Ayahku, Aku Anakmu…

Aku berjalan kembali ke pelosok desa mungil. Lalu kutemukan seorang anak remaja yang pendiam. Ia cukup pendiam. Oh tidak, ia sangat pendiam… Setidaknya itulah yang aku perhatikan dibandingkan teman-teman sebayanya. Namun aku tidak melihat kesedihan dalam raut wajahnya. Serasa hampa tatapan matanya, namun tetap tajam. Menyiratkan kekuatan visi dan harapan yang tertanam dalam dirinya.

Aku menghampirinya… Kami berbincang cukup lama dengannya… Di sore yang indah itu ia menceritakan kepadaku sebuah kisah lama… Bersama ayahnya. Kenangan yang tidak mungkin ia lupakan dalam hidupnya, selama dahulu ayahnya masih ada.

Ia membuka mulutnya perlahan dan berkata, “Satu hal yang membuatku kagum kepada Ayahku adalah perhatian yang begitu besar dalam pendidikan agama di keluarga. Ya, ayahku memang bukan orang awam untuk urusan ini. Ia lahir di keluarga ustadz. Dididik dan dibesarkan untuk menjadi seorang ustadz. Latar belakang pendidikannya pun agama, hingga tepat jika ia pun duduk di sebuah kantor yang memang diamanahi urusan ini, urusan agama.

Sayangnya kekagumanku tidak bisa menutupi kekecewaan dan kekesalan diriku. Bagaimana tidak ? Ayahku sangat keras mendidik anak-anaknya. Bahkan, terlalu keras. Walaupun mungkin ya ada kebaikan yang dapat dirasakan olehku pada saat aku telah beranjak dewasa. Namun, sakit yang kurasa seolah telah menutupi kebaikan demi kebaikan yang Ayah berikan kepadaku.

Tiap petang, setelah melaksanakan shalat maghrib, kami diperintahkan untuk rutin membaca surat Yasin, Al Waqi’ah, dan Al Mulk ditambah ayat lima, ayat tujuh, dan ayat lima belas, juga dengan beberapa wiridan yang terdapat dalam Majmu’ Syarif. Bahkan, kami pada saat itu diperintahkan untuk menghafal surat-surat dan wiridan tersebut.

Sayangnya, tidak ada kekhusyuan saat kami harus membaca surat-surat dan wiiridan tersebut. Karena aku sendiri pada saat itu rela membaca dari mulai selesai shalat maghrib hingga menjelang Isya, hanya karena takut kepada Ayahku sendiri. Ya, karena aku takut dimarahi, aku takut dipukuli, sampai aku merasa amat sangat takut kepada ketakutan yang kualami ini.

Satu kisah yang akan kuceritakan saat ini, aku lupa tepatnya, seingatku aku masih duduk di sekolah dasar pada saat itu, mungkin kelas 3 atau kelas 4. Aku, sebagaimana lazimnya anak-anak, gemar bermain, senang dengan sesuatu yang baru, dan menykai petualangan. Namun, tidak dengan orangtuaku. Mereka tidak menyukai anak-anaknya menjadi petualang. Sedikit saja baju ini kotor karena lumpur, bersiaplah untuk menghadapi amarah salah satu dari kedua orangtua. Apalagi jika sampai mereka tahu bahwa aku meninggalkan salah satu shalat dari shalat lima waktu, entahlah aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Ayahku kepadaku.

Dalam suatu sore, seperti biasa, setelah adzan maghrib berkumandang, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah rumah sederhana kami untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Pada saat itu, naluri anak kecilku tiba-tiba hidup dan ingin sedikit bermain-main dalam shalat. Aku bermain-main sepanjang rakaat pertama, dan sebelum ruku’ pada rakaat pertama. Ibuku yang shalat di belakangku tiba-tiba mencubitku dengan keras, dengan maksud untuk menghentikan permainanku. Namun, aku sedikit kesal sehingga sambil sedikit terisak aku pergi meninggalkan shalat berjama’ah menuju kamarku.

Aku tidak pernah mengira ini akan terjadi. Tiba-tiba, ayahku yang mengetahui pada saat itu aku meninggalkan shalat berjama’ah berteriak memaki-maki diriku dengan sangat kerasnya, bahkan ia hampir-hampir saja memukulku. Hal ini membuatku kalut, dan dengan serta merta aku memilih jurus langkah seribu, meninggalkan kamar, keluar melalui pintu depan dan berlari, aku sendiri tidak tahu pada saat itu ke mana aku harus berlari.

Namun tidak kuduga, ayahku mengejarku sambil terus berteriak memarahiku, dan menurut seorang saksi, ayahku berlari mengejarku sambil membawa golok. Ya… Golok… Aku tidak tahu maksud semua ini, mungkin jasadku akan terpotong-potong jika saja pada saat itu ayahku berhasil mengejarku. Beruntung para tetangga yang melihat aku dikejar-kejar oleh ayahnya sendiri berhasil menyelamatkanku. Mereka pun berhasil sedikit menenangkan ayahku. Ya, itulah ayahku… Padahal, saat itu ingin sekali aku ucapkan padanya… Ayahku, aku adalah anakmu… Jika engkau marah, apakah harus seperti ini ? Maafkan aku jika membuatmu marah.”

Namanya Hasan. Terlihat tetesan air mata membasahi pipinya saat ia menceritakan semua kisah itu secara perlahan. Mengiringi merahnya petang itu. Satu sebab yang membuat ia begitu senang dalam lamunan dan kontemplasi panjangnya setiap hari.

Benar, memori itu tidak bisa hilang begitu saja. Butuh waktu yang lama untuk melepaskan trauma seperti itu. Apalagi masa kanak-kanak adalah sebuah fase di mana alam pikiran bawah sadar sedang memainkan peran yang besar, sehingga segala macam kejadian yang dialami oleh si anak, akan terekam dalam waktu yang lama. Bahkan bisa jadi ia akan tumbuh menjadi karakter. Sehingga tidak heran jika kemudian ia tumbuh dalam suasana getir, penuh ketakutan, depresi, dan semisalnya.

Selang beberapa saat sambil menahan tangisnya, Hasan kembali berkata, “Ya, walau bagaimanapun, ia tetaplah ayahku…. Dan aku adalah anaknya… Semoga semua ini dapat menjadi pelajaran… ¬†Terutama bagi diriku saat menjadi ayah nanti…

Ia telah memberikan banyak pelajaran berharga, tinggal bagaimana aku bisa mengelolanya untuk menjadi sebuah pencerahan dalam langkah-langkah kakiku pada masa yang akan datang.

Bukankah demikian, Kak?” Katanya sambil menatap mataku. Mata yang sama tajamnya saat aku perhatikan sejak siang tadi. Mata yang menggambarkan visi dan harapan panjang. Semoga tidak terputus. Semoga visinya mampu untuk menghancurkan tembok trauma yang menggunduk di depannya.

“Engkau benar, Hasan…” Kataku sambil tersenyum… Haru menatapnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s