Ana Berenti Ngaji, Akh… (bag. 1)

“Ana berenti ngaji”. Kata seorang Ikhwan yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih itu… Padahal ia dikenal sebagai Ikhwan yang luar biasa. Aktivis yang bergerak dengan sejuta aktivitas, amanah yang berjubel, bintang aksi, orator ulung, de el el….

Aksi

Kontan hal ini membuat seorang akhwat yang sejak dari tadi hadir di tengah-tengah ruangan ini  tersentak. Ia tidak menyangka ada ikhwan militan yang sanggup mengeluarkan pernyataan demikian… Ia berharap ia hanya bercanda, sebagaimana biasanya ia mengeluarkan kata-kata candaan atau sindiran…

“Apa maksud antum..??” Kata si akhwat.

“Iya, ana serius, berenti ngaji.” Jawab si Ikhwan dengan sedikit lebih menegaskan pernyataannya.

Ikhwan lain yang juga berada dalam ruangan itu berkata, “Antum klo bercanda jangan kelewatan, akh…”

“Siapa yang bercanda, orang ana serius. Ana menyatakan keluar dari lingkaran ini. Dari lingkaran tempat dimana antum saat ini berada.” Ikhwan itu berusaha kembali menegaskan.

Akhwat yang berada di balik tirai hijab tadi kembali berkata, tapi kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi, “Ana nggak pernah berfikir antum bakal bilang begitu. Antum mas’ul (penanggungjawab) kaderisasi, akh..!! Kata-kata yang antum keluarkan akan memengaruhi banyak orang. Ana nggak pernah maksa antum buat ngaji atau nggak, tapi coba pikirin efek domino yang akan terjadi nanti..!! Apa antum nggak pernah mikirin hal itu..???”

“Ana cuma berfikir apa yang bisa membuat ana nyaman. Dan kondisi sekarang sama sekali nggak nyaman buat ana…” Ikwan itu mencoba menenangkan akhwat tadi dengan nada yang sedkit lebih lembut.

Ikhwan di sebelahnya berkata, “Apakah kita harus mengakhiri persaudaraan kita sampai di sini..?!”

“Nah, ini salah satu hal yang membuat ana nggak nyaman.”

Ia melanjutkan, “Apakah persaudaraan kita hanya terbatas pada kesamaan harakah saja, sehingga pada saat ana memutuskan untuk keluar dari harakah ini kita nggak bersaudara lagi..??”

“Pemikiran antum kerdil, akh. Dan ana semakin yakin dan mantap untuk keluar dari harakah ini. Harakahnya orang-orang suci, sehingga manusia pendosa kayak ana nggak mungkin berada di dalamnya. Harakahnya orang-orang bijak, hingga manusia kritis kayak ana nggak mungkin berada di dalamnya. Harakahnya…”

“Cukup.!! Cukup, akh…” Akhwat di sebelah tirai itu mengeraskan suaranya sambil terdengar isak tangis…

“Afwan, Ukh… Ana nggak bermaksud buat antum semua jadi memusuhi ana. Tapi, ana udah menjalani peroses ini dengan berfikir panjang. Dan dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Masalah amanah, ana yakin akan ada yang menggantikan. Bukannya antum sendiri yang sering bilang klo mati satu tumbuh seribu..?? Akan ada generasi yang tergantikan dan menggantikan. Kenapa sekarang jadi khawatir..???”

“Dan antum memilih untuk menjadi yang tergantikan..?? Tafadhal antum, akh. “ Jawab ikhwan di sebelahnya dengan lirih.

“Ya, dan itu pilihan ana… Thayyib, itu yang ingin ana bicarakan pagi ini… Afwan membuat suasana syura ini jadi berantakan. Antum bisa lanjutin syura ini ba’da ana pergi dan temen-temen yang lain datang. ”

Baru saja Ikhwan tersebut akan izin keluar, tiba-tiba seorang ikhwan datang dari balik pintu sambil mengucap salam, “Asalamu alaykum. Afwan akh ana telat, harus ngerjain tugas dulu. Dikumpul hari ini jam 9. Alhamdulillah sekarang dah selesai. Jadi jam 9 nanti ana bisa ngumpulin.”

“Wa alaykumus salam,” Jawab ikhwan tadi sambil akan beranjak keluar.

“Lho antum mau ke mana, akh.?? Udah selesai syura nya..??” Ikhwan yang baru datang tadi keheranan melihat rekannya keluar ruangan.

“Biar akh Ical aja yang cerita.” Sambil melirik ke arah ikhwan berkemeja merah kotak-kotak yang duduk termangu, yang tadi berada di sebelahnya. “iya kan akh..?”

