Murtad Karena Lisan

Bismillah…

Sebagai upaya membersihkan syubhat-syubhat yang ada yang seringkali merangkul kehidupan kita, sedikit demi sedikit tanpa terasa aqidah ummat dijauhkan dari tauhidullah. Dari mulai mengaburkan makna syahadatain, lalu kemudian menyebarkan berbagai macam talbis (perangkap) yang seolah-olah digambarkan dan digembar-gemborkan sebagai da’wah yang mengikuti manhaj salaaf ash shaalih. Akhirnya, mereka menyebut diri mereka sebagai “salafy” (baca: hizbus salafy).

Pemahaman yang berkembang di kalangan “salafy” dalam permasalahan iman dan kufur memiliki kesamaan dengan pemahaman kaum murji’ah yang dahulu pernah berkembang. Bahkan, sebagian dari kaum “salafy” memiliki pemahaman yang lebih ekstrem lagi.

Di antara pemahaman kaum murji’ah dalam permasalahan iman adalah bahwa mereka meyakini iman sebagai tashdiq di dalam hati. Mereka tidak memasukkan amal sebagai bagian dari iman. Sehingga seseorang dianggap masih beriman selama ia sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, walaupun dia telah melakukan perbuatan kekufuran seperti menghina Allah dan Rasul-Nya, memusuhi wali-wali Allah, menghina al Quran, tidak berhukum kepada al Quran dan as Sunnah, atau kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.

Sedangkan sebagiannya lagi beranggapan bahwa jika pun orang-orang yang melakukan perbuatan kekufuran itu divonis kafir, maka menurut mereka, hal tersebut bukan karena perbuatannya itu sendiri, melainkan karena perbuatan mereka mengindikasikan adanya kekafiran di dalam hati. Padahal, dengan tegas Allah menyatakan dalam ayat-ayatnya, begitu banyak orang-orang yang di dalam hatinya yakin, namun mereka divonis kafir karena perbuatan atau perkataannya.

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. 27: 14)

Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (2: 146)

Begitu pun dengan orang-orang musyrik:

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (6: 33)

Al Quran pun menerangkan kepada kita bahwa Iblis dikafirkan oleh Allah karena kesombongannya serta penolakannya untuk bersujud kepada Adam, bukan karena ia mendustakan berita dari Allah.

Hari ini, ternyata ada orang-orang yang mengaku sebagai pengusung ahlus sunnah wal jama’ah, namun di balik da’wah yang mereka serukan, ternyata mereka mengusung madzhab irja’ (murji’ah) kepada para penguasa. Di satu sisi, mereka begitu mudah memvonis sesat para mujahidin dan aktivis da’wah yang tidak sependapat dengan mereka, namun di sisi lain, mereka begitu meremehkan ucapan atau perbuatan mukaffirah (yang membuat pelakunya kufur-murtad).

Dalam kitab-kitabnya dapat kita lihat mereka mendefinisikan iman dengan benar, yakni meliputi ucapan, pembenaran, dan perbuatan. Namun, ketika dihadapkan pada alam realita, mereka tidak memegang teguh prinsip tersebut, bahkan justru menumbangkannya.

Mayoritas kalangan mereka beranggapan bahwa dosa hanya akan mengurangi kesempurnaan iman, tidak ada satu dosa pun yang dapat menggugurkan iman, kecuali disertai juhud (pengingkaran) atau istihlal (penghalalan). Padahal, pendapat yang benar adalah bahwa iman itu bercabang-cabang, di mana cabang yang satu berbeda dengan cabang yang lainnya. Di antara cabang-cabang iman itu ada yang jika dilanggar sekedar mengurangi iman, namun ada juga yang dilanggar dapat menghapus iman secara keseluruhan.

Menurut kaum murji’ah gaya baru ini, seseorang yang mengucapkan atau melakukan perbuatan kekafiran, tidak menjadi kafir dengan sendirinya, kecuali jika hatinya meyakini ucapan tersebut. Misal: seseorang berkata: Tuhanku adalah Isa, atau berkata: Allah ada tiga, atau hukum Islam tidak relevan lagi, kuno, ketinggalan zaman, atau kata-kata penghinaan yang semisalnya. Maka, menurut mereka orang tersebut tidak menjadi kafir selama hatinya tidak meyakini apa yang ia katakan. Padahal, Allah dengan tegas berfirman:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam” (QS. 5: 72)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, (QS. 5: 73)

“Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam.” (QS. 9: 74)

Dan Allah kembali menegaskan kepada kita di dalam Al Quran, tidak ada perbedaan, apakah ia serius atau bergurau.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. 9: 65-66)

Sayangnya, hari ini, jika ada seseorang yang berusaha menegakkan hujjah sesuai al Quran dan as Sunnah dianggap berlebihan, khawarij, dan lain sebagainya. Misalnya adalah pada saat seorang Ikhwan mengingatkan kepada kawannya yang sering mempermainkan ayat-ayat Allah, Ikhwan itu berkata, “Hati-hati, jangan berkata-kata demikian, walaupun bercanda, engkau bisa kafir murtad.”

