penuh makna…

Di dalam masjid itu dengan cepat ia menjawab ijab yang diucapkan ayahku, “Saya terima nikahnya Nadya Mardhiyah puteri Bapak dengan maskawin tersebut dibayar tunai…”

Deg,,, terguncang hatiku saat ia mengucapkan namaku…

Dan, lagi-lagi, aku merasa masih seperti mimpi. Bahkan saat aku harus bangun tidur dengan ada seorang laki-laki asing di sampingku yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, aku masih merasa bahwa aku bermimpi..!!

Lambat laun, aku pun terbiasa dengan kehadirannya. Bahkan begitu terbiasa berada di sampingnya, hingga bila ia harus pergi untuk beraktivitas dalam dunia kampus dan pekerjaannya, atau sekedar mengikuti ta’lim dan mengisi ta’lim yang hanya beberapa jam saja, hatiku seolah berhenti, suaraku tertahan di tenggorokan, dan tak terasa air mata jatuh membasahi pipi ini… Oh… apakah ini yang disebut rindu? Sebuah gejolak rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Begitu menyakitkan, namun indah saat aku ikuti pesona alurnya, yang tersisa hanya doa agar Allah senantiasa menjaga suamiku di bawah perlindungan-Nya.

Hari berganti pekan dan pekan berganti bulan dan bulan pun hampir menggenapi angka tahun. Semua lembaran waktu yang begitu panjang kulalui dengan senyuman, seolah berjalan di bawah payung pelangi yang berwarna-warni, semuanya tampak indah. Sebagai seorang suami, walaupun usianya masih muda (dan aku tentu saja jauh lebih muda darinya), namun cukup dewasa dalam mengelola rumah tangga, bahkan kawan-kawanku sering merasa iri dengan sikap dan perlakuan yang diberikan suamiku kepadaku, terlalu sempurna, menurut mereka. Seperti seorang Raja yang siap melayaniku kapan pun dan di manapun, setelah sebelumnya mengenakan mahkota yang cantik di kepalaku begitu anggunnya. Begitulah ia, suamiku, Ahmad Fayruz. Cintanya selalu menghiasi taman hatiku yang dahulu terkenal begitu angker untuk setiap lelaki yang berusaha mendekatinya. Ia datang menaburkan benih-benih bunga yang tumbuh indah nan berwarna, menyiraminya dengan kasih sayang yang tak pernah redup apalagi padam, walaupun hanya sekejap…

**********

Namun…

Saat ini aku masih tertegun, dadaku serasa sesak hingga seakan-akan jantungku telah menyentuh tenggorokan yang membuat kata demi kata sulit sekali terucap. Aku masih berusaha menahan agar air mataku tidak keluar dari kelopaknya. “Tidak..!! Aku harus tegar,” pikirku…

Dengan berat aku melangkah… Langkah-demi langkah yang telah bercampur rasa; kesal, marah, malas, geram, dan entah rasa apa lagi yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu.

“Assalaamu ‘alaykum…” sapanya… “Wa’alaykumussalaam…” jawabku, dengan suara yang sedikit tertahan.

Gadis mungil berkulit putih itu berdiri dari sofa ruang tamu sambil mengulurkan tangannya tanda ingin bersalaman denganku, aku meraihnya, tapi tidak lama, seperti ada duri yang tidak terlihat yang jika aku berlama-lama menyentuhnya aku akan terluka semakin dalam… Di sampingnya menemani seorang Ibu, yang usianya tidak jauh berbeda dari ibuku, senyumnya ramah, walaupun terlihat agak kikuk, aku mengerti. Namun, yang tidak aku mengerti adalah… mengapa ia bersikeras mengizinkan puteri sulungnya itu masuk ke dalam kehidupan kami??!! menjadi yang kedua bagi suamiku??!! dan hari ini ingin menyampaikannya langsung kepadaku..!!

Aku tidak memiliki jawaban apapun, karena aku tahu bahwa dalam Islam, sahnya poligami tidaklah mensyaratkan izin istri. Aku pun tahu bahwa rasa sakitku tidak akan mengubah apa-apa bila memang suamiku pun memiliki kehendak yang sama dengan gadis mungil itu…

Jelas saja, karena saat ku pandangi wajahnya, ia memang lebih cantik dariku… Ia anak kampus di salah satu Universitas terkemuka di Bandung, sedangkan aku??!! Hanya seorang gadis yang 6 tahun mondok di sebuah pesantren tradisional sejak lulus SD. Ahmad juga pernah bercerita bahwa orangtuanya termasuk keluarga terpandang, keluarga menengah ke atas. Ah, begitu jauh perbandinganku dengannya..!!

Pertemuan ini memang sengaja direncanakan oleh suamiku. Walaupun aku tahu, apapun jawabanku, yang paling berhak memutuskan adalah suamiku… Untuk masalah ini, 100% haknya sebagai seorang laki-laki. Aku mengerti itu.