Belum juga Ikhwan yang disebut Ical ini menjawab, terdengar kembali suara salam, “Assalamu alaykum.” Kali ini suara dua orang akhwat yang juga baru datang. Mereka segera masuk ke ruangan akhwat yang dipisahkan tirai.

“Anti kenapa…??” Tanya seorang akhwat berkerudung putih yang baru datang kepada akhwat berkerudung biru yang sedang terisak di dalam ruangan…

“Akh ada apa ini..??” Akhwat lain yang juga berkerudung biru, namun dengan warna yang lebih tua bertanya pada ikhwan di balik tirai.

Ical menjawab, “Akh Al yang akan menjelaskan semuanya.”

“Lho kenapa ana..?” Jawab Al. “Ana udah selesai, sekarang mau pulang. Banyak kerjaan. Lagian jadwal syura kita itu jam 6 pagi, sekarang udah lebih dari jam 7. Antum ngurus syura aja keteteran, apalagi ngurus peradaban. Ana jadi semakin ingin cepat pergi… Assalamu ‘alaykum,” Ikhwan berkemeja panjang yang disebut Al itu pergi dengan ketus…

“Wa alaykum salam” Jawab Ical… Dengan wajah kecewa ia kembali menunduk. Sulit sekali menjelaskan kepada rekan-rekannya yang baru datang…

“Akh, Ukh Nia kenapa..??” Tanya akhwat berkerudung biru tua.

“Iya, emangnya ada apa akh..??” Ikhwan yang tadi telat menimpali.

“Ana nggak tega untuk ngulang ceritanya. Anti tenangkan saja Ukh Nia, jawabnya sambil sedikit berbisik.”

“Ukh Nia udah ditenangin sama Ukh Rima. Mereka sekarang di Mushalla. Mudah-mudahan nggak kenapa-kenapa.”

“Akh Ziul, bukannya antum kemarin ngobrol lama sama Akh Al…” Tanya Ical kepada Ikhwan yang tadi telat datang, dengan tatapan harap bahwa Ziul, nama Ikhwan itu, akan bercerita banyak.

“Iya, tapi dia nggak cerita yang serius-serius sama ana…” Jawab Ziul.

“Oh gitu ya…” Kata Ical sambil menghela nafas panjang.

“Harusnya antum justru yang lebih tau… Kan dulu pernah se-halaqah sama dia.” Ziul mengelak.

Ical tidak menanggapi pernyataan Ziul. Ia segera memandang tirai berwarna coklat di tengah ruangan yang memisahkan ruangan Ikhwan dan Akhwat.

“Ukh Tia, hari Ahad kemarin Akh Al ikut nyatet nggak di buku komunikasi ADK..???” Ical kali ini bertanya kepada Tia, akhwat berkerudung biru tua yang tadi datang bersama Rima.

“Wallahu a’lam, ana nggak sempet baca semuanya, akh. Antum cek aja sendiri. Ana bawa bukunya.” Jawab akhwat berkerudung biru tua itu.

“Sini, ana mau liat.” Pinta Ical

“Ana juga liat akh,” Ziul segera merapat ke arah Rizal yang sudah memegang bukom ADK. Mereka berdua berharap mendapatkan sesuatu di sana.

Lalu mereka berdua membaca halaman demi halaman bukom yang diberikan Tia.

“Antum kenal tulisannya akh Al kan..??” Tanya Tia di balik tirai.

“Iya, kenal ukh, tanang aja”. Jawab Ziul.

“Nah itu akh”, kata Ziul kepada Ical.

Ical membaca dengan lirih judul tulisan Al yang dibuat menyerupai kaligrafi arab: “Aku Sudah Muak.” Lalu ia menatap wajah Ziul… Ziul pun hanya menatap hampa ke arah Ical…

“Ternyata kita nggak peka, akh. Bahkan tidak memperhatikan orang yang tiap pekan syura bersama kita.” Kata Ziul setelah selesai membaca tulisan Al.

“Iya, Akh… Benar-benar di luar dugaan.” Kata Ical. “Ana yang dari dulu kenal dekat sama Al juga nggak pernah bisa bayangin dia bisa kayak gitu.” Ical melanjutkan.

Tampak wajah kekecewaan dari kedua orang itu… Lesu, lemas, dan penuh rasa bersalah…

“Emangnya Akh Al nulis apa kemaren..??” Tia bertanya kepada dua orang Ikhwan di balik tirai itu.

“Biar ana bacain..!” Pinta  Ziul sambil menarik bukom dari pangkuan Ical.