Ternyata kawannya tersebut malah marah dan berkata, “Iman itu urusan aku dengan Tuhanku. Engkau tidak mengetahui apa yang ada di dalam hatiku.”

Sungguh, orang yang membantah dengan kalimat di atas bukan kawannya saja, namun banyak dari kita yang bisa jadi seringkali mengucapkannya. Sehingga orang-orang yang jelas-jelas telah kafir karena ucapannya masih kita bela, masih kita do’akan, dan dishalatkan saat meninggal, dengan alasan husnudzhan, karena ia telah bersyahadat. Lalu, mengapa Allah juga menyatakan orang-orang yang mengucapkan perbuatan kekufuran sebagai orang kafir, padahal Allah Maha Tahu isi hati mereka dan dengan jelas Allah tahu hati mereka sebenarnya meyakini kebenaran Allah..?!

Maka dari itu, seseorang yang mengatakan kata-kata kekufuran, tanpa melihat isi hati mereka, pada hakikatnya mereka telah kafir setelah beriman, dan wajib bagi kita memperlakukan mereka layaknya orang kafir, sebagaimana Allah memperlakukan mereka sebagai orang-orang kafir. Namun, bukan berarti dengan serta merta setiap orang yang berkata itu kita tunjuk satu-satu dan menyebut mereka sebagai orang kafir.

Sesungguhnya, ada beberapa penghalang bagi seseorang menjadi kafir, yakni:
1. Belum baligh,
2. Tidak sadar: gila, mengigau, tidak sengaja, dan sejenisnya
3. Dipaksa, seperti kisah ‘Ammar bin Yassir
4. Bodoh, belum mengetahui.

Baru jika setelah ditabayyun, mereka masih bertahan dalam pendapatnya, padahal ilmu telah disampaikan, hujjah telah ditegakkan, maka tidak ada penghalang lagi yang dapat menjadi tameng bagi mereka, sehingga mereka diperlakukan sebagai orang kafir.

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (47: 25-28)

Dengan demikian, telah jelaslah hujjah ini bagi kita, bahwa setiap kata yang kita ucapkan, baik serius ataupun bersenda gurau dapat berakibat serius terhadap status keislaman kita, baik di hadapan manusia, dan lebih penting lagi di hadapan Allah kelak.

Saat ini, saya juga ingin menyampaikan kepada Presiden dan wakilnya, atau orang-orang yang bercita-cita ingin menjadi Presiden, kepada Anggota Legislatif atau orang-orang yang bercita-cita ingin menjadi anggota legislatif, kepada Polri dan TNI, atau yang bercita-cita menjadi Polri atau TNI, atau calon-calon PNS, untuk merenungkan kembali tema ini. Salah-salah, cita-cita antum sekalian dapat membawa antum ke jurang neraka. Na’udzu billah…

Mengapa saya katakan demikian..? Hal ini dikarenakan adanya tradisi sumpah pelantikan bagi PNS untuk taat kepada hukum selain hukum Allah. Dan sebagaimana dibahas pada risalah aqidah tauhid yang berjudul MURTAD KARENA HUKUM, dimana simpulannya adalah setiap orang yang berhukum selain kepada apa yang Allah turunkan, maka ia telah kafir murtad. Lalu, bagaimana dengan orang yang bersumpah untuk taat kepada hukum selain hukum Allah..?

Sumpah Presiden: “Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti, kepada Nusa dan Bangsa.”Sumpah Wakil Presiden: “Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik – baiknya dan seadil – adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti, kepada Nusa dan Bangsa”

Sumpah Anggota Legislatif: “Demi Allah (Tuhan) bersumpah: bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten / Kota dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya; bahwa saya akan memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta peraturan perundang-undangan; bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi serta berbakti kepada bangsa dan negara; bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia“.

Sumpah Dan Janji Anggota Polri: Demi allah, saya bersumpah / berjanji :

  • Bahwa saya, untuk diangkat menjadi anggota kepolisian negara republik indonesia, akan setia dan taat sepenuhnya kepada pancasila, undang – undang dasar tahun 1945 , tri brata, catur prastya dan negara kesatuan republik indonesia serta pemerintah yang sah.
  • Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang – undangan yang berlaku dan melaksanakan kedinasan di kepolisian negara republik indonesia yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.
  • Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah dan martabat anggota kepolisian negara republik indonesia, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara dari pada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan.
  • Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan.
  • Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan bangsa dan negara kesatuan republik indonesia dan tidak akan menerima pemberian berupa hadiah dan / atau janji – janji baik langsung maupun tidak langsung yang ada kaitannya dengan pekerjaan saya
Sumpah TNI: Demi Allah saya bersumpah / berjanji :

  • Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
  • Bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin keprajuritan.
  • Bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan.
  • Bahwa saya akan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada Tentara dan Negara Republik Indonesia.
  • Bahwa saya akan memegang segala rahasia Tentara sekeras-kerasnya.

