Murtad Karena Hukum

Bismillah…

Beberapa waktu yang lalu, saya telah menjelaskan dalam risalah tauhid, pengertian tauhidullah, urgensinya, termasuk juga ma’na syahadatain, syarat-syaratnya dan pembatal-pembatalnya.

Dalam kajian kali ini, kita akan mencoba menggali kembali, salah satu tempat yang dapat menyebabkan murtadnya seorang muslim, yakni pada saat ia berhukum tidak dengan apa yang diturunkan Allah.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa identitas seseorang sebagai muslim itu terbagi dua: identitas hakiki (islam hakiki) dan identitas hukmi (islam hukmi)…

Islam hakiki yakni yang wajib ada pada diri kita masing-masing. Perhitungannya adalah di hadapan Allah kelak. Tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar berislam dengan benar kecuali Allah. Tidak ada seorang pun yang berhak menilai seseorang lebih “islam” dibandingkan yang lainnya. Termasuk apakah seseorang benar-benar berislam atau tidak, itu adalah hak Allah.

Islam hukmi yaitu penilaian kita terhadap keislaman seseorang di dunia. Hakikatnya, keislaman seseorang hanya Allah yang menentukan, namun dalam menentukan statusnya di dunia, maka kita menilai berdasarkan yang tampak dari mereka. Jika yang mereka tampakkan adalah keislaman, maka wajib diperlakukan sebagai seorang muslim. Namun, jika yang ditampakkan adalah perbuatan atau perkataan kekufuran, maka wajib bagi kita bertabayyun, mengecek kembali, mengingatkannya agar ia bertaubat, lalu akhirnya kita menentukan apakah ia masih muslim atau bukan (berdasarkan hal2 yang tampak tadi dan jelas hujjahnya).

Adapun pembahasan tauhid (dari awal sampai sekarang) yang saya tulis di sini adalah dalam rangka mencapai Islam hakiki, agar kita tidak terjebak dalam perbuatan atau perkataan kekufuran sedikitpun. Karena sesungguhnya seseorang baru benar-benar dikatakan beriman jika sudah menyingkirkan segala macam sesembahan selain Allah.

Salah satu bentuk sesembahan populer yang saat ini menjadi tandingan bagi Allah adalah hukum yang tidak berdasarkan atas apa yang Allah turunkan. Hukum positif di setiap negeri telah menjadi syariat baru di luar syariat Allah. Ini jelas-jelas bentuk kekufuran yang nyata, namun banyak orang tidak menyadarinya. Saat diberi peringatan, kebanyakan dari mereka menolaknya.

Hukum Islam memerintahkan pezina dicambuk, dan pezina yang sudah menikah dirajam, namun hukum positif di setiap negeri muslim tidak menerapkannya, termasuk Indonesia. Para pencuri tidak dipotong tangan, sedangkan riba dihalalkan, pendirian pabrik-pabrik khamr diizinkan, jilbab di beberapa tempat masih dilarang, sedangkan aliran-aliran sesat yang bertebaran tidak ditindaklanjuti atas nama kebebebasan berpendapat dan HAM. Na’udzu billah.

Allah berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maaidah 5: 44)

Sabaab an Nuzuul
Terdapat dua riwayat terkait dengan sebab turunnya ayat ini.
1. Ayat ini turun berkaitan dengan orang Yahudi yang berzina namun mereka tidak merajamnya.
2. Ayat ini turun berkaitan dengan dua kelompok Yahudi yang menerapkan hukum berbeda antara kaum yang lemah dengan kaum yang dianggap lebih mulia.

Keduanya bisa jadi benar, dan ayat ini turun untuk menjelaskan dua perkara tersebut. Yakni orang-orang Yahudi yang menciptakan hukum sendiri karena mereka merasa terlalu berat jika melaksanakan apa yang terdapat dalam Taurat, mereka mengganti hukumannya, tanpa menghapus perintah Allah dalam Taurat, dan Allah menghukumi mereka kafir.

Tafsir Ayat
Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat ini (QS. 5: 44) berkata:
Al Barroo’ bin ‘Aazib, Huzdaifah Ibnul Yamaan, Ibnu ‘Abbaas, Abu Mijlaz, Abu Rajaa’, Al ‘Athooridiy, ‘Ikrimah, ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah, Al Hasan Al Bashriy dan yang lainnya mengatakan: Ayat ini turun berkenaan dengan ahlul kitab. Al Hasan Al Bashriy menambahkan: Dan ayat ini wajib bagi kita.