AKU MUAK DENGAN MEREKA

“Aku muak dengan mereka…  Para ahli ibadah yang sering meneteskan air mata di tengah malam, namun sulit untuk menegeluarkan keringat dan darah di siang harinya

Aku muak dengan mereka… Para muwwajih bijak yang hanya bisa sholeh di depan para pendengar dan mad’u namun penuh maksiat ketika mereka sendiri… Tanpa sadar Allah selalu bersama mereka

Aku muak dengan mereka… Yang selalu berbicara kebersihan hati, tapi selalu mengotori bumi. Sampah dibiarkan berserakan… Menunggu bumi dan para penghuninya mati tak bersisa

Aku muak dengan mereka… Bercita-cita tinggi… Tagakkan peradaban di muka bumi, tapi tak sanggup mengendalikan segala macam urusan pribadinya…

Aku muak dengan mereka… Para munafik, lain di mulut lain di harti, janji tak pernah ditepati… Tepat waktu pun sulit dan sering diingkari…

Aku muak dengan mereka… Menganggap dirinya suci dan menyebut orang lain hina…

Aku muak dengan mereka… Memusuhi orang lain hanya karena beda harakah…

Aku muak dengan mereka… Kultus dan taklid menjadi sarapan utama…

Aku muak dengan mereka… Banyak aksi tapi tanpa ilmu yang pasti… Banyak ibadah tapi tidak tampak di kesehariannya… Aktivis da’wah tapi tidak pernah da’wah dengan fiqih da’wah…

Aku muak dengan mereka… Dan aku ingin pergi…  “

 

Tia begitu bergejolak mendengar tulisan Al… Begitu pun Ical…

Ziul pun hanya termenung, dan Ical terlihat tak sanggup menahan air matanya….

“Allah, apakah hal ini akan terus berlanjut…. FaghfirlanaWa Natubu ilayka…” Hatinya lirih bertaubat… Ia merasa sangat bertanggungjawab atas sikap Al……………………………………

Penulis: Rizal Fawwaz

Teruntuk saudaraku: Tetaplah berjuang di manapun kau berada. Kami mencintaimu setulus hati…

Kam fiina laysa minna, kam minna laysa fiina… Biarlah kau di luar sana… Tapi kau masih bagian yang utuh bagi kami… Daripada mereka yang berada dalam lingkaran ini namun pada hakikatnya mereka bukan bagian dari fikrah ini… Kami lebih mengenalmu daripada mereka… Kami lebih mengetahui aktivitasmu di luar sana daripada mereka… Jika ada cacian anggaplah mereka iri akan ketulusanmu… Jikalau ada hinaan anggaplah mereka iri dengan jihadmu yang tak pernah padam… Kami yakin akan berjumpa bersamamu di syurga-Nya kelak… Bi idznillahi ta’ala

Wahai pejuang tangguh… Jangan berhenti untuk mengkritisi setiap lakumu… Kau adalah pencari kebenaran sejati… Namun sayang… Kami mengerti dirimu saat kau telah pergi…

Kami akan merindukanmu… I Love U, my best friend…

*****

Ical selesai menulis cerpennya… Cerpen yang menjadi saksi bagi kebisuan kata-katanya di bawah bayang-bayang kepergian sahabatnya tercinta… Cerpen yang menjadi pengganti catatan hariannya malam ini. Cerpen yang mungkin tidak akan pernah ia publikasikan… Kata-kata di bawahnya sengaja ia sisipkan untuk sahabatnya yang telah pergi, Al… Salman Al Farisi…

Ia berharap hal ini adalah yang terakhir… Al telah menyadarkan dirinya banyak hal. Al telah membuka matanya lebih lebar… Al telah mengajarkannya titik tolak yang benar… Al baginya adalah guru yang tidak mungkin tergantikan… Al, yang sejak tiga tahun lalu menjadi saudara se-halaqahnya… Sampai pada pelantikan marhalah Madya pun mereka masih bersama… Kini telah pergi meninggalkannya… Sepertinya jauh sekali…

Tak tertahan air mata Ical kembali menetes… Saat ia membaca ulang cerpennya di depan laptopnya….

Ia melihat ke sudut kanan bawah monitor laptopnya… 23:58…

“Allah, malam ini ku memohon pada-Mu untuk menjadikan kami semua para pemegang teguh kebenaran… Jadikan kebenaran sebagai cahaya petunjuk kami yang tiada pernah padam… Jadikan kebenaran sebagai pembakar semangat juang… Jadikan kebenaran sebagai pegangan utama laku kami di dunia…” Rizal berdoa di antara keheningan malam dan keletihan fisik serta jiwa setelah sehari tadi ditemani berbagai aktivitas yang padat….

Dalam malam ia meneteskan air matanya (kembali)…

To be continued

Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s