Jujur..?

Bahkan sejak kita masih kecil, kita sudah terbiasa dengan pola laku yang tidak jujur. Lalu kemudian apakah mungkin kita akan terbiasa untuk bisa jujur, termasuk pada diri kita sendiri.

Sebuah kisah lawakan yang dapat menjadi pelajaran bagi kita. Saat seorang Ibu yang sedang ditagih hutang berkata kepada anaknya, “Neng, nanti klo ada orang dari Bank, bilang Ibu lagi gak ada.” Si Neng pun hanya mengangguk tanda taat kepada orangtuanya. Lalu, datanglah seorang petugas dari Bank. Ia bertanya kepada si Neng, “Neng mamahnya ada ?” Dengan polosnya, bocah berusia 6 tahun itu pun menjawab, “Tadi mamah bilang klo ada yang tanya, bilang lagi pergi.” Petugas bank pun bertanya kembali, “Ooh, pergi ke mana Neng.” Karena si Neng tidak mendapat istruksi untuk menjawab pertanyaan ini dari mamahnya ia pun berteriak kepada mamahnya yang sedang bersembunyi di kamar, “Maaaaaaah, perginya ke mana katanya ?”

Ironis bukan ? Maka mungkinkah kita hidup jujur ?

Saat seorang Ibu yang sedang menenangkan anaknya. Pada saat itu anaknya menangis keras karena menginginkan sesuatu yang tidak sanggup dibeli oleh ibunya. Maka, ibunya berkata, “Gak usah nangis, nanti Ibu belikan yang lebih bagus, yang itu jelek.” Maka saat anaknya menagih janji atas ucapan ibunya tersebut, sang Ibu kembali berkilah, “Nanti ibu belikan, sekarang ibu sedang sibuk, kamu main saja sama teman-teman kamu.” Sampai pada akhirnya, si anak pun tahu bahwa ibunya sedang berbohong. Ya, membohongi dirinya karena dia sadar ia tidak akan mendapatkan apa yang diingankannya tersebut.

Kemudian, kita pun melihat para guru yang senantiasa mengajarkan kita untuk berbohong. Ingatkah saat kita di sekolah dahulu, di usia yang sangat mungil itu. Guru-guru kita senantiasa menakut-nakuti kita dengan tokoh-tokoh fiktif, “Jangan nakal, nanti ada Genderuwo. Genderuwo itu suka nyulik anak-anak yang nakal.”

Apa itu Genderuwo. Sampai sekarang pun aku tidak tahu, siapa dan bagaimana Genderuwo. Yang aku tahu, mereka –orang-orang dewasa– selalu menggunakan senjata ini untuk mendidik anak-anaknya. Mendidik ? Apakah benar sedang mendidik ?

Mendidik anak-anak untuk mengikuti jejak mereka sebagai seorang pembohong ? Pendusta ? Tidak, aku pikir mereka tidak sedang mendidik. Tidak. Maka, mungkinkah kita jujur ? Bahkan pada diri kita sendiri ?

Maka ingatlah masa-masa SMP dan SMA yang penuh dengan kebohongan. Sejarah yang kita pelajari pada saat di bangku sekolah, bukankah penuh dengan kebohongan ? Lalu, bagaimana dengan teori Darwin dalam pelajaran Biologi ? Bukankah sebuah teori penuh kebohongan. Lalu, ingatkah kita saat Al Khawarizmi terlupakan dalam panggung pertunjukkan ahli Matematika ? Ah, sepertinya kita tidak perlu mengingat Jabir ibnu Hayan sebagai pendiri Laboratorium Kimia pertama di dunia, karena namanya tak akan muncul pada saat ujian nanti.

Pun, kita mengingat hari-hari UAS kita di SD, SMP, dan SMA. Masih terngiang di telinga ini, saat seorang guru berkata, “Kalian harus bekerja sama.” Maka, apakah kita masih sanggup untuk jujur..?

Kita tidak pernah dilatih untuk menjadi jujur. Bahkan kita dididik untuk menjadi pendusta, pembohong, yang siap menghalalkan segala cara demi sebuah prestasi. Ya, prestasi atas kebohongan kita. Maka inilah kita hari ini. Inilah kita yang tumbuh dari kebohongan dan kedustaan dunia. Maka, mungkinkah kita dapat hidup jujur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s