“Bismillah…” Ibu yang di samping gadis itu mengawali pembicaraan… namun, belum lagi melanjutkan, tangan sang gadis menyentuh paha ibunnya sambil sedikit menepuk, lalu ia melihat ke arahku…

“Mungkin teteh sudah tahu maksud kedatangan kami.” Akhirnya sang gadis sendiri yang melanjutkan pembicaraan itu.

Aku sendiri masih sedikit tegang mendengar perkataannya. Sambil berjuta bayangan silih berganti tentang apa yang terjadi kemudian, tentang terbaginya hati suamiku kepada orang yang kini berada di hadapanku…. Mual rasanya saat bayangan-bayangan itu kembali menghantui kepalaku..!! Aku tetap berusaha tenang.

“Kak Ahmad juga mungkin sudah menceritakannya. Tapi, bisa jadi ada hal yang belum ia ceritakan. Dan memang biar saya sendiri yang mengatakannya..” Aku agak sedikit terkejut melihat keberaniannya, walaupun ada pandangan yang berbeda di matanya; ada sedikit rasa sedih yang tertahan, perih yang dipendam, namun ia sanggup tegar untuk mengeluarkan kata demi kata itu di hadapanku… Aku? Masih tetap diam…

“Kak Ahmad dan keluarga kami sudah cukup dekat sejak beberapa tahun terakhir, dan kami tidak mungkin melupakan kebaikan serta jasa-jasanya begitu saja.”

Aku pernah mendapat cerita yang sama dari suamiku, katanya ia dan keluarga gadis ini memang sudah seperti terjalin hubungan keluarga. Seberapa dekatkah? Entahlah, aku tidak tahu…

“Lalu atas izin Allah, ada seorang laki-laki yang tampak begitu santun, baik hati, serta dikenal rajin mengikuti ta’lim dan halaqah menghampiri kami… Ia kemudian berniat baik untuk menjalin hubungan keluarga dengan kami….

Dengan berbagai pertimbangan, saya dan keluarga pun menerima pinangan laki-laki tersebut, apalagi setelah berkonsultasi dengan Ustadz Haris, pembina halaqahnya, beliau menceritakan banyak sisi positif laki-laki tersebut…”

Aku sendiri masih belum mengerti arah pembicaraan gadis itu, memangnya ada apa dengan masa lalunya, bagaimana kisahnya hingga ia, bahkan keluarganya kini berharap bisa menjadi bagian dari cinta kami?

“Namun…” Kali ini ia melanjutkan ceritanya dengan nada yang sedikit terisak… Ia melanjutkan ceritanya,

“Apa yang kami harapkan kemudian ternyata tidak semanis dengan apa yang tampak di permukaan…”

Aku sungguh… Semakin tidak mengerti…. Dan memberanikan diri bertanya… “Apa dia melecehkan Haura’?” Tanyaku padanya dengan nada yang sedikit berhati-hati. Aku khawatir pertanyaanku menyinggung perasaannya…

“Nggak teh… Kami menikah…” Jawab Haura’. Terlihat ibunya menggenggam jemari Haura’, seolah-olah mengatakan kepadanya… “Sabarlah Haura’, Sabarlah…”

Deg..!! Kontan, aku pun terperanjat, kaget..!! Gadis mungil ini sudah menikah..??!! Ada kisah apa di balik semua ini, pikirku…

Kisah demi kisah yang memilukan selama menjalani kehidupan rumah tangga yang singkat itu diceritakan Haura’ dengan penuh ketegaran, walaupun kadang air mata mengalir tak tertahankan, namun ada kesabaran di pancaran matanya, ada kekuatan yang mendorongku untuk merasa iba… Iba?? Pada duri itu??!! Sejenak kembali perutku terasa mual… Aargh..

Tapi entahlah, tiba-tiba aku benar-benar harus merasa iba saat kutatap lebih dalam wajahnya. Apalagi saat melihat ibu Haura’ yang dari tadi duduk di sampingnya juga ternyata tidak sanggup menahan laju air mata, walaupun tanpa isak yang keras… Dan mataku pun ternyata sudah berlinang, walaupun masih sanggup ku tahan, namun aku bisa merasakan sakit yang mereka rasakan, mungkin…

“Setelah berbagai macam cara tidak berhasil memperbaiki rumah tangga kami, kami pun bercerai 6 bulan yang lalu, tepat 19 bulan sejak kami melangsungkan akad pernikahan…”

Haura’ sepertinya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Aku semakin bingung, karena walaupun aku merasa iba atas apa yang ia alami, aku tidak tahu dan masih belum mengerti, kenapa harus suamiku???!!!

