Mengakhiri Krisis Perjalanan Gerakan Jihad

Oleh: Syaikh Abu Mush’ab As Suri

Secara ringkas, dari evaluasi dan perbandingan gagasan yang ada di pemikiran saya dengan gagasan pada tiga aliran tersebut[1], ada beberapa poin simpulan sebagai berikut:

Pertama:  Tawaran-tawaran aliran yang menyerah, meletakkan senjata, dan menjauh dari jalan jihad merupakan aliran yang secara syar’i melenceng dan secara realitas mandul hasilnya. Hal seperti itu ditunjukkan nash-nash syar’i dan eksperimen-eksperimen masa lalu di negara kita dan eksperimen semua bangsa.[2]

Sesuatu yang tidak bisa kita peroleh dengan jihad dan senjata, sudah tentu tidak akan pernah kita raih dengan kekalahan dan sikap menyerah, baik untuk tujuan organisasi maupun untuk keselamatan pribadi.

Kedua: Aliran yang gigih a la kaum jihad dengan cara-cara lama hanya akan menggiring mereka menuju kegagalan masa lalu yang akan terulang kembali. Aliran ini gagal, meski situasi perjuangan dan faktor-faktor pendukung posisi kita sebelum adanya tatanan dunia baru lebih baik dan lebih sesuai, namun cara-cara, manhaj pemikiran, dan metode perjuangan tersebut tidak bisa mewujudkan aliran ini. Apalagi bila realita di sekeliling kita sudah berubah dan kondisi-kondisi global tidak memungkinkan lagi untuk berjuang dengan cara-cara lama tersebut, tentu akan gagal lagi.[3]

Masa lima tahun (1996-2001) telah membuktikan kemandulan cara-cara tersebut dan ketidakmampuan organisasi-organisasi jihad lama atau usaha-usaha baru mencapai hasil atau kemajuan apapun. Semua itu hanya mengakibatkan bertambahnya perpecahan, kerugian, dan korban berupa para syuhada dan orang-orang yang ditangkap melalui berbagai usaha terbatas yang mereka lakukan. Selain karena pengaruh kampanye-kampanye pembekuan sumber-sumber dana, pemutarbalikkan informasi, pengejaran pihak keamanan, membuat sisa-sisa aliran ini bertambah terisolir dari negeri dan komunitasnya. Hal ini membuat mereka yang masih tersisa menjadi kelompok-kelompok kecil yang hidup dalam kenangan-kenangan dan harapan-harapan masa lalu, serta cita-cita masa depan yang setiap hari hanya menambah khayalan mereka saja.

Ketiga: Seruan yang digagas oleh Syaikh Usamah dan dilaksanakan oleh Jaringan Al Qaidah dengan berperang melawan Amerika merupakan pintu bagi koreksi arah (gerakan) jihad, memobilisasi ummat, dan dengan melalui hal itu selanjutnya bergerak menuju prioritas-prioritas dalam menghilangkan problematika realitas kaum muslimin. Seruan itu merupakan cara terbaik, paling mendekati realitas, dan sesuai dengan perubahan situasi yang diakibatkan oleh tatanan dunia baru.[4]

Di dalam seruan itu, saya melihat adanya harapan, peluang pembaruan, dan titik awal yang kuat untuk mengoreksi perjalanan (gerakan) jihad dan aliran Jihadi, yakni jika hal tersebut bisa menciptakan orientasi yang serius ke arah penelusuran manhaj yang diperlukan untuk itu, juga bisa mengembangkan manajemen dan metode perjuangan yang sesuai dengan tahapan yang ada.

Saya berharap mereka dapat menentukan sarana perjuangan yang sesuai dan benar, juga mampu menentukan tujuan dan metode yang tepat. Pembaharuan besar dan perubahan tujuan serta metode perjuangan ini membutuhkan upaya-upaya besar untuk mengembangkan manhaj dan dasar-dasar pemikiran, sekaligus membutuhkan pengembangan yang besar dalam metode penyusunan ide-ide tersebut agar bisa membumi. Namun, persitiwa September 2001 mendahului semua itu sebelum hal tersebut dapat diwujudkan, padahal semua ini memerlukan waktu yang panjang.

Belajar dari fakta tersebut, saya berkeyakinan bahwa kita perlu meluncurkan teori-teori perjuangan baru untuk mengisi kekosongan besar yang terjadi akibat adanya perubahan dalam konfrontasi tersebut.