Serta sumpah-sumpah lain yang sering diucapkan pada pelantikan PNS dan lain sebagainya. Semua itu adalah ucapan kekafiran. Bagi yang sudah terlanjur mengucapkannya, maka diwajibkan baginya bertaubat dan mengingkari sumpah tersebut, berlepas diri dari kekuasaan thaaghut, dan wajib baginya melepaskan pekerjaannya jika pekerjaannya selama ini menjadi pengayom, pelindung, dan penolong sistem thaaghut untuk kemudian masuk ke dalam barisan para mujahidin demi membersihkan aqidah tauhid ummat ini dan memenangkan diin ini.

Pada dasarnya menjadi PNS diperbolehkan selama pekerjaannya tersebut tidak membantu, mengayomi, melindungi, atau memperkokoh sistem thaaghut, serta tidak bersumpah untuk melakukan tindakan kemusyrikan…

Saya teringat kisah seorang Ikhwan yang kini menjadi dosen di UPI, beliau menyadari urgensi da’wah kampus sampai merelakan diri untuk menjadi dosen, dan pada saat pelantikan jabatan bersama calon dosen yang lain, ia berani untuk tidak mengucapkan sepatah katapun, walaupun, menurut cerita beliau, rektor sampai melihatnya dengan tatapan yang tajam.

Wallahu a’lam…

-Al Fadhli-

9 thoughts on “Murtad Karena Lisan”

  1. bagaimana kalau mereka bortobat, apakah tobat mereka bisa di terima?

    +++++
    Bismillah, insya Allah dengan syarat mengingkari semua dosa kekufuran yang pernah dilakukan dan kembali berislam,,,, wallahu a’lam….

  2. Saya bukan PNS, cuman pengen tau aja opini mas penulis…
    jadi sumpah2 itu harusnya berbunyi bagaimana..?
    dan jika mas penulis bilang : “…Bagi yang sudah terlanjur mengucapkannya, maka diwajibkan baginya bertaubat dan mengingkari sumpah tersebut…” habis dong PNS yg orang Islam di pemerintahan, lalu naiklah orang2 kafir ke pemerintahan…? lalu kemudian kita dipimpin oleh orang kafir..??
    Oh ya, padahal di dlm sumpah tersebut termaktub kata “demi Allah”. gimana tuh solusinya..?
    bingung saya… makan dulu sanah, ada mi ayam spesial tuh…

    1. Seharusnya tidak menyatakan ketaatan terhadap UUD / Pancasila secara mutlak. Karena itulah inti kekufurannya,,, bila tidak ada kalimat kekufuran, maka sumpah apapun sah2 saja asalkan demi Allah bukan yang lainnya. Sebagaimana sabda Rasul :
      “Siapa yang bersumpah dengan nama selain ALlah, maka ia telah syirik/ kafir…”

      Para berkata : Maksudnya syirik/ kufur kecil, tidak mengeluarkan dari Islam, namun syirik/ kufur kecil ini jauh lebih besar daripada dosa besar, seperti membunuh, berzina, atau riba.

      Adapun berkaitan dengan adanya lafadz Allah dalam sumpah teraebut, tentu tidak dengan serta merta menjadikan sumpah itu halal. Sama seperti berzina, apakah zina bisa menjadi halal bila dimulai dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah? Bahkan bisa jadi orang yang melakukan hal tersebut jauh lebih besar dosanya dengan yang sekedar berzina tanpa menyebut nama Allah, karena di sana ada unsur istihza’ atau memperolok-olok diinuLlah. Maka bagaimana mungkin kita bersumpah dengan nama Allah untuk beribadah kepada selainnya??

      Lalu bagaimana bila banyak orang kafir di pemerintahan? Hal tersebut tidak mengurangi izzah Islam sedikit pun, karena perputaran kekuasaan adalah taqdir Allah. Tugas kita hanyalah taat kepada Allah dan istiqamah di atas kebenaran tersebut. Bahkan keberadaan orangkafir dalam tataran kekuasaan justru akan semakin memperjelas garis embarkasi antara haqq dan bathil, dan ini akan memudahkan kita melakukan perlawnan dibandingkan dengan kondisi saat ini yang masih terlalu samar dan buram. Wallahu a’lam…

    1. Ada tiga hal yang manusia tidak dibebankan darinya: lupa, tidak sengaja, dan hilang kesadaran.

      Dan dalam bab mengucapkan kata2 kufur, diperbolehkan juga saat dipaksa dengan ancaman nyawa. Sebagaimana dahulu Ammar bin Yasir pernah melakukan hal tersebut dan Nabi membolehkannya.

      Wallaahu a’lam.

  3. murtad tidak kalau sy ngomong “Allah ada satu” tapi hati saya terlintas selain dari 1. gimana menurut anda. apakah sy sdh murtad? Apakah taubat bisa di terima?

    1. Iman itu pernyataan dari lisan, keyakinan dalam hati, dan amal dengan anggota badan. Bila salah satunya bertentangan maka jelas dapat memengaruhi keimanan. Bila yang bertentangan berkaitan dengan pokok-pokok keimanan maka dapat meruntuhkan keimanan dalam diri seseorang. Artinya dia telah keluar dalam lingkaran iman.
      Apakah taubat diterima? Pintu taubat akan selalu terbuka sampai nyawa di kerongkongan.
      Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s