“Kami mohon Nadya mengerti…” Kali ini sang ibu yang melanjutkan pembicaraan,,,

“Ibu ngga mau merusak rumah tangga Nadya dan Ahmad. Tapi,,, terus terang, Ibu nggak tahu harus kemana mencari pendamping yang tepat untuk Haura’, apalagi status Haura’ bukan lagi gadis… Ahmad suami yang sangat setia. Bahkan kami yang membujuknya agar ia bisa menerima Haura’. Tapi, ternyata yang ada di hatinya hanya Nadya.”

Kali ini suaranya makin berat, dengan nada yang sangat memelas… Suamiku… Yaa Allah, apa yang harus kulakukan, perasaan apa ini? Ujian macam apa yang kau berikan padaku Yaa Rabb??

“Ibu malu, Nadya…” suaranya agak naik, dan isak tangisnya makin terdengar…

“Ibu ngga tau lagi harus bilang apa, padahal Ibu sering mengisi ta’lim tentang rumah tangga, tentang kebahagiaan menikah di usia muda. Tapi Ibu sendiri tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga puteri Ibu..??!! Ibu malu, Nadya..!!??”

**********

Satu Hati Dua Cinta

Keluarga suamiku sudah berkumpul, begitupun keluarga Haura’. Aku, didampingi kedua orangtuaku dan 3 orang adikku pun ikut menghadirinya. Sebuah peristiwa yang akan mengubah kehidupanku kelak. Di mana aku harus berbagi mahkota dengan Haura’, seorang wanita yang sempat tersakiti dalam pelayaran pertamanya. Rasa yang membuatnya trauma kepada setiap laki-laki. Uniknya, kecuali suamiku, Ahmad… yang memang telah kenal dekat dengannya dan keluarganya sejak beberapa tahun silam. Apalagi saat kedua orangtuanya mendengar bagaimana sikap Ahmad dalam memimpin rumah tangga kami. Mereka sering membanding-bandingkan Ahmad dengan menantunya tersebut. Yang dengan itu mereka berpikir, tidak ada yang bisa menjaga, dan yang lebih penting, menerima apa adanya puteri mereka kecuali Ahmad, suamiku tercinta. Dan bisa jadi, sakit yang Haura’ rasakan dalam pelayaran pertamanya itu, begitu pun yang keluarganya rasakan jauh lebih sakit daripada apa yang kurasakan saat mendengar pernyataan poligami dari suamiku. Pikiran itu sedikit meringankan lukaku… Luka? Ya, luka… Bukankah wajar bila seorang wanita terluka??!! Namun, aku tidak mau larut dalam luka ini. Karena kutahu dan kusadar bahwa ada rasa yang Allah ciptakan begitu adil dan sempurna.

Rasa yang akhirnya membuatku sadar bahwa saat aku diciptakan menjadi seorang wanita berarti aku harus menerima berbagai konsekwensi dari Sang Maha Kuasa. Tidaklah mungkin Allah mensyariatkan poligami bila Dia menciptakan wanita begitu lemah. Tidak, sama sekali tidak..!!

Justru Allah mensyariatkan poligami karena Dia menciptakan wanita begitu kuat dan tegar. Kuat saat menyaksikan mahkota di kepalanya terbagi dua, tegar saat harus menyaksikan belahan jiwanya kini bisa berbelai mesra dengan orang lain. Orang lain yang akan menjadi saudara seperjuangan, baik dalam urusan rumah tangga, ataupun dalam urusan da’wah dan kehidupan masyarakat. Bukan diposisikan sebagai musuh yang harus saling bertentangan… Toh, kehadiran dirinya juga bisa menjadi “rival” positif dalam kehidupanku, baik dalam upaya merebut perhatiannya, suamiku, ataupun perhatian-Nya, Sang Pemilik Cinta…

Tidak ada yang tidak menginginkan satu cinta yang utuh dalam kehidupan rumah tangga mereka. Namun, saat pena taqdir Ilahi mencatatnya, walaupun berbeda dengan keinginan kita, sungguh cara terbaik adalah menerimanya dengan lapang dada. Allah telah menciptakan wanita dengan begitu luar biasa, hanya kebanyakan di antara mereka tidak, mmm… lebih tepatnya belum menyadarinya… Lagipula aku sadar bahwa suamiku bukan milikku… Suamiku adalah milik-Nya semata, apapun yang Dia kehendaki atas dirinya, tidak ada hak bagiku untuk menentangnya…

Sejenak kupandangi wajah suamiku yang datar, sesekali ia melihat ke arahku dengan tatapan yang sedikit gugup… Ada cinta yang tak terucap, ada rasa yang tertahankan…

Namun, lagi untuk kedua kalinya suamiku begitu lancar mengucapkan penerimaan sebagai jawaban ijab dari Ayah Haura’, “Saya terima nikahnya Haura’ Salimah puteri Bapak dengan maskawin tersebut dibayar tunai…”

**********

Subang, ditemani laptop dan infus, Syawwal 1433 H -Laili Al Fadhli-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s