love-song1

Sebuah Cerita

Suara hembusan angin mengiringi aku untuk melalui beberapa lembar hari yang berlalu, menutup kenangan pada setiap halaman masa lalu. Karena masa lalu memang bukan untuk disesali apalagi diratapi. Karena kutahu waktu takkan pernah berputar ulang dan hari kemarin takkan pernah datang ‘tuk kembali. Maka kutatap harapan itu, harapan yang terpancar dari tatapan cakrawala di antara ruang-ruang sunyi hati ini.

Sudahlah…, Pikirku. Aku dan atau siapapun yang dapat menghargai sedikit ketulusan dan arti segenggam kesunyian pasti tak akan dan tak akan pernah mungkin untuk berpaling dari secawan kenangan. Bukan untuk ditangisi, disesali, apalagi diratapi. Tapi untuk meredam perasaan itu. Ya… Kucoba ‘tuk meredam perasaan yang lama menghujam. Cinta selalu berawal dari rasa, namun perasaan tak selalu memunculkan cinta. Seperti api curiga yang memberikan panas pada diri ini, membakar kecemburuan masal, perasaan dan cerita masa lalu yang seharusnya takpernah terungkap ataupun tersingkap.

Dinginnya malam ini seolah menyapa aku dengan isyaratnya yang semakin kelam. Perlahan kudengar suara…. Suara asa yang takseharusnya berada disini. “Jangan kau pendam perasaanmu, sahabatku.” Seolah angin malam berbisik padaku sambil membelai aku di kesendirianku.

Malam kian larut, namun mata masih sanggup menatap bintang yang sepertinya enggan ‘tuk menari di hadapanku. “Bulan, alunkanlah lagu cinta untukku!” Teriakku pada purnama. “Agar aku merasakan sedikit jauh dari gundah dan gelisah, agar bintang bisa menari mengikuti alunanmu dan menari dihadapanku” tambahku dengan suara yang sedikit berbisik. Perlahan mata ini mulai menutup pandangannya dari berjuta keindahan malam.

“Raf….” Kudengar bisikkan gadis dengan suara yang sedikit terisak. Oh, fajar telah kembali menggantikan pekatnya malam. Aku masih di sini, di tempatku mengungkapkan rasa pada malam. Kulihat di hadapanku sesosok gadis berkerudung yang sudah sangat aku kenal. Namanya Silmi, putri salah seorang teman ayahku. Dia tinggal di rumah saudaranya yang jaraknya tak jauh dari tempatku saat ini. Kulihat air mata yang menetes di pipinya. Akupun bingung harus berbuat apa. Harus kucari siapa agar aku terbebas dari belenggu ini. “Rafi, aku tak pernah menyalahkanmu, bicaralah untuk kau ungkapkan segalanya pada dunia, padaku agar kutahu apa yang sedang kau rasa saat ini” Dia berkata sambil menatapku tajam. Aku seperti dalam sebuah himpitan masa yang menjerat jiwaku dan menyesakkan nafasku. Aku sungguh tak sanggup untuk membuka bibirku. “Raf….” Kali ini dengan suara yang sedikit berteriak. Dia kembali menatap, kali ini dengan penuh simpati dan pengharapan. Harapan tentang sebuah jawaban yang seharusnya keluar dari mulut ini.

“Maafkan Aku…” Hanya kata itu yang sempat kurangkai sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan dirinya. Dalam langkahku kudengar isak tangisnya, tapi aku sungguh tak mampu untuk berbuat apa-apa lagi. Fajar semakin menghilang, kedua jarum pada jam tangan ku sudah menunjuk pada angka lima. Aku hampiri sebuah tempat yang sudah lama takaku kunjungi.

Kulepaskan alasku. Kulangkahkan kaki ini. Air mata pun tak terasa membasah di pipi ini. Kubasuh bagian tubuhku dengan siraman sejuk air pagi dari sebuh sudut gedung tersebut. Kurasakan sesuatu yang lain saat aku membasuh bagian tubuhku. Setelah itu aku langkahkan kaki ini ke ruang utama tempat tersebut. Kuangkat tanganku sambil menyebut sebuah nama yang lama ‘tak keluar dari mulutku. “Allahu akbar.”

Allah, kuungkapkan segala perasaanku pada-Mu. Bukan maksudku untuk menyakiti siapapun di antara para hamba-Mu…. Hatiku menjadi sedikit luluh di tempat tersebut. Kubersujud dengan penuh kerendahan diri. Ku tak ingin beranjak dari tempat ini, ku tak ingin menyakiti siapapun yang mengharapkan aku untuk mendampingi hidupnya.

Ya, beberapa bulan yang lalu kedua orang tuaku mengajak aku untuk menjumpai kedua orang tua Silmi. Mereka membicarakan perihal hubunganku dengan Silmi. Siapa yang tak senang mendapatkan seorang gadis berparas dan berakhlaq indah. Kedua orang tua Silmi pun menyambut dengan baik. Begitu pun dengan Silmi.

Bukan aku tak mencintainya saat ini. Tapi….