Dan ‘Abdur Razzaaq berkata, ia dari Suyaan Ats Tsauriy, Sufyaan dari Manshuur, Manshuur dari Ibrahim, ia mengatakan: Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Bani Israil, dan Allah meridhai ayat ini untuk umat ini. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Jariir.

Dan Ibnu Jariir juga berkata: Ya’qub bercerita kepada kami, ia berkata: Hasyiim bercerita kepada kami, ia berkata: ‘Abdul Maalik bin Abiy Salamah mengabarkan dari Salamah bin Kuhail, ia dari ‘Alqamah dan Masruuq, bahwasanya keduanya bertanya kepada Ibnu Mas’uud tentang risywah (suap). Maka ia menjawab: Itu adalah harta haram. Lalu keduanya bertanya: Dan dalam hukum? Ia menjawab: Itu adalah kekafiran. Kemudian ia membaca:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir.”

Dan As Suddiy berkata : Maksudnya Allah berfirman: Dan barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang Aku turunkan lalu dia meninggalkannya dengan sengaja atau dia berlaku dzhalim sedangkan dia mengetahui maka dia termasuk orang-orang kafir.

Dan ‘Aliy bin Abiy Thalhah mengatakan, ia dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman Allah :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”

Ia mengatakan: Barangsiapa (tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah karena) juhuud (ingkar) terhadap apa yang diturunkan Allah maka dia telah kafir namun barangsiapa (tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah sedangkan dia) mengakuinya maka dia dzhalim dan fasiq. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Jariir, kemudian dia memilih pendapat yang mengatkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah ahlul kitab atau orang yang juhuud terhadap hukum Allah yang diturunkan dalam kitab.

Dan ‘Abdur Rozzaaq mengatakan, ia dari Ats Tsauriy, ia dari Zakariyaa, ia dari Asy Sya’biy tentang ayat :
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ

Ia mengatakan: Ini untuk kaum Muslimin.

Dan Ibnu Jariir mengatakan: Ibnul Mutsannaa bercerita kepada kami, ia mengatakan: ‘Abdush Shamad bercerita kepada kami, ia mengatakan: Syu’bah bin Abiy As Safar bercerita kepada kami, ia dari Asy Sya’biy tentang ayat :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Ia mengatakan: ”Ini berkenaan dengan kaum muslimin.” Sedangkan:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Ia mengatakan: ”Ini berkenaan dengan orang Yahudi”. Sedangkan:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Ia mengatakan: “Ini berkenaan dengan orang-orang Nasrani”. Dan demikian juga yang diriwayatkan oleh Hasyiim dan Ats Tsauriy dari Zakariya bin Abiy Zaa-idah dari Asy Sya’biy
.
Dan ‘Abdur Razzaaq juga mengatakan: ”Ma’mar telah mengabarkan kepada kami, ia dari Ibnu Thoowuus, ia dari ayahnya, ia berkata: Ibnu ‘Abbaas ditanya tentang firman Allah:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara”.

Ia menjawab: ”Ini adalah kekafiran.” Ibnu Thoowuus berkata: ”Dan tidak sebagaimana orang yang kafir kepada Alloh, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, dan Rosul-rosulNya.”

Dan Ats Tsauriy berkata dari Ibnu Juraij, ia dari Athoo’, bahwasanya dia mengatakan:”Kufrun duuna kufrin (kekafiran yang bukan kekafiran), dhulmun duuna dhulmin (kedzhaliman yang bukan kedzhaliman) dan fisqun duuna fisqin (kefasikan yang bukan kefasikan). Ini diriwayatkan oleh Ibnu Jariir.

Dan Wakii’ mengatakan dari Sa’iid Al Makkiy, ia dari Thoowuus tentang ayat:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”.

Ia mengatakan: ”Bukanlah kekafiran yang menyebabkan keluar dari millah (Islam)”.

Dan Ibnu Abiy Haatim mengatakan: ”Muhammad bin ‘Abdulloh bin Yazid Al Muqriy telah bercerita kepada kami, ia mengatakan: Sufyaan telah bercerita kepada kami, ia dari ‘Uyainah, ia dari Hisyaam bin Hujair, ia dari Thoowuus, ia dari Ibnu ‘Abbaas tentang firman Allah:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”.

