TAKFIR: Di Antara Murji`ah dan Khawarij

Takfir yakni menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang. Permasalahan ini jelas ketika seseorang itu memang belum pernah mengucapkan dua kalimat syahadat atau yang dikenal dengan istilah kafir asli, yaitu mereka yang telah disebutkan dalam firman Allah, “…orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan musyrikin.” (QS. Al Hajj: 17). Dalam ayat tersebut Allah ‘azza wa jalla memisahkan mereka dari mu’minin.

Namun demikian, permasalah takfir menjadi sesuatu yang sangat menakutkan jika ditujukan kepada orang-orang yang telah bersyahadat, yakni orang-orang yang secara dzhahir disebut muslim, namun karena ada tanda-tanda kekafiran pada dirinya, maka keluarlah ia dari Islam, mengutip sabda nabi, “Seperti anak panah keluar dari busurnya.”

Apalagi, pada masa sekarang ini, kita sedang diserang dari berbagai sisi oleh beragam syubhat yang berkaitan dengan hal ini. Sebagian aktivis dan para tokohnya terjatuh ke dalam pemikiran khawarij yang menyimpang dengan memvonis kafir kepada seluruh orang yang melakukan dosa-dosa besar. Akhirnya mereka mengenalkan istilah hijrah, yakni berpindah dari kondisi masyarakat yang jahiliyyah menuju masyarakat Islam – menurut versi mereka – dengan melakukan bai’at pada syaikh-syaikh mereka, sedangkan orang di luar mereka, semuanya kafir yang halal harta dan darahnya..!

Kelompok ini berpendapat bahwa iman telah gugur dikarenakan dosa-dosa besar dan kemaksiatan terang-terangan, padahal tidak semua dosa dapat menggugurkan iman dengan sendirinya. Manhaj ahlus Sunnah berpendapat bahwa iman memiliki banyak cabang, di mana di antara cabang-cabang tersebut jika dilanggar pelakunya berdosa, ada yang hingga menghapus keimanan hingga pelakunya murtad, namun juga ada yang hanya mengurangi kesempurnaan iman saja. Tindakan yang dapat menggugurkan keimanan hingga murtad adalah segala maca permasalahan yang berkaitan dengan ashlul iman (pokok-pokok keimanan), yakni laa ilaaha illa Allah. Sedangkan kemaksiatan yang lainnya tidak akan menjadikan seseorang menjadi kafir murtad, selama tidak ada juhd (pengingkaran), takdzib (pendustaan), radd (penolakan), atau istihlal (penghalalan).

Cikal bakal kelompok ini yang lebih dikenal dengan nama Hijrah wal Takfir atau takfiri berawal dari kesalahfahaman mereka terhadap kitab Ma’alim fii ath Thariq karya Syaikh Sayyid Quthb. Semangat yang tidak diiringi ilmu para aktivis ini bercampur dengan tekanan penguasa dzhalim pada saat itu, ditambah realita masyarakat yang jauh dari nilai-nilai keislaman, dan sikap para ‘ulama munafik yang senantiasa membenarkan perlakuan para penguasa melahirkan pemahaman yang menyimpang, yakni kelahiran aliran takfir.

Syaikh Abu Muash’ab As Suri dalam Perjalanan Gerakan Jihad merumuskan formula kelahiran aliran takfir yang sesat ini,

Penguasa kafir dan dzhalim + Algojo bengis dan jahat + Ulama munafik + Kebangkitan Islam yang lemah + Masyarakat awam yang rusak + Kelompok pemuda yang penuh semangat, bodoh, dan terdzhalimi = KELAHIRAN ALIRAN TAKFIR

Dalam kondisi seperti ini lahirlah buku Du’at Laa Qudhat (Da’i Bukan Hakim) yang ditulis oleh Syaikh Hasan Al Hudhaybi untuk membendung aliran takfir yang sesat, khususnya di kalangan Jama’ah Al Ikhwan Al Muslimun, namun dalam perkembangannya, buku ini justru memicu lahirnya kutub ekstrem yang lain yang berlawanan dengan aliran takfir . Mereka bersikap meremehkan takfir, bahkan meninggalkan takfir dari hukum Islam. Akibatnya, begitu banyak para ulama yang menulis kitab aqidah dan tauhid serta menuliskan dengan tegas dalam kitab-kitabnya tersebut pembatal-pembatal keislaman, namun justru tidak mengamalkan apa yang mereka tulis itu pada saat seseorang telah dengan jelas melakukan sebuah tindakan atau mengucapkan kata-kata yang tidak bisa diinterpretasikan lain, kecuali termasuk kekafiran.

