Cinta..?

Dua orang itu, layaknya sepasang merpati yang terbang tinggi di angkasa, saling mencurahkan perasaaannya, saling mentautkan hatinya, saling bersimpati untuk memberi, peka, dan peduli. Lisannya dijaga untuk tetap mesra. Tingkah lakunya ia balut dengan sejuta kebaikan. Menampakkan apa yang sebenarnya tidak ada pada dirinya, hingga akhirnya dunia dan seisinya seolah-olah hanya menjadi milik berdua.

Love
Love

Keadaan ini, telah menerjang tembok akal dan nurani, saat keduanya hadir mengisi ruang-ruang rindu yang membelenggu hati. Tak heran, dunia telah menjadi milik mereka. Maka, siapa lagi yang akan menghalangi..? Mereka pun bebas terbang bak merpati yang merdeka. Walau tanpa harus menunggu ‘akad yang akan menjadi batas antara halal dan haramnya bercinta. Maka, apakah itu cinta..?

Hati ibarat sebuah cermin yang bening. Jika ia terkotori maka akan menutup bayangan kita padanya. Jika ia tidak dibersihkan, maka akan banyak debu yang pekat menutupinya. Akhirnya, tak mampulah hati untuk memahami dua perasaan yang serupa ini. Sama-sama datang dari kerinduan, sama-sama hadir untuk mengisi ruang-ruang kehampaan jiwa. Keduanya membutuhkan kasih dan sayang. Keduanya harapkan perhatian serta belaian lembut seorang insan. Bedanya, yang satu lahir dari kesucian, sedangkan yang lainnya hadir dari bisikan setan.

Serupa, namun tidak sama. Namun, orang-orang menyebut keduanya dengan kata yang sama, “cinta…” Cinta..? Apakah ini cinta..?

Cinta senantiasa berhubungan dengan hati, maka landasan yang benar untuk mencinta adalah kepercayaan. Sedangkan kepercayaan tertinggi, yang aku fahami, adalah iman. Iman kepada Sang pemilik cinta. Sang pecinta sejati yang kasih sayangnya tak pernah surut termakan zaman atau pudar tergiling waktu. Maka, cinta haruslah lahir dari iman. Jika tidak, maka ia bukanlah cinta. Walaupun, seperti yang aku katakan di atas kedua-duanya merindukan kasih dan sayang. Kedua-duanya mengharapkan perhatian serta belaian lembut seorang insan. Namun, benar adanya bahwa yang satu hadir di atas iman, sedangkan yang lainnya berjalan untuk memenuhi keinginannya semata, dan ternyata setanlah yang menunutunnya. Setan telah mendorong syahwatnya untuk senantiasa bergejolak. Mengotori hatinya, sehingga ia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya saat ini bukanlah cinta. Ia adalah nafsu belaka. Mengapa..?

Cinta yang benar berlandaskan iman, maka buahnya adalah ketaatan. Sedangkan nafsu landasannya adalah syahwat, maka buahnya adalah kemaksiatan. Bukankah kedua hal tersebut berbeda..?

Cinta begitu suci, jangan nodai ia dengan keindahan-keindahan fana. Karena sesungguhnya, nafsu pun berawal dari cinta, namun ia tidak bisa mengendalikannya, sehingga setan menggiringnya lebih jauh, dan sedikit demi sedikit mengikis rasa cinta itu lalu menggantikannya dengan nafsu yang berasal dari bisikan-bisikannya. Kemudian, manusia pun bermaksiat atas nama cinta. Cinta..?

Kasihan cinta, ia yang suci kini diperlakukan dengan sangat tidak hormat oleh manusia. Ia yang lahir di atas landasan iman tidak dikendalikan sehingga nafsu itu bergejolak tanpa kesadaran kita. Kasihan sekali cinta, kini ia seperti cermin yang dipenuhi debu, sehingga orang yang menatapnya tidak dapat melihat bayangannya sendiri. Maka, buramlah semua pandangan yang menatapnya, maka keruh pula hati yang merasakannya. Maka, apakah itu cinta..?

Cinta dan nafsu memang berjalan beriringan, namun jangan sampai nafsu yang mengendalikan cinta, sehingga ia bisa berbuat apapun atas nama cinta. Cinta harus berada di atas nafsu untuk mengendalikannya. Agar nafsu yang hadir dan bergejolak dapat sebisa mungkin untuk tidak mengiktui bisikan-biskan setan yang membuat kita terjebak dalam kenikmatan sesaat yang fana.

Izinkanlah kerinduan itu hadir atas dasar cinta yang sesungguhnya. Maka, tidak ada pilihan ketiga. Jika kau mampu, menikahlah, jika tidak, berpuasalah. Itulah rindu yang didasari cinta. Jika ia benar-benar mencinta, maka jiwanya akan menuntun ia untuk mempersiapkan segalanya, sambil berpuasa. Karena hanya dengan puasa setan-setan itu dapat lari tunggang langgang. Hanya dengan puasa hati kita sanggup tertunduk dalam nuansa ketaatan yang mendalam terhadap-Nya. Sehingga Allah pun tidak akan segan memberikan buah syurga-Nya. Hadiah dari ketaatan seorang hamba.

Maka dari itu, Rasulullah pun bersabda bahwa jika ada seorang pemuda yang menahan dirinya dari mengungkapkan cinta terhadap seorang gadis karena belum ada kesiapan darinya, lalu ia berpuasa, kemudian dalam kondisi seperti itu Allah memanggilnya, niscaya ia meninggalkan dunia dalam keadaan syahid. Artinya, Allah mengganti gadis itu dengan bidadari-Nya dan Allah menggantikan kenimatan yang fana di dunia dengan kenikmatan yang abadi di syurga. Cinta..? Ya, inilah cinta. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s