IMAN : Di Antara Murji`ah dan Khawarij

Dalam definisi makna “Iman”, ada tiga golongan besar, setidaknya, yang memiliki pandangan berbeda tentang makna yang terkandung di dalamnya… Di antara antum sekalian apakah ada yang memiliki pemahaman apa itu arti dari kata sederhana bernama “Iman”..???

Golongan pertama yaitu kaum Murji’ah yang mendefinisikan Iman sebagai Keyakinan dan Ucapan, yakni mengucapkan dua kalimat syahadat dan meyakininya dengan sepenuh hati. Mereka tidak menyertakan amal sebagai bagian yang utuh dari iman, karena mereka menganggap amal dzhahir hanya merupakan penyempurna iman saja, bukan bagian dari iman itu sendiri. Iman menurut mereka tetap, tidak naik dan tidak turun. Kemaksiatan sebesar apapun tidak dapat menjadikan seorang batal keimanannya. Konsekwensi pemahaman ini adalah setiap orang yang sudah bersyahadat tidak mungkin murtad dengan amal. Jadi, seseorang yang telah bersyahadat lalu ia mengucapkan kata-kata menghujat Allah dan Rasul-Nya, maka ia tetap dikatakan beriman, atau jika ia datang ke Gereja mengikuti perayaan Natal pun dikatakan masih tetap beriman.

Pemahaman ini akan membawa fitnah yang besar saat perlakuan-perlakuan kekufuran terjadi pada pemerintah, suami, orang tua, dan lain sebagainya, karena konsekwensi dari hilangnya iman adalah pelakunya menjadi murtadin, sedangkan murtadin yang menjadi penguasa wajib diperangi, suami atau istri yang murtad, pernikahannya batal. Sedangkan orang tua atau anak yang murtad tidak memiliki hak waris atas seorang mu’min.

Pernyataan Murji’ah seperti ini harus diwaspadai karena mereka beranggapan batalnya iman hanya terjadi di hati dan ikrar yang terang dan dimaksudkan untuk murtad, sedangkan tidak ada satu pun yang mengetahui isi hati kecuali Allah dan dirinya sendiri. Berarti tidak ada satu pun orang di dunia ini yang dapat murtad menurut pandangan Murji’ah, kecuali ia mengikrarkan diri untuk pindah Agama. Dalam realitanya, golongan Murji’ah terbagi-bagi kembali dalam skala yang lebih rinci, namun bukan di sini pembahasannya.

Golongan kedua adalah Khawarij yang berlebihan dalam memaknai definisi iman. Mereka mendefinisikan iman sebagai perkataan, keyakinan, dan amal. Namun, sikap berlebihan Khawarij terletak pada pemahaman bahwa iman tidak memiliki cabang. Seluruh perkataan dan perbuatan adalah pokok iman, hal ini berkonsekwensi pada penentuan kapan seseorang itu batal imannya (murtad).

Menurut Khawarij, seseorang murtad jika melakukan dosa-dosa besar. Hal ini berdasarkan sebuah hadits bahwa seseorang tidak akan bermaksiat kecuali dalam kondisi tidak beriman. Pemahaman mereka yang rancu mengakibatkan tuduhan keji terhadap sesama muslim dan menganggap para pelaku dosa-dosa besar (yang tidak mengkafirkan) termasuk murtad. Akibatnya, seorang pezina mereka anggap murtad, seorang pembunuh mereka anggap murtad, dan dosa-dosa besar lainnya dianggap mengugurkan iman.

Sikap berlebihan Khawarij diakibatkan karena mereka berpendapat bahwa iman yang termasuk perkataan, perbuatan, dan keyakinan tidak bertingkat-tingkat. Mereka berpendapat iman itu satu pangkal dan perkataan serta amal yang ada pada diri manusia bukanlah cabang dari pangkal iman, tapi pangkal itu sendiri. Akibat pemahaman seperti ini, dapat kita saksikan begitu banyak orang-orang yang memerangi saudara se-Islam dikarenakan dianggap murtad, padahal mereka hanyalah pendosa yang masih memungkinkan untuk bertaubat. Pun, jika dosa mereka adalah dosa-dosa yang mengkafirkan, maka harus ada mekanisme tabayyun terlebih dahulu sebelum memvonis seseorang murtad atau tidak.

Golongan ketiga yakni golongan yang berada di antara berlebih-lebihannya Khawarij dan serampangannya Murji’ah. Golongan ini adalah golongan yang mendapat cahaya petunjuk ilahi, sehingga mereka memahami iman sebagaimana Rasulullah dan para Shahabat memahaminya. Merekalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman menurut Ahlus Sunnah adalah perkataan, Keyakinan, dan Perbuatan. Namun. iman itu bercabang, sehingga seseorang yang melakukan perbuatan dosa, bisa jadi murtad apabila ia melakukan dosa-dosa mukaffirah (yang menyebabkan pelakunya kafir). Namun juga dosa-dosa besar yang tidak mukaffirah tidak bisa menyebabkan pelakunya murtad selama tidak ada penghalalan atas dosa-dosa tersebut.

Ahlus Sunnah berpandangan bahwa Iman wajib ditegakkan di atas tiang-tiang penegaknya, yakni Ucapan (Ikrar dua kalimat syahadat), Keyakinan (yang meliputi taat, cinta, khauf, raja, tunduk, patuh, dan sebagainya) serta amal yang akan menegakkan iman. Amal bukanlah penyempurna iman, tapi bagian dari iman itu sendiri.

