Ana Berenti Ngaji, Akh.. (bag. 2)

Hembusan angin pagi menyapa kebisuan Ical. Ia masih menatap dengan serius sebuah tulisan yang di tempel pada sebuah mading di selasar Masjid Fakultas. Tampak kekaguman, harap, dan berjuta perasaan lain yang bercampur baur menjadi satu… Saat melihat tulisan itu, ia mengingat salah seorang sahabat,,, bukan,,, tapi saudaranya…

Image

 

Pikirannya melayang ke masa-masa awal ia kuliah…

September 2005, Jatinangor…

“Assalamu ‘alaykum.” Terdengar salam dari balik pintu kamar kost Ical. Suara yang cukup asing, tapi nadanya bersahabat.

“Wa alaykumus salam.” Jawab Ical sambil beranjak dari hadapan komputernya menuju pintu. Ia kemudian membuka gorden berwarna biru tua yang menutupi jendelanya. Ia melihat sesosok Ikhwan berkacamata yang cukup dewasa. Jenggot tipisnya menambah manis saat ia tersenyum tulus melihat wajah Ical dari balik jendela.

Penuh tanda tanya dalam benak Ical. Siapa orang ini…

Ical kemudian membuka pintu dan Ikhwan tadi langsung mengulurkan tangan kanannya, tanda bahwa ia ingin bersalaman. Ical pun mengulurkan tangan kanannya. Pada saat kedua tangan saling menjabat erat, ikhwan itu bertanya, “Rizal Fawwaz..??”

“Iya.” Jawab Ical sambil sedikit demi sedikit melepaskan jabatan tangannya.

“Ana Amin.” Ikhwan itu memperkenalkan dirinya.

Ical masih tampak bingung…

“Ana diamanahkan untuk membina antum, akh.” Ikhwan berkemeja biru muda itu menjelaskan.

Sejenak Ical berfikir. Ia kemudian tersenyum saat mengingat surat transferan yang kemarin diberikan Akh Wisya padanya. Dalam surat itu dinyatakan bahwa ia sejak saat ini hingga waktu yang tidak ditentukan akan dibina oleh seorang bernama Rizki Aminuddin. Ical tidak mengira jika Rizki Aminuddin yang dimaksud dalam surat itu biasa dipanggil dengan sebutan “Amin”.

“Oh, K’ Rizki Aminuddin ya..??” Tanya Ical kepada orang itu, berusaha menyingkirkan keraguan dalam dirinya.

“Iya, akh. Ana Rizki Aminuddin… Antum sehat..??”

“Alhamdulillah.” Jawab Ical. “Masuk dulu, K’. Afwan masih berantakkan. Banyak barang-barang yang baru dateng. Belum sempet diberesin.”

“Nggak usah, di sini aja. Ana juga nggak lama… Harus ketemu dosen buat bimbingan. Tadi di jalan papasan sama Akh Wisya. Beliau yang kasih tau alamat Antum, katanya Antum satu kost sama beliau. Akhirnya ana langsung ke sini.” Kata Amin kepada Ical

“Oh, gitu… Jadi kapan bisa mulai K’..??” Tanya Ical kepada Amin

“Kita biasa mulai malam Rabu.” Jawab Amin. “Antum bisa..??”

“Bisa, K’. Kumpul di mana..?” Ical kembali bertanya.

“Kita Isya jama’ah di Mukhtarul Ulum ya.”

“Ok.” Kata Ical mantap.

“Ok, klo gitu. Malam Rabu kita ketemu di MU (Mukhtarul Ulum, pen) ya.. Ana mau langsung ke atas, khawatir telat. Assalamu alaykum.” Amin pamit pada Ical sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Wa alaykumus salam.” Jawab Ical sambil menjabat tangan Amin.

*****

Jarum pendek Jam weker di samping komputer Ical telah menunjukkan angka di antara 6 dan 7, sedangkan jarum panjangnya sudah hampir mendekati angka 11.

Ical segera memasukkan sebuah buku tulis ke dalam tasnya. Tak lupa sebuah mushaf tarjamah Al Qur`an Syaamil yang telah setia menemaninya juga ikut serta dalam tumpangan tas hitam milik Ical. Ia bergegas. “Bismillah..” Katanya.

Adzan Isya berkumandang. Terdengar indah saat suara yang satu dengan lainnya saling bersahutan. Akhirnya Ical tiba di depan sebuah masjid. Ia kemudian segera membaca do’a: “Allahummaftahli abwaba rahmatika.” Lirih diucapkan. Ia mendahulukan kaki kanan untuk masuk ke dalam ruangan utama masjid. Ia maju hingga shaff ke dua dan segera shalat sunnah dua rakaat, sunnah tahiyyatul masjid… Tasnya ia simpan di depan shaff sebagai suthrah (batas di depan tempat shalatnya) sekaligus untuk mempermudah mengawasi agar tidak terjadi apa-apa.