Di antara para ulama tersebut bahkan membatasi kekafiran hanya pada i’tiqad (amalan hati) saja, sehingga seseorang yang mengatakan kata-kata kekafiran atau melakukan tindakan-tindakan kekafiran tidak dinyatakan kafir murtad, selama hati mereka tidak meyakininya. Padahal, sebagaimana yang mereka terangkan sendiri dalam kitab-kitabnya bahwa yang dimaksudkan dengan iman adalah mengucapkan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan mengamalkan dengan anggota badan.

Hal ini merupakan syubhat yang sengaja disusupkan oleh para ‘ulama yang dekat dengan para penguasa agar mereka melegalkan tindakan para penguasa dan membohongi ummat dengan fatwa-fatwanya yang sesat. Mereka berkata bahwa penguasa tidaklah murtad dari Islam; sehingga para aktivis dilarang memberontak dan diwajibkan untuk senantiasa taat kepadanya, padahal telah tampak dengan terang kekafiran pada diri mereka. Sikap seperti ini merupakan sikap kaum murji’ah yang bertentangan dengan ahlus Sunnah.

Kedua sikap di atas adalah sikap yang menyimpang. Kelompok pertama bersikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam takfir dan kelompok yang kedua bersikap meremehkan, dan kedua-duanya adalah sesat. Sedangkan manhaj ahlus sunnah berada di antara keduanya sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Lantas, bagaimana seseorang bisa kafir setelah beriman menurut pandangan ahlus Sunnah wal jama’ah..?

Syaikh Hasan Al Banna berkata tentang masalah ini, “Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengik­rarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.”

Dalam kaidah di atas, Syaikh Al Banna menyebutkan ciri-ciri kaum mu’min terlebih dahulu, yakni kalimat “mengik­rarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya,” Artinya seseorang yang telah melaksanakan apa yang beliau katakan, yakni mengik­rarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya tidak pernah bisa divonis kafir karena ia adalah seorang mu’min yang haram darah, harta, dan kehormatannya,

baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya.” Yakni kendati seorang mu’min itu mengucapkan kata-kata maksiat atau melakukan perbuatan dosa (bahkan dosa-dosa besar sekalipun), ia tidak tidak dengan serta merta bisa divonis kafir.

kecuali”, yakni pengecualian dari hal-hal di atas. Artinya ada orang-orang yang telah mengamalkan apa yang beliau sebutkan yang layak divonis kafir.

mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.” Inilah pengecualian yang dimaksudkan Syaikh Al Banna.

Simpulan: bahwa seorang mu’min dapat menjadi kafir dan divonis kafir dengan beberapa sebab, yaitu:

  1. mengatakan kata-kata kufur,
  2. mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama,
  3. mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau
  4. berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.

Dapat dilihat dalam pernyataan beliau bahwa seseorang yang telah beriman dapat menjadi kafir murtad, baik itu dengan ucapan, keyakinan, dusta, ataupun tindakan. Beliau menjelaskan kepada kita bahwa kekafiran dapat datang dari pintu lisan, hati, dan perbuatan. Sedangkan contoh-contoh kekafiran lisan dan perbuatan telah disebutkan dalam bahasan KUFUR SETELAH BERIMAN.

Syaikh Al Banna memang hanya menjelaskan sebab-sebabnya saja, sedangkan syarat dan penghalangnya tidak dituliskan, namun bukan berarti beliau menolak kaidah-kaidah ini. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, yakni.

  1. Beliau khilaf sehingga tidak menuliskannya,
  2. Beliau tidak merincinya, namun menyimpulkannya dalam kalimat, “yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur”. Sehingga kita bisa berkata : kalimat ini merupakan penegasan bahwa orang tersebut memenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang pada dirinya. Wallahu a’lam

Batasan-batasan takfir lainnya yang lebih rinci telah disusun oleh Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Abdul Aziz dalam Kitab Al Jami’ fii Thalabul Ilmy Asy Syariif pada Bab Iman wal Kufr, yang telah diterjemahkan dengan judul KAFIR TANPA SADAR.