“Kejujuran itu lebih baik walau terasa pahit, daripada dusta yang terus membebanimu dengan sesuatu yang ‘tak seharusnya kau pendam.” Tiba-tiba suara mengalun dari arah belakang tempatku duduk dan termenung. Aku terperanjak dari tempatku duduk. Kulihat wajah cerah seorang pemuda yang gagah. Sambil tersenyum ia menghampiriku. “Tadi aku bertemu Iwan, dia mengatakan bahwa dia melihatmu di sini, lalu aku langsung kesini untuk menghampirimu.” Suaranya sedikit menyejukkan hatiku. Dia adalah kakakku sekaligus sahabat terbaikku. Namanya Arif. Dia tahu segalanya tentang aku dan kehidupanku. “Jangan bersedih lagi. Jika kau memang benar-benar ingin berubah, semua pasti dapat memahamimu…” “Tapi” Aku memotong kata-katanya. “Aku sudah tak layak untuk mendampingi seorang wanita, apalagi Silmi, dia gadis yang begitu istimewa. Jika dia tahu siapa aku sebenarnya apakah dia masih mau untuk menerimaku ?”

“Aku sudah tahu.” Aku benar-benar lebih dari terkejut. Di balik pintu ruangan ini muncul seoarang gadis berkerudung putih. Dengan sedikit tersenyum dia mencoba untuk tetap tegar dan mencoba untuk memahami sesuatu. Namun aku tak tahu apa sesuatu itu. “Bukan tanpa pertimbangan saat aku menerima lamaranmu dua bulan yang lalu.” Dia berkata dengan penuh dengan ketegasan yang disertai kelembutan yang membuatku luluh di hadapannya. “Jika saat ini kau memang seperti ini, lalu kenapa ?” Dia mencoba untuk lebih menegaskan kata-katanya. “Pernikahan itu tidak hanya untuk kehidupan di dunia.” Dia berkata dengan lebih lembut.

Aku hanya bisa terdiam…. Tak ada kata-kata yang sanggup untuk keluar dari mulutku. “Allah, maafkan aku.” Hatiku berbisik.

“Bukan aku tak mencintaimu, Silmi. Aku hanya tak ingin kau berdampingan dengan seorang yang memang tak layak untuk didampingi seorang gadis, apalagi dirimu, engkau begitu istimewa.” Aku mencoba untuk menahan perih saat mengatakan itu padanya dengan wajah yang tertunduk. “Aku mencintaimu tulus, Raf. Tak pernah mengharapkan apapun, tak peduli apa yang akan dikatakan oleh orang lain. Karena kau tetaplah seorang manusia, seorang yang dapat mencintai dengan tulus pula.”

“Aku tak tahu harus berkata apa. Aku bangga bisa mencintai seorang sepertimu, tapi virus di dalam tubuhku bukanlah virus yang tidak berbahaya. Aku hanya tak ingin membuatmu terluka dan tersakiti. Aku hanya tak ingin engkau tertular virus ini.” Aku berkata sambil mencoba untuk tetap tegar.

“Apakah virus itu dapat menular hanya karena aku mencintaimu, hanya karena aku hidup bersamamu ?” Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya yang amat tegas. Tak terasa tetesan air mata benar-benar  membasahi pipi ini, mengalir tanpa henti. Aku sungguh tak mengerti ada seorang gadis yang begitu berharap pada seorang yang sudah mengidap penyakit yang amat berbahaya, yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Allah, cinta-Mu kepadaku ternyata lebih besar dari yang kukira, namun aku tak pernah bisa untuk membalasnya. Aku malah mengotorinya dengan kehidupan malam yang penuh nisata dan perbuatan-perbuatan keji.

Astaghfirullah… Jika saja aku bisa untuk sedikit mengerti akan jalan-Mu, aku pasti tak akan tersesat, aku pasti tidak akan mengidap penyakit ini. Allah, aku sungguh menyesal…

Aku tersungkur di dalam ruangan tersebut. Kakakku menghampiriku sambil mencoba untuk membantuku untuk tetap berdiri. Allah, apa yang terjadi ? Tiba-tiba pandanganku memburam. Aku tak sanggup untuk mempertahankan diriku sendiri. Allah…. Aku mendengar suara Silmi yang berteriak “Raaaff….” “Rafi, Rafi, Rafi” aku mendengar suara kakakku yang kini menahan tubuhku yang hampir tergeletak. Ya, Allah… Suara itu makin tak terdengar dan tatapanku pun semakin pudar.

Apa itu? Siapa itu ? Aku tak pernah mengenal seorang pria dengan badan yang amat gagah seperti itu. Tapi dia terus memanggil, dan sepertinya akan membawaku ke suatu tempat. Oh… Kali ini aku benar-benar takbisa melihat dan mendengar. Allah, izinkan aku untuk mengucapkan kata cinta pada-Mu… dan, tentu saja padanya. Allah, maafkan segala salahku, pada-Mu, padanya dan pada siapapun yang pernah tersakiti. Allah… Allah… Allah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s