Saat Si “Banci” Menjadi “Laki-Laki”

Di sana, pada saat itu, sudah menjadi tradisi bahwa setiap anak laki-laki harus bisa bermain sepak bola. Pertandingan demi pertandingan digelar untuk menunjukkan siapa yang terbaik di antara mereka. Walaupun pertandingan demi pertandingan seringkali berakhir dengan keributan atau pertikaian, namun semua itu tidak membuat jera. Padahal pertandingan itu sendiri sudah hampir menyerupai pertandingan silat, bukan sepak bola. Dapat kau bayangkan kawan, saat mereka harus bertelanjang kaki memainkan si plastik bundar sambil menghantam kaki lawan-lawan kami..? Kenapa saya katakan plastik..? Karena sebagian besar pertandingan dilakukan dengan menggunakan bola berbahan plastik. Selain murah meriah, hal ini juga lebih cocok mengingat lapangan permainan yang tidak terlalu luas.

Sepak Bola

Deni, yang pada saat itu dikenal sebagai seorang pengecut dan cengeng, seringkali menjadi bahan ejekan karena jarang untuk mau bermain bersama mereka. Atau jika pun harus bermain aku malas berjibaku karena biasanya adu kaki sering dilakukan oleh mereka yang merasa memiliki kaki kuat. Sambil menggiring bola, mereka pun bersiap untuk menghantamkan bola tersebut pada kaki lawannya, sehingga tidak jarang, kaki para pemain menjadi korban.

Karena permainan Deni dalam sepak bola ini tidak menunjukkan kualitas seorang pemain di mata mereka, ia diejek dan disebut “banci” oleh sebagian kawan-kawannya. Bahkan adik Deni, sering marah-marah kepadanya saat ia tidak melawan saat diejek oleh kawan-kawannya sendiri. Namun, ia tidak ingin mencari keributan. Entahlah, ia memang begitu pengecut hari itu…

Kawan-kawannya seringkali memarahinya saat pertandingan sepak bola karena kepengecutan dirinya untuk tidak menghantamkan kakinya pada kaki lawan-lawan mereka, padahal betisnya cukup besar. Ya, memang ukuran betis dan pahanya sangat besar, tidak proporsional jika dibandingkan tubuhnya yang kurus dan kecil. Ukuran betis dan paha ini juga seringkali membuatnya tidak pede. Apalagi semasa SD dan SMP harus menggunakan celana pendek di atas lutut. Sehingga nampak jelas ukuran betis dan pahanya yang tidak proporsional. Ditambah-tambah, karena tubuhnya yang kurus, ia berjalan dengan sedikit membungkuk ke depan karena sulit untuk berjalan tegak.

Berbagai kekurangan itu sering menghantui masa kecilnya. Kekurangan fisik itu memang terbayar dengan wajahnya yang cukup tampan, kulitnya putih bersih. Tidak menandakan bahwa ia berasal dari sebuah kampung di ujung pantura yang terkenal panas. Namun justru hal itu juga seringkali menambah sakit hatinya, seperti misalnya saat kawan-kawannya mengejek dengan perkataan, “ganteng-ganteng koq betisnya kayak tukang benong[1]…” dan ukuran badannya yang kecil bila dibandingkan kawan-kawannya, baik di SD maupun SMP membuat ia semakin tidak pede bila berhadapan dengan lawan jenis. Bahkan pada saat SMP, dimana ia mulai merasakan “sesuatu” pada lawan jenis, rasa itu hanya terpendam di dalam hati.

Yah, ia tidak menyesal karena belum sempat mengungkapkan perasaan itu pada orang yang spesial di masa lalu. Yang ia sesali adalah mengapa ia harus sebegitu tidak pedenya pada saat itu, hanya dikarenakan kekurangan-kekurangan fisik belaka. Padahal, setiap manusia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Sepertinya, celaan, hinaan, dan ejekan kawan-kawanku pada saat itu telah menghapus pujian yang seringkali juga datang bertubi-tubi karena bakat dan kecerdasannya dalam pelajaran di sekolah.

Kembali ke permainan sepak bola di kampung itu…

Dalam perjalanannya, akhirnya seiring dengan lahirnya generasi yang mencintai sepak bola indah dan pengaruh yang besar dari intens-nya penayangan liga-liga eropa, terutama Serie A dan Premier League yang sering mereka ikuti, dan tentu saja munculnya Play Station dengan Winning Eleven-nya, membuat paradigma mereka tentang sepak bola berubah total.

Mereka mulai mengganti si plastik bundar dengan si kulit bundar. Mereka pun mulai membentuk tim yang lebih resmi dibandingkan sebelumnya. Tim yang memiliki nama, logo, dan panji kebesaran. Juga memiliki seragam kebanggaan dan manajer yang siap membimbing mereka untuk menjadi para pemain sepak bola profesional. Ya, itu memang cita-cita mereka pada saat itu. Mereka pun mulai patungan untuk membeli si kulit bundar. Lalu sepakat untuk menggunakan sepatu saat harus bertanding, walaupun hal ini baru benar-benar terealisasi jauh beberapa tahun kemudian, karena sepatu bermerek “nyeker men” lebih laris di pasaran. Akhirnya mereka pun harus menyesuaikan dengan menggunakan merek yang sama alias bertelanjang kaki saat bertanding dengan tim-tim lawan.

Pada saat ini juga Deni lebih serius berlatih untuk mengasah teknik permainannya dan mempertajam insting sebagai seorang striker. Apalagi ia sudah diberi bakat dengan kecepatan dan tendangan yang cukup keras bila dibandingkan kawan-kawan satu timnya. Fisiknya juga sangat mendukung karena di antara para pemain dalam tim, hanya Deni yang pada saat itu cukup serius melatih fisik. Ia pun dapat mengembangkan permainanku karena kawan-kawan di tim resmi menunjuk ayahnya sebagai manajer dan pelatih tim. Ayah Deni merupakan mantan pemain sepakbola profesional di masanya. Tidak heran bila kemudian mereka memilihnya sebagai manajer tim.

Sejak itu pula mereka mulai memberanikan diri untuk menghadapi tim-tim di luar kampung. Mereka berangkat setiap hari Ahad pagi untuk mengunjungi tim-tim di luar sana agar bisa mencicipi kekuatan mereka sekaligus mengukur kekuatan tim, dan yang lebih penting adalah menambah jam terbang sebagai pengolah si kulit bundar.

Akhirnya, bayang-bayang masa lalu sebagai seorang “banci” pun terhapus karena dalam sepak bola indah[2], Deni justru menjadi salah satu bintang lapangan hijau. Pilihan striker utama tim selalu jatuh padanya, dan adiknya, Budi menjadi playmaker yang juga menjadi duet terbaiknya. Secara teknik bahkan adiknya lebih baik bila dibandingkan Deni, namun kecepatan dan fisik Deni lebih mendukung untuk menempatkan dirinya sebagai wild striker (lebay nggak nih…😀 ) setidaknya bagi timnya, Deni memang menjadi tumpuan utama… Dari seorang yang dahulu diejek dan dicaci, menjadi seorang yang digandrungi dan dipuji… Inilah kisah si “banci” yang telah menjadi “laki-laki” sejati…


[1] benong adalah plesetan yang biasa digunakan oleh kawan-kawanku sebagai peganti kata “becak”

[2] sebenernya nggak indah-indah juga, hanya sekedar membedakan dengan sepak bola sebelumnya yang lebih mirip atraksi taekwondo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s