Beliau menyebutkan kaidahnya sebagai berikut:

“Pada hukum-hukum di dunia yang berdasar pada dzhahir (yang nampak), seseorang divonis kafir berdasarkan perkataan atau perbuatan yang menyebabkan kekafiran; yang dibuktikan dengan cara pembuktian yang sesuai dengan syar’i. Jika telah memenuhi syarat-syarat untuk dikafirkan, tidak terdapat penghalang (mawani’) takfir, serta yang memvonis adalah orang yang layak memvonis, kemudian dilihat:

–          Jika dia berada di bawah kekuasaan negeri Islam, ia wajib diminta bertaubat sebelum  hukuman dilaksanakan oleh penguasa,

–          Jika dia mempertahankan diri dengan kekuatan atau berlindung kepada negeri musuh, diperbolehkan kepada setiap orang untuk membunuhnya dan mengambil hartanya tanpa diminta bertaubat terlebih dahulu. Dalam keadaan seperti ini, dilihat mashalahat dan madharat yang akan ditimbulkan. Jika mashlahat dan madharat bercampur, maka didahulukan yang paling kuat.”

Dr. Fadhl memang  sengaja menulis batasan ini terkait dengan hukum di hadapan hukum Islam, artinya vonis yang dijatuhkan kepada seseorang di dalam negara Islam, yakni negara yang telah menggunakan syari’at Islam. Adapun penjelasan secara singkat dari pernyataan di atas adalah.

Pada hukum-hukum di dunia yang berdasar pada dzhahir (yang nampak),” merupakan pendahuluan dari kalimat “…berdasarkan perkataan atau perbuatan.” Hal ini dikarenakan manusia hanya melihat yang tampak, yaitu perkataan dan perbuatan, sedangkan amalan hati adalah urusan dia dengan Rabbnya.

“…berdasarkan perkataan atau perbuatan” adalah sebab takfir, yakni bahwa takfir dijatuhkan jika ia berkata atau berbuat sesuatu.

yang menyebabkan kekafiran” adalah sifat dari perkataan dan perbuatannya. Adapun contoh ucapan dan perbuatan yang menyebabkan kekufuran telah disinggung pada tulisan KUFUR SETELAH BERIMAN. Catatan dalam kaidah ini adalah:

  1. Harus dinyatakan dalam dalil syar’i. Tidak disyari’atkan menetapkan sesuatu sebagai bentuk kekafiran, harus ada nash yang menyatakan secara langsung bahwa sesuatu itu merupakan kekafiran.
  2. Perkataan atau perbuatan itu jelas menunjukkan kekafiran dalam dalil syar’i di atas. Perbuatan itu dinyatakan sharih ad dalalah (jelas dalilnya, tidak mengandung interpretasi yang lain) sejak awal, atau setelah tabayyun, melihat keadaan yang menyertai perbuatan tersebut, serta melihat ‘urf pelakunya.

Jika telah memenuhi syarat-syarat untuk dikafirkan”, yakni bahwa pelaku memenuhi syarat-syarat vonis takfir:

  1. Syarat perbuatan dan syarat menetapkan sesuai dengan kaidah di atas,
  2. Syarat pada pelaku: mukallaf (berakal dan baligh), mengetahui, sengaja melakukannya, dengan kemauan sendiri,

“tidak terdapat penghalang (mawani’) takfir”, yakni berupa kebalikan dari syarat di atas:

  1. Pelaku masih anak-anak, tidak sadar, tidak sengaja, dipaksa (ikrah), atau hal lain yang tidak menjadikannya layak divonis kafir.
  2. Perbuatan atau perkataannya mengandung syubhat, belum jelas.
  3. Penghalang ketika proses hukum, seperti saksi yang kurang atau tidak diterima kesaksiannya.

serta yang memvonis adalah orang yang layak memvonis”, yakni hakim yang bertugas pada sebuah negara yang berhukum dengan hukum Allah, ia ditugaskan untuk menangani kasus ini. Artinya, hakim yang pada akhirnya menentukan seseorang itu kafir atau bukan serta menentukan vonis pada dirinya setelah melihat syarat-syaratnya dan tidak terdapat penghalang pada dirinya.

