Ana Berenti Ngaji, Akh (bag. 4 – terakhir)

“Antum bener, Kak…” Kata ikhwan yang mengenakan baju koko berwarna hitam… Sambil berbaring di tempat tidur ia berusaha bercerita banyak pada Al yang juga berada dalam kamar itu…

Mencari Spirit yang Hilang

Tampak ikhwan yang diajak bicara tersebut sedang sibuk mengemasi barang-barangnya,,, Sepertinya ia akan pergi ke tempat yang jauh dalam jangka waktu yang lama…

“Bener apanya..??” Kata Al, berusaha menanggapi rekannya sambil tetap bergerak ke sana ke sini untuk mengumpulkan barang-barangnya dalam sebuah koper besar plus sebuah ransel besar berwarna hitam.

“Tulisan antum, Kak… Ana bisa baca juga akhirnya… Antum bilang di sana klo harakah itu tempatnya orang-orang suci… Jadi orang kayak ana nggak mungkin ada di sana… Ana juga pengen keluar kayak antum…” Kata ikhwan itu sambil masih berbaring menyaksikan rekannya yang sibuk mengepak barang-barangnya…

“Tapi, ana heran… Antum kan orang luar biasa… Kenapa mutusin buat keluar..???” Ia melanjutkan… Tapi Al tidak terlalu menanggapi pertanyaan ini.

Melihat rekannya tidak menanggapi… Ia kembali berkata, “Ana yakin ada alasan khusus yang antum punya… Tapi yang pasti ana sekarang jadi pengen pergi juga… Ana serius, Kak…”

“Antum ngomong apa siy… Emang antum ngerti apa..?” Al yang masih sibuk berbenah itu mencoba menanggapi rekannya…

“Gini Kak Al…” Kata ikhwan tersebut sambil mengganti posisi dari berbaring menjadi duduk bersila di atas tempat tidur…

“Antum tau kan masalah ana yang itu…” Kata ikhwan itu

“Apa..?? Masalah antum sama Sari maksudnya..???” Al mencoba menerka maksud ikhwan tadi.

“Hanif, antum lebih tau kondisi antum… Kalian berdua juga sering komunikasi… Orangtua Sari juga deket kan sama antum… Kenapa nggak antum lamar aja..??” Al kali ini menanggapi dengan lebih serius pernyataan ikhwan yang disebut Hanif tadi.

“Masalahnya nggak sesimpel itu Kak.. Semuanya jadi tambah complicated” Hanif mencoba mengelak

“Antum yang bikin semuanya jadi complicated… Antum kenapa harus bermain api klo nggak mau terbakar..?!” Kali ini Al benar-benar serius menanggapi Hanif dan tatapan mata yang sedikit tajam ke arah mata Hanif… Ia bahkan berhenti sejenak untuk lebih fokus pada kata-katanya…

“Hanif, sekuat apapun benteng yang dibangun akhwat untuk menjaga hatinya, klo terus-terusan digedor, pasti runtuh juga… Antum harus bertanggungjawab atas semua ini…” Al menatap Hanif dalam dan tajam… Sedangkan Hanif tertunduk lesu mendengar kata-kata Al…

“Klo Cuma karena masalah ini antum keluar dari Jama’ah… Pikiran antum kerdil, akh.. Sangat kerdil.” Al kembali berkata sambil berdiri dan mengambil sebuah gamis berwarna putih di gantungan sebelah kirinya… Ia kemudian melipat gamis itu untuk dimasukkan ke dalam kopernya…

Hanif hanya terdiam… Kata-kata Al begitu menusuk hatinya… Ia semakin merasa bersalah dan seolah-olah menjadi manusia paling hina di antara “kesucian” para aktivis da’wah di sekitarnya…

“Hanif, dulu ana punya temen yang juga keluar dari jama’ah… Alasannya sederhana… Ia terlalu lelah dengan berjubelnya amanah… Sampai-sampai di akhir perpisahan kami, dia bilang klo amanah yang dia emban saat itu adalah amanah terakhirnya… Setelah itu dia bilang untuk nggak mau megang amanah lagi… Dan akhirnya dia benar-benar pergi… Padahal potensinya luar biasa…”

Hanif terlihat begitu serius mendengarkan cerita Al…

“Sekarang dia kemana, Kak..?” Kata Hanif setelah sempat menelan ludah dengan suara yang sedikit parau…

Wallahu a’lam… Ana sekarang Cuma bisa doa supaya dia tetap berada dalam kebaikan…” Al memberi penjelasan sambil berjalan ke luar kamar…

Hanif masih termenung… Dia tidak mengerti semua ini… Al yang saat ini sudah berada di luar harakah ini justru tidak mendukung dirinya…

Al kembali masuk ke ruangan sambil berkata, “Jangan dipikirin lagi… Nggak ada manusia yang sempurna… Antum bagus udah sadar klo antum itu salah… Tapi bukan berarti antum menjadikan hal itu sebagai alasan untuk keluar dari jama’ah kan..??”

“Bukan gitu, Kak… Pandangan orang ke ana udah berbeda… Mereka nganggap ana dah bener-bener kotor. Padahal perasaan ana ke Sari bukan perasaan yang main-main… Ana serius, Kak.” Hanif kembali mengelak.

“Kan tadi ana dah bilang, lamar aja. Daripada nggak jelas kayak gini. Antum mau liat Sari terus-teguran ditegur Murabbiyahnya gara-gara dapet sms nggak jelas dari Antum…” Kata Al sambil membawa kopernya ke luar ruangan.

“Ana dah bilang itu ke Sari, tapi dia bilang klo masih banyak tuntutan dari keluarganya… Kemungkinannya kecil klo kami nikah dalam waktu dekat, Kak…” Kata Hanif

“Antum ngobrol begitu sama Sari..??” Al bertanya sambil mengernyitkan dahi…

“Iya Kak…” Kata Hanif pelan sambil kembali menundukkan wajahnya… “Tapi, untuk sms-sms ana ke Sari isinya penting koq… Beberapa kali yang terakhir itu kita berdua ngobrolin kondisi Ibunya yang sekarang dah mulai sakit-sakitan lagi. Karena waktu Jumat kemarin ibunya nelpon ana… Beliau banyak cerita tentang kondisinya…” Hanif melanjutkan

“Hmmph… Gini, Hanif…  Ana nggak tau harusnya gimana… Tapi, pilihannya Cuma dua: menghalalkan atau meninggalkan… Murabbiyahnya tau nggak klo antum dah deket sama keluarganya..??” Al menasihati Hanif

“Murabbiyahnya nggak tau apa-apa… Yang dia tau, ana dan Sari sering komunikasi, itu aja. Dan dia bilang klo komunikasi Ana sama Sari nggak sehat… Sari yang cerita ke ana…

Ana pengennya pilihan yang pertama… Insya Allah ana siap… Tapi Murabbiyahnya kayaknya nggak ngizinin karena kan tadi ana dah bilang klo Murabbiyahnya dah nganggep ana kotor banget..” Hanif menjelaskan…

“Murabbi antum tau nggak..??” Tanya Al

“Belum tau…” Kata Hanif

“Kenapa nggak coba kasi proposal aja.” Kata Al

“Murabbi ana nggak merekomendasikan Mutarabbinya yang masih kuliah buat nikah, Kak… Apalagi ana masih semester 4…” Hanif kembali tertunduk lesu…

“Susah juga klo gitu…” Al terlihat bingung…

“Makannya, daripada ana juga tertekan di tengah komunitas ini, mendingan ana pergi… Apalagi harakah ini kan butuh orang-orang yang bersih, bukan kayak ana… Nggak bisa jaga hati, jaga lisan, jaga pandangan, de el el… Ana pokoknya nggak layak berada di tengah-tengah mereka… Dan harapan ana saat ana keluar dari sana, hubungan ana sama Sari juga bisa berubah… Jadi, nggak ada masalah lagi kan…” Hanif menjelaskan panjang lebar…

“Tapi tetep, antum nggak bisa jadikan itu hujjah (pendapat/ alasan, pen) buat keluar dari da’wah.” Al kali ini berbicara pada Hanif dengan tatapan mata yang lebih tajam.

“Antum itu aneh… Kenapa halang-halangin ana buat keluar siy..?? Padahal entum enak banget waktu keluar, apalagi antum kan udah mu’ahadah, Kak..!!” Hanif mempertanyakannya dengan suara agak tinggi dan sedikit kesal.

Fokus

“Alasan ana keluar dari jama’ah itu bukan alasan main-main, Hanif..!!” Al menjelaskannya dengan nada suara yang semakin tajam.

“Emang alasan antum sebenernya apa, kak..?” Hanif melunak

“Antum serius mau tahu..???”

Lalu Hanif mengangguk…

Al termenung sejenak… Pikirannya melayang ke dalam rangkaian kata yang ditulis oleh para ulama yang termaktub pada buku-buku itu… Juga pada ceramah-ceramah yang ia dengar dari Al Ustadz Aman Abdurrahman dan Al Ustadz Abu Bakr Ba’asyir –fakkallahu asrahuma– …

Dengan nada yakin, Al pun membuka lisannya dan berkata pada Hanif, “Tawhid dan Jihad Qital..!! Itu alasan ana.” Kata Al sambil menggendong ranselnya ke luar ruangan. Ia kemudian menyimpan ranselnya di ruang tamu, di sebelah kanan kopernya, sedangkan Hanif yang masih hijau dalam dunia harakah Islamiyah (pergerakan da’wah Islam) hanya terdiam, tidak dapat mengerti seutuhnya maksud dari jawaban Al… Namun yang ia tahu, bahwa alasan Al untuk tidak bersama mereka lagi bukanlah alasan yang main-main, juga bukan karena sedikit goresan hati, masalah-masalah picisan atau hal semisalnya. Hanif yakin bahwa alasan Al dibangun di atas prinsip dan hujjah yang kuat… Ia pun kemudian tersenyum…

–THE END–

WALLAHU A’LAM…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s