Masjid

Suara adzan shubuh membangunkanku dari lelapnya mata terpejam. Hmm, memulai aktivitas di pagi hari. Ya, walaupun dengan mata yang berat, seperti ada beban yang menggantungi kelopaknya.

Kupaksakan melangkah menuju kamar mandi, kubasuh wajah, kusikat gigiku, dan kuambil air wudhu. Setelah itu aku mengganti pakaianku dengan yang lebih baik, ku kenakan sarungku dan pergi ke mushallah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku.

Kuhitung mereka 1, 2, 3, 4, 5… Ya, lima orang berbaris dalam shaff yang tidak teratur, tidak rapi, tidak rapat, dan saling menjauh antara seorang ma’mum dengan yang lainnya, dipimpin oleh seorang imam melaksanakan shalat shubuh berjama’ah.

Hari Jum’at, manusia memenuhi masjid untuk menyambut seruan sang mu’adzin. Dan terlelap mereka dalam dongengan sang Khatib di atas mimbar, hingga mata kembali terbuka saat terdengar teriakan “amin” dari barisan belakang, tanda kebosanan para ma’mum yang berharap agar sang khatib segera mengakhiri khutbahnya dengan doa.

29, 30… Dan tibalah hari raya idul fitri. Lebaran kami biasa menyebutnya. Orang-orang berbondong-bondong pergi ke masjid tempat biasa kami melaksanakan shalat jum’at. Kau tahu, jumlah mereka yang hadir pada saat itu hampir dua kali lipat dari jumlah jama’ah jum’at yang dilaksanakan setiap pekan. Padahal seluruh jama’ah idul fitri pun laki-laki. Karena jama’ah perempuan melaksanakan shalat di tempat yang berbeda.

Perjalanan shubuh dari masa ke masa tidak mengalami perubahan yang signifikan. Terakhir aku shalat berjama’ah shubuh, jumlah mereka tidak meningkat tajam. Hanya ada tambahan 1 atau 2 orang saja. Namun, setiap jum’at, jama’ah ternyata mengalami kemajuan. Ya, kemajuan shaff. Begitu pun jama’ah id. Terakhir aku melaksanakan shalat id, jumlah jama’ahnya tidak lebih banyak dari jumlah jama’ah jum’at.

Fenomena ini hampir merata terjadi di setiap daerah. Walaupun dalam dua dekade terakhir, masjid-masjid mulai dipenuhi oleh para aktivis dan anak muda. Namun, hal tersebut tidak merata terjadi di seluruh tempat. Bahkan, perubahan yang massif hanya terjadi di lingkungan kampus saja.

Yang membuat aku heran, setiap tahun, jumlah masjid mengalami pertumbuhan. Setiap daerah seolah berlomba-lomba untuk menambah jumlah masjid, memperluasnya, menghiasinya, dan menyemarakkannya dengan kegiatan-kegiatan tabligh. Namun, sayangnya mereka lupa untuk memakmurkannya. Ya, padahal inilah yang paling urgen di antara kewajiban kita terhadap masjid.
Jika hari ini kita hanya memikirkan kondisi fisik belaka. Maka, tidak dapat aku bayangkan apa yang terjadi beberapa tahun ke depan. Bahkan, sebuah mesjid besar di sebuah kota besar, hanya diisi oleh tidak lebih dari jumlah jari tangan kananku setiap Shubuhnya. Maka, apakah lama kelamaan masjid akan ditinggalkan oleh para penghuninya ?

Jika saja ini memang benar-benar terjadi, tidaklah heran jika pada tahun ke depan, ada tanda “DIJUAL” di depan halaman masjid, sebagaimana yang terjadi pada gereja-gereja di Eropa dan Amerika yang sudah mulai tidak diminati dan tidak memiliki jama’ah lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s