Lalu, bagaimana jika dalam kondisi sekarang, dimana tidak ada hukum Islam, apakah setiap individu boleh mengkafirkan  seseorang..? Dr. Fadhl membolehkannya, selama memenuhi kaidah dan syarat yang telah ditetapkan. Adapun hukuman yang diberikan kepadanya tidaklah dibunuh, karena hal tersebut berlaku jika ada hakim yang memutuskan. Hukuman yang berlaku pada dirinya adalah jarh (meninggalkannya) atau memboikotnya, serta mengingatkan orang lain agar orang pun sadar bahwa ia telah kafir murtad agar bahayanya tidak tersebar. Jika yang murtad adalah pemimpin, maka diizinkan untuk melawan dan memberontak selama memiliki kekuatan yang memadai dan tidak menimbulkan mafsadat yang lebih besar.

Kaidah selanjutnya tidak perlu diuraikan karena cukup jelas.

Batasan-batasan takfir juga diuraikan oleh Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi dalam kitabnya “Ghuluw fii Takfir”.

Beliau menyebutkan bahwa seseorang divonis kafir jika terpenuhi syarat-syaratnya, tidak ada penghalang, dan jelas sebab-sebabnya.

  1. Syarat
    1. Mukallaf
    2. Sengaja melakukannya
    3. Mukhtaar (kemauan sendiri)
    4. Perbuatannya jelas-jelas menunjukkan kekafiran dan
    5. Ada dalil syar’i yang menunjukkan bahwa perbuatannya adalah kekufuran
    6. Penghalang
      1. Masih kecil, gila, lupa,
      2. Tidak sengaja
      3. Bodoh (jahl), namun jika ia bodoh karena berpaling maka hal ini tidak termasuk penghalang
      4. Ikrah (dipaksa)
      5. Perkataan atau perbuataannya tidak jelas (mengandung interpretasi yang lain)
      6. Tidak ada dalil yang dijadikan hujjah atas perbuatan atau perkataan tersebut
      7. Tidak terpenuhinya saksi dan pembuktian
      8. Dalam hal memperjelas hal ini maka wajib dilakukan tabayyun dan meminta dirinya bertaubat sebelum menjatuhkan vonis
      9. Sebab
        1. Keyakinan (i’tiqad) dan pengingkaran (juhd) : amalan hati
        2. Perkataan
        3. Perbuatan

Sebagimana telah dijelaskan bahwa seseorang dapat menjadi kafir hanya dengan satu sebab saja, sehingga – dalam memvonis – tidak perlu menunggu lagi sebab yang kedua atau yang ketiga. Karena satu sebab saja dapat menjadikan seseorang menjadi kafir murtad (jika terpenuhi syaratnya dan tidak ada penghalang).

Demikianlah, kaidah-kaidah takfir ahlus Sunnah yang disarikan dari berbagai macam kitab ‘ulama salaf ash Shalih. Tidak ada perbedaan pendapat kecuali yang menyelisihi ahlus Sunnah, seperti kalangan murji’ah dari Asy’ariyyah dan Jahmiyyah atau kalangan murji’ah ekstrem yang kita temukan pada masa kini; atau kalangan khawarij yang berlebih-lebihan seperti kelompok takfir.

Wallahu a’lam

Al Faqiir Ilaa Allah

الفضل بن زين العبدين

Maraji’

Syaikh Hasan Al Banna, Majmu’atu Rasail

Syaikh Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Abdul Aziz, Kafir Tanpa Sadar

Syaikh Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Abdul Aziz, Tathbiq Syar’i

Syaikh Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Abdul Aziz, Rasionalization of Jihad in Egypt and in The World

Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Mewaspadi Sikap Ekstrem dalam Mengkafirkan

Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Salah Kaprah Salafi; Membongkar Syubhat-Syubhat Murji’ah Masa Kini

Syaikh Sulaiman Nashir al ‘Ulwan dan Syaikh Safar al Hawali, Awas! Terjebak Murtad

Ustadz Abu Jabir, Ceramah Iman dan Kufr

Dr. Sayyid Imam, Iman dan Kufur

Syaikh Abdul Mun’im Abu Basheer, Pokok-Pokok Aqidah Muslim

Syaikh Abdul Mun’im Abu Basheer, Thaghut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s