Ia mengatakan: ”Bukanlah kekafiran sebagaimana yang kalian pahami.” Ini diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Mustadraknya dari hadits Sufyaan bin ‘Uyainah, dan dia mengatakan: ”Ini shahih sesuai dengan syarat dua syaikh (Al Bukhooriy dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya.” (Tafsiir Ibnu Katsiir II/61).

Penjelasan tafsir yang lain tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Ibn Katsir. Namun karena beragamnya riwayat yang diungkapkan Ibn Katsiir, banyak orang yang menggugurkan pendapat bahwa berhukum kepada hukum selain Allah bukanlah kekafiran, selama tidak ada pengingkaran dan penghalan. Mereka berpendapat bahwa:
1) Ayat ini khusus untuk ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan untuk kaum muslimin,
2) Kekafiran yang disebutkan dalam ayat ini adalah kufur ashghor (kufrun duuna kufrin), dan
3) Kekafiran di sini tidak dibawa kepada pengertian kufur akbar kecuali terhadap orang yang juhuud (ingkar) atau istihlaal (menghalalkan) sehingga mereka menjadikan hal ini sebagai manaathut takfiir (penyebab vonis kafir) dalam ayat ini.

Bantahan
1) Ayat ini khusus untuk ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan bukan untuk kaum muslimin,
Jawab: Bahwa pendapat sahabat dalam hal ini berbeda-beda sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, maka untuk mengetahui mana yang benar adalah dengan melakukan tarjih ayat.

Dan setelah melakukan tarjiih maka kami dapatkan bahwa yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa ayat ini bersifat umum yang masuk ke dalamnya kaum muslimin. Dalil:

Sesungguhnya shiighah (struktur kalimat) ayat ini berbentuk umum, karena menggunakan “man syarthiyah” (siapa yang berfungsi sebagai syarat). Sebagimana kaidah ushul fiqih: “Pelajaran (kesimpulan) itu diambil berdasarkan keumuman lafadz dan bukan berdasarkan sebab yang khusus”.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan lafadz “من “ (siapa) merupakan shiighoh (ungkapan) kalimat yang paling umum, terlebih lagi apabila berfungsi sebagai syarat atau kata tanya. Sedangkan ayat ini jelas menggunakan lafadz من. Maka Ibnul Qayyim mengatakan tentang ayat ini: ”Dan di antara mereka ada yang menafsirkan bahwa ayat tersebut untuk ahlul kitab yaitu pendapat Qataadah, Adl Dlahaak dan yang lainnya. Dan pendapat ini jauh (kemungkinannya) dan tidak sesuai dengan dzhahir lafadhnya oleh karena pendapat ini tidak benar.” (Madaarijul Saalikiin I/365 cet. I Daarul Kutub Al ‘Ilmiyah).

Dan lebih banyak lagi pendapat yang menguatkan hal ini.

2) Kekafiran yang disebutkan dalam ayat ini adalah kufur ashghor (kufrun duuna kufrin)
Bahwa pernyataan Ibn ‘Abbas tentang ayat ini tidak shahih. Riwayat kufrun duuna kufrin merupakan riwayat munqathi’. Riwayat yang kuat, hal ini diucapkan oleh tabi’in, yakni Thaawus. Dan berdasarkan penelitian terhadap perkatan para shahabat dan taabi’in, maka yang kuat adalah perkataan taabi’iin yang menyatakan bahwa yang dimaksud kekafiran dalam ayat tersebut adalah kufur akbar.

3) Kekafiran di sini tidak dibawa kepada pengertian kufur akbar kecuali terhadap orang yang juhuud (ingkar) atau istihlaal (menghalalkan) sehingga mereka menjadikan hal ini sebagai manaathut takfiir (penyebab vonis kafir) dalam ayat ini.

Yang mensyaratkan juhuud untuk memvonis kafir adalah Ibnu ‘Abbaas menurut perkataan yang dinisbahkankepadanya oleh Ath Thobariy dalam tafsirnya VI/2257 dan dinukil oleh Ibnu Katsiir. Dan Ikrimah juga mensyaratkannya menurut riwayat yang dinukil oleh Abu Hayyaan Al Andalusiy dalam tafsirnya III/493.