Lalu, dalam pandangan Ahlus Sunnah, kapan seseorang bisa batal imannya..?

Jawab atas pertanyaan ini dapat dijawab dengan singkat: Yakni pada saat seseorang melakukan dosa-dosa mukaffirah, baik dari lisan, hati, maupun amal. Selama ia tidak dipaksa, tahu bahwa dosa tersebut adalah dosa-dosa mukaffirah, dan dalam keadaan sadar ketika melakukannya, maka ia menjadi murtad dari Islam.

Yang masih menjadi perdebatan adalah dosa-dosa apa saja yang termasuk dosa-dosa mukaffirah..??

Ahlus Sunnah berpendapat seluruh amal yang berkaitan dengan Ashlul Iman (pokok-pokok Iman), jika dilanggar dapat menyebabkan pelakunya kafir, misal: tidak mengucapkan dua kalimat syahadat jelas menunjukkan pelakunya bukan Islam alias kafir. Lalu, jika ia telah mengucapkan namun menolak, meragukan, dan atau menentang salah satu atau beberapa atau seluruh bagian dari rukun iman dan rukun Islam. Maka, pelakunya menjadi kafir setelah beriman.

Kemudian yang dapat menjadikan seorang muslim kembali kepada kekufuran adalah meninggalkan shalat dan zakat dengan sengaja, tanpa udzur apapun. Para ulama berpendapat mereka wajib diperangi (oleh Khalifah) hingga kembali shalat dan menunaikan zakat. Namun, sebagian ulama berpendapat mereka tidak kafir murtad, hanya saja di hadapan Allah mereka seperti orang kafir hingga kembali shalat dan zakat.

Dosa-dosa mukaffirah juga di antaranya adalah menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah, juga sihir (baik pelakunya maupun orang yang meyakininya), berhukum kepada hukum selain yang diturunkan Allah, mengucapkan Isa atau Uzair Anak Allah, berdoa kepada selain Allah, menghina Allah dan Rasul-Nya, membuang mushaf ke kotoran, membantu orang-orang kafir dalam memerangi ummat Islam dan mujahidin, berwala kepada orang-orang kafir dan munafiq, bara’ah kepada mu’minin, mengikuti upacara orang-orang kafir dan menyerupai mereka dalam syiar-syiar nya, menyiarkan agama selain Islam, meyakini ada kebenaran di luar Islam, dan perbuatan atau perkataan yang tidak dapat didefinisikan lain kecuali kekufuran, yakni menolak, meragukan, atau menentang, baik dengan lisan atau perbuatan sesuatu yang telah disepakati oleh Ummat Islam sebagai bagian penting dari Diinul Islam…

Dalam hal tersebut, tidak dibedakan apakah pelakunya serius atau main-main, karena sesungguhnya amalan atau perbuatan mukaffirah akan menghapus iman. Termasuk juga di dalamnya amalan-amalan hati yang seringkali kita tidak sadar: mencintai, menaati, tunduk, patuh, takut, taat, rindu dan bergantung kepada makhluq melebih perasaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya… Ini merupakan bentuk kesyirikan yang secara tidak sadar seringkali kita lakukan. Jika dibiarkan maka, ia akan menggumpal di dalam hati dan menyebabkan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang munafiq. Na’udzu billah…

Adapun penghalang bagi seseorang dari vonis murtad adalah tidak sadar, tidak sengaja, dipaksa, tidak tahu (belum berilmu tentangnya). Sekarang, kita telah mengetahuinya, silakan untuk menyebarkannya dan memberitakan kepada ummat islam bahwa lebih berhati-hati kembali dalam mendefinsikan Iman dan dalam mengamalkan iman… Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan hidayah untuk tetap kokoh di atas jalan-Nya… Aamin…

Akhukum,
Al Fadhl

7 thoughts on “IMAN : Di Antara Murji`ah dan Khawarij”

  1. jangalah engkau mengaku beriman,sebelum Allah dan Rasul kau jadikan hakim yang seadil-adilnya walaupun dalam perkara yg tak kau senangi

  2. Assalamualaikum,
    Saya ada soalan, jika seseorang itu melanggar perintah Allah yg telah dinyatakan didalam Al-Quran, contohnya, tidak menutup aurat secara sempurna, maka adakah maksudnya seorang itu tidak mengimani ayat Al-Quran tentang perintah tutup aurat dan terbatal imannya atau bagaimana?

    1. Wa ‘alaykumussalaam…
      Imannya tidak sempurna, namun tidak berarti ia sama sekali tidak beriman (kufur). Karena ibadah yang sifatnya amalan tidak semuanya bila ditinggalkan dapat menggugurkan iman secara keseluruhan..

      Yang patut kita fahami adalah bahwa ada sebahagian amalan yang termasuk ashlul iman, dimana bila kita tinggalkan amalan tersebut maka kita bisa jatuh dalam kekufuran, contohnya adalah meninggalkan shalat dengan sengaja, atau menghalalkan apa-apa yang Allah kata haram dan sebaliknya, mengharamkan apa-apa yang Allah kata halal, ini termasuk perkara pokok keimanan.

      Tapi sebagian amalan lagi itu cabang keimanan, bila dilaksanakan bertambah imannya dan bila ditinggalkan turunlah keimanannya. Contohnya orang yang belum bisa tutup aurat dengan sempurna. Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s