Setelah proses pemikiran yang penjang dan belajar dari rangkaian pengalaman dan pengembangan pemikiran tersebut yang ada pada diri saya selama sepuluh tahun, seperti yang telah saya jelaskan dalam buku ini, di Afghanistan, saya meluncurkan apa yang saya anggap sebagai awal doktrin baru sebagai upaya memperbaiki perjalanan aliran Jihadi dan berjuang untuk keluar dari krisis. Usulan itu saya namakan Detasemen Perlawanan Islam Global di mana teori-teorinya bertumpu atas tiga pilar:

  1. Konsistensi
  2. Koreksi
  3. Pengembangan

 

***

Dikutip dari buku Perjalanan Gerakan Jihad hal. 210-211

Editor dan catatan kaki oleh Al Faqir ilaLlah, Al Fadhl bin Zain Al ‘Abidin


[1] Aliran yang dimaksudkan adalah tiga aliran yang ada pada gerakan jihad kontemporer setelah melalui berbagai macam eksperimen dan krisis, yakni : kelompok yang menyerahkan diri untuk mengakhiri krisis; kelompok yang konsisten di jalur jihad, namun bersifat konvensional (mengedepankan sentimen kebangsaan dan membatasi jihadnya pada batas-batas geografis dan politis); dan kelompok yang menyerukan jihad global melawan Amerika (shalibiyyin), Zionist (Yahudi) dan sekutu-sekutunya.

[2] Sebagai contoh adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir atau Syiria, serta organisasi yang berafiliasi padanya di beberapa negara. Mereka menanggalkan senjata untuk kemudian masuk ke dalam parlemen dan “berperang” di sana. Padahal, jihad adalah satu-satunya cara yang dibenarkan syar’i dalam meninggikan kalimat Allah.

[3] Contohnya HAMAS di Palestina yang membatasi jihadnya di wilayah Palestina saja atau Tandzhim Al Jihad di Mesir sebelum menggabungkan diri ke dalam Tandzhim Al Qaidah. Saat ini, di beberapa negara, termasuk Indonesia, masih terdapat aliran seperti ini. Mereka terfokus untuk memerangi penguasa murtad dan perjalanan Jihad mereka (biasanya) dibumbui sentimen kebangsaan yang sempit, padahal target prioritas dalam konfrontasi masa kini adalah Amerika Salibis yang ditukangi Zionis Yahudi dan antek-anteknya (la’natullah ‘alayhim), sedangkan setiap bumi tempat para musuh Allah itu berkeliaran telah menjadi medan qital. Mereka adalah kepala dari ular berbisa yang senantiasa meracuni dunia Islam. Kehancuran mereka akan diiringi oleh kehancuran dari penguasa murtad yang mendukung mereka, karena para penguasa itu hanya pengekor saja.

[4] Sayangnya seruan ini kurang disambut oleh Gerakan Jihad di beberapa negara sehingga perlawanan global ini hanya akan menjadi harapan hampa. Seharusnya kita sadar bahwa Islam tidak dibatasi oleh sekat-sekat politis dan geografis. Di mana disebut nama Allah, di sanalah tanah air ummat Islam, sehingga bukan saatnya lagi bagi Gerakan Jihad yang masih eksis saat ini mengusung bendera jihadnya di bawah panji-panji kebangsaan dan nasionalisme yang sempit. Seruan ini adalah secercah harapan, dan harapan ini akan tercapai (insya Allah) jika didukung oleh kekuatan kolektif ummat, khususnya mujahidin di berbagai penjuru bumi yang akan mengangkat satu panji saja: LAA ILAAHA ILLALLAH…

2 thoughts on “Mengakhiri Krisis Perjalanan Gerakan Jihad”

    1. Na’am, bahkan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi mencela orang-orang yang memisahkan antara aktivitas da’wah tauhid dengan jihad qital.
      Da’wah tauhi dan jihad qital adalah satu kesatuan yang utuh, sehingga Allah pun memerintahkan untuk menahan sebagian ulama pada saat mujahidin berperang. Tujuannya adalah untuk menyebarkan risalah Islam dan mendukung perjuangan melalui ilmu pengetahuan.
      Jadi, jika ada sebagian kelompok yang menyibukkan diri dengan da’wah tauhid tanpa i’dad jihady, maka sesungguhnya ia telah meninggalkan puncak diinullah. Dan barangsiapa yang menyibukkan diri dengan qital dan menuduh para da’i sebagai orang-orang yang duduk-duduk dan meninggalkan kewajiban jihad, maka itu adalah pemahaman yang menyimpang. Bahkan, di tengah kesibukkan mujahidin dalam ribath dan jihad, wajib untuk menekuni ilmu syar’i. Apalagi, hari ini begitu banyak mujahidin yang akhirnya terjerumus ke dalam pemahaman kaum takfiriy a la khawarij.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s