Cinta Terlarang

Bismillah…

Kegalauan yang sempat mengguncang akhirnya semakin mengguncang saat tidak kutemukan satu alasan pun untuk bergulat dalam ruang-ruang penuh cinta dan kasih sayang… (lho koq bisa ya..??)

Karena ruang yang penuh cinta itu menjadi kelebihan dan sekaligus menjadi kekurangannya.

Saya merenungi sebuah ayat di dalam al Quran. Allah berfirman:

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau pun keluarga mereka.”

Benar-benar tertegun…

Allah mengatakan bahwa tidak akan ditemukan orang-orang yang beriman memberikan cinta dan kasih sayang kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak, anak, saudara, atau keluarga mereka sendiri. Subhanallah… Allah melarang kita mencinta..!

Padahal dalam ruang itu, ikatan di antara sesama menjadi tumpuan, dan seolah (dalam pandangan saya) pada akhirnya mengumpulkan semua orang yang menyepakati visi dan misi untuk bergabung di dalamnya, walaupun bisa jadi mereka menyimpan permusuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, baik itu yang tersimpan di dalam hatinya ataupun yang tampak terang-terangan.

Ayat di atas turun berkenaan dengan perang Badr, dimana anak membunuh ayah, ayah membunuh anak dan saudara membunuh saudara, demi Allah, bukan yang lain. Ikatan ukhuwah telah terputus saat seorang telah memilih konfrontasi melawan Allah dan Rasul-Nya.

Manusiawi jika Abu Ubaidah merasakan kegalauan saat membunuh ayahnya. Atau tanyakan kegetiran Mush’ab bin Umair saat membunuh saudaranya. Begitu pun dengan perihnya Hamzah yang membunuh Utbah, Ali yang membunuh Syaibah, dan Ubaidah bin al Harits yang membunuh al Walid bin Utbah pada hari yang sama. Allahu akbar…

Tidak habis pikir bagaimana mereka bisa menghilangkan kegalauan dan berani untuk menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaa terhadap dunia dan isinya, dan menjadikan ikatan ukhuwah yang dibangun benar-benar berdasar atas ikatan iman, bukan ikatan jahiliyyah, seperti pertalian darah, suku, bangsa, warna kulit, negara, atau hanya sekedar organisasi belaka.

Allah dan Rasul-Nya sanggup membina generasi mujahidin, yakni generasi terbaik sepanjang masa, yang menempatkan mereka menjadi orang-orang yang mulia. Mencinta karena Allah dan membenci pun karena Allah… Tidak takut terhadap celaan orang yang mencela, saling berkasih sayang di antara mereka dan keras terhadap musuh-musuh Allah… Inilah hakikat persaudaraan: Iman…

Yang menjadi permasalahan adalah siapa musuh Allah dan Rasul-Nya..? Apakah syiah harus dijadikan kawan atau lawan..? Ataukah kita harus mati-matian membela Ahmadiyah atas nama kebebasan beragama..? Atau juga kita harus masih mau bergandengan tangan dengan Amerika, Israel, dan sekutunya atas segala macam permusuhan yang mereka berikan kepada Allah..? Ataukah kita harus bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang senantiasa memfitnah mujahidin dengan dalih memerangi ‘teroris’..? Lalu menjadi kaki tangan mereka dan memenjarakan para ustadz dan ulama..? Ataukah kita harus memusuhi mujahidin yang memerangi Amerika dan Zionis, yang dalam beberapa kesempatan mereka salah berijtihad dan membunuh sipil..?

Siapa yang harus kita cintai, dan siapa yang harus kita benci..?

Ketegasan dan iman yang akan menjawabnya… Karena sesungguhnya cinta yang benar berawal dari iman dan berakhir menuju iman, sedangkan selainnya adalah cinta yang terlarang…

Wallahu a’lam…

Akhukum, Al Fadhli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s