Ana Berenti Ngaji, Akh.. (Bag. 3)

Malam sudah semakin hening… Lampu-lampu rumah sudah mulai padam tanda para penghuninya mulai beristirahat.

Aksi Demonstrasi

Dalam sebuah ruangan sederhana 3×4 meter, seorang ikhwan tampak masih begulat dengan buku-bukunya. Saat ini ia sedang berhadapan dengan Prinsip-Prinsip Jihad yang ditulis Syaikh Abdullah ‘Azzam… Di sebelah kanannya tampak begitu banyak buku berserakan. Dari Usamah Untuk AktivisAyaturrahman fii Jihadi AfghanRisalah Ta’alim Hasan Al BannaPetunjuk Jalan Sayyid QuthbKe Baghdad Aku Meminang Bidadari dan Al Jami’ Fii Thalabil ‘Ilmi Asy Syariif. Di sebelah kirinya tampak mushaf tarjamah Syaamil, dan beberapa jilid dari kitab penjelasan (syarh) hadits Bukhari karangan seorang ulama luar biasa, Ibnu Hajar Al Asqalani, Kitab Fathul Baari.

Entah tema apa yang sedang ia kaji malam ini… Diiringi nasyid-nasyid jihad-nya Abu Ali yang diputar dengan volume tidak terlalu tinggi, matanya tampak tajam melirik dari kata ke kata… Saat ada  kalimat yang tidak ia fahami, ia langsung membuka buku-buku lain di sebelah kiri dan kanannya. Pada saat ia membaca ayat suci al Quran dalam buku tersebut, segera ia mengambil mushaf syaamilnya dan menandai ayat yang tercantum dalam buku itu dengan stabilo berwarna hijau daun.

Dinginnya malam tampaknya tidak membuat dirinya tergoda untuk menikmati indahnya mimpi…

Tiba-tiba ia tertegun, saat salah satu nasyid favoritnya terdengar dari speaker  yang ia pasang di bawah meja.

Sayup-sayup terdengar suara Abu Ali melantunkan nasyid bak singa yang sedang mengaum… Membangkitkan semangat di dalam dada… Membakar ruhiyah hingga pikiran pun jauh melayang ke pelataran Al Quds… Lalu ia berjalan ke halaman-halaman Baghdad, Afghanistan, Kashmir, dan Chechnya…

Ah, lirik itu… Seperti sebuah semangat yang tiada pernah padam…

Tanpa sadar bibir Al bergerak mengikuti lantunan Abu Ali dalam beberapa bait nasyid nya.

أيها الآساد ما هذا التغاضي .. لا أرى فيكم غيوراً أو وفيَّا

هذه القدس تناديكم مليَّا .. تبعث الصوت إلى الأُسد فهيَّا

أين فيكم عاشق الخُلد وأين .. باذل الروح إلى المجد رضيَّا

كيف يُسقى شعبنا ظلماً مريراً .. ويُباد الشعب شيخاً وصبيَّا

=====

 

Akhirnya, Prinsip-Prinsip Jihad Abdullah Azzam telah selesai dikaji… Ia kemudian melirik ke arah jam dinding di sebelah kirinya… jarum pendeknya hampir menunjuk angka 1, dan jarum panjangnya tepat berada di angka 10.

Ia beranjak dari tempat duduknya ke kamar mandi. Ia berwudhu dan kembali ke ruangan itu.