Selesai shalat isya Ical melanjutkan dzikir dan ba’diyyah (shalat sunnah setelah Isya) 2 rakaat. Setelah itu ia melihat K’ Amin di sudut sebelah kanan sedang berbincang dengan seorang ikhwan yang pernah ia lihat di kampus. Lebih tepatnya beberapa hari yang lalu di fakultas. Siapa ikhwan itu..?

Ical kemudian mendekati mereka berdua. Terdengar sisa-sisa pembicaraan antara K’ Amin dengan ikhwan itu. Luar biasa, pikirnya. Mahasiswa baru sudah membicarakan hal yang menurutnya “berat”. Mereka berbincang masalah “fikrah”, “manhaj”, dan sesekali ia mendengar nama “Hasan Al Banna” juga “Ikhwanul Muslimin” disebutkan. Hal yang jarang ditemui untuk mahasiswa baru yang hanya memikirkan mata kuliahnya saja. Bahkan, ia yang di SMA sangat terkenal dengan aktivitasnya dalam da’wah tidak begitu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang apa yang sedang dibicarakan.

Ical kemudian mengucapkan salam sambil mengulurkan tangan kanannya, “Assalaamu ‘alaykum..”

“Wa ‘alaykumussalaam..” Jawab kedua orang itu serentak, seraya menjabat tangan Ical bergantian. Dan pada saat ikhwan itu menjabat tangan Ical, ia berkata, “Salman Al Farisi, panggil aja Al..”

“Oh, iya, Ana Ical.” Jawab Ical “Nama lengkap ana Rizal Fawwaz” Ical melanjutkan.

“Antum Sastra juga ya..?” Al bertanya kepada Ical.

“Iya, antum kemarin lihat ana juga waktu registrasi..?” Ical balik bertanya.

“Iya… Ana juga udah nebak dari penampilan antum yang ikhwah banget, hehe. Cuma belum berani negor antum, takut salah…” Al menjelaskan

Ical hanya tersenyum…

Itulah awal dari persahabatan… tidak… bukan persahabatan, tapi persaudaraan yang dibangun di atas kekuatan iman antara Salman Al Farisi (Al) dan Rizal Fawwaz (Ical).

Sejak saat itu mereka bagaikan dua menara kokoh yang tinggi menjulang, tidak sekedar bagi komunitas da’wah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, namun lebih dari itu, mereka telah menjadi tokoh yang senantiasa menjadi rujukan para aktivis da’wah di Unpad secara khusus dan Jatinangor, bahkan Kabupaten Sumedang secara umum.

Dalam perjalanan da’wahnya, Rizal Fawwaz banyak berkiprah di ranah internal kampus sampai akhirnya berkarir menjadi Ketua DKM Al Mushlih, Fakultas Sastra Unpad pada tahun 2006. Lalu dilanjutkan dengan menjadi Presiden BEM Gama Fasa Unpad setahun kemudian, dan sekarang ia sedang  menjabat sebagai Presiden BEM Kema Unpad. Sebuah jabatan yang tidak bisa dipegang oleh banyak orang. Bahkan, dalam proses pemilihan internal di kalangan aktivis da’wah saja harus melalui seleksi yang ketat untuk kemudian dimajukan sebagai calon resmi dalam perhelatan akbar Prama Unpad.

Adapun Al, ia lebih banyak berkecimpung pada wilayah eksternal kampus, sambil membantu syura di Fakultasnya. Ia menjabat sebagai tim kaderisasi internal dalam syura Fakultas, sekaligus menjadi Ketua Departemen Kaderisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Universitas Padjadjaran periode 2005-2006.

Selanjutnya, Al terpilih menjadi Ketua KAMMI Unpad pada tahun keduanya ia kuliah di Unpad, dan setelah itu ia diamanahkan untuk menjabat sebagai koordinator pembentukan KAMMI Daerah Sumedang. Belum KAMMI Daerah Sumedang terbentuk, Al sudah meninggalkan komunitas ini, dengan aspirasi yang ia sampaikan pada Ical beberapa bulan yang lalu, yang saat itu sedang menjabat sebagai Ketua BEM Gama Fasa Unpad, sekaligus mas’ul (penanggungjawab) Syura Fakultas Sastra.

To Be Continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s