Dan yang tidak mensyaratkan juhuud untuk memvonis kafir adalah para shabat dan tabi’iin lainnya yang kami telah nukil dari mereka. Dan sesungguhnya barangsiapa yang sengaja meninggalkan hukum Alloh maka dia telah kafir.

Maka Ibnul Qoyyim berkata: “Dan di antara mereka mentakwilkan ayat tersebut untuk orang yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh karena juhuud (ingkar) terhadapnya, ini adalah perkataan ‘Ikrimah. Dan ini adalah perkara yang lemah. Karena juhuud itu sendiri merupakan kekafiran, baik dia memutuskan perkara atau tidak.” (Madaarijus Saalikiin 1/365 cet. Daarul kutub Al ‘Ilmiyyah cet. I).

Patut diingat, bahwasanya Ahlus Sunnah yang berpendapat bahwa iman itu terdiri dari perkataan dan perbuatan, mereka mengkafirkan lantaran perbuatan — yang berupa ucapan, perbuatan dan turuuk (meninggalkan amalan) — yang telah dinyatakan oleh syaari’ bahwa pelakunya kafir. Adapun Murji-ah yang berpendapat bahwa iman itu tashdiiq (percaya) dan amal tidak termasuk kedalamnya, mereka tidak mengkafirkan lantaran perbuatan apapun, bahkan kekafiran menurut mereka bukan lain hanyalah takdziib (mendustakan) dan juhuud (ingkar) yaitu yang menjadi kebalikan tashdiiq (percaya). Akan tetapi para fuqohaa’ dan mutakallimiin dari kalangan Murji`ah berpendapat; selain itu tadi sesungguhnya amalan (ucapan atau perbuatan atau tarkun (meninggalkan perbuatan) yang dinyatakan oleh syar’iy (sang pembuat syari’at) bahwa pelakunya kafir, ini merupakan pertanda bahwa orang tersebut haitnya mendustakan dan mereka mengkafirkan orang tersebut dengan perbuatan tersebut, dan mereka menjadikan juhuud selalu selalu menyertai vonis kafir yang tidak akan lepas darinya pada perbuatan seperti ini. Lain dengan ghulaatul Murji`ah (murji`ah ekstrim) yang menjadikan juhuud sebagai satu syarat tersendiri untuk memvonis kafir dalam masalah ini.

Sesungguhnya vonis kafir itu berlaku bagi setiap orang yang meninggalkan hukum Allah dalam satu permasalahan atau dalam semua permasalahan. Hal ini karena vonis kafir — yang terdapat pada sebab turunnya ayat — dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan hukum Allah dalam satu permasalahan saja yaitu orang muhshan (yang pernah nikah) yang berzina padahal keadaan yang menjadi sebab turunnya ayat itu masuk ke dalam nash ayat secara qath’iy.

Intinya: bahwasanya setiap orang yang meninggalkan hukum Allah dalam satu permasalahan atau dalam satu kejadian lalu dia memutuskannya dengan selain hukum yang diturunkan Allah, dengan sengaja maka dia kafir kufur akbar. Dan yang paling berhak terkena vonis hukum ini adalah seluruh penguasa dan hakim yang menjalankan hukum berdasarkan hukum buatan manusia. Mereka ini tidak ada perbedaan antara yang sengaja atau tidak sengaja.

Akan tetapi yang ada perbedaan antara yang sengaja atau tidak sengaja itu hanyalah pada para qaadliy (hakim) yang memutuskan hukum berdasarkan syariat Islam yang mana pada asalnya mereka komitmen untuk memutuskan perkara berdasarkan syariat Islam. Mereka ini apabila menyelisihi syariat dengan sengaja maka dia kafir dan apabila menyelisihi syariat dengan tidak sengaja maka ia tidak kafir bahkan dia mendapat pahala lantaran ijtihadnya jika dia termasuk orang yang mampu berijtihad.

Disarikan dari: Tafsir Al Maaidah 44, Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz, dalam Kitab Al Jami’ fii Thalabul ‘Ilmy asy Syariif, XIII/109 – 167.

Wallahu a’lam

Akhukum,

Al Faqir ilaLlah, Al Fadhli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s