Setelah meng-klik tombol off dari winamp yang dari tadi berputar, ia membentangkan sajadah dan segera melaksanakan witir 3 rakaat sekaligus, dengan tidak lupa menyertakan qunut pada rakaat terakhir witirnya… Ia terisak begitu keras dalam qunut itu… Entah apa yang diucapkannya…

Selesai shalat ia termenung…

Ia menatap sebuah foto di atas almari kayu berwarna coklat itu.. Tampak beberapa ikhwan sedang berbaris, di depan barisan tersebut terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Bakti Sosial Partai Keadilan Sejahtera”…

Ia tersenyum… ada rindu… Ada kehampaan saat ia pergi dari komunitas itu lebih dari satu tahun yang lalu…

Ia menyadari bahwa keikutsertaannya dari ta’lim yang satu ke ta’lim yang lain belum sanggup menggantikan perjumpaan pekanan yang dulu sangat rajin ia ikuti…

Bayangannya tertuju pada wajah seorang sahabat, saudaranya, Rizal Fawwaz… Terbayang begitu banyak kenangan indah yang pernah mereka jalani bersama… Saat berpanas-panas di jalanan, menangkat panji bergambar tangan yang hampir menggenggam bumi… dengan warna gradasi hijau-putih di belakangnya…

Saat bersama-sama harus rela hutang demi menyelenggarakan sebuah gebyar Islami di fakultas, karena proposal yang diajukan sedikit sekali yang tembus…

“Allah…” lirihnya… “Aku hanya berharap tetap menjadi bagian dari para da’i dan mujahid, di mana pun aku berada…” Pintanya pada Allah subhanahu wa ta’ala dini hari itu…

*****

Sabtu 15:56 Masjid Al Amanah, Jatinangor…

“Akh Ical, antum besok ikut..?” Kata seorang ikhwan berkacamata kepada Rizal Fawwaz.

“Insya Allah, akh.” Jawab Ical. “Kumpulnya di mana..?”

“Di pangdam (pangkalan Damri-pen) ya, jam stengah empat pagi. Kita shubuh di perjalanan. Jangan lupa QL dulu. Ok..??” Kata ikhwan itu

“Ok…” Jawab Ical

Tiba-tiba seorang ikhwan yang dari tadi duduk sambil membaca buku menimpali, “Emangnya besok ada acara apa, di mana..??”

“Antum emangnya nggak dapet jarkom, Akh Fery..??” Kata ikhwan berkacamata kepada ikhwan yang tadi sedang membaca buku di teras depan masjid.

“Nggak, akh.” Kata ikhwan yang disebut Fery itu…

“Kita aksi solidaritas untuk Iraq, akh. Di Jakarta.” Kata Ical

“Oh gitu… Hizb ya..?? KAMMI turun nggak?” Kata Fery

“Iya, kita pake atribut hizb.. KAMMI nggak turun, akh…” Kata ikhwan yang berkacamata itu memberikan penjelasan.

“Ok lah, insya Allah ana juga ikut. Kita berangkat bareng ya Akh Reza.” Kata Fery mantap kepada ikhwan yang berkacamata.

“Siipp…” Kata Reza sambil mengacungkan jempolnya.

******

07.22, Ahad, Pelataran Masjid Istiqlal, Jakarta…

“Udah siap semuanya akh Salman..!” Seorang Ikhwan berkata sambil berlari kecil menghampiri Salman.

Thayyib. Antum yang bagi-bagi formulir sukarelawan ya…” Kata Salman ke ikhwan yang tadi berlari kecil untuk menghampirinya.

Na’am, akh…” Jawab ikhwan itu.

“Akhi Salman, Ustadz Abu Yusuf nunggu antum di dekat parkiran bus.” Teriak seorang ikhwan bergamis warna putih yang bergegas dari arah utara.

“Ada apa, akh..?” Kata Salman kepada ikhwan itu.

Wallahu a’lam.. Antum lebih baik ke sana aja… Kayaknya penting banget.”

Thayyib. Antum bantu-bantu akh Ardhi bagi-bagi formulir ya…” Salman berkata kepada ikhwan itu sambil memberikan isyarat untuk pergi.

Na’am akh… Kata ikhwan bergamis itu.”

******

Bundaran HI… Ahad 09:22 WIB…

Ratusan ribu orang telah berkumpul untuk melakukan konvoi dari HI menuju kedubes Amerika… Mereka memprotes aksi Amerika menginvasi Iraq tanpa alasan yang jelas. Tuduhan Amerika terhadap program nuklir di Iraq dianggap tidak memiliki bukti yang nyata.

Ratusan bendera berkibar… Yel-yel yang mengecam Amerika dan sekutunya pun diteriakkan… Dipimpin oleh asatidz dari mobil sound, massa bergerak dari bundaran HI menuju kedubes Amerika.

“Akh Salman, ana langsung ke depan kedubes aja ya. Motong jalan.” Kata Ardhi kepada Salman.

“Ya, akh… Tafadhal… Ana mau ikut barisan sambil bagi-bagi leaflet buat sosialisasi sukarelawan ke Iraq.” Jawab Salman.

“Ustadz, jumlah massa luar biasa besarnya. Terutama dari PKS. Kita nggak bisa mengondisikan… Banyak yang sekeluarga juga, jadi barisan ikhwan dan akhwat sedikit ikhtilath…” Salman melapor kepada Ustadz Abu Yusuf…

“Yang penting kita sudah berusaha meminimalisir kemudharatan, ya akhi…” Ustadz Abu Yusuf menanggapi laporan Salman dengan bijak sambil tersenyum. “Ana sudah berkoordinasi dengan pihak PKS, FPI, MMI, dan yang lainnya, Ana juga sudah mengingatkan untuk menjaga barisannya masing-masing. Insya Allah tidak akan mengurangi keberkahan aksi kita. Jika pun ada orang yang cari kesempatan duniawi, kita serahkan pada Allah.” Ustadz Abu Yusuf melanjutkan.

*****

Rombongan aksi berjalan perlahan hingga tiba di depan kantor kedubes Amerika. Mereka berhenti beberapa jam di sana. Aksi dilanjutkan dengan orasi dari berbagai organisasi, termasuk seorang Pastor Katolik yang juga menolak agresi militer Amerika terhadap Iraq.

Setelah itu aksi ditutup dengan doa yang menggetarkan hati setiap orang yang mendengarkan… Doa keselamatan bagi umat muslim. Doa memohon pertolongan bagi muslimin di Iraq dan doa memohon kehancuran bagi musuh-musuh Islam…

Setelah penutupan aksi, massa dibubarkan dengan tertib….

Saat itu, seorang ikhwan sambil berkalung sorban berwarna putih dengan corak berwarna hitam berpidato di atas mobil colt yang sudah dilengkapi sound… Ia mengajak umat Islam yang hadir di sana untuk menjadi sukarelawan jihad ke Iraq… Bagi yang berminat hanya tinggal mengisi formulir pendaftaran… Syaratnya hanya satu: Muslim..!!!

Ical yang dalam perjalanan pulang dari kedubes menuju tempat parkiran bus di pelataran Masjid Istiqlal terpana melihat ikhwan yang begitu semangat mengobarkan semangat jihad dan mengajak umat untuk datang ke Iraq… Ia tertegun… Ada surprise, kaget, sekaligus… resah, gundah, dan perasaan tak menetu lainnya saat sadar bahwa ikhwan yang dari tadi berpidato adalah sahabatnya tercinta yang sudah hampir satu tahun tidak ia jumpai: Salman Al Farisi…

Tak terasa air mata membasahi pipinya… Ia semakin yakin bahwa Al, begitu ia biasa menyapa Salman, akan tetap berjihad fii Sabiilillah… Al yang saat itu mengenakan gamis putih dengan celana panjang ngatung (di antara betis dan mata kaki) yang juga berwarna putih tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh Ical… Ia terus mengajak muslimin untuk ikut ke Iraq… Namun, begitu sedikit orang yang mau mendaftarkan diri ke Iraq… Bahkan sebagian besar peserta aksi solidaritas untuk Iraq itu tampak acuh tak acuh mendengar seruan Al…

“Ada apa dengan para ‘mujahid’ ini..???” Tanya Al di dalam hati